Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kia datang ke rumah sakit


__ADS_3

Nindi kembali ke rumah, dirinya meninggalkan Dewi sendirian di rumah sakit sebab Nindi merasa sedang tidak enak badan. Nindi beristirahat sejenak dan berbaring di kamar tidurnya. Akan tetapi ia merasa tenggorokannya kering, lalu dirinya turun dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Akan tetapi selesai mengambil air minum dirinya tidak sengaja melihat ke tempat sampah di bawah tempat cuci piring. Ia melihat botol kecil seperti botol bius. Kemudian ia mengambil botol itu. Sebab dirinya merasa curiga dengan botol kecil bekas obat itu. Nama obatnya masih terlihat jelas dan menempel, selesai minum dirinya naik lagi ke atas dan masuk ke dalam kamarnya, dia mencari informasi tentang nama obat itu. Selesai mencari – cari info kegunaan dan efek samping nama obat itu di google, dirinya mulai berpikir dan mencurigai Kayla. Sebab ia yakin bahwa Pelangi tidak akan mungkin dapat membuka segel botol obat kecil itu.


“Ini ternyata obat tidur dengan dosisi yang sangat tinggi. Mana mungkin Pelangi dapat membuka segel botol ini. Apa lagi membuangnya di tempat sampah. Sepertinya memang Kayla pelakunya yang telah membuat Pelangi menjadi seperti ini. Aku akan bicarakan semua ini dengan kak Akbar nanti. Dia benar – benar sudah kelewatan. Memberikan obat tidur dosisi tinggi seperti ini kepada anak kecil. Jahat sekali sih dia. Botol ini bukti kuat agar kak Kayla bisa bicara jujur tentang maksud dan tujuan memberikan obat tidur ini kepada Pelangi.” Ucapnya dari dalam hati sambil melihat bekas botol obat tidur itu.


Ke – dua orang laki - laki yang telah dibayar Cleo untuk selalu memberikan informasi tentang Akbar kepadanya, lalu mereka menyampaikan kabar tentang Akbar untuk Cleo bahwa Pelangi sedang berada di rumah sakit dan berbaring lemah tak berdaya di sana. Kemudian Cleo meminta atau menyuruh ke – dua orang itu untuk mengumpulkan semua bukti yang ada di rumah sakit. Ia ingin keberadaan Pelangi yang sekarang sedang di rawat inap di rumah sakit adalah bukti bahwa Akbar tidak bisa menjaga putrinya dengan baik. Awal yang baik bagi dirinya, namun kabar buruk juga untuk dirinya itu. Sebab Pelangi sedang di rawat di rumah sakit. Cleo memang sengaja tidak memberikan kabar ini kepada Kia, dia takut kalau nanti Kia akan merasa sedih dengan kabar yang sedang menimpa Pelangi Pelangi.


Akan tetapi Dewi menelepon Kia dan memberikan kabar kepada Kia bahwa, Pelangi sedang berada di rumah sakit dan di rawat inap di sana. Ia memberikan kabar itu dengan sembunyi - sembunyi supaya Akbar dan juga Nindi tidak mengetahuinya. Lagi pula akbar dan juga Nindi belum sampai di rumah sakit. Begitu Kia mendengar kabar itu hatinya langsung tidak karuan. Dirinya bingung harus bagaimana. Tanpa berpikir panjang, dirinya bergegas langsung pergi begitu saja tanpa ada orang yang tahu ia akan pergi. Ia juga tidak memberikan kabar kepada Cleo kalau dirinya akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk anaknya.


Handphone Kia berdering, sebuah no tidak di kenal itu telah menelepon Kia. Kemudian Kia mengangkat panggilan masuk dari no tidak di kenal itu.


 “Kia.” Ucap Dewi.


“Iya, ini siapa ya?” tanya Kia.


“Ini ibuk nak. Mantan ibu mertua kamu.”


“Owh, iya ada apa ya buk?” tanya Kia sedikit curiga.


“Nak, ibuk hanya ingin memberikan kamu kabar saja.”


“Kabar apa? Pelangi? Dia baik – baik sajakan buk? Izinkan  saya bicara dengannya? Aku sangat merindukannya buk. Kia mohon.”


“Kia, Kia tenang dulu. Saat ini Pelangi sedang di rawat inap di rumah sakit xxx.”


“Apa?!” sontak Kia kaget mengenai kabar yang di berikan oleh Dewi.

__ADS_1


“Jika kamu ingin menjenguk dia silahkan Kia. Datanglah ke rumah sakit. Ibuk sangat berharap kamu bisa bertemu dengan Pelangi.”


“Baiklah aku akan segera ke sana. Pelangi di rawat di rumah sakit mana buk?”


“Di rumah sakit xxx.”


“Saya akan ke sana sekarang ya buk. Tunggu Kia.”


Sesampainya di rumah sakit. Dirinya berlari mencari ruangan Pelangi. Lalu dirinya melihat dari kejauhan wajah Dewi yang sedang berdiri di luar pinggir pintu kamar Pelangi. Tanpa melihat wajah Dewi sedikit pun, Kia berjalan perlahan di depan pintu kaca kamar Pelangi. Dirinya melihat Pelangi yang sedang berbaring lemas. Seketika air matanya pun menetes tanpa ia sadari. Hatinya menanggis tak tega melihat putrinya itu. 


