Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
alex mengancam


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, setelah semuanya mengetahui cerita hidup kia atau akbar dulu mereka mulai menerima kenyataan itu. brayen pun juga sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Akan tetapi brayen kembali pulang ke kota di mana ia tinggal bersama ibu dan juga ayahnya. Tentang kuliahnya, ia telah mengajukan cuti ke kampus karena ia ingin memulihkan keadaanya.


Ia juga sudah memikirkan matang – matang kalau ia akan melupakan pelangi dan menerima pelangi sebagai kakak tirinya. Sedangkan setiap hari eva selalu memberikan semangat dan motivasi kepada anaknya itu, supaya Brayen bisa ikhlas dan menerima keadaan yang nyata.


“brayen, kamu sudah bangun?”


“Sudah bu,”


“Ibu juga sudah menyiapkan sarapan pagi nak. kita makan yuk.”


“Iya bu.”


Mereka kemudian sarapan bersama di meja makan. Eva merawat anaknya dengan penuh kasih sayang sampai brayen sembuh total. Malam itu, brayen merapikan barang yang ada di kamarnya. Ia menyimpan sebuah foto – foto yang di mana foto itu adalah dirinya dengan pelangi.


Tok.. tok.. tok..


“Iya masuk.”


“Nak, kamu belum tidur?”


“Belum bu.” Ucap brayen sambil menaruh foto – foto itu ke bok hitam miliknya.


“ini apa nak?”


“Owh, ini, ini foto aku dengan pelangi bu, aku ingin simpan foto – foto kebersamaan kami. Kalau ak tidak menyimpannya,aku tidak akan pernah bisa melupakan dia bu.”


“Emm, iya ibu paham. Silahkan nak. kalau itu yang membuat kamu bisa melupakan dia. Ibu akan selalu menunggu kamu sayang.”


“Bu, terima kasih ya. Ibu selalu percaya sama dari dulu. Ibu juga yang selalu mendukung aku, apapun itu pilihan ku.”


“nak, menjadi orang tua itu tidak mudah, apa lagi seorang ibu. Seorang ibu itu, akan melakukan apa saja demi anaknya. Bahkan nyawa sekalipun ia akan taruhkan, ibu hanya ingin melihat anak ibu bahagia. Seorang ibu itu tidak bisa melihat sedikit saja anaknya sengsara. Ibu ingin anak - anaknya bisa bahagia, walaupun di tubuh dia penuh dengan luka di tubuhnya nak.”


“Brayen sayang sama ibu, doa kan brayen ya bu, supaya brayen bisa ikhlaskan semuanya. Dan brayen bisa lebih fokus lagi untuk mengejar cita – cita brayen. Brayen janji sama ibu, brayen aku menjadi anak yang baik, yang membanggakan untuk ibu. dan brayen janji, akan membuat ibu bahagia.” Kata brayen yang kemudian memeluk ibunya dari samping.


“Iya, setiap kata yang ibu keluarkan adalah doa untuk kamu nak, supaya anak ibu ini bisa bahagia dan apa yang kamu inginkan bisa kamu capai dengan mudah.”


“Terimakasih ya bu.”


“Senyuman sang buah hati ibu ini lah penyemangat ibu yang sebenarnya. Semangat ya sayang. ibu yakin kamu bisa. Kamu mampu untuk menghilangkan rasa itu, walaupun berat.”


“Iya bu.”


Brayen, memang untuk beberapa bulan ini tidak tinggak di kota yang mana kota itu adalah tempat tinggal pelangi. brayen pulang ke rumahnya dan tinggal bersama akbar atau eva. Sedangkan akbar, belum sempat bertemu atau datang ke rumah Kia. sebab ia di kejar – kejar laporan pekerjaannya di kantor. Apa lagi masa cuti di kantor sudah habis sehingga ia belum ada waktu untuk pergi main ke rumah Kia. akan tetapi, pelangi sering datang ke rumah nindi. pelangi juga mendekatkan dirinya kepada Nindi tante nya sendiri. Ia ingin mempunyai keluarga yang utuh, tidak cerai berai hanya karena masalah orang tuanya dulu. Kia pun juga mulai menerima dengan semuanya, apa lagi setelah mendengar kabar kalau akbar dan keluarganya sudah balik ke kota tempat mereka tinggal. Kia pun juga sudah mulai tenang setelah mendengar kabar itu.


