Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Sadar


__ADS_3

"Sudah tante, semua yang terjadi pada Kia adalah ujian dari-Nya dan tidak perlu kita sesali. Yang terpenting sekarang kita semua berdoa supaya Kia lekas membaik dan bisa bertemu anaknya yang cantik itu." Kata Cleo menenangkan hati Nisa.


"Benar mah, apa yang di katakan Cleo. Sebaiknya kita memperbanyak doa. Agar kondisi Kia lekas membaik. " Ujar Surya dengan memeluk bahu istrinya itu.


Suster yang menanggani Kia keluar dan memberitahukan kepada keluarga bahwa kondisi pasien sudah sedikit membaik. Dan suater memperbolehkan dari pihak keluarga untuk masuk membesuk pasien. Itu pun juga di batasi oleh pihak rumah sakit dan yang membesuk pasien hanya boleh satu saja yang masuk untuk melihat kondisi pasien saat ini.


Saat sedang membesuk pasien suster menyarankan agar keluarga di larang untuk berisik. Keluarga dari pasien justru juga sangat di sarankan untuk memberikan sebuah kata - kata motifasi lewat bisikkan ditelinga pasien dengan lirih supaya pasien mendengarnya walaupun saat itu sedang dalam kondisi koma. Supaya pasien bisa segera sadarkan diri.


Kemudian pihak keluarga Kia meminta Cleo utuk yang membesuk Kia. Karena kekuarganya pasti tidak bisa menahan air matanya saat melihat kondisi putrinya di dalam nanti. Cleo pun masuk di ruang ICU. Lalu ia segera masuk mengunakan matel berwarna hijau panjang, pembungkus rambut yang juga berwarna hijau, dan masker mulut. Walaupun di hatinya ia benar benar tidak menyukai ruangan itu saat dirinya sedang berada di rumah sakit manapun. Namun mau tidak mau ia harus menemui Kia.


Setelah ia sudah berada di dalam ruangan itu. Ia mendekati Kia yang sedang terbaring tidak berdaya dengan matanya yang masih terpejam, terlihat banyak sekali di tubuh Kia peralatan monitoring yang menyala dan terpasang di tubuhnya untuk memantau denyut nadi atau jantung dan pernafasan, selang infus untuk memasukkan bahan nutrisi yang terlihat jelas berada di sisi kiri tubuh Kia. Serta selang untuk mengeluarkan urine.


Cleo tidak tega berlama - lama melihat Kia kala itu. Ia mulai mendekati Kia dan mulai membisikan kata - kata di telinga sebelah kanan Kia dengan lembut dan lirih seakan - akan kata - katanya yang di ucapkan Cleo penuh dengan harapan.


"Hay, cepatlah bangun. Anakmu sudah lahir. Dia sangat lucu dan cantik seperti bundanya. Jangan tidur lama lama ya, bidadari kecilmu sudah menunggumu. Aku sangat rindu dengan mu. Bangun dan hiduplah bahagia dengan bidadari kecilmu itu. Aku yakin kamu pasti kuat. Kia, aku rasa aku sudah mulai mencintaimu. Sadarlah dari tidurmu ini. Anakmu masih sangat membutuhkan kasih sayang darimu Kia."


Selesai berkata seperti itu, tanpa Cleo sadari, bibirnya mendarat di kening Kia lalu mengecupnya dan meninggalkan jejak tetesan air matanya. Ia keluar dengan wajah murung dan kepala yang menunduk seperti orang yang sedang bersedih, Nisa mendekati dan bertanya kepada Cleo.


"Cleo bagaimana Kia. Apakah sudah ada tanda tanda bahwa dirinya akan sadar? Kenapa kamu diam saja Cleo? Jawablah pertanyaan tante." Tanya Nisa sambil mengayun ayun tangan Cleo.


Sambil mengusap wajahnya yang di basahi air mata itu Cleo hanya menjawab dengan saingkat.


"Doakan saja Kia." Selesai menjawab ia melepaskan semua peralatan yang ia kenakan saat membesuk Kia di ruang ICU.


Setelah menjawab perkataan Nisa, Cleo langsung pergi meinggalkan keluarga Kia begitu saja. Ia berlari jauh dari mereka dan berhenti lalu menendang salah satu batu dengan rasa yang sangat marah. Namun, ia tidak sadar bahwa Sinta ikut berlari menyusulnya.


Cleo berkata sendirian.


"Kia aku mohon bangunlah. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini. Putri kecilmu menunggumu. Kenapa semua ini harus terjadi kepadamu. Bangunlah Kia. " Ucapnya sambil mengerung gerung meanggis. Sinta yang melihat Cleo dan mendekatinya.


