
Sesampai di rumah, Pelangi kemudian masuk tepat di ruang tamu ia melihat Amel.
“Eh, kak Pelangi udah pulang.”
“Hay Mel.”
“Kak kenalin dia teman ku kak. Teman main.”
“Owh, hallo aku Pelangi, kakaknya Amel.”
“Hallo kak Pelangi. Aku Dion.”
“Iya, Dik, bunda mana?”
“Bunda di ruang tengah kak sedang menunggu kakak pulang.”
“Owh, kalau gitu kakak mau ke temu sama bunda dulu ya dik.”
“Iya kak, eh, kak Pelangi.”
“Kenapa dik?”
“Memang kakak sama bunda mau pergi kemana sih?”
“Kakak mau anterin bunda ke rumah bibik Sinta.”
“Owh, ya , ya.” Kata Amel sambil mengangguk – anggukkan kepalanya.
“Ya udah kalau begitu kakak masuk dulu ya dik.”
“Iya kak.”
Pelangi kemudian masuk dan pergi berjalan menghampiri Kia yang sudah menunggu kepulangan Pelangi sedari tadi.
“Bun, bunda.” Panggil Pelangi.
“Iya sayang. Bunda di sini.”
“Bunda udah siap?”
“Udah, bunda tinggal menunggu kamu saja.”
“Ya sudah kalau begitu Pelangi letakkan tas sama buku dulu di kamar ya bun.” Kata Pelangi.
“Iya sayang, bunda tunggu kamu di sini ya.”
“Oke deh bun. Tunggu sebentar ya bun.”
Kemudian Pelangi pergi melangkahkan kakinya menuju kamar untuk meletakan buku – bukunya itu. setelah meletakkan buku – buku itu ia kembali turun dan berjalan ke arah Kia yang sudah menunggu nya dari tadi.
“Udah bun, yuk.”
Mereka kemudian pergi bersama.
“Amel, bunda sama kakak mau pergi sebentar. Kamu di rumah ya enggak usah pergi – pergi ke mana – mana.”
“Iya bun.”
“Dion, tante pergi dulu, jangan ajak Amel pergi ya.”
“Iya tante.”
“Ya sudah, kalau begitu bunda tinggal ya sayang.”
“Hati – hati ya bun, kak. Bye .. bye..”
Pelangi dan Kia kemudian Pergi meninggalkan Amel dan juga Dion di rumah. Di rumah masih ada Riri yang saat itu sedang tidur di kamarnya. Kia sengaja melarang Amel agar Amel tidak pergi dari rumah.
“Bun, kok tumben bunda melarang Amel untuk pergi main dengan temannya yang bernama Dion itu?”
“Bunda tuh sebenarnya tidak suka melihat Amel dekat atau bermain dengan Dion. Gimana ya, bunda lihat Dion itu anaknya nakal. Bunda takut kalau Amel salah bergaul sama dia. Apa lagi Amel kan cewek.”
“Owh, gitu. Emang dion sering main ke rumah ya bun? Atau sering pergi main sama Amel?”
“Sering banget. Ya walaupun cuman sebentar sih.”
“Tapi kok pelangi enggak pernah tahu ya bun?”
“Iya, setiap dia dateng untuk main ke rumah atau pergi ngajak main pelangi pas kamu lagi pergi.”
“Owh, gitu. Semoga saja Dion anaknya baik bun. Dan firasat bunda semoga juga salah.”
“Ya semoga saja.”
Sedangkan di saat Kia dan Pelangi pergi. Amel justru sengaja pergi bermain bersama Dion. Sebab Dion memaksa Amel untuk ikut dengannya pergi bermain.
“Mel, aku males nih di rumah terus. Bosen.”
“Terus gimana? Bunda menyuruh aku untuk tidak ke mana – mana.”
“Ya, udah kalau gitu aku pulang saja.”
“Eh, tunggu, tunggu Yon.”
“Apa? Kamu kan gak berani ngelawan bundamu. Udah ah aku mau pulang saja. garing di sini!”
