Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Akbar di usir


__ADS_3

"Apa mas kamu ngatain aku cerewet. Heh, mas aku ini istri kamu loh! Kenapa sih kamu berubah banget sekarang semenjak kehadiran anak itu! Mas kita masih bisa loh berusaha untuk mendapatkan anak lagi. Supaya kamu bisa melupakan anak itu."


"Terus kenapa kalau kamu itu istri aku?! Kamu itu enggak bisa apa - apa! Kita masih bisa untuk mempunyai anak?! Mana buktinya?! Bagi aku pelangi itu separuh dari nyawaku! Minggir sana! "


"Mas, mas Akbar. Kamu ini kenapa sih sekarang berubah banget! Gak lagi dengerin aku. Yang kamu fikirkan hanya Pelangi dan Pelangi."


"Aku berubah karena aku muak dengan keadaanku sekarang! Hidupku selalu tertekan sama kamu dan juga ibuk! Puas kamu!"


"Aku salah apa sama kamu, sampai bisa - bisanya kamu bilang kalau aku yang sudah menekan kamu!"


"Ini semua gara - gara kamu yang hadir di kehidupa ku!"


"Ada apa sih ini kok ribut - ribut." Kata Dewi dengan berjalan ke Kayla dan memeluknya karena mereka sedang bercekcok kemudian Kayla menanggis.


"Aku mau ke kamar!"


"Akbar tunggu!"


"Kamu ini kenapa sih? Ibuk perhatikan akhir - akhir ini kamu sering sekali uring - uringan. Apa lagi ibu melihat kamu sering sekali membentak - bentak Kayla?!"


"Cukuplah ibuk ikut campur dengan urusan ku!" Cakap Akbar dan pergi meninggalkan mereka.


"Kenapa sih dia? Seperti orang kerasukan saja. Datanh - datang langsung marah - marah."


"Dia itu setiap haro selalu menyebut - nyebut nama Pelangi buk. Dia juga cerita kalau dirinya sangat merindukan Pelangi. Aku yang mendengarkan saja sampai bosen. Panas di telinga aku tuh buk."


"Kamu ini gimana sih. Namanya juga sama anaknya ya wajar saja kalau Akbar menyebut - nyebut nama anaknya. "


"Kenapa ibuk seperti menyalahkan ku? Tapi buk, dia itu sampai tidak makan. Pulang larut malam, dan sampai di rumah tubuhnya seperti selesai berminum - minuman."


"Sejujurnya ibuk juga sangat merindukan cucuku itu. Tertawanya, wajahnya apalagi tingkah lakunya yang masih sangat lucu dan mengemaskan."


"Kenapa sih kalian selalu membicarkan Pelangi. Apa sih untungnya membicarakan anak dari wanita itu!"


"Kayla! Walaupun pelangi anak dari wanita itu kamu juga harus tahu kalau dia adalah darah daging Akbar. " Ucap Dewi sambil berjalan mrninggalkan Kayla.


"Tapi buk, buk, hargh!"

__ADS_1


----------


Di malam harinya di waktu Kia akan menidurkan Pelangi. Pelangi pun melontarkan pertanyaan yang membuat Kia kaget saat mendengaran Pelangi berbicara.


"Bunda."


"Iya sayang."


"Pelangi ingin bertanaya kepada bunda. "


"Mau bertanya apa?"


"Tapi bunda janji ya. Enggak boleh marah."


"Memangnya selama ini Pelangi pernah mama marahi?"


"Enggak. "


"Nah itu Pelangi tahu sendiri. Pelangi mau tanya apa sama mama?" Cakap Kia dengan terheran heren.


"Bun, apakah om Akbar adalah ayah Pelangi?"


"Tadi siang, sehabis Pelangi menjemput kak Bella bersama bibik Sinta, om Akbar datang ke rumah uti. Lalu di saat Pelangi akan masuk rumah om Akbar mencium dan memeluk pelangi sambil berkata ( Pelangi anakku) gitu bun."


"Pelangi sayang, sekarang sudah malam. Lebih baik Pelangi tidur yuk."


"Bunda belum menjawab pertanyaan Pelangi."


"Baik, bunda akan jawab pertanyaan Pelangi. Siapa selama ini yang sering di sebut dengan sebutan ayah sama Pelangi?"


"Ayah Cleo. "


"Nah tuh Pelangi tahu."