"Kita harus mendokan Kia. Kita harus biss memberkan kekuata untuknya. "


"Aku benar - benar tidak tega meluhatnya kak. Kenapa dunia ini begitu kejam. Banyak sekali cobaan yang telah dia hadapi. Tetapi lihatlah kak, ujiannya belum usai. Aku melihat bagaimana dirinya benar - benar maruhkan nyawanya demi untuk melahirkan putrinya itu."

__ADS_1


"Sudahlah. Semua itu sudah menjadi khodrat seorang wanita. Coba sekarang kamu tenang. Kakak tahu kalau kamu mempunyai rasa terhadao adik kakak itu." Ucapnya Sinta untuk menenangkan hati Cleo yang gelisah setelah melihat Kia.


Tiga hari berlalu namun Kia masih belum juga sadar sari tidurnya. Akan tetapi dokter sudah memeriksa bahwa tubuh Kia sudah mulai membaik hanya saja ia belum juga sadarkan diri.


Kia sudah di pindahakn di ruangan bangsal namun ia masih di berikan alat bantu pernafasan.


Cleo tidak pernah absen dan selalu setia berada di samping Kia untuk menemaninya. Setiap malam Cleo selalu melantunkan ayat - ayat suci Al-Qur'an agar Kia cepat sadarkan diri.


Selesai membaca Cleo tertidur dengan posisi duduk dan tagannya masih memegang Al - Qur'an di samping Kia.


Kala itu, tangan Kia bergerak perlahan, berangsur - angsur matanya terbuka, setengah sadar kia melihat di sekeliling ruangan dengan posisi badannya yang msih terbaring. Saat dirinya akan beranjak ia tidak sengaja menyentuh tangan Cleo yang sedang tertidur dan berada tepat di sampingnya. Kemudian Cleo terbangun karena merasakan ada seseorang yang menyentuh tangannya itu.


"Kia, kamu sudah sadar. Kamu tetaplah berbaring. Aku akan panggilkan dokter sebentar ya.


Kemudian Cleo memencet tombol khusus untuk memanggil dokter. Tidak lama dokter masuk di kamar Kia. Ia menyuruh Cleo untuk keluar sebentar agar dokter bisa leluasa untuk memeriksa pasien. Cleo pun mengikuti semua yang dokter perintah.


Dari kejauhan terlihat kakak dan kedua orang tua Kia berlari menghampiri Cleo yang sedang berdiri dipintu luar kamar Kia.


"Cleo, kenapa kamu berdiri di sini? Lalu ada apa dokter memeriksa Kia? Kia baik - baik saja kan?" Tanya Nisa kepada Cleo dengan panik.


"Alhamdhulillah. " Seluruh keluarga Kia mengucapkan syukur karena Kia telah siuman dari tidur panjangnya.


Dokter selesai memeriksa kondisi Kia dan melepas beberapa alat medis dan alat pembantu pernafasan. Kemudian selesai memeriksa Kia, dokter beserta perawat keluar dari kamar lalu memperbolehkan keluarganya untuk masuk.


Mereka masuk dan mengecup kening Kia terkecuali Cleo. Kia mekihat di sekelilingnya mereka tidak ada yang sedang mengendong anaknya. Lalu ia bertanya kepada keluarganya.


"Mama, papa, kakak. Di mana anakku?" Tanya Kia dengan lirih.


"Putri kecilmu sangat cantik seperti kamu nak."


"Tunggu sebentar biar aku yang bilang ke suster kalau budanya ingin melihat anaknya. Sebentar ya." Ucap Cleo .


Cleo keluar dari kamar Kia kemudian berjalan menuju suster yang menjaga di kamar bayi, ia meminta agar anak dari pasien yang bernama Kia di bawa ke kamar no xxx. Suster itu pun langsung membawakan bayi Kia dan meletakanya di dada kia.

__ADS_1


Terdengar suara lengking tangisan bayi mungil itu dihadapan Kia. Ia menyaksikan di depan matanya sendiri wajah mungil putri kecilnya yang sangat cantik itu. Telapak tangannya diletakkan di atas kepala putrinya. Beberapa menit kemudian tangisan bayinya membuat Kia lemas tidak berdaya karena kebahagian yang ia nanti - nanti telah hadir mengisi kekosongan di hidupnya. Ia tidak henti hentinya mengucapkan kata bersyukur karena telah menerima sebuah karunia yang begitu luar biasa indahnya.


"Lihatlah wajahnya cantik seperti kamu. Matanya lentik, bibirnya mungil dan lihat hidungnya, mancung seperti kamu." Ucap Cleo yang sedang berada di samping kiri Kia.


Kia tersenyum bahagia melihat putri kecilnya itu sudah hadir di dunia ini untuk menemani dirinya yang dahulu sempat hancur. Kebahagian yang sangat terpancar di raut mukanya itu membuat seisi kamar terharu. Semua yang ia lakukan tidak lagi sia - sia. Penