
Betapapun tajam pedang keadilan, ia tidak akan memenggal kepala orang yang tidak bersalah. Mungkin ini yang saat itu ada di pikiran Kia.
Cahaya mentari di pagi hari mulai menyinari bumi semesta alam ini. Sorah sorak sebuah nyanyian yang nyaring bunyinya begitu sangat terdengar, apa lagi kicauan – kicauan burung yang menyambut indahnya sinar pagi sang surya.
Selama masih ada impian, harapan, dan juga keinginan yang kuat kita akan selalu diberikan kemudahan oleh - Nya. Selama masih ada harapan, kebahagiaan pasti akan kita dapatkan dengan berbagai cara.
Kia terbangun dari tidurnya dan beranjak dari ranjang, dirinya mulai melakukan ritual paginya, selesai menyelesaikan ritual pagi harinya itu, ia kembali melihat ke arah cermin, dirinya kembali bergumam sendiri dan berkata di hadapan cermin rias miliknya itu.
“Pelangi sayang, bunda akan menjemputmu hari ini. Tunggu bunda ya sayang. Aku harus optimis supaya aku bisa cepat bertemu dengan buah hati kecilku itu. Baiklah, aku akan mengakhiri semuanya ini. Dan aku akan lepaskan semua masalah yang ada, aku yakin semua yang aku jalani ini pasti akan segera usai. Selamat datang kebahagiaan dan selamat tinggal kehancuran.” Gumamnya di cermin.
Gugup pasti yang sedang di rasakan oleh Kia untuk menghadapi pesidanggan esok ini. Ia menghela nafas panjangnya dan berlanjut melangkahkan kaki untuk meninggalkan rumahnya. Setiap hembusan nafasnya selalu ada doa untuk menghadapi persidangan ini. dirinya berjalan menuju ke arah mobil pribadinya itu, lalu setelah menghidupkan mesin mobil, ia mengemudikan mobilnya dengan penuh harapan yang sangat besar.
“Aku harus bisa dan aku harus mampu, aku yakin aku bisa mendapatkan hak asuh itu. semua ini harus aku akhiri, apapun keputusan hakim aku akan hargai. Pelangi tunggu bunda.” Gumamnya lagi sembari melepaskan sedikit rasa gugupnya.
Dirinya sengaja untuk tidak berangkat bersama Cleo, sebab Cleo masih mengurus beberapa urusan di pengadilan nanti.
Begitu pula sebaliknya dengan Akbar dan juga Nindi yang masih sibuk mengurus berkas - berkas untuk mempersiapkan persidangan nanti. Akbar terlihat sangat ceria waktu itu. ia seperti tidak ada sedikitpun beban waktu itu. Sebab dirinya juga yakin kalau dialah yang akan mendapatkan hak asuh anak itu.
Akbar dan juga Nindi sudah berada di dalam kawasan gedung pengadilan itu, dengan di temani oleh kuasa hukumnya beberapa menit yang lalu.
Demi kian dengan Surya, Nisa, Sinta dan Cleo juga sudah nampak terlihat di gedung pengadilan itu. Lalu mereka duduk di ruang tunggu. Persidangan belum di mulai. Di susullah oleh ke dua pengacara Kia yang juga sudah hadir untuk menyelesaikan kasus perebutan anak ini.
Mereka menanti nanti kedatangan Kia yang belum juga nampak terlihat di sana. Cleo mencoba menghubungi Kia, akan tetapi Kia tidak menjawab sama sekali telepon dari Cleo. Mereka masih menunggu Kia di ruang tunggu.
Disaat itu Akbar menghampiri Cleo yang sedang memegang handphone dan berdiri bersandar di cagak gedung itu.
“Ini adalah persidangan keputusan, dan hari ini pula kita terakhir bertemu di sini. aku sangat yakin, kalau hak asuh Pelangi itu akan jatuh di tangan ku. Kita lihat saja, hakim akan berpihak kepadaku. Dan yang perlu kamu tahu, jika Pelangi nanti sudah bersama ku, aku minta kepada kalian semua untuk tidak usah lagi bertemu dengannya. Aku pun juga tidak akan memperbolehkan kalian datang untuk menemui putriku, ingat itu." kata Akbar dengan sombongnya.
“Kamu tidak usah besar kepala dulu. Kita lihat saja siapa yang akan mendapatkan hak asuh itu.” jawab Cleo tanpa menatap wajah Akbar.
“Hem, ( dengan bibir yang tersenyum miring ) kalian terlalu naif. Ya, kita buktikan saja nanti. Aku atau kalian yang menang disini."
Kemudian Akbar pergi meninggalkan Cleo. Cleo hanya diam dan tidak membalas sedikit pun omongan Akbar tadi. Sebab dirinya sangat mengkhawatirkan Kia yang tak kunjung terlihat di sana.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian. Nampak seseorang wanita dan Wanita itu berjalan menuju arah Cleo, menggunakan kemeja putih, dengan rambut yang terurai sangat cantik, wajahnya pun terlihat begitu berseri dan terlihat sangat energik. Ia pun mendekati Cleo dari belakang. Kemudian ia menepuk pelan bahu Cleo.
