Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
di kampus


__ADS_3

Waktu itu Pelangi pergi dengan kondisi yang masih sangat kecewa. Ia mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Hingga jarak tempuh yang biasanya bisa memakan waktu empat puluh lima menit, sedangkan saat itu ia menempuh jarak menuju ke kampusnya hanya dengan waktu dua puluh menit saja.


Tak lama pelangi pun sampai di kampus. Ia keluar dari mobil dengan raut muka yang murung dan mata yang sembab. Ia berjalan menuju ke arah kampus. Cici yang melihat sahabatnya sedang berjalan itu kemudian menghampiri pelangi. Akan tetapi Cici sama sekali tidak di gubris oleh pelangi. Pelangi hanya terdiam diam dan diam seribu bahasa.


“Pagi Ngi, eh ngi lo dah ngerjain tugas da.. ri..” sapa cici kepada sahabatnya itu sembari membuka tasnya sambil mencari buku mata kuliah yang akan dia tunjukan ke Pelangi. Akan tetapi cici tidak melanjutkan kata – katanya. Sebab Pelangi waktu itu sama sekali tidak berbicara apa pun dan hanya berjalan begitu saja menuju ke kelasnya.


“Ngi.” Panggil cici kepada sahabatnya itu.


“Ngi, lo ngapa sih! Lo marah sama Gu... e...” kata cici yang berjalan di samping pelangi sambil menarik pundak pelangi.


Setelah menarik pundak pelangi, cici kemudian terdiam karena melihat wajah Pelangi waktu itu. cici melihat mata pelangi yang sembab dan pucat. Dirinya kemudian bertanya kepada Pelangi tentang kondisinya yang sedang di alami oleh pelangi.


“Ngi, lo enggak apa – apa?” tanya cici


“Gue lagi ke pingin sendiri dulu ci.”


“Tapi ngi.”


“Ci, gue lagi pengen nenangin hati gue dulu. Gue minta tolong ke lo, jangan ganggu gue dulu ya.” Pinta pelangi dengan mengucapkan suara yang sangat lirih.


 “Tapi Ngi, lo bisa ceritakan apa yang terjadi dengan lo sekarang. Lo lagi ada masalah ya? Sama siapa?” Panggil cici


“Ci, pleas, gue lagi pingin sendiri dan gue lagi enggak mau banyak ngomong. Lo ngertikan apa yang gue minta?”


“Ngi...”


Pelangi kemudian pergi berjalan meninggalkan cici sendirian.


 


Saat sampai di kelas, dan mata kuliah sudah di mulai, Cici dan pelangi sama sekali tidak bercanda atau bercakap – cakap seprti biasanya. Pelangi masih terlihat lesu dan sedih. Cici selalu mengamati sahabatnya itu. ia merasa khawatir dengan sahabatnya. Sebab dia baru kali pertamanya melihat Pelangi seperti itu selama cici mengenal sahabatnya.


“Kenapa sih pelangi? Sepertinya dia sedang ada masalah berat banget, baru kali ini aku mengenal dia. Selama ini aku berteman dekat dengan dia, tidak pernah aku melihat sedikit pun di menanggis, dia selalu tersenyum dan happy walau pun seburuk apapun kondisinya. Sepertinya dia sedang mempunyai masalah dengan keluarganya. Tapi apa ya?” gumam cici dari dalam hatinya sambil melihat Pelangi yang pergi meninggalkan cici begitu saja.


Di saat cici akan berjalan menuju ke kantin. Calvin datang mendekati Cici. Ia menanyakan keberadaan Pelangi.


“Pelangi mana ci? Kok tumben kamu sendirian?”


“Kak, Pelangi...”


“Dia enggak masuk ya?”


“Enggak kak, bukan itu.”

__ADS_1


“Terus di mana Pelangi? Biasanya kalian sering berdua di mana – mana?”


“Pelangi tuh berangkat kuliah kak,”


“Terus mana?”


“Huusssttt... kak gimana aku mau jelasin. Dari tadi kak ganteng ngomong terus. Diam dulu biar cici kasih tahu. Pelangi itu berangkat kuliah. Tapiu tadi pagi aku lihat matanya tuh sembab. Enggak tahu kenapa. Terus pas aku deketin dia bilang lagi enggak ingin di ganggu kak.”


“Memang Pelangi kenapa? Dia ada masalah?”


“Aku juga enggak tahu kak, dia sama sekali tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya. Kalau aku lihat dia sedang ada masalah dengan keluarganya deh kak.”


“Keluarganya? Tapi kemarin waktu aku di undang sama bundanya Pelangi untuk makan malam sepertinya mereka baik – baik saja, malah keluarga Pelangi semua menyambut aku dengan sangat baik.”


“Terus kenapa ya kak? Kalau sama pacar, enggak mungkin. Dia kan enggak punya pacar. Tapi kalau sama kak calvin kalian baik – baik saja kan?”


