Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Nindi


__ADS_3

"Kenapa semunya ini terjadi kepada anakku? Kenapa bukan aku saja yang sakit? Pelangi yang masih kecil itu harus merasakan sakit di tubuhnya dan bekas alat - alat tajam di ruangan operasi." Dalam hatinya berkata seperti itu.


Bebrapa menit Cleo datang menemui Kia sebab dirinya mendapatkan kabar bahwa Pelangi masuk ke rumah sakit.


Cleo datang dan menghampiri Kia yang sedang berdiri di belakang jendela kaca ruang NICU. Ia bertanya kepada Kia kondisi Pelagi saat itu.


"Bagaimana kondi Pelanggi saat ini Kia?"


Kia melihat Cleo di sampingnya langsung menyandarkan dirinya di bahu dada depan Cleo karena ia sudah tidak sangup lagi melihat purtinya seperti itu. Cleo pun mencoba menenangkan hati Kia yang saat itu sedang remuk redam.


"Sudahlah, tenang, jangan panik. Semua akan baik - baik saja. Serahkan semuanya kepada Allah. Dan percayakan semuanya oleh dokter." Ucap Celo sambil memeluk Kia dan mengusap usap lengan tangan Kia.


"Aku tidak sanggup meihat bayi sekeci itu harus masuk ruang operasi mas. Hiks, hiks, hiks." Kata Kia sambil menanggis sesenggukan.


"Yakinlah Pelangi itu kuat. Soperti bundanya. "


Seketika Kia bangun dari sandaran Cleo. Ia langsung menatap wajah Cleo. Lalu menghapuskan bekas air matanyanya yang bercucuran tadi.


Sudah satu jam berlalu dokter membawa ingkubatornya menuju ruang operasi yang menandakan bahwa operasi akan segera di lakukan.


Cleo mengenggam telapak tangan Kia dan memberikannya semangat.


"Dulu aku di beri tahu ibu, kalau ibunya kuat pasti anaknya juga kuat. Pesan itu selalu aku ingat sampai sekang jadi apapun masalah yang aku hadapi semua aku hadapi dengan tenang dan kuat. Karena aku percaya ibuku sosok wanita yang sangat Kuat."


Kia saat mendengarkan Cleo berkata seperti itu langsung melihat wajah cleo.


"Jadi aku yakin kalau kamu kuat pasti anakmu juga ikut kuat."


"Iya mas aku enggak boleh lembek, aku harus kuat. Aku yakin itu. Aku kuat anakku juga kuat."


"Nah gitu dong, hadapi semuanya dengan tenang. Aku yakin semua pasti akan berlalu. "


"Iya betul mas,"


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Cleo.


"Aku sedang tidak ingin makan apa apa mas. "


"Kenapa? Sakit?"


"Aku sedang tidak nafsu makan."


"Kalau kamu sakit, gimana?"

__ADS_1


"Jangan mas, aku enggak boleh sakit. Biar aku bisa merawat dan menjaga kembali Pelangiku. "


"Kalau begitu makanlah sedikit saja. Supaya tidak sakit. Ini aku sudah bawakan kue kesukaanmu dan susu untukmu. Makanlah sekarang ya."


Akhirnya Kia mendengarkan perkataan Cleo yang menyuruhnya untuk makan walaupun hanya sedikit saja sambil duduk di depan ruangan operasi.


Dari ke jauhan terlihat Sinta, Nisa, dan Surya berjalan menuju arah Kia dan Cleo. Mereka menanyakan kepada Kia kondisi Pelangi.


"Gimana kondisi Pelangi sekarang Kia? " Tanya Nisa kepada Kia.


"Kia juga belum tahu mah, semoga semua baik - baik saja. Dan operasinya lancar."


Tak lama dari kedatangan Nisa dan yang lainnya, dokter keluar dari dalam ruang operasi.Ia memberikan kabar bahwa operasinya lancar dan tidak ada kendala apapun. Hanya saja pasien sekarang tidur dan di bius. Untuk saat ini pasien tidak bisa di besuk.


Hati Kia mulai merasa lega dan sedikit tenang. Setelah beberapa hari Pelangi sudah bisa di bawa pulang karena kodisinya sudah membaik. Keciaan kembali hadir di hidup Kia. Semenjak kejadian Pelangi di operasi mulai saat itu juga dirinya sangat berhati hatu mengurus dan menjaga Pelangi.