"Berarti ayah Pelangi itu ayah Cleo ya bun?"


Kia pun hanya teraenyum menjawab pertanyaan Pelangi. Kia mulai merasa resah karena Akbar sudah berani datang ke rumah orang tuanya. Ia takut jika Dewi melakukan hal yang sama seperti Akbar. Ia juga merasa kehidupannya kini mulai tidak tenang lagi karena Keluarga Akbar.

__ADS_1


"Maafin bunda ya nak, karena sudah berbohong kepadamu. Bunda tidak ingin kamu bertemu dengan keluarga dari ayah kandungmu lagi. Bunda tidak rela kalau kamu harus bersama mereka atau mengenal mereka. Mungkin bunda jahat dengan semua ini, namun bunda melakukan semua ini karena bunda tidak mau kehilangan kamu nak, sebab mereka semua kejam terhadap bunda nak. Yang terpenting bagi bunda saat ini adalah bisa melihat kamu sehat dan tumbuh menjadi anak yang baik dan juga pintar. Karena bagiku, senyuman sang buah hati lah yang bisa membuat hidupku bahagia. Tetapi mengapa mama, papa, dan kak Sinta tidak menceritakan apa yang tadi Pelangi katakan kepadaku ya? Coba nanti aku akan telephone kakak kalau Pelangi sudah tidur." Katanya dari dalam hati dengan memeluk dan mengusap usap kepala Pelangi.


Selang beberapa menit Pelangi sudah tertidur pulas di dekapan hangat tubuh bundanya. Kia melihat wajah pelangi saat sedang tertidur itu. Kemudian ia mencium kening Pelangi.


"Terima kasih buah hati kecilku. Kamu adalah segala - galanya untukku, Kehadiranmu yang bisa membuat kesejukkan dihatiku, kamu adalah anugerah yang terindah untuk hidupku. Sehatlah selalu, bahagialah selalu, dan bersyukurlah selalu buah hati kecilku. Aku berjanji akan selalu menjaga kamu hingga tua nanti. Aku juga akan menyanyangimu dan melindungimu dari kerasnya dunia ini. Sebab semua ini adalah tugasku untuk selalu menjaga dan mendidikmu. Tetaplah terus bersama - sama bunda sampai bunda bekata tidak sanggup lagi untuk melakukan apapun putri kecilku. Bunda adalah ibu sekaligus ayah buat kamu sayang. Jadi kamu tidak perlu takut lagi untuk menghadapi dunia ini. " Ujar Kia dari dalam hatinya sehingga ia tak sadar air matanya terjatuh.


Selesai menemani Pelangi tidur Kia lalu menelfone Sinta untuk menanyakan apa yangbterjadi sehingga Pelangi bisa bercerita seperti itu.


"Hallo kak. "


"Kenapa Kia?"


"Aku ingin bertanya kak, apakah tadi siang Akbar datang ke rumah mama?"


"Iya benar, kok kamu bisa tahu?"


"Tadi Pelangi yang bercerita, kalau dia datang ke rumah mama,"


"Kami memang sengaja tidak menceritakan kepadamu, karena kami takut kamu akan sakit hati lagi mengingat dia."


"Tidak kak, aku sudah tidak lagi memikirkan dia. Memang sih hati ini masih terasa sakit jika mengingat kelakuan dan perkataannya terhadapku dulu. Tapi aku tidak perduli. Sekarang yang aku pikirkan hanyalah Pelangi bisa tumbuh menjadi wanita yang baik dan pintar dengan cara ku sendiri kak."


Lalu Sinta menjelaskan dan menceritakan Akbar yang berani datang mencari Pelangi di kediaman mamanya itu.


"Dia memang sudah tidak bisa mengunakan akal sehatnya kak. Keluarganya pun sudah benar - benar tidak tahu malu dengan apa yang pernah mereka perbuat kepadaku."


"Makannya itu kakak sangat membenci mereka. Apa lagi tadi kakak sangat kaget melihat dia berani datang ke sini. Heran aku dengan jalan pikiran dia beserta keluarganya. "


"Aku takut jika mereka akan membawa Pelangi kak. "


"Tenanglah, selagi Pelangi disini pasti aman dan kamu fokus saja dengan pekerjaanmu."


"Dek, kakak ingin bertanya kepadamu."


"Apa kak? "


"Ini tentang Cleo."

__ADS_1


Bersambung....


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2