“Aku enggak ada masalah apa – apa sama dia ci. Kalau begitu coba aku akan menemui dia dulu ya. Makasih ya ci infonya.”


“Iya kak. Sama – sama. Tapi kalau nanti Pelangi cerita sesuatu sama kak Calvin, kak Calvin kasih kabar ke cici ya kak. Aku sebenarnya juga sangat mengkhawatirkan kondisinya kak.”


“Iya pastinya. Ya udah ya Ci, aku cari Pelangi dulu.”


Kemudian Calvin mencari Pelangi di sekitar kampus dan di tempat – tempat biasa yang sering Pelangi datangi.


**


“Nih, hapus air mata mu.” Ucap orang itu.


Pelangi seketika langsung melihat ke arah orang yang memberikan sapu tangannya agar di pakai untuk menghapus air mata pelangi.


“Brayen?”


“Kamu enggak takut di sini sendiri? Apa lagi kamu menangis seperti ini?”


“Kamu kenapa kamu tahu kalau aku sedang ada di sini? pasti Kamu membuntutiku? Iya kan?”


“Jangan Gr, aku tadi ingin bermain basket di sini. Tapi tidak sengaja aku mendengar ada yang menangis di sini. Aku kira siang – siang bolong gini ada hantu yang sedang menangis. Tapi setelah aku dekati ternyata kamu yang menangis.”


“Iya, aku memang mencari tempat untuk meluapkan kekecewaanku.”


“Sama pacar?”


“Ngaco kamu?”

__ADS_1


“Terus?”


“Aku sedang kecewa sama bunda ku Bray,”


“Kalau boleh tahu kenapa?”


“Adalah bray. Ada sesuatu yang membuat aku kecewa.”


“Owh, aku juga tidak memintamu untuk menceritakan semua. Ya setidaknya aku bisa menjadi teman untuk meluapkan kekecewaan kamu.”


“Makasih Bray, tapi aku sudah sedikit tenang karena aku sudah menanggis di sini tadi.”


“Iya baguslah. Kalau begitu lebih baik kamu sekarang temani aku saja bermain basket.”


“Aku..”


“ayuk, turun.”


Brayen kemudian mengajak Pelangi untuk bermain basket. Mereka bermain berdua di gedung dome itu. Brayen memang sengaja membuntuti Pelangi sejak pelangi pergi menyendiri dan berjalan menuju ke gedung dome itu. Brayen ternyata juga sudah memperhatikan pelangi saat mata kuliah di mulai. Ia melihat wajah pelangi yang sedih dan matanya yang sembab.


Dengan cara mengajak Pelangi bermain basket itulah Brayen sengaja untuk menghibur pelangi.


“Bray, aku enggak pernah main basket.”


“Nih ambil.” Ucap Brayen yang sengaja melempar bola basket ke arah pelangi.


Pelangi pun seketika menangkap bola itu.


“Terus?”


“lempar yang kuat dan masukin ke ring itu yang ada di hadapanmu sekarang.”


Pelangi pun kemudian melempar bola basket itu. akan tetapi Pelangi tidak dapat memasukan bola itu ke ring basket yang ada di hadapannya. Brayen pun mengajari Pelangi cara melempar bola basket ke ring dengan benar. Cara mengajarkan pun ia berdiri tepat di belakang pelangi, kemudian brayen memegang tangan Pelangi sambil menatap wajah pelangi yang jaraknya hanya sejengkal dari wajah Brayen. Mereka kemudian saling bertatap – tatapan dengan memegang bola basket itu. jantung brayen seakan – akan berdetak sangat hebat, karena dia bisa berhadapan langsung wajah pelangi dengan sangat dekat dan dia bisa menyentuh tangan pelangi. Kemudian ia secara perlahan – lahan membantu tangan Pelangi untuk melempar bola basket itu ke ring. Dan di saat Bola basket itu sudah melayang menuju ring, Pelangi dan Brayen terjatuh secara bersamaan.


Mereka pun kemudian saling bertatap tatapan lagi. Beberapa detik kemudian mereka berdua berdiri. Wajah pelangi yang terlihat canggung pun langsung berpamitan untuk meninggalkan gedung dome yang ada di kampus itu.


“Em, bray, aku pulang dulu ya.”


“Iya, kamu jangan sedih lagi ya.”


“Iya, makasih untuk sapu tangan dan juga sudah mengajariku untuk bermain basket tadi. Aku pergi dulu ya.”


Pelangi langsung berlari dan mengambil tasnya kemudian berjalan menuju pintu keluar gedung dome itu sambil tersenyum – senyum sendiri. Begitu pula dengan Brayen, yang juga tersenyum mengingat kejadian tadi. Ia begitu sangat gembira karena bisa menatap pelangi lagi dengan begitu sangat dekat.

__ADS_1


Bersambung.....


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2