Akan tetapi permasalahan Nindi dengan alex belum selesai sampai di sini. Dendam dan perebutan itu masih ada dan berlanjut. Semenjak Nindi bertemu dengan Alex di rumah bayu waktu itu, nindi mulai waspada dengan sekelilingnya. Ia berpikir apa yang di takutkan selama ini akan terjadi kepada dirinya. Namun, setelah beberapa minggu terakhir ini, tidak ada kejadian apapun yang ia alami. Ia kembali berfikir, kalau alex mungkin tidak akan kembali lagi untuk mengganggu hidup dia dan anaknya lagi. sehingga nindi merasa sedikit aman untuk melakukan aktivitasnya.


“Selamat pagi sayang. sini kita sarapan bareng. Mama sudah masakan makanan ke sukaan anak mama tercinta.” Sapa Nindi kepada anaknya.


“Selamat pagi juga ma. Mama kok sudah cantik? Mau berangkat pagi ini ya ma?”


“Iya nak. mama ada meeting pagi ini. Doakan ya semoga urusan mama lancar hari ini.”


“aamiin. Iya ma. Emm enak mah sayurnya.”


“iya dong. Ya sudah habisin ya sayang makanannya.”


Setelah beberapa menit kemudian selesai sarapan pagi bersama anaknya, ia pun kemudian pergi ke kantornya. Sedangkan dion sekarang sudah mulai homeschooling, sejak awal hubungan dion dengan  nindi sudah membaik, dion pun sekarang belajar dengan tekun dan giat. Sebab ia berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia akan merubah sikapnya dan akan membahagiakan mamanya.


Pagi itu, nindi sampai di kantornya, ia kemudian berjalan menuju ruangannya sendiri. Akan tetapi pagi itu ia di kejutkan dengan kedatangan seseorang yang duduk di depan meja kerjanya itu sembari meletakkan kakinya di atas meja kerja milik nindi. nindi pun penasaran dengan orang tersebut. Sebab ia berpikir bahwa orang itu berani sekali duduk dengan posisi yang tidak sopan di ruangan kerja.


“Maaf anda siapa? Kenapa anda masuk di dalam ruangan saya dengan tidak sopan!” ucap Nindi sambil berjalan mendekati orang itu.


Akan tetapi orang tersebut hanya diam dan memainkan kakinya yang masih ia letakan di atas meja dengan menyilangkan kakinya.

__ADS_1


“saya tanya sekali lagi. anda siapa?!” tanya Nindi dengan marahnya.


“Hay, kamu ternyata sudah datang. Aku sudah menunggu kamu dari tadi di sini.”


Nindi pun kaget setelah melihat dan mengetahui kalau orang itu adalah Alex.


“Kamu! ( ucap Nindi sambil menuding ke arah wajah alex) apa lagi sih yang kamu mau dari aku?! hem!”


“Tenang, tenang dong. Tidak perlu marah – marah. Sepertinya kamu kaget ya melihat aku disini? Ternyata ini kantor pribadi kamu? bagus juga. Kamu ternyata pintar ya mengatur semuanya.”


“Tidak usah basa basi. Sekarang kamu cepat pergi dari sini. Pergi aku bilang.”


“nindi, nindi. slow sedikit dong. Nggak perlu marah – marah gitu sama aku. aku ke sini hanya ingin mengambil anakku. Karena sudah bertahun – tahun, aku jauh dari anakku.”


