Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kayla di tampar


__ADS_3

Setelah itu Akbar datang ke rumah sakit. Ia melihat Kia duduk di depan kamar Pelangi. Akbar langsung mendekati Dewi dan juga Kia.


"Ngapain kamu ke sini?!" Tanya nya dengan suara menantang.


Kia berdiri dan melihat ke arah Akbar. Tangannya sudah mulai mengepal seakan akan ingin sekali memukul wajah mantan suaminya itu. Namun dirinya masih bisa menahan amarahnya yang berkobaran bagaikan api.


"Kamu! Kamu memang laki - laki tidak berguna! Laki - laki berengsek yang tidak pernah punya pendirian! Kamu bukan seorang ayah yang baik untuk Pelangi! Kamu juga sudah seenaknya merebut dan merampas putriku yang sebelumnya sudah kamu buang sia - sia saat dia masih dalam kandungan dan dulu kamu juga tidak pernah mengakui dia sebagai anakmu! Sekaranh kamu buat anakku menderita seperti ini lagi! Apa sih mau mu?! Hem! Silahkan kamu mau menginjak - injak aku, mencaci maki aku, menghina aku bahkan membunuh aku sekali pun aku rela! Tapi jangan kamu perlakukan dia sama seperti kamu memperlakukan aku dulu! Aku yang sudah melahirkan dengan susah payah, aku juga yang sudah membesarkan dia hingga sampai saat ini. Tapi kamu apa?! Sebentar saja Pelangi hidup bersama kamu tapi dia sudah mengalami hal seperti ini?! Obat apa yang telah kamu berikan kepada dia?! Heh!" Kata Kia sambi mengeluarkan amarahnya.


"Sudah ngomongnya?! Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini! Pergi!" Ucap Akbar mengusir Kia.


"Baik, aku akan pergi. Tapi ingat kamu ya Akbar. Cepat atau lambat aku akan segera menjemput Pelangiku. Dan aku akan memastikan kamu tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengannya. Ingat itu baik - baik!"


"Kia, nak, tunggu nak, ibuk mohon."


"Buk, ngapain sih ibuk memberikan kabar ke dia kalau Pelangi sedang di rawat di rumah sakit? Mau ibuk apa sih? Ibuk mau mengagalkan semua rencanaku?"


"Akbar, sudah beberapa kali ibuk bilang ke kamu. Akhir saja semuanya, sebelum terlambat. Ibuk tidak ingin melihat kamu menderita nak. Ibuk ingin kamu kembali seperti yang dulu."


"Seperti dulu? Ibuk bilanga Akbar kembali seperti dulu? Siapa yang mengajari aku seperti ini buk? Siapa yang membuat aku kehilangan semua harapan dan masa depanku ini buk? Ibuk kan?!" Cakap Akbar dengan membentak Dewi.


"Iya, ibuk akui ibuk salah. Maka dari itu, ibuk tidak ingin kamu melangkah lebih jauh lagi sebelum penyesalan datang kepadamu nak. Biar bagaimana pun Kia tetap ibu kandung Pelangi. Tidak ada satu orang pun yang bisa melarang atau memisahkan mereka berdua kecuali kematian nak. Ibuk minta tolong jadilah seorang ayah yang baik dan bijak."


"Sudah lah buk. Tidak perlu ceramahi Akbar seperti itu. Akbar tidak akan pernah mau Pelangi hiduo bersama Kia. Akbar akan terus memperjuangkan Pelangi."


Selanjutnya Akbar berjalan lalu membuka pintu dan masuk ke dalam. Namun saat dirinya akan masuk ia kembali melihat ke arah Dewi. Dan memperingatkan kalau Kia tidak di perbolehkan untuk datang atau bertemu dengan Pelangi.


"Owh, iya buk. Aku tidak mau melihat sedikit pun wajah Kia berada di sini atau bertemu dengan Pelangi. Aku tidak ingin ibuk ikut campur urusanku. Sudah cukup ibuk menghilangkan masa depan ku yang dulu. "


"Tapi nak..." Ucap Dewi.


Namun Akbar tidak menggubris ucapan Dewi sama sekali. Ia langsung masuk begitu saja. Ia duduk di samping Pelangi.


Malam harinya Nindi datang ke rumah sakit dan membawa bukti botol obat tidur itu. Sebab dirinya akan menceritakan kepada Akbar dan juga akan memberikan bukti itu kepadanya.


"Kak Akbar. "

__ADS_1


"Kenapa Nin?"


