
Alat pendekteksi denyut jantung itu mulai bergerak, seakan akan Kayla mendengar suara Akbar yang sedang ada di sampingnya itu. jemari tangan Kayla sepontan bergerak mengenai tangan Akbar yang sedang berada di samping Kayla.
“Kay? Apakah kamu mendengarkan semua yang aku katakan? Aku sudah datang untuk menemui mu. Bangunlah Kay.” Ucap Akbar yang berbisik di telimga Kayla.
“Aku tahu, kamu mengharapkan kehadian ku di rumah sakit ini kan? Sekarang aku sudah ada di sini. Apa yang ingin kamu katakkan kepadaku?” tanya Akbar lagi.
Kata – kata ke dua yang Akbar bisikan tidak mendapatkan respon dari Kayla.
Kemudian setelah Akbar keluar dari Ruang ICU ia melihat Dewi dan juga Ida sendang berada di depan ruang ICU itu untuk menjaga Kayla.
“Kamu sudah ada di sini nak?” tanya Dewi kepada putranya itu.
“Akbar, bagaimana Kayla.”
Akbar keluar dengan mulut yang hanya diam dan diam seribu bahasa. Lalu Ida menyusul Akbar dan bertanya kepadanya lagi.
“Akbar tante mohon. Tolong tante kali ini saja ya.”
Akbar hanya bisa terdiam dan diam lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Ida itu.
“Baiklah. Aku akan menolongmu.”
“Apakah kamu sungguh – sungguh dengan ucapanmu ini nak?
“Iya. Aku akan menemani dia di masa masa terakhirnya. Aku masih menyadari kalau dia pernah menjadi bagian dari hidupku. Aku juga akan membatalkan tuntutan ku untuk gugat cerai.”
Bebrapa hari kemudian Kayla mulai menunjukan reaksi positif dan perkembangan yang membaik mengenai penyakitnya, Kayla mulai sadarkan diri dari kondisi kritisnya. Kayla mulai membuka matanya dengan perlahan lahan. Dan juga Ia perlahan – lahan sudah mulai bisa mengatakan apa yang dia inginkan setelah tidur panjangnya, sealama tiga hari di masa kritis nya kemarin. Dirinya juga tidak menyadari kalau Akbar selama ini juga yang sudah menemaninya di saat dia kritis. Idan dan juga Akbar memang sengaja tidak langsung jujur untuk mengatakan jikalau Akbar sering ke rumah sakit hanya untuk melihat kondisi istrinya itu.
Ida merasa sedikit lega karena Kayla bisa melewati masa Kritisnya itu. Akbar juga sengaja tidak langsung untuk menemui Kayla yang masih terbaring lemas tak berdaya. Sebab dokter meminta kepada pihak keluarga untuk tidak memberikan sebuah beban pikiran walaupun sekecil itu. Sebab yang di takutkan adalah jika dirinya tidak bisa menerima makan masa kritis itu akan kembali menghampiri dirinya, akan tetapi jika mereka menuruti semua apa kata dokter, kondisi Kayla akan segera pulis, sebab sulit baginya mengharapkan kata sembuh untuk dirinya dengan penyakit yang sedang dia derita saat ini.
Setelah beberapa hari ini, dokter sudah memperbolehkan Kayla untuk di pindahkan dari ruang ICU pindah ke ruang umum yang biasanya di pergunakan untuk orang – orang yang menderita penyakit yang tidak jauh beda dengan Kayla. Kayla sudah bisa di di ajak biscara, dirinya juga sudah bisa melangkahkan kakinya yang kurus kerempeng seperti hanya tulang belulang saja. Ia duduk di atas kursi roda dan lagi – lagi menatap ke jendela kamarnya. dirinya sangat berharap di hari – hari terakhirnya dia bisa merasakan dekapan hangat dari Akbar yaitu laki – laki yang sangat dia cintai.
Terdengan ketukan suara pintu yang menandai jika akan ada seseorang yang masuk dari luar sana. Kayla berpikir orang yang mengetuk pintu itu pasti adalah ibu atau kalau tidak perawat yang akan mengantarkan obat saja. Kayla tidak memperdulikan suara ketukan pintu itu. kemudian terdengan suara langkah kaki yang berjalan dari arah belakang tubuhnya itu mendekati dirinya. Ia lagi – lagi berpikir kalau itu pasti ibunya. Ia tidak menoleh sedikit pun ke arah belakang tubuhnya itu. yang dia lakukan hanyalah memfokuskan pandangannya dari dalam jendela kamarnya itu.
__ADS_1
“Tumben mama siang sekali datang ke mari.” Cakap Kayla dengan lirih yang masih memandang pemandangan dari kamarnya yang berada di lantai atas.
Akbar pun juga hanya terdiam, dan tidak mengeluarkan kata – kata apapun.
“Aku sudah makan kok mah. Jadi mama tidak perlu menghawatirkan Kayla.”
“Ehemm.. “ Akbar berpura – pura batuk dengan di tutupi oleh tangannya itu.