“Emang kamu mau ke mana sih yon?”
“Ya keman gitu. Masak di rumah terus. Males banget.”
“Ya udah aku ambil jaket sama tas dulu ya.”
“Bener kamu mau ikut aku main?”
“Iya, ntar kamu ngambek lagi kalau aku enggak ikut kamu main.”
“Tapi nanti kamu di marahin sama bunda gimana?”
“udah enggak akan. Biar itu urusan aku.”
“Yakin?”
“Iya. Aku ambil tas sama jaket dulu di kamar ya.”
“Ya, aku tunggu kamu di depan.”
“Oke.”
Amel pun langsung mengambil tas dan jaketnya karena dia akan pergi main bersama Dion. Dion sering sekali mengajak Amel untuk balapan liar bersama dengan geng motornya.
“Aku mau tanya sekali lagi sama kamu Mel? Bener kamu mau ikut aku main?”
“Iya. Udah ah ayuk pergi, keburu nenek bangun.”
Ketika Amel akan naik ke motor Dion asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Kia itu melihat dan memanggil – manggil Amel. Sebab sebelum Kia dan Pelangi pergi kia sengaja meminta tolong kepada Asisten rumah tangganya untuk mengawasi Amel. Jika Amel pergi Asisten rumah tangga itu diminta untuk langsung memberikan kabar kepadanya.
“Non, nona mau kemana?” tanya asisten rumah tangga itu.
“Aku mau main sama dion bik.” Jawab Amel.
“Tapi non. Tadi nyonya melarang nona Amel untuk pergi kan?”
“Iya emang bik, tapi kalau bibik enggak cerita sama bunda, bunda gak akan tahu kan kalau aku pergi main sama Dion.”
__ADS_1
“Tapi, kalau nanti nyonya pulang gimana non,”
“Udah ah bik. Aku mau pergi dan aku akan usahakan pulang sebelum bunda pulang. Jadi bibik tenang saja, enggak usah khawatir.”
“Tapi non, non. Nona Amel.” Panggi Asisten rumah tangga itu.
Akan tetapi Amel masih tetap saja nekat pergi main dengan Dion mengunakan sepeda motor KLX milik Dion itu. setelah itu asisten rumah tangga Kia langsung menghubungi Kia dan memberitahukan kalau Amel pergi main bersama Dion.
Setelah Kia mendapatkan telepon dari rumah dan kabar kalau Amel pergi main bersama Diao. Kia langsung marah ia mencoba menghubungi Amel meminta untuk segera kembali pulang dan tidak pergi main dengan Dion. Namun, saat itu no Hp Amel susah di hubungi. Amel sengaja mematikan Hpnya sebab dia takut kalau Kia akan menelpon dan marah kepadanya.
“Hallo nyonya.”
“Iya kenapa Bik?”
“Maaf nyonya mengganggu sebentar.”
“Iya kenapa bik, ada apa?” tanya Kia kepada Asisten rumah tangganya itu.
“Nyonya, non Amel...”
“Amel pergi dari rumah?”
“Iya nyonya, tadi bibik juga sudah melarang dan memperingati non Amel tapi non Amel sama sekali tidak mau mendengarkan perkataan bibik nyonya.”
“ya sudah sudah kalau begitu biar nanti aku saja yang akan menghubungi Amel bik. Terimakasih ya bik, karena bibik mau memberikan kabar untukku.”
“Iya nyonya.”
Kemudian telepon itu di matikan. Dan ketika asisten rumah tangga itu meletakkan telepon rumahnya, ia kemudian kembali mengerjakan tugasnya. Akan tetapi di saat dia berjalan menuju dapur, Riri memanggil manggil asisten rumah tangganya itu. Riri bertanya kepada Asisten rumah tangganya karena rumah sepi,
“Bik, bibik.”
“Iya nyonya besar,”
“Pada ke mana sih? Kok rumah sepi amat?”