"Aku kemarin enggak sengaja menemukan botol obat tidur ini di tempat sampah kak. Aku yakin sekali kalau Pelangi seperti ini memang di sengaja oleh istrimu kak. Dia telah sengaja memberikan obat ini kepada Pelangi kak. " Ucap Nindi sambil memberikan botol itu


"Apa?! Sudah aku bilangkan, kalau ini semua karena dia. Apa sih mau dia!" Kata Akbar sambil bergegas pergi berjalan keluar dari kamar Pelangi.


"Kurang ajar, lihat saja! Apa mau nya sehingga tega memberikan obat ini ke anakku." Ucapnya dari dalam hati.


"Kak mau kemana?"


"Aku akan pulang untuk bertemu Kayla!"


"Kak tunggu, aku ikut. Aku tidak ingin melihat kamu menangani dia kak."


"Terserah." Ucap Akbar.


"Ibuk, ibuk jaga Pelangi dulu ya. Aku mau ikut kak Akbar. Takutnya nanti akan terjadi sesuatu di rumah."


"Iya nak, sana cepetan. Ibuk akan menunggu Pelangi."


Kemudian Akbar dan juga Nindi pergi pulang untuk menemui Kayla. Beberap menit kemudian mereka sampai di rumah. Waktu itu Kayla duduk di ruang tengah yang sedang asik menonton tv.


"Apa mas? Bukannya kamu mau tidur di rumah sakit?"


"Ini apa?!" Tanya Akbar sambil menunjukan botol kecil itu.


"Emm, bagaimana bisa kamu menemukan itu mas?"


"Jawab aku sekarang, ini apa!" Bentak Akbar.


"Itu... "


"Apa! Kamu takut untuk berkata jujur kalau ini botol obat tidur yang sudah kamu berikan kepada anakku?!"


"Tapi mas, aku bisa jelasin..."

__ADS_1


"Apa lagi yang alasan yang akan kamu katakan kepadaku?! Kay, Pelangi itu anak kandungku. Kenapa kamu bisa tega sekali dengannya? Aku tidak habis pikir dengan kelakuan kamu ini!"


"Mas! Okey, aku akan berkata jujur. Memang aku yang telah memberikan obat tidur itu kepada Pelangi. Aku tidak suka dia ada di sini. Aku tidak mau kasih sayang kamu terbagi. Setiap aku melihat dia ada di sini, aku seperti melihat ibunya yang ada di dekatmu.


Plak ! (Tamparan Akbar)


"Kamu sadar tidak dengan apa yang kamu katakan?! Aku berjuang mati matian untuk mendapatkan hak asuh anakku. Tapi kamu justru membuatnya semakin rumit! Pola pikir kamu itu seperti anak kecil tahu!"


"Mas, kamu sudah berani menampar ku?!" Kata Kayla sambil memegang pipinya yang memerah bekas tamparan Akbar.


"Kenapa? Sakit?! Rasa sakit itu belum seberapa dengan rasa sakit yang Pelangi alami. Dia itu masih anak kecil Kay. Kamu mikir gak sih?! Hem!"


"Terus, terus saja kamu bela dia mas!"


"Kayla! Sekarang aku minta kamu pergi dari sini! Pergi! Bawa barang - barangmu keluar dari rumah ini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


"Baiklah kalau itu mau kamu! Aku akan pergu dari sini! Aku tidak akan lagi mau hidup bersamamu! Kamu lebih memilih anak itu dari pada aku!"


"Cepat pergi!"


Lalu Kayla menanggis dan pergi untuk mengemas semua barang - barangnya. Setelah itu ia berjalan keluar dari rumah itu dan berjalan melintas di hadapan Akbar. Nindi yang melihatnya langsung meminta Akbar untuk menghalangi Kayla pergi. Sebab yang ada dipikiran Nindi saat itu dirinya resah kalau semua akan menjadi masalah baru untuk kakaknya itu.


"Kak, sudah kak, kakak tenang. Hentikan kak Kayla pergi dari rumah ini kak."


"Untuk apa?! Biarkan dia pergi!


"Tapi kak, semua ini pasti akan menjadi masah baru lagi untukmu kak."


"Aku tidak perduli. Sebab dia sudah berani dan tega dengan Pelangi. Aku sudah tidak ingin lagi melihatnya."


"Kak..."


"Sudah lah Nin. Kamu tidak usah ikut campur dan menghalangi dia pergi. Biarkan saja dia pergi."


Kayla pergi begitu saja meninggalkan rumah itu. Dia mengemudi mobilnya sambil menangis sesenggukan karena mengingat kelakuan suaminya yang ia cintai sudah mau menampar dan mengusirnya dari rumah. Entah apa yang membuat Kayla begitu mencintai Akbar. Sedangan masih ada seseorang laki - laki yang kaya raya di belakangnya begitu sangat mencintai dirinya.

__ADS_1


Bersabung...


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2