-------


Tiga bulan berlu, Kia mulai menghubungi Nindi. Ia menyuruh Nindi untuk datang ke rumahnya saat itu juga.


Kring.. kring.. kring ..


"Hallo..


"Iya kenapa kak?"


"Nindi, aku sudah melahirkan. Aku harap kamu bisa ke sini untuk melihat keponakan kecilmu ini."


"Iya kak, aku akan kesana mungkin sekitar tiga hari lagi ya kak. Aku saat ini sedang mengajukan lamaran pekerjaan di salah satu kantor pengacara di jakarta."


"Baiklah kak Kia akan menunggumu."


"Cewek ya kak yang lahir?"


"Iya. Cantik sekali."


"Pastinya, kan dia keponakan ku. He.. he.. he.. kak lanjut nanti ya. Ini aku sudah di panggil."


"Iya, semoga kamu berhasil. "


"Terimakasih kak Kia."


Kia langsung menutup percaapannya itu lewat telephonenya.

__ADS_1


Di sana sebelum Nindi akan datang ke rumah Kia, ia mampir ke rumah ibunya dan memberikan kabar bahwa dirinya akan menemui anaknya Kia.


"Ibuk, "


"Kamu ke sini? Lagi - lagi tanpa kasih kabar."


"Aku sebenarnya di sini hanya mampir sebentar."


"Loh memang kamu mau ke mana ?"


"Aku mau melihat anak kak Kia."


"Gila kamu."


"Loh kenapa aku gila?"


"Ya jelas kamu itu sinting. Jelas jelas kakak kamu itu sudah bercerai dengan wanita itu. Kamu justru mau ke sana!" Ucap Dewi dengan matanya yang sedikit melirik tajam.


"Yah, itukan kakak, bukan aku. Kalau hubungan aku mah, sama kak Kia baik - baik saja."


"Terserah, sana pergi. Jangan ganggu ibuk. Kalau kamu mau ke rumah wanita itu. Silahkan. Tapi jangan mampir ke sini lagi. Aku najis sama wanita itu. "


"Kenapa sih ibuk begitu membencinya? Sampai kak Akbar sudah berpisah dengan kak Kia saja, ibuk masih sangat membencinya. Apakah ibuk nanti tidak menyesali? "


"Sudahlah pergi saja sana. Ibuk masih mau mengerjakan ini." Ucap Dewi sambil mennggusir Nindi.


Kemudian Nindi pergi ke rumah Kia saat itu juga. Namun, ternyata Dewi mulai ragu dengan ucapannya itu yang sudah tidak menganggap anak yang di lahirkan Kia itu adalah cucunya sendiri.


"Sudah beberapa bulan ini, Akbar sama sekali tidak pernah menghubungiku. Sebentar saja ia tidak pernah menjawab atau mengangkat telepohone dari ku. Apakah dia baik - baik di sana? Setiap kali aku akan pergi kerumahnya bersama Ida mereka berdua tidak pernah mau memberikan alamat tempat tinggal mereka. Mereka seperti tidak menginginkan kedatanganku. Mereka seperti sudah benar - benar tidak memperdulikanku lagi. Apakah benar anak yang di kandung Kia itu adalah anak Akbar? Hah, sudah lah. Aku bicara apa sih. Anak itu bukan darah daging Akbar. Aku yakin itu. Semoga Akbar dan Kayla di sana hidup bahagia. Dan Kayla semoga saat ini sudah hamil." Ucapnya dari dalam hati.


Setelah beberapa jam sampailah Nindi di rumah Kia. Sinta yang sedang bermain dengan Bella di depan rumah melihat Nindi sedang memakirkan mobilnya.


"Ada apa lagi kamu ke sini?!" Kata Sinta dengan nada sedikit menantang.


"Aku ingin menemui ponakan ku kak."


"Apa?! Ponakan mu kamu bilang. Heh, kamu jangan asal ya! Bukan kah ibu sendir yang bilang kalau anak Kia itu bukan lah darah daging kakakmu itu?!"


"Kak, aku ke sini dengan baik - baik kak."


Terdengan dari luar suara Sinta sedang marah - marah kepada seseorang. Kia lalu keluar dari kamarnya sambil mengendong Pelangi, lalu menghampiri Nindi yang sudah tiba di rumahnya itu.


Bersambung...

__ADS_1


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2