“Nyonya mudan dan nona Pelangi sedang pergi,”
“Terus Amel di mana? Kok saya cari ke kamarnya dia tidak ada?”
“Nona Amel baru saja pergi dengan temannya nyonya.”
“Owh, ya sudah kalau begitu. Lanjutkan tugasmu ya bik. Kalau begitu saya mau ke kembali ke kamar.”
“Iya nyonya.”
Asisten rumah tangga itu kemudian kembali untuk mengerjakan tuganya. Sedangkan Riri kembali ke kamarnya untuk mengambil handpone miliknya.
“Tumben sekali Kia pergi tanpa berpamitan dengan aku. Dia pergi ke mana sih sama Pelangi. Amel juga, kerjanya cuman main saja. huft!” gumam Riri dari dalam hatinya.
Kemudian setelah dia sampai ke depan kamarnya lalu dia masuk dan duduk di sofa yang berada di dalam kamar pribadinya itu. Hpnya langsung ia hidupakan dan ternyata ada sebuah pesan dari Kia, dia pamit untuk pergi ke acara trah keluarga dari orang tuanya itu.
“Bun, Kia minta maaf, karena tidak pamit kepada bunda kalau Kia dan Pelangi sedang pergi ke acara trah keluarga mama. Tadi Kia mau pamit tapi bunda tidurnya pulas sekali. Kia takut mengganggu waktu istrirahat bunda. Nanti kalau bunda sudah bangun, Kia sudah siapkan obat di atas meja. Bunda jangan lupa untuk meminumnya ya.” Ini sebuah pesan dari kia.
Setelah riri membaca pesan dari Kia, ia kemudian meminum obat yang telah di siapkan oleh menantunya itu. Riri sangat bahagia karena menantunya begitu sangat memperhatikan dirinya.
“Aku kira dia tidak berpamitan kepadaku, ternyata dia sedang ada acara di keluarganya. Bersyukur sekali aku mempunyai menantu yang mau memperhatikan diriku. Terimakasih ya Kia.” Gumam Riri di dalam hatinya.
**
Kembali ke cerita di mana Kia dan pelangi yang sedang berada di jalan mendapatkan kabar dari pembantunya kalau amel sedang pergi main dengan Dion.
Pelangi melihat wajah ibunya yang cemas dengan memainkan Hpnya kemudian ia bertanya kepada Kia.
“Ada apa bun? kenapa wajah bunda berubah menjadi cemas?”
“Kenapa dengan amel bun?
“padahal bunda sudah memperingati dia untuk tidak usah pergi bersama Dion, tapi masih saja dia nekat.”
“Memang mereka pergi ke mana bun? kalau pergi ke tempat yang bermanfaat sih enggak jadi masalah kan bun.”
“Iya kalau adikmu itu pergi di tempat tempat yang baik atau bermanfaat seperti yang kamu ucapkan sih bunda enggak ada masalah.”
“Lalu? Apa yang bunda khawatirkan?
“Kamu lihat sendiri gimana penampilan Dion itu. Dari penampilannya saja bunda sudah menduga kalau dia itu anak yang gak bener.”
Kemudian Pelangi hanya terdiam setelah mendengar Kia marah – marah. Kia terus mencoba untuk menghubungi Amel namun, masih saja no Hp amel sangat susah untuk di hubungi.
“Amel. Amel. Kamu kemana sih nak. Kenapa kamu susah sekali di kasih tahu sama bunda. “
“sudah bun, tenang, nanti selesai acara kita hubungi Amel kembali bun.”
“Iya deh.”
Setelah acara Trah keluarga itu selesai, Kia mencoba untuk menghubungi lagi Amel. Akan tetapi masih sama dengan yang tadi. No Hp Amel masih susah untuk di hubungi. Karena waktu itu sudah malam, Kia meminta kepada Pelangi agar segera pulang dan meninggalkan acara itu. Kia sangat mengkhawatirkan ke adaan Amel.
Beberapa menit kemudian, mobil Pelangi terhenti di lampu merah. Di sana ia melihat ada segerombolan motor balap yang di kejar – kejar oleh polisi. Lalu terlihat sebuah motor yang melintas begitu kencang dengan memboncengkan seorang wanita di hadapan Pelangi dan Kia. Wanita itu ternyata adalah Amel. Kia meminta Pelangi untuk mengejar motor yang melaju sangat kencang itu. Lampu jalan itu berganti menjadi warna hijau yang menandakan kalau semua pegendara di perbolehkan untuk segera melaju dengan berhati - hati.
Pelangi kemudian melaju dengan cepat karena ia ingin mengejar motor yang tadi melintas di hadapannya. Kia menduga wanita itu adalah Amel.
“Iya itu Amel kan nak. Lihat itu seperti jaketnya Amel.”
“Iya bun, itu Amel.”
“Tuh kan ini yang bunda takuti. Apa lagi kalau dia sampai salah bergaul, gimana masa depannya nanti. Ayo Pelangi kejar Amel sampai dapat. Jangan sampai kita kehilangan Amel.”
“Iya bun, ini pelangi juga sudah memaksimalkan mengemudinya.”
“Aduh,”
Pelangi pun memberanikan diri untuk mengemudi mobilnya dengan kecepatan yang optimal, sehingga Amel dapat disusul dan mobil Pelangi dapat menghalangi motor Dion.
Ccciiiittttttt.... ( suara rem mobil )
Pelangi menghentikan mobilnya secara mendadak di depan motor yang di kendarai oleh Dion. Lalu Dion juga menghentikan motornya begitu saja, dengan di ikuti oleh polisi yang sedang mengejar Dion. setelah mereka berhenti Amel kemudian turun dari motor. Melihat anaknya yang sudah turun dari motor, Kia langsung mendekati Amel dan mengeret tangan Amel. Akan tetapi Amel menolak, ia masih ingin bersama Dion.
“Amel, Ayo sekarang kita pulang.” Pinta Kia dan mengeret tanggan Amel
“Enggak mau bun, lepasin. Amel mau pulang sama Dion.” Ucap Amel yang menolak ajakan Kia waktu itu.
“Amel, dengerin bunda. Dia itu enggak pantes main sama kamu. Dia ini anak nakal, bunda enggak mau kamu kenapa – kenapa apa lagi berubah menjadi anak nakal seperti dia.” Kata Kia yang masih menarik – narik tangan Amel.
“lepasin bun, lepasin. Amel enggak mau pulang sama bunda. Amel mau pulang sama Dion bun.”
Pelangi kemudian mendekati Amel yang menolak ajakan dari Kia.
“Amel, Amel, dengerin kakak. Sekarang Amel pulang dulu sama kakak dan bunda, biar dion di urus sama baapak – bapak polisi ya. Amel enggak mau kan kalau Amel di bilang anak nakal? Dengerin kakak, kakak janji akan menemani Amel untuk menjengguk Dion besok.
“Beneran kak?”
“Iya, sekarang Amel pulang dulu ya sama kakak dan bunda.”
“Kalau begitu aku akan pulang dengan kalian. Tapi kakak janji ya. Besok menemaniku membesuk Dion di kantor polisi. “
“Iya kakak janji.
Kemudian Amel mau menuruti semua apa yang Pelangi katakan. Amel juga mau untuk pulang bersama Kia dan juga Pelangi untuk naik mobil.
__ADS_1
“Yuk, sekarang ikut bunda pulang.”
“Iya bun.”
“Pak, tangkap saja anak ini. Anak yang tidak tahu moral.”
“Baik, biar kami urus ke kantor polisi.” Kata polisi itu sambil mengeret tangan Dion.
“Tapi pak. Pak.” Teriak Dion yang akan di amankan oleh petugas.
Dalam perjalan pulang ke rumah Kia di sepanjang jalan mengoceh mengomel –ngomel kepada Amel. Amel saat itu hanya menutup telinganya, karena ia tidak ingin mendengar omelan dari Kia di dalam mobil.