**


“Huft!” nindi pun menghela nafas panjang seperti tidak ingin mendengarkan apa yang alex ucapkan.


“sudah aku duga, dia ke sini hanya untuk mengatakan seperti itu. apa sih mau dia? Dulu dia campakan aku, tapi sekarang, dia ambil dan rebut anakku. Dasar laki – laki gila.” Gumam nindi dari dalam hatinya sambil melirik tajam ke arah Alex.


**


“Apa sih mau kamu sekarang?!” tanya nindi dengan sadisnya.


“mau aku sekarang? aku hanya ingin hidup dengan anakku. Aku ingin anakku bersama ku. Sakit sih dengernya, tapi bagaimana lagi. ternyata setelah aku bertemu dengan anakku, ternyata anakku sangat tampan seperti ayahnya. Iya kan. Tapi, aku sadar diri, setelah kamu berikan dion kepada ku, aku janji sama kamu, aku akan memberikan seperempat dari sahamku untuk kamu. gimana? Aku yakin, pasti kamu suka kan dengan tawaran aku? sedangkan kamu tahu sendiri, sahamku tidak Cuma – Cuma. Apa lagi, setelah kamu menerimanya, kamu tidak akan susah payah bekerja seperti ini. Seperempat dari sahamku sudah akan mencukupi kehidupan mu sampai kamu tua, bahkan kamu mati pun pasti akan ada sisa yang tidak sedikit.”


“Orang gila kamu!”


“Loh, kamu ini gimana sih. Aku kasih yang enak enggak mau, malah ngatain aku gila.”


“Iya memang, memang kamu gila. Kamu memang kaya raya, tapi yang perlu kamu ingat! Tidak semuanya di dunia ini bisa kamu bayar pakai kekayaanmu itu! aku sampai kapan pun tidak akan pernah menukarkan anakku dengan hartamu. Karena buat aku dion adalah segala – galanya. Simpan saja omong kosong kamu itu. dan cepat lah pergi dari sini!”


“Nindi, nindi. kamu ini lupa ya dengan aku. baik, kalau kamu menolak tawaran berlian aku ini. Tapi ingat ya sayang, aku juga akan melakukan apapun untuk mendapatkan dion. sebenarnya sih, aku tidak ingin menjelaskan panjang lebar sih sama kamu. karena aku tahu, kalau kamu itu sudah sangat paham betul dengan sikap aku. kamu tahu kan aku ini bagaimana? Licik. Pasti itu yang akan kamu katakan pertama kali. Tapi memang benar, aku ini licik. Maka dari itu, aku ingatkan kembali sama kamu. kamu serahkan dion dan menerima tawaran ku, atau aku akan membuat hidup kamu sengsara untuk selama – lamanya. Bahkan, kantor mu ini yang sudah susah payah kamu bangun bertahun tahun, mungkin bisa aku runtuhkan dalam sejap.”


Alex pun tiba – tiba bertepuk tangan sendiri di depan wajah Nindi.


“Waw, luar biasa sekali ya kamu sekarang. sudah berani menantang aku? baiklah. Aku akan buktikan ancaman aku ini. Lihat saja kamu akan menyesali seumur hidup kamu. dan aku janji di hadapan kamu, kalau aku akan mengambil dion dari tangan kamu! ingat itu.”


“Pergi kamu dari sini! Pergi! Aku bilang pergi!”


Alex pun pergi dan meninggalkan Nindi sendirian di ruangannya. Sedangkan setelah alex pergi, nindi pun kemudian duduk di kursi kerjanya dan menangis seorang di ruangannya. Ia bingung harus berbuat apa. Sebab ia tahu kalau alex akan melakukan ancamannya itu. yang nindi takutkan adalah ia harus kehilangan anaknya. Setelah itu nindi bergegas memanggil semua karyawan dan juga security yang bekerja di kantornya itu. ia meminta kepada asisten pribadinya yang bekerja di kantor itu untuk memanggil semua staf, karyawan dan juga security saat itu juga.


“Hallo bu nindi selamat pagi.”


“Pagi karla. Karla aku minta sama kamu kumpulkan semua staf, karyawan dan juga security. Suruh tutup pintu gerbang gedung kita sebentar, dan beri pengumuman di pintu itu kalau kita sedang meeting sebentar.”


“Baik bu.”


“Cepat, aku ingin lima belas menit semua sudah kumpul di depan ruangan saya.”


“Baik bu.”


Di tutuplah telepon itu oleh Nindi seketika. ia kemudian membanting semua yang ada di depannya sehingga membuat barang – barang, atau buku – buku yang ada di meja nindi berserakan dan berjatuhan di lantai. Ia tidak menyangka kalau Alex akan datang ke kantornya dan mengancam dirinya seperti itu. setelah lima belas menit semua staf, security dan karyawannya pun sudah berkumpul di depan ruangan Nindi. kemudian Karla asisten pribadi Nindi pun masuk ke dalam ruangan nindi, ia melihat ruangan itu berantakan dan dia juga melihat nindi sedang menangis dengan mata yang ditutupi oleh tangannya. Karla pun kemudian menghampiri Nindi dan memegang pundak nindi.


“Permisi bu. Ibu tidak apa – apa?” tanya asisten Nindi itu.


“Owh, kamu. apakah semua sudah berkumpul di depan?”


“Semua sudah menunggu ibu,”


“Kalau begitu, saya akan keluar.”


“Baik ibu. tapi, ibu baik baik saja kan?”

__ADS_1


Nindi pun hanya mengangguk anggukan kepalanya. Setelah itu asisten pribadi Nindi pun keluar dengan penuh banyak pertanyaan karena melihat pertama kalinya nindi seperti itu. tak lama nindi pun kemudian keluar lalu berbicara di depan semua staf, karyawan dan juga security yang bekerja di kantor pribadinya itu.


“Baik, sebelumnya selamat pagi semua. Saya sengaja mengumpulkan kalian di sini kenapa? Karena saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua. Di sini saya peringatkan kepada kalian semua, ingat kalian semuanya, tanpa terkecuali. Saya peringatkan untuk tidak menerima tamu atau klien atau siapapun itu yang bernama Alex febrian pratama. saya yakin nama itu sudah tidak asing lagi untuk kalian. Apa lagi kepada security. Saya minta dengan sangat untuk lebih ketat lagi menjaga ke amanan di kantor. Dan saya minta buat peraturan baru, setiap ada orang yang akan masuk ke kantor ini tolong di lihat dulu Identitas dirinya cek nama pribadinya orang tersebut. Kalian paham?” pinta nindi kepada semuanya dengan suara yang tegas.


“paham bu.”


“Kalau begitu, silahkan lanjutkan pekerjaan kalian lagi. terimakasih karena sudah meluangkan waktu sebentar untuk saya.”


Kemudian mereka pun membubarkan diri masing – masing dan melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Nindi masuk ke dalam ruangannya lalu mengambil tas dan bergegas untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, ia meminta kepada karla supaya cleaning servin segera membersihkan atau merapikan ruangan kerja nindi yang saat itu berantakan.


“karla, saya akan keluar sebentar. Tolong kamu bilang sama cleaning service untuk segera merapikan atau membereskan ruangan saya sekarang.”


“Baik bu. Tapi bu, maaf sebelumnya. Emm, ibu pagi ini ada meeting dengan klien.”


“tolong bilang sama Klien kita, kalau meeting kita undur nanti siang. Soalnya saya masih ada urusan penting sebentar.”


“Baik bu.”


“Makasih ya karla.”


“Sama – sama bu.”


