Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
otang tua


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Setelah beberapa hari orang tua kia menginap di rumah kia, mereka mencurigai tentang kehidupan putrinya. Karena akbar tidak ada kabar apapun. Dan mereka tidak melihat akbar berada di rumah itu. Tanpa kia sadari ternyata diam diam mamanya menghubungi akbar. Ia ingin menanyakan sesuatu tentang rumah tangganya. Namun setiap Nisa menghubungi akbar no nya selalu mati atau susah di hubungi.


Ketika malam hari saat mereka akan tidur Nisa bertanya kepada Surya.


"Pah, papa merasa aneh tidak?"


"Aneh gimana mah?"


"Coba deh papa pikir sejak kia masuk rumah sakit sampai sekarang mama enggak pernah melihat akbar tuh pah."


"Kemarin kia kan juga sudah bilang, kalau akbr sedang ada pelatihan di kantornya kan mah, mungkin memang akbar sedang sibuk di sana."


"Tapi pah, firasat mama itu kia berbohong dengan semuanya ini. Sepertinya rumah tangga mereka sedang ada masalah deh pah."


"Husstt. Kamu itu! Kalau kamu berbicara seperti itu sama saja kamu mendoakan anakmu seperti itu."


"Ya bukannya mendoakan pah, cuman ini firasat mama saja. Mama itu merasa aneh sama jawaban jawaban kia setiap mama tanyakan tentang suaminya. Dia pasti gugup kadang kadang binggung seperti berbohong sama mama pah. "


"Sudahlah jangan berfikir yang bukan bukan. Doakan saja untuk putri putri kita semoga rumah tangga anak anak kita selalu sakinah mawadah warohmah. Jangan malah berfikir yang bukan bukan. "


"Mama kan setiap hari berdoa seperti itu terus pah. Ya ini sih mama cuman merasa curiga saja dengan gelagat kia. Seperti ada yang di tutup tutupi kepada kita pah."


"Udah udah, enggak usah berfikir yang bukan bukan. Sekarang tidur kita besok pulang."


"Sebenarnya aku juga merasakan ada yang aneh kepad gelagat kia, setiap aku menanyakan sesuatu tentang akbar. Tetapi semoga saja itu hanya pikiran ku saja. Dan semoga rumah tangga putri putri ku selalu bahagia. Amin." Kata surya di dalam hatinya.


Ke esokan harinya orang tua kia berpamitan.


"Nak, kamu yakin enggak apa apa di tinggal mama sama papa?"


"Iya mah, kia enggak apa apa. Mama enggak perlu khawatirin keadaan kia. Sebentar lagi mas Akbar pulang kok mah."


"Beneran nak?"


"Iya mah."

__ADS_1


"Ya sudah jaga diri kamu dan anak kamu baik baik ya. Kalau ada apa apa langsung kabarin kami ya nak."


"Iya mah, mama sama papa hati hati di jalan ya."


"Ya sudah kita pamit ya nak." Kata surya sambil mencium kening putrinya itu.


Setelah beberapa lama mereka pergi, ibu sulis tetangganya datang mendekati kia yang sedang berdir di pintu gerbang.


"Eehh, ibu kia. "


"Iya bu sulis. Gimana bu?"


"Bu kia, kemarin waktu ibu kia tidak pulang selama dua hari kemana bu?"


"Kemarin saya di rawat di rumah sakit bu. "


"Loh, loh, loh sakit apa sih bu?"


"Ya kecapekan saja sih bu."


"Jadi gini bu, aku kemarin lihat pak akbar pulang dengan wanita lain sepertinya juga bukan ibu kia sih yang ada di dalam mobil itu."


"Iya bu kia, loh kenapa bu? Kok sepertinya ibu terkejut. Bukannya pak akbar menemani ibu di rumah sakit? Yang saya tanyakan pak akbar pulang kerumah sini dengan siapa?"


"Iya iya bu, kemarin memang mas akbar menemani saya di rumah sakit. Wanita itu mungkin saudaranya bu. Terimakasih infonya ya bu." Jawab kia berbohong.


"Owh iya iya, " kata bu Sulis dengan wajah binggung.


"Kalau begitu saya masuk dulu ya bu."


"Iya bu, saya juga mau pulang mau masak dulu. Mari bu kia."


Masuklah kia ke dalam rumahnya. Ia duduk di sofa ruang tamu.


"Ada apa mas akbar pulang? Lalu siapa wanita yang dia bawa? Jadi benar dugaan ku, alasan mas akbar untuk meninggalkan ku bukan karena seorang anak, tapi karena dia sudah memliki wanita lain. Coba aku akan menghubungi ibu sekarang." Kata kia di dalam hatinya.


Sesaat kia berjalan mendekati telephone rumahnya. Karena ia akan menelphone dewi.

__ADS_1


"Halo buk."


"Kenapa!"


"Buk, gimana keadaan ibuk di sana? "


"Baik."


"Buk, kia mau tanya?"


"Tanya apa cepetan, males tahu ibuk lama lama sama kamu!"


"Buk, apakah mas akbar sedang berada di tempat ibu sekarang ?


"Maksud kamu apa sih? Ibuk enggak ngerti!"


"Mas akbar sudah satu minggu tidak pulang kerumah buk. Mas akbar sudah mentalak aku dan sekang ia pergi meninggalkan ku buk."


"Apa sudah mentalak kamu? Bagus dong kalau gitu. Itu memang yang ibuk inginkan dari dulu."


"Tapi buk. Aku saat ini sedang mengandung anak mas akbar."


"Apa kamu hamil?! Kamu itu ya pinter banget kalau di suruh halu. Memang kamu fikir dengan kamu membohongiku aku percaya gitu saja. Aku gak percaya kalau kamu hamil, tahu. "


"Beneran buk, kia enggak bohong, kia positif hamil."


"Udah lah kia, terima saja sekarang nasip kamu jadi janda. Gak usah berbohong hamil hamil segala."


"Tapi buk, kia benar benar tidak berbohong. Besok kia akan ke tempat ibuk, dan memberikan hasil lapnya."


"Gak perlu, ibuk engak sudi lagi lihat kamu ke sini. Karena akbar sudah mentalak kamu dan sekarang kamu sudah bukan siapa siapa lagi untuk kita. Mengerti kamu."


Tot.. tot.. tot..


Di matikan lah telephone itu.


Bersambung...

__ADS_1


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2