“Kamu ini ya mel susah sekali di kasih tahu. Sebelum bunda pergi, tadi bunda sudah memperingatkan kamu untuk keluar rumah kan.”
“Iya.”
“Kalau bunda marah marah kayak gini kamu bisanya cuman bilang iya, iya, iya.
“Terus Amel harus bilang apa lagi sih bun?”
“Ya enggak harus cuman bilang iya, tapi bunda minta kamu dengerin apa yang bunda omong.”
“Amel dari tadi juga udah dengerin bunda ngomong kan.”
“Aduh Amel, gimana lagi bunda harus kasih kamu pengertian supaya kamu bisa mengerti apa yang bunda maksud.”
“Husst... husst... husst... bunda sudah ya, kita bicarakan di rumah saja.”
“Tahu tuh bunda.”
“Amel udah, kakak minta, kamu juga diam ya.”
Sesampai di rumah kebetulan Melly sedang berada di rumah Riri, karena ia mempunyai urusan dengan Riri. Amel langsung masuk begitu saja tanpa mengucapkan salam dengan wajah yang marah dan mulut yang manyun. Melly melihat cucu kesayangannya itu langsung memanggil manggil dirinya. Akan tetapi Amel sama sekali tidak menggubris Melly yang memanggilnya. Tak lama Amel masuk Kia dan juga Pelangi pun masuk ke dalam rumah.
“Amel. Amel. Amel sayang.” Ucap Melly yang memanggil – manggil Amel.
“Kenapa sih dia?” tanya Riri.
“hallo bun.”
“Amel kenapa sih Kia? Kok pulang – pulang enggak mengucap salam malah main nyelonong aja. Habis kamu marahin?”
“Kia tidak memarahi Amel kok bun, Kia cuman memberikan pengertian kepada Amel dan melarang dia agar dia tidak main dengan Dion lagi.”
“Bunda tenang saja biar Pelangi yang akan bebicara denga Amel. Bunda jangan khawatir ya.”
Lalu Pelangi pergi menyusul Amel ke kamar. Di sana justru Melly yang marah karena ia tidak mau kalau cucu kesayangannya itu di marahi.
“Kamu ini gimana sih? Jaga anak kayak gitu enggak pecus?” ucap Melly sambil menuding Kia yang saat itu berdiri di dekatnya.
“Mel, sudah biar itu menjadi urusan Kia. Kita tidak usah ikut campur.”
“Ya bukannya aku mau ikut campur mbak, tapi mbak lihat sendiri kan yang dia urus cuman anak dari mantan suaminya itu.”
“Tante sudah cukup ya. Jangan pernah lagi tante berkata seperti itu. aku ini ibu dari kedua putriku. Mana mungkin aku memberikan kasih sayang yang berbeda kepada mereka.”
“Tapi nyatanya apa?! Yang kamu perdulikan cuman Pelangi dan Pelangi sajakan! Lihat buktinya. Kamu bisa mendidik atau mencintai Pelangi dengan mudah, tapi kalau sama Amel kamu hanya memarahi dia saja.”
“Tante aku mohon, tante tidak usah ikut campur dengan urusan aku membesarkan dan mendidik anak – anak ku. Mereka anak – anak ku. Darah dagingku, dan aku mempunyai hak untuk mendidik mereka dengan cara ku sendiri.”
“Sudah berani ya kamu sama tante. Hey.. Kia ingat, kamu bisa seperti ini karena siapa?! Sombong sekali kamu bicara!”
“Melly sudah, lebih baik kamu pergi dari sini. Jangan buat keributan di sini. Besok lebih baik mbak saja yang akan ke rumahmu.”
“Ah mbak Riri ini bukannya membela adiknya sendiri, tapi malah membela menantu yang tidak bisa hormat kepada orang yang lebih tua.”
“Bun, Kia tinggal ke kamar ya.”
“Iya nak.”