"Mas, aku siap." Ucapnya.
Yang awalnya Cleo duduk di depan hadapan wanita itu, Cleo kemudian membalikkan badannya dan melihat orang yang sudah menepuk bahunya. Sontak Cleo tersenyum dan mengatakan.
"Kia, akhirnya kamu datang juga." ucap Cleo.
Kia pun hanya tersenyum manis kepada Cleo. Dengan wajahnya yang begitu sangat semangat pagi itu.
"Doa kan aku ya mas." Pinta Kia.
"Iya sayang, pastinya. Aku sangat yakin, kamu bisa mendapatkan hak asuh ana itu. Semangat ya." Cakap Cleo.
Dan Kia pun membalas dengan senyumannya lagi.
Akhirnya, waktu persidangan sudah di mulai. Masuklah semua rombongan dari pihak penggugat, akan tetapi di sana sama sekali tidak terlihat Dewi hadir mengikuti rombongan Akbar. Dewi memang sengaja tidak hadir sebelum persidangan itu di mulai. Sebab dirinya tidak ingin di curagai oleh Akbar.
Di ikuti juga oleh pihak tergugat. Keluarga yang menyaksikan itu pun juga ikut duduk di kursi tergugat masing - masing. Kia duduk di dekat ke dua pengacaranya. Ia masuk dan menundukan kepalanya, setelah menundukan kepalanya dirinya langsung melihat ke arah wajah Cleo. Mata Cleo pun terlihat seperti memberikan kepercayaan dan semangat untuk Kia.
Pejabat yang bertugas sebagai protocol mengumumkan bahwa hakim atau majelis hakim akan memasuki ruang sidang.
"Majelis hakim memasuki ruang sidang , kepada para hadirin yang sudah masuk ke dalam ruangan dimohon untuk berdiri." Ucap petugas itu.
Kemudian mereka berdiri, setelah majelis hakim, jaksa dan juga penasehat hukum duduk di kursinya masing – masing, semua hadirin pun dipersilahkan untuk duduk kembali. Persidangan akan segera di mulai, ketua hakim kemudian membuka sidang dan menyatakan sidang “ Pembacaan Keputusan” sudah di mulai. Majelis hakim meminta pihak penggugat untuk segera memberikan kesaksian yang nyata dan benar.
Akbar pun langsung berdiri dan melangkahkan kakinya untuk menuju kursi pengadilan atau kata lain kursi pesakitan. Kemudian dirinya duduk di kursi yang hanya bisa di duduki oleh satu orang saja dan Kursi itu berhadapan langsung dengan majelis hakim.
Lalu beberapa pertanyaan di lontarkan oleh majelis hakim, Akbar pun mengarang semua jawaban – jawaban yang tidak benar. Pengacara Kia pun mengatakan keberatan kepada majelis hakim tentang apa yang di ucapkan oleh Akbar saat itu.
Persidangan terakhir ini benar – benar sangat panas, keduanya masih saja beradu argumentasi tentang kebenaran yang ada. Akan tetapi Akbar mengeluarkan lagi bukti – bukti palsunya itu.
Persidangan itu masih berlanjut, Akbar masih kekeh dengan prinsipnya sendiri yang menurutnya dia bisa memenangkan kasus ini Sedangkan pihak dari anggota Kia juga berusaha untuk melanjutkan perang bicaranya dalam membela kebenaran. Kia mulai garang kepada sikap dan juga ucapan Akbar saat memberikan ke saksikan palsunya itu. Sehingga Kia meminta kepada pengacaranya agar ke dua orang saksi yang dulu pernah dibayar oleh Akbar itu untuk menerangkan kepada hakim mengenai kebohongan tindakan Akbar dalam persidangan ke tiga kemarin.
__ADS_1
Akbar dan juga Nindi tercengang melihat ke dua orang itu datang dan membongkar semua rahasia saat dulu mereka telah di bayar oleh Akbar untuk berkata bohong di hadapan majelis hakim mengenai kasus perebutan anak ini. Anggota dari Akbar pun hanya terdiam, akan tetapi pengacaranya masih membela mati - matian atau mencari alasan - alasan mengenai kesalahan yang telah Akbar lakukan.
Melihat wajah Akbar yang sudah mulai cemas, Cleo hanya tersenyum menghina melihatnya. Raut wajahnya pun sangat terlihat sedang kebingungan untuk memberikan kebohongan kepada majelis hakim. Demikian pada Nindi, dia juga sudah kebingungan mencari cara untuk menolong kakaknya itu.
Saksi pertama sudah Kia hadirkan kepada majelis hakim , kemudian saksi ke dua yaitu Alex yang hadir untuk membantu Kia memberikan kebenaran mengenai realita kehidupan rumah tangga Akbar yang hancur karena istrinya telah menyelingkuhi suaminya sendiri karena suaminya tidak bisa memberikan perhatian kepada istrinya itu.