Kayla pun menoleh kebelakang bagian tubuhnya. Sebab suara batuk itu terdengan seperti suara laki – laki dan menurutnya suara itu sangat tidak asing di telinganya.
“Mas Akbar.” Ucap Kayla yang kaget dengan ke datangan Akbar.
“Hay, “ balas ucapan Akbar.
“Mas,” kata Kayla yang langsung memutarkan kursi rodanya dan mengeret kursi roda itu untuk menuju ke arah Akbar yang sedang berdiri itu.
“Hop.. Hop.. hop.. sudah aku saja yang kesana. Kamu tetap tenang di situ.”
Kemudian Akbar berjalan mendekati Kayla yang masih duduk di kursi rodanya dengan posisi dekat dengan jendela kamarnya. setelah akbar sampai di hadapannya Kayla mula berdiri secara perlahan lahan dan langsung memeluk Akbar. Ia menanggis saat memeluk Akbar.
“Sudah, sudah, tenang aku sekang di sini. Aku minta maaf karena aku tidak pernah menemui kamu selagi kamu di rawat di rumah sakit.” Cakap Akbar dengan membalas pelukan dari Kayla.
“Mas, lihat aku sekarang, aku sudah tidak cantik lagi seperti dulu. Hisk ... hisk... hisk.. kamu pasti takut melihat wajahku yang sekarang? Iya kan mas.”
“Husst kamu ini ngomong apa sih. Kalau aku takut melihatmu untuk apa aku susah payah datang kemari hanya ingin melihat kondisimu.”
“Kamu yakin mas?” tanya Kayla dengan suara manjanya yang masih khas dari mulutnya itu.
“iya,”
“Tapi mas, apakah kamu tidak marah lagi sama aku?”
“Marah kenapa?”
__ADS_1
“soal waktu lalu? Kalau aku sudah mengecewakan mu?” tanya Kayla lagi dengan posisi yang masih memeluk erat tubuh Akbar.
“Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu sekarang kita jalani masa depan. Aku juga yakin kalau kamu melakukan itu semua pasti ada alasannya ya kan?”
Kayla hanya mengangguk anggukan kepalanya dan masih memeluk Akbar dengan sekuat mungkin. Bisa di bilang kayla memeluk Akbar itu, ia seperti tidak ingin di tinggalkan oleh Akbar. Genggamnya pun semakin erat.
Dirinya sangat menyukai dan bahagia ketika melihat Akbar datang ke rumah sakit untuk dirinya itu. sedangkan Akbar melakukan itu semua karena permintaan Ida, dan dia hanya berpura – pura melupakan kesalahan yang pernah Kayla lakukan terhadpnya. Dan Akbar tidak tega melihat kondisi Kayla yang sudah parah seperti itu.
“Sebenarnya akau ke sini menemui kamu ini karena permintaan ibu kamu. Bukan karena kemauan ku sendiri. Aku hanya ingin menolong ibumu dan membuatmu merasa senang. Sebab di detik detik terakhirmu, ibumu ingin kamu bahagia bersamaku. Jika dulu kamu tidak melkukan kesalahan yang fatal mungkin kamu tidak akan berbaring atau menginap di rumah sakit. Akan tetapi, karena uang sudah membutakan matamu, maka kamu lebih baik memilih uang dari pada masa depan mu sendiri. Dan jika saja kamu mau mendengarkan semua yang aku katakan, mungkin kita masih bisa terus bersama dan menuju masa depan yang indah bersama anak – anak kita. Tapi sayang itu semua hanyalah angan – angan.”Guamam Akbar sembari mendekapi tubuh Kia yang kurus itu.
Kemudian Ida datang dan masuk ke dalam kamarnya. ia berpura – pura tidak mengetahui kalau Akbar datang ke rumah sakit.
“Eh ada nak Akbar.” Ucap Ida dengan sapaanya.
“Iya mah,” jawab Akbar dengan sandiwaranya itu.
“Sudah dari tadi?”
“Iya mah, lumayan sih.”
“mah aku senang sekali mas Akbar datang ke sini.” Ucap Kyala dengan tersenyum dan masih memeluk akbar dengan eratnya.
Perlahan – lahan Akbar mulai melepaskan gengaman tangan Kayla itu. ia meminta Kayla untuk kembalio duduk di kursi rodanya. Kayla pun menurut dengan ucapan Akbar.
“Kamu kurus sekali sekarang?”
“Iya, gara – gara penyakit yang aku derita ini mas.” Ucap Kayla dengan mulut manyunnya.
“ya sudah tidak apa – apa. Jangan salahkan penyakit yang kamu derita saat ini. Karena penyakit itu datangnya dari Tuha. Kita harus banyak berdoa supaya penyakit mu ini segera di angkat oleh Tuhan. “ ucap Akbar.
“aamin. Aku sangat mengharapkan itu terjadi. Aku ingin membangun kembali rumah tangga kita yang dulu pernah berantakan akibat ulah ku sendiri mas.” Ujar Kayla.
Bersambung...
__ADS_1
❇️❇️❇️❇️❇️