“Wow. Pantesan saja dia dulu di tinggal sama suaminya. Dia saja enggak punya etika sama sekali sama orang yang lebih Tua. Dasar!” kata Melly sambil melihat ke arah Kia yang berjalan menuju kamarnya.
Ketika itu Kia mendengar semua apa yang Melly katakan di belakangnya, ia menanggis di dalam kamar sendirian. Dan waktu itu Cleo belum pulang dari kantornya. Terdengar suara orang yang sedang mengetok – ketok pintu kamarnya.
Tok.. tok.. tok..
“Bunda,” panggil Pelangi.
“Masuk nak.”
“Loh bunda kenapa menanggis?”
“Emm, bunda enggak apa – apa kok nak, ada apa sayang?”
Amel pun menyusul Pelangi masuk ke dalam kamar Kia, Amel juga melihat Kia sedang menanggis di kamarnya sendiri. Ia kemudian memeluk Kia begitu saja.
“Bunda.”
“Sini sayang, bunda ingin memeluk Amel.”
“Bunda maafin Amel ya bun, Amel minta maaf sudah membuat bunda menanggis.”
“Sayang, bunda menanggis bukan karena Amel.”
“Terus bunda kenapa?”
“emm, bunda enggak apa – apa. Amel, bunda mohon sekali sama kamu ya nak, dengerin kata – kata bunda, Amel jangan main lagi ya sama Dion. Mungkin memamng bunda tidak tahu Dion bagaimana sifat sebenarnya. Tetapi, bunda tidak ingin melihat Amel salah dalam pergaulan. Amel ini masih muda. Masa depan Amel masih panjang ya sayang.”
Amel hanya mengangguk – anggukan kepalanya yang terus melihat ke bawah. Amel dan Pelangi memang tidak pernah bisa melihat Kia menanggis. Walaupun Amel anak yang bandel, tapi dia begitu sangat menyayangi Kia.
“Iya bun, Amel bener – bener minta maaf ya bun.”
“Iya sayang, bunda juga minta maaf karena bunda sering mengomel – ngomel sama Amel.”
Amel kemudian menghapus air mata Kia yang saat itu tertumpah membasahi pipinya karena ia mendapatkan hinaan dari Melly.
“Sayang, Amel dan kak Pelangi itu akan terus di hati bunda untuk selama – lamanya. Bunda tidak pernah membagi – bagi kasih sayang bunda sama kalian. Bunda memberikan kasih sayang utuh kepada kalian, jadi bunda minta kepada putri putri kecil bunda, jadilah anak yang baik dan sholehah ya sayang, bunda menyayangi kalian.”
Pelangi kemudian ikut memeluk Kia dengan begitu erat dan Kia mencium ke dua kening putrinya itu. setelah Melly pergi dari rumah, Riri kemudian datang ke kamar Kia, ia melihat Kia sedang memeluk ke dua putrinya itu. Riri sangat tidak enak hati karena perkataan Melly yang sudah melukai hatinya itu. ia sengaja ingin meminta maaf kepada Kia.
“bunda.” Kata Kia yang melihat Riri berjalan mendekati dirinya.
“Emm, Kia maafkan soal perkataan tante Melly tadi ya nak. Bunda sangat tidak enak hati sama kamu.”
“Iya bun, Kia enggak apa – apa kok bun. bunda tenang saja.”
“Amel, kamu sudah tidak marah lagi kan dengan bunda Kia?” tanya Riri yang melihat Amel.
“Enggak kok nek, sebenarnya Amel yang salah. Amel tidak mendengarkan perintah yang bunda berikan.”
“Nah gitu dong, amel harus menurut sama bunda Kia ya.”
Mereka pun tersenyum bersama sembari Kia menghapus air matanya.
**
Sedangkan ketika Dion berada di sel tahanan, ia berteriak – teriak meminta kepada polisi untuk di bebaskan. Polisi juga meminta Identitas diri Dion supaya orang tua Dion segera di panggil dan melihat anaknya yang saat itu berada di dalam sel tahanan.
Bersambung...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1