
Setelah mendengarkan pembicaraan ke dua orang tuanya dari balik pintu, amel kemudian berjalan menuju dapur. Ia kemudian mengambil secangkir air minum.
“siapa itu akbar? Kenapa mereka menutup – nutupi semua itu? Apa akbar itu ayah kandung kak pelangi? Kenapa bunda sangat membenci orang itu. Jadi penasaran aku, apa lagi bunda akan melartang kak pelangi untuk berteman dengan kak brayen. Padahal tadi kak pelangi cerita kalau dia habis di tembak sama kak brayen. Aaa…. Ssssttt… taga…. Apa mungkin brayen itu anaknya akbar? Terus kak brayen dan kak pelangi itu kakak adik? Ya ampun. Ya ampu. Kasiha dong kak pelangi. Aku enggak bisa bayangin, kalau ternyata orang yang dia cintai itu adalah adik tirinya sendiri. Kalau kak pelangi tahu dia pasti sangat – sangat patah hati. Apa lagi tadi kakak cerita kalau dia ingin memilih brayen dari pada calvin. Gimana ini? Aku juga enggak mungkin kalau aku kasih tahu ke kakak. Pasti nanti bunda akan marah besar sama aku. Apa aku harus diam saja ya? Tapi….” Ucap amel dari dalam hatinya yang saat itu sedang mengenggam secangkir air putih sembari berdiri bersandar di pintu kulkas.
**
Pagi harinya, di mana aktifitas seperti biasa telah mereka lakukan. Nindi tidak bisa lagi untuk tinggal diam, ia ingin sekali mencari tahu di mana anak tunggalnya itu berada. Ia sengaja mengajak brayen untuk mencari dion. Sejak pagi hingga sore hari, mereka sudah mencari dion ke sana ke mari, akan tetapi mereka sama sekali belum menemui dion dan mengetahui keberadaan dion di mana. Nindi hampir putus asa karen Ia belum juga menemukan dion. Sehingga terlintas di pikirannya kalau dia harus datang ke rumah Kia, dan di mana dion berada saat itu. Sebab kia yang sudah mengatakan kalau ia mengetahui keberadaan dion waktu itu.
“Brayen, di mana dion ya nak. Kita sudah cari dia dari pagi sampai siang gini. Tapi kenapa dion belum juga kita temuka. Hisk.. hisk.. hisk..
“Tante, tante yang sabar ya. Coba kita cari dion di tempat dion sering nongkrong tan.”
“TApi kalau dia tidak ada di sana terus gimana? Kita mau mencari dia di mana lagi.”
“coba sekarang kita cari dion dulu di sana tan. Semoga saja dion ada di sana.”
“iya semoga dia ada di sana ya brayen.”
Mereka pun kemudian mencari di tempat biasa untuk dion berkumpul dengan teman – temannya. Sesampai di sana Nindi bertanya kepada semua orang yang ada di situ. Akan tetapi semua teman – teman dion mengatakan kalau mereka sudah lama tidak pernah bertemu dengan dion beberapa minggu terakhir belakangan ini. Mereka juga mengatakan kalau dion sudah jarang sekali untuk bermain dengan mereka apa lagi untuk balap liar. Ada salah satu teman dion yang mengatakan kepada Nindi kalau dion itu anak yang baik. Dia selalu menolong teman – temannya. Mereka juga menanyakan ke adaan Dion saat itu, karena mereka takut kalau dion sedang sakit.
“tante ingin mencari dion, kalian bener – bener enggak ada yang tahu di mana dion?”
“Enggak tante, terakhir dion ke sini itu minggu lalu itu pun sudah agak lama.”
“Owh, ya sudah kalau begitu.” Kata nindi, nindi kemudian berjalan pergi.
“iya tante. Tante tunggu.” Ucap teman dion itu.
Nindi pun menghentikan langkah kakinya.
“Tante, aku hanya ingin mengatakan kepada tante, kalau dion itu anaknya baik. dia selalu membantu teman – temanya. Kenapa tante mencari dia? Apa ada masalah dengan dion? Dia baik – baik sajakan tan?”
“Dion pergi dari rumah bung. Kami sedang mencari keberadaan dia sekarang. Sejak pagi sampai sekarang kami belum menemukan dia ada di mana.”
“dion kabur dari rumah? Bang aku akan bantu cari dia bang. Setelah beberapa minggu dion tidak pernah datang ke sini, di sini rasanya sepi bang. Em, nanti kalau aku ketemu dia, aku akan ajak dia pulang bang. Aku juga akan membantu untuk mencari dion.”
“Makasih ya bung.” Kata Brayen.
“terimakasih banyak ya nak. Tante pamit dulu.”
“Iya tante, hati – hati.”
Akhirnya Nindi pergi dengan brayen.
“kita mau cari di mana lagi tan?”
“Entahlah brayen, tante juga tidak tahu. Tante seperti sudah putus asa. Lebih baik kita sekarang pulang saja.”
“Pulang tan?
“Iya.”
“baik tante. Em, tan, brayen boleh Tanya tidak?”
“APa?
“Tante kenal tante Kia?”
__ADS_1
“Iya.”
“itu teman tante?”
“Iya.” Ucap Nindi dengan singkat karena ia hanya fokus memikirkan anaknya itu.
“Kenapa tante Kia kemarin marah – marah di rumah tan?”
“Iya, dia melarang dion untuk main ke rumahnya atau anaknya. Dia juga bilang…. Brayen, brayen, sekarang lebih baik kita pergi ke rumah tante Kia. Dia tahu di mana dion. Tante baru ingat. Kemarin dia bilang kalau dia tahu dion di mana.” Ucap nindi.
“Iya, iya tan.”
Nindi dan brayen kemudian pergi ke rumah Kia. Sesampai di rumah kia, nindi cepat – cepat turun dari mobilnya dan berulang – ulang kali menekan tombol bel rumah itu.
Tak lama Kia keluar dan menemui nindi yang telah berdiri di depan pintunya itu.
“Ngapain kamu ke sini?”
“kak, kak aku ingin mencari dion anakku.”
“Nyari dion kok di sini? “
“Iya aku sengaja datang ke sini, karena aku sudah mencari dion ke mana – mana kak. Tapi aku tidak menemukan dia sama sekali dari tadi pagi ampai sore ini kak.”
“Terus ngapain kamu nyari ke sini?! Dia enggak ada di sini.”
“tapi kemarin kak kia bilang kalau kakak tahu dia di mana kan kak?”
“Mana aku tahu! Sudah sudah, sekarang kamu pergi dari sini.”
Kia memang sengaja mengusir Nindi dari rumahnya, ia tidak mau kalau pelangi bertemu dengan Nindi dan juga brayen.
“Astaga nindi, aku sudah bilangkan kalau aku tidak tahu dia di mana, dan di sini juga tidak ada yang namanya dion. Kamu paham kan dengan ucapanku?”
“Kak, tolong kak, aku janji, setelah kakak memberi tahu aku keberadaan dion di mana, aku janji akan menyuruh dion untuk tidak main lagi atau mengganggu anak kak kia.” Kata Nindi sambil bersujut di kaki Kia.
Kia pun kemudian, menyuruh nindi untuk berdiri. Sebab dia merasa risih dengan sikap nindi waktu itu.
Pelangi yang mendengar ke gaduhan di depan rumah pun lalu turun untuk melihat kondisi di depan.
“Ada apa sih rebut, rebut di depan? Kenapa bunda marah – marah? Terus bunda marah – marah sama siapa lagi itu.” Guamam Pelangi dari dalam hatinya sambil berjalan menuju ke depan rumah.
Karena hari itu pelangi sedang tidak ada mata kuliah, maka pelangi hanya di rumah dan selalu membaca buku saat mengisi harinya yang senggang.
“bun, ada apa bun?”
Kia kaget karena pelangi datang dan berdiri di sampingnya itu.
“Brayen?” ucap pelangi.
Pelangi pun melihat langsung di saat Nindi sedang bersujut – sujut dikaki kia. Sedangkan kia sudah meminta berulang – ulang kali kepada nindi untuk segera berdiri. Pelangi pun binggung dengan apa yang dia lihat, sedangkan Kia juga binggung harus menjelaskan bagaimana nanti kepada pelangi anaknya.
“Pelangi, kamu masuk.”
“Tapi ini ada apa sih bun?”
“Masuk bunda bilang,”
__ADS_1
“Tapi tante,” ucap Brayen yang tidak tega melihat tantenya sedang bersujut – sujut kepada Kia.
“Brayen kamu diam saja.” Kata kia dengan nada tinggi.
“Tunggu bun, ini sebenarnya ada apa sih?”
“Sudah sekarang kamu dengerkan bunda, bunda minta kamu masuk ke dalam dan jangan ikut campur urusan bunda.”
“Apa mbak, ini pelangi?”
“Diam nin, aku tidak mau kamu bicara apapun.”
“Pelangi ini tante sayang, tante nindi.”
“Tante nindi? Tate nindi siapa ya?”
“Pelangi! Masuk! Bunda bilang kamu masuk!”
Karena kia waktu itu meminta pelangi masuk ke dalam rumah dengan berteriak, pelangi pun kemudian masuk ke dalam rumah, Ia menuruti perintah bundanya waktu itu. Ia semakin binggung, karena tante yang sedang memohon – mohon kepada kia itu bisa mengenal dirinya.
Rasa ingin tahu pelangi pun menjadi bertambah. Ia ingin sekali mendengarkan cerita dari bunda tentang siapa tante itu sehingga ia mengenal dirinya.
“Siapa tante itu? Kenapa dia datang dengan brayen, apa lagi tante itu sedang bersujut – sujut di kaki bunda. Dan bunda terlihat begitu sangat membenci tante itu?” gumam pelangi sambil berjalan mondar mandir di ruang tengah sambil mengigiti kuku jarinya.
Tak lama kia meminta kepada security untuk mengusir brayen dan nindi, higga akhirnya nindi dan brayen pergi dari rumah pelangi. Kia pun masuk ke dalam rumah, ia melihat pelangi yang sedang berdiri sambil berjalan mondar mandir di ruang tengah.
Ketika pelangi tahu kalau kia sedang berjalan, pelangi pun terus mencoba mendekati bundanya. Ia lalu menarik tangan bundanya untuk menceritakn apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Bunda, bunda tunggu.”
“Emm, kenapa pelangi?”
“Bun, tolong jelasin sama pelangi apa yang sebenarnya terjadi? Siapa tante itu? Dan kenapa dia bisa bersujut di kaki bunda?”
“Emm, itu hanya…”
“Bun, tolong katakana yang sebenarnya sama pelangi.”
“Pelangi, bunda capek, bunda mau istirahat dulu.”
“Enggak bun, aku mohon bunda jangan mengalihkan pembicaraan bun. Tolong jawab bun, siapa tante itu? Dan kenapa dia bisa mengenal pelangi?”
“Dia itu… em…”
“Dia apa bun?”
“Dia itu mamanya dion! kata kia sambil memejamkan matanya.
“mamanya dion? tapi kenapa dia seperti sangat kenal dengan pelangi bun, terus kenapa dia datng dengan brayen?”
“Agh, sudahlah, bunda capek, bunda mau istirahat.” Ucap Kia sambil berjalan melangkah ke kamarnya dengan wajah dan raut muka yang terlihat binggung.
“Tapi bun, bunda. Bunda jelaskan sama pelangi ada apa sebenarnya bun.” Teriak pelangi.
Bersambung...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