Dan akhirnya Nindi pun langsung pulang ke rumah untuk menemui Dion. tak lama ia sampai di rumah, ia kemudian berjalan menuju ruang tengah, akan tetapi ternyata dion masih homeschooling. Nindi pun lalu masuk ke dalam kamarnya karena ia bingung harus bagaimana lagi menghadapi ancaman yang Alex berikan kepadanya. Ia hanya takut kehilangan dion. ia kemudian berjalan mondar mandir di dalam kamarnya sambil menggigit jarinya.


“Alex kamu memang brengseng. Aku menyesal telah mengenal dan juga mencintaimu. Kamu laki – laki brengsek yang pernah aku temui. Aku tidak menyangka kenapa aku bisa berurusan lagi sama kamu. sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau menukar dion dengan uang atau harta yang kamu berikan kepadaku. Aku harus bergerak cepat sebelum laki – laki brengsek itu melakukan aksinya duluan. Tapi apa? Apa yang harus aku lakukan? Agh! Alex awas ya kamu, sampai kamu nekat. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu, sampai aku mati pun tidak akan ada kata perdamain antara kita.” Gumam nindi sambil berjalan mondar mandir sendirian di kamarnya.


Akan tetapi Nindi pun sudah sangat bercampur aduk hati atau pikirannya saat itu. ia kemudian menangis sambil ndlosor di lantai dengan menyandarkan kepalanya di kaki tempat tidurnya. Sedangkan setelah beberapa menit kemudian, dion pun menghampiri nindi yang sedang bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan anaknya itu dari alex. Dion sudah selesai melakukan kegiatan home schoolingnya, ia tadi juga sudah mengetahui kalau mamanya pulang ke rumah.


Tok.. tok.. tok..


“Masuk.” Ucap nindi.


“Mama.” Kata dion yang kaget melihat mamanya seperti itu.


Dion pun kemudian bergegas mendekati mamanya.


“Mama kenapa? Siapa yang membuat mama menangis seperti ini?”


Akan tetapi setelah dion bertanya seperti itu, nindi pun seketika langsung memeluk dion sambil menangis.


“hisk.. hisk.. hisk.. dion. jangan tinggalkan mama lagi ya nak. mama tidak sanggup kehilangan kamu untuk yang ke dua kalinya nak. mama sayang sama dion.”


“Mama, dion kan masih di sini bersama mama. Ceritakan ma? Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi sehingga membuat mama menangis seperti ini?” tanya dion yang bingung dengan sikap Nindi waktu itu.


“hisk.. hisk.. hisk..”


“apa dia datang menemui mama?”


Nindi kemudian mengangguk - anggukan kepalanya.


“Pasti dia sudah mengancam mama ya?”


“Iya nak, dia mengancam mama, dia ingin mengambil kamu dari mama nak. mama nggak sanggup sayang. hisk.. hisk.. hisk.. mama enggak mau kehilangan kamu lagi. mama ingin dekat dan terus hidup bersama kamu nak.” ucap Nindi sambil menangis dan memeluk Dion.


“Ma, dion minta sama mama. Mama jangan khawatir, dion sudah besar, dion sudah bisa membela diri dion sendiri ma.”


“tapi nak, dia itu licik dan kejam. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan apa yang dia inginkan nak. mama sangat tahu betul bagaimana sifat dia sayang. mama takut. Hisk.. hisk.. hisk..”


“mama, mama tenang, selagi dion masih bersama mama, mama tidak perlu khawatirkan itu ma. Dion masih di sini bersama mama. Mama yang tenang ya. Dion akan tetap terus bersama mama.” Ucap dion yang mencoba menenangkan kepanikan Nindi saat itu.


Nindi pun kemudian sedikit tenang karena perkataan dion tadi. Ia lalu berfikir kepada siapa ia akan meminta pertolongan jika alex nanti benar – benar akan mengambil dion dari kehidupannya itu. ia kemudian menelefon akbar dan menceritakan semuanya kepada akbar. supaya akbar bisa membantu dirinya untuk menghadapi alex jika ia benar – benar nekad akan melakukan ancaman itu kepada nindi.


Bersambung...

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2