Betapa sangat terkejutnya Nindi, karena kedatangan dan ucapan yang sudah di katakan oleh Alex di persidangan itu. Apa lagi Alex menceritakan bahwa dirinya juga sudah bercumbu bersama dengan istri dari Akbar. Sebab istri dari Akbar sudah menjual diri kepada Alex. Nindi benar - benar tidak bisa lagi berkata apun setelah dia mendengarkan Alex berbicara seperti itu.
“Apa! Ternyata selama ini mereka sudah saling berhubungan, astaga. Sakit sekali hati ini mendengarkan dia berkata seperti itu, apa lagi aku hanya di jadikan alat untuk mereka. Han... cur.. sekali hati aku. Kenapa kalian sungguh kejam sekali padaku. Hiks.. Hiks.. Hiks.. sedangkan rasa cintaku padamu begitu besar dan tulus, namun kamu dengan sekejam itu menghancurkan harapan dan juga impianku untuk bisa bersamamu mas Alex.” Guman Nindi dari dalam hatinya sembari mendengarkan Alex bersaksi.
Nindi merasa sangat kecewa, hatinya pun seperti tercabik - cabik lalu luka itu di siram dengan air garam betapa perihnya dan na’as kisah cintanya. Sebab dahulu dirinya selalu mengutamakan Alex, dan selalu mementingkan Alex.
Dirinya tak kuasa menahan air matanya yang perlahan – lahan jatuh membasahi pipinya itu. dirinya juga tidak habis pikir dengan perbuatan kakak iparnya yang sudah tega bermain dibelakang dengan pacarnya itu.
Semua orang yang berada di pihak Akbar pun sangat kaget. Mereka tidak habis pikir dengan apa yang telah di perbuat oleh istrinya Akbar. Mereka Pun hanya bisa menanggung malunya sendiri.
Yang begitu sangat membuat mereka tercengang dan terbelalak adalah kehadiran ibu kandungnya sendiri yaitu Dewi, Dewi datang dan menepati janjinya untuk memberikan kesaksian kepada majelis hakim mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Dirinya menjelaskan kepada hakim mengenai anaknya yang sudah menelantarkan mantan istri dan juga bayi yang saat itu sedang Kia kandung, ia juga mengatakan kepada majelis hakim tentang hubungan Akbar dengan istrinya yang saat ini di ambang kehancuran.
Dewi mengetahui itu semua, karena Ida sudah pernah datang ke rumah Dewi tanpa sepengetahuan Akbar, Ida menjelaskan semuanya tentang kelakuan anaknya dan juga menantunya itu. Ida datang untuk meminta maaf kepada Dewi karena anaknya sudah mengecewakan Akbar dan membuat malu keluarga Dewi. Awal itu Dewi hanya diam dan terdiam beribu – ribu kata tentang penjelasan Ida. Dewi tidak menyangka kalau Kayla akan seperti itu.
Dewi juga sengaja tidak menceritakan kepada Akbar atau pun Nindi soal ke datang Ida. Dia hanya akan menunggu Akbar sendiri yang bercerita tentang masalahnya. Akan tetapi Akbar sama sekali tidak menceritakan kepada ibunya karena sudah mentalak Kayla, apa lagi untuk menceritakan masalah dia dengan Alex saja sama sekali dirinya tidak pernah mau bercerita kepada ibunya sendiri.
Di hadapan majelis hakim, jaksa, penasehat dan juga semua para pirsawan yang hadir saat itu, Dewi meminta maaf dengan tulus kepada Kia dan juga semua keluarga tergugat. Dirinya sungguh – sungguh menyesali apa yang sudah di perbuat sehingga anaknya bisa menjadi berwatak keras seperti ini karena akibatnya yang dulu telah membuat hidup Kia menderita.
Semua terkejut mendengar dan melihat apa yang telah Dewi katakan. Dewi juga ingin mengakhiri semua perdebatan atau permasalahan ini kepada Kia ataupun kepada semua keluarga Kia. Dirinya menangis dan bersujud di kaki Kia, akan tetapi Kia tidak kuasa melihat kesungguhan Dewi meminta maaf kepada dirinya.
Ia juga meminta kepada Dewi untuk berdiri karena Kia sudah benar – benar memaafkan apa yang telah Dewi perbuat dulu kepada dirinya itu. Lalu Kia memeluk erat Dewi sebagaimana dirinya memeluk erat ibunya sendiri. Semua pisawat yang hadir sangat terharu melihat permintaan maaf dari Dewi.
Akan tetapi Akbar justru naik darah atau geram melihat sandiwara Dewi. Sebab Dewi tidak membela anaknya sama sekali, tetapi Dewi lebih membela Kia mantan istrinya itu. Akbar berfikir, kedatangan Dewi waktu itu hanyalah sebagai kendala dirinya untuk mendapatkan hak asuh anak.
“Apa – apaan ini?! Ibuk kenapa datang ke sini hanya untuk membela Kia! Apa sih mau ibuk?! Brengsek! Aku sulit mempercayai ini semua, karena ibuk ku sendiri sudah membela musuh ku di persidangan ini dan merusak semua rencana ku!” gumam Akbar di dalam hatinya sambil melihat ke arah dewi dengan lirikan yang tajam.
__ADS_1