Kemudian Dewi mempersilahkan Kia untuk segera masuk dan melihat putrinya itu. Kia pun langsung masuk dan berdiri di samping putrinya yang masih menutup matanya sambil mengusap usap kening putrinya itu. Matanya berkaca – kaca, kerinduan yang selama ini dia pendam kini telah terobati walau dengan cara yang tidak menyenangkan hatinya. Pandangannya tidak luntur melihat wajah putrinya itu. Hatinya sangat kecewa dengan keadaan yang dialami putrinya saat ini.


“Pelangi sayang, ini bunda nak. Bangunlah, bunda sangat merindukan kamu sayang. Bunda ingin melihat senyumanmu kembali. Pelangi sayang, bunda tahu kalau Pelangi adalah anak yang kuat. Bunda yakin Pelangi bisa melewatkan ini semua, seperti saat Pelangi masih bayi. Bangun nak. Bangunlah, jangan tidur lama – lama ya. Bunda masih ingin bisa bercanda dan bermain bersama Pelangi. Pelangi sayang bunda tidak akan pernah mau melihatmu seperti ini nak. Bangun sayang.” Ucapnya dengan lirih dan berbisik di telinga kecil mungil milik putrinya itu.


Ia tidak bisa menghentikan air matanya yang jatuh ketika melihat anaknya terbaring tak berdaya di hospital badnya. Beberapa menit kemudian dirinya keluar sambil melamun. Dia duduk termenung dengan pandangan kosong. Lalu Dewi mendekati Kia dan duduk di sampingnya.


“Kia, maafkan kami karena kami tidak bisa menjaga Pelangi dengan baik. Semua ini terjadi tanpa kita ketahui. Pelangi telah memakan obat tidur yang berdosis tinggi. Entah bagaimana bisa sampai terjadi seperti ini.” kata Dewi.


“Apa? Obat tidur? Bagaimana bisa kalian semua terlalu ceroboh meletakan barang berbahaya seperti itu?! Apakah kalian tidak berfikir bahwa di rumah sedang ada anak kecil?! Aku tidak akan bisa memaafkan kalian semua kalau sampai terjadi apa – apa kepada Pelangi.” Kata Kia dengan wajah yang sangat marah.


“Maafkan kami Kia. Sekali lagi ibuk mohon maafkan kami." cakap Dewi.


“Maaf tidak bisa membuat semua keadaan ini menjadi membaik. Aku sudah susah payah melahirkan dan membesarkan putri kecilku itu sendirian, akan tetapi kalian semua sudah mengambil dan merebut anakku dengan sesuka hati kalian. Dan kalian semua juga sudah sering membuat hidup kami menderita. Aku tidak bisa melihat anakku seperti ini. Aku tidak ingin anakku terlalu lama merasakan penderitaan yang sudah dibuat oleh ayahnya sendiri seperti ini. Aku mohon jangan memperlakukan sekejam ini kepada anakku. Aku mohon.” Cakap Kia sambil menangis – menangis di hadapan Dewi.


“Kia, Kia dengarkan ibuk nak. Ibuk minta maaf karena telah membuat hidup kamu menderita selama ini, ibuk akan menebus semua kesalahan yang selama ini sudah ibuk buat kepadamu. Ibuk berjanji akan membantu kamu untuk mendapatkan hak asuh Pelangi nak. Ibuk janji akan menjadi saksi di persidangan terakhir nanti.”

__ADS_1


“Apa?” ujar Kia dengan wajah penasaran terhadap perkataan Dewi itu.


“Iya nak, ibuk benar – benar minta maaf. Ibuk mengaku kalau ibuk lah yang bersalah nak.”


“Apakah ibuk benar – benar ingin membantuku? Ibuk tidak membohongiku dengan ucap ibuk tadi?”


“Iya nak. Ibuk sungguh – sungguh ingin menebus semua kesalahan yang sudah ibuk buat. Ibuk sadar kalau selama ini, ternyata sudah terlalu banyak membuat kamu menderita nak.”


“Apakah semua yang diucapkan ibuk ini sungguh - sungguh buk? Aku hanya ingin hidup bahagia bersama putri kecilku buk. ibu adalah seorang wanita dan ibuk juga adalah seorang ibu yang sudah memiliki dua anak kan. Ibuk tahu kan bagaimana rasanya saat harus hidup jauh dari anak kita buk. ibuk bisa rasakan itu kan buk? aku mohon tolong bantu aku untuk mendapatkan kembali hak asuh Pelangi. Kia mohon buk.” sahut Kia sambil berlutut kepada Dewi.


“Kia sayang, jangan seperti ini nak.bangunlah nak. Ibu sungguh – sungguh akan membantu kamu dalam hak asuh anak itu nanti nak. Ibu menyadari bahwa kami tidak bisa menjaga Pelangi seperti kamu menjaganya. Ibuk juga menyadari bahwa selama ini ibuk telah salah dalam mendidik anak – anak ibuk untuk bisa menjadi orang baik sepertimu nak. Ibuk juga sangat menyesal karena telah memisahkan kamu dan juga Akbar. Ibuk juga sadar bahwa selama ini Akbar sudah betul memilih wanita sholihah sepertimu, akan tetapi ke egoisan ini sudah menutup hati ibuk sehingga tidak bisa melihat kebaikan kamu nak.”


“Terimakasih ibuk. Terimakasih aku akan sangat berharap semua yang di katakan ibuk benar – benar ibuk lakukan.”


“Pasti nak, ibuk janji. Sekarang hapus air mata kamu ini. Kita harus banyak berdoa supaya Pelangi segera membuka matanya dan kembali pulih agar bisa bermain mainan kesukaannya.”


Kemudian Dewi memeluk Kia dengan erat, sebab dirinya tidak tega melihat Kia menanggis karena melihat anaknya yang sedang seperti itu.


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2