Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kayla Kritis


__ADS_3

“Alex?”kata Dewi.


“Hallo buk.”


“Ngapain kamu di sini?


“Aku ingin berbicara sebentar buk sama Nindi.”


“Kamu mau membuat hati anak aku sakit lagi?”


“Bukan buk, aku ingin meminta maaf kepadanya.”


“Sudah cukup. Mending kamu pergi saja. Aku tidak suka kalau lihat anakku di sakiti oleh siapa saja. Jadi aku harap kamu bisa menghargai setiap perkataanku ini. Dan sekarang lebih baik kamu pergi.” Ucap Dewi sambil menuding, agar Alex segera pergi meninggalkan mereka.


Tin.. tin.. (suara Klakson)


“Udah belum buk? Teriak Nindi yang hanya mengeluarkan kepalanya lewat jendela.


“Iya nak sebentar.”


Kemudian Alex pergi ke arah Nindi yang sedang di dalam mobil itu. Dengan jendela mobil yang terbuka Alex berulang kali memanggil dan meminta waktu untuk berbicara kepadanya.


“Nin, nindi tunggu Nin.” Teriak Alex.


kemudian Dewi dan juga Nindi pergi meninggalkan Alex yang masih berdiri di parkiran itu.


“Dia ngapain kamu Nin?”


“Dia enggak ngapa – ngapain sih buk. Orang gila! Biarkan saja! Males aku melihat mukanya.”


“Bener? Kamu tidak sakit hati lagi setelah melihat wajahnya?”


“Enggak buk. Kan ibuk sendiri aku harus bisa melupakan dia. Dan aku harus melanjutkan hidupku karena masa depanku masih panjang kan buk?”


“Iya, syukur deh kalau kamu sudah bisa sedikit melupakan dia. Kalau begitu kita langsung ke tempat kakakmu ya Nin.”


“Heemm..”


Mungkin memang di mulut Nindi bisa berbohong untuk mengatakankalau dirinya sudah mulai melupakan Alex. Akan tetapi di hatinya yang paling dalam ia belum bisa melupakan Alex. Sebab, Alex adalah laki – laki idaman yang selama ini Nindi cari. Tidak mudah untuk Nindi bisa mencari laki – laki yang dia idam – idamkan, akan tetapi di saat laki – laki yang dia sukai justru malah telah mengecewakan dirinya.


“Hhheemmm... sebenarnya sih aku masih menyukai dirinya. Mungkin secara fisik di mataku dia perfek, tapi sayang hatinya yang kotor karena dia laki – laki mesum. Memang sih dia mapan , kaya dan juga pintar, tapi.... Coba kalau dia tidak seperti itu, pasti aku sudah bisa melanjutkan hubunganku sampai ke pernikahan. Tapi mungkin takdir berkata lain. Dia mungkin bukan jodoh yang baik untukku seperti apa yang di katakan oleh ibuk. Jadi aku harus bersabar. Semoga aku bisa medapatkan laki – laki yang benar – benar mencintauku dan baik kepadaku. Semoga saja. Hemm.... “ gumam Nindi dari dalam hatinya sembari mengemudi mobilnya dan menghela nafas panjang.


“Nin, kamu baik – baik saja kan.”


“Iya buk.”


Beberapa menit kemudian mereka sampai di lapas untuk menjenguk Akbar.


“Ibuk.” Ucap Akbar yang langsung mencium ke dua tangan milik Dewi.


“Nih kak, buah ke sukaan kamu.” Kata Nindi sambil memberikan sekantgung plastik yang berisi buah – buahan ke sukaan Akbar dan memasang raut muka yang cemberut.


“Kamu kenapa sih Nin? Kok cemburut gitu?” tanya Akbar.


“Gak apa – apa kok.”

__ADS_1


“Kok wajah kamu cemberut gitu?”


“Dia tadi tidak sengaja bertemu dengan mantan pacarnya.”


“Siapa Alex?”


“Ya siapa lagi? Memangnya Nindi punya banyak pacar. “ kata Dewi sambil bergurau.


“Memang dia ngapain kamu lagi sih Nin. Enggak bosan – bosannya dia mengganggu hidup kamu.”


“Enggak kak dia biasa biasa saja. Udah lah tidak perlu membahasnya lagi.”


“Di makan nak buah – buahnya.”


“Iya buk, makasih.


Lalu Akbar memakan beberapa buah yang di bawakan oleh Dewi.


“Kak, aku mau cerita tapi kamu jangan kaget ya.”


“Hheemm... cerita apa?”


“Jadi nak, aku dan Nindi akan menceritakan ktentang Kayla.”


 “Mau apa lagi dia? Aku sudah muak sama dia buk.”


“Kalau muak ya sama saja kak. Tuh, mantan istrimu. Kena penyakit serius.”


“Serius? Sakit apa dia?”


Dewi menceritakan apa yang telah dia lihat dan apa yang sudah ia dengar. Dirinya mengatakan semuanya kepada Akbar tentang kondisi Kayla. Mendengarkan cerita dari ibuknya itu Akbar ingin sekali melihat kondisi Kayla. Walau bagaimana pun Kayla pernah menempati posisi di hatinya dan menjadi istrinya, mungkin memang kabar itu membuat Akbar menjadi berfikir kalau perbuatan yang pernah dia lakuakan hanya bisa menghancurkan semua impiannya.


Dewi perlahan – lahan mulai menceritakan tentang apa yang di inginkan Ida mengenai pembatalan gugat cerai kepada Kayla. Dia juga mulai membicarakan bahwa Kayla ingin sekali bertemu dengan dirinya.


“Sebenarnya nak, ibu ingin memohon kepadamu kali ini saja.”


“Apa buk?”


“Emm, jangan lanjutkan gugat ceraimu itu nak.”


“Ah ibu itu ngomong apa sih?” sahut Nindi yang langsung memutuskan pembicaraannya.


“Iya ibuk ini gimana sih.” Ucap Akbar


“Akbar, coba kamu dengarkan ibuk kali ini saja. Ibuk tahu kalau Kayla itu sudah membuat kamu kecewa ataupun marah, tapi yang perlu kamu ingat – ingat walau bagaimana pun dia itu sudah pernah menjadi istri kamu dan pernah mengisi hati kamu.” Ucap Dewi.


“Tapi buk.” Sahut Nindi.


“Nindi , kamu diem dulu, ibuk tidak berbicara kepada kamu. Jadi kamu jangan menjadi setan untuk kakak mu.”


“Ah, terserahlah.” Sahut Nindi lagi dengan mulut yang menyuyu.


“jadi, ibuk mengerti betul apa yang sudah kamu rasakan. Dia hanya menginginkan kamu bisa datang menemuinya. Karena hidup dia sudah tidak lama lagi nak. Jangan pernah berat hati hanya untuk memaafkan kesalahan orang lain. Mungkin sakit hati itu memang susah untuk di obat, tetapi jangan pernah kita mempunyai rasa dendam kepada orang itu.”


“aku akan pikirkan dulu buk.”

__ADS_1


“Berikan dia sedikit waktu untuk bahagia nak. Bahagia bersama kamu.”


“Ibuk ini sekarang sok bijak.” Jawab Nindi dengan ketus.


“Ya, karena ibuk menyadari kalau ibuk ini sudah tua Nin. Suwaktu saat kamu akan mengalami semua yang ibu rasakan. Tetapi harapan ibu ingin sekali melihat anak – anak ibu bahagia.”


“Dia di rawat di rumah sakit mana buk?”


“Kayla di rawat di rumah sakit xxx. Lagian, sebentar lagi masa tahanan kamu di sini juga sudah habis kan Bar?”


“Iya buk. Akbar akan pikirkan itu, tetapi aku tidak bisa berjanji!” ucap Akbar mulai berpikir dengan perkataan Dewi tadi.


Semasa hari – hari terakhir Akbar berada di sel tahanan, dirinya selalu melamun memikirkan Kayla. Sebab semua yang di katakan oleh Dewi memang ada benarnya juga. Walau bagaimana pun kesalahan itu kita harus bisa memaafkan orang yang sudah membuat kita sakit hati. Dirinya sudah memikirkan jika nanti selepas masa tahanan ini habis, dirinya akan pergi menemui Kyala, ia akan melihat kondisi Kayla.


Bersambung...


Beberapa hari kemudian. Hari di mana masa tahanan Akbar sudah berakhir. Dirinya kembali pulang ke rumah Dewi. Ia meminta kepada Dewi untuk menemaninya datang ke rumah sakit karena akan menemui Kayla dan melihat kondisinya. Dewi sangat senang, sebab Akbar mau mendengarkan semua yang di katakan Dewi beberapa waktu lalu.


“Aku ingin tahu apakah benar semua yang ibu ceritakan mengenai kondisi Kayla? Jika semua cerita itu benar, kasihan juga ya. Apakah wajahnya tidak secantik dulu? Haduh.. aku tidak bisa membayangkan. Tenyata dia harus mengalami hal sesulit ini.” Gumam Akbar dalam hatinya.


Namun, niat untuk berpisah dengan Kayla masih di lanjutkan oleh Akbar. Akbar memastikan dalam jangka waktu dekat ini dirinya dan Kayla sudah akan resmi berpisah. Ia juga sudah benar – benar tidak mau mempunyai hubungan kepada Kayla. Semenjak kejadian perselingkuhannya itu.


“Emm, Akbar, bagaimana untuk perceraian kamu? Apakah kamu akan memabatalkan semuanya atau kamu akan masih melanjutkannya?”


“Aku tetap berniat untuk berpisah dengan dia buk. Jadi jangan halang – halangi semua keputusan ku.”


“Baiklah semua itu pilihan kamu nak, ibuk tidak akan memaksa kamu untuk memilih jalan hidupmu. Karena biarkan semua mengalir sesai apa yang kamu inginkan.”


“Iya buk. Sudahlah ibuk tidak usah cerewet!” bentak Akbar kepada ibunya.


Hati dewi ketika mendengarkan anaknya membentak dirinya serasa begitu sakit hatinya. Namun dirinya tidak terlalu memikirkan ucapan Akbar.


Sesampai di rumah sakit, mereka berjalan menuju ke arah kamar inap Kayla. Saat berjalan menuju kamar Kayla, terlihat dari arah berlawanan dokter dan perawat mendorong sebuah housepital bad dengan membawa seorang pasien wanita begitu sangat tergesa – gesa menuju ruangan ICU mereka membawa pasien itu sambil berlari – lari. Dewi seketika melihat pasien yang di bawa itu, akan tetapi wajah pasien itu tidak terlihat dengan jelas. Begitu pula dengan Akbar yang juga melihat pasien kritis itu.


“Siapa itu pasien yang bawa oleh dokter? Kalau itu Kayla , seharusnya Ida juga akan berlarian menyusul atau mengikuti pasien itu dong. Ah.. mungkin itu bukan Kayla.”Ucap Dewi dari dalam hati sembari melihat dokter dan perawat membawa pasien yang akan di bawa ke ruang ICU.


Setelah berjalan melewati pasien kritis itu, mereka melanjutkan langkah kakinya lagi untuk menuju ke kamar Kayla. Sesampai di depan kamar Kayla, terlihat dari jauh Ida yang berjalan menuju ke arah kamar Kayla itu. Dewi kemudian meyapa Ida dari kejauhan.


Awalnya Ida kaget melihat ada Akbar datang dengan Dewi. Ternyata Dewi mau membantu atau menolong Ida dengan membujuk Akbar untuk datang menemui Kayla di rumah sakit.


“Akbar bagaimana kabarmu nak? Lama sekali tante tidak melihat kamu. Maaf ya tante belum sempat menenggok kamu saat kamu masih berada di sel tahanan.”


“Iya, tidak apa – apa. Aku baik – baik saja kok.” Akbar menjawab dengan dingin perkataan Ida.


“Terimakasih ya kamu sudah mau ke sini untuk menenggok Kayla.”


Kemudian Akbar hanya membalas dengan senyuman kudanya. Sedangkan Dewi hanya tersenyum mendengarkan kata – kata ida.


“Kalau begitu mari masuk nak, pasti Kayla sangat senang karena kamu ada di sini. Dan sudah lama sekali dia berharap kalau kamu datang melihatnya.” Ucap Ida yang akan membuka pintu kamar Kayla.


Kemudian di saat pintu kamar itu di buka oleh Ida, Ida pun terkejut bukan main sebab setelah pintu kamar itu di buka , di sana tidak ada Kayla beserta housepital bednya. Ida pun berlari menuju perawat yang menjaga di depan pintu masuk bangsal. Dirinya berlari begitu cepat kepada petugas atau penjaga bangsal yang ada di rumahs sakit itu, dan para penjaga memberi tahu kan kepada Ida bahwa Kayla di larikan ke ruangan ICU, dan kondisinya saat ini sangat kritis. Ida kemudian langsung pergi  berlari menuju ruang ICU itu di ikuti oleh Dewi dan juga Akbar.


Wajah Akbar yang awalnya biasa – biasa saja kini berubah menjadi wajah yang begitu cemas. ia juga takut jika Kayla benar – benar akan pergi untuk selama – lamanya. Sesampai di ruangan itu mereka bertanya tentang ke adaan Kayla atau kondisinya yang saat ini di alami karena Kayla di pindahkan di ruang ICU. Dokter pun menjelaskan tentang kondisinya yang saat ini sedang krisis dan harus segera di tangani.


Ida menanggis dengan menjerit – jerit melihat atau mendengar kabar yang dokter katakan. Dirinya tidak bisa menerima kondisi putrinya yang sedang kritis waktu itu. Ida hanya bisa duduk bersandar di pintu ruang ICU, dengan berlinangan air mata dan menyebut – nyebut nama putri semata wayangnya itu.

__ADS_1


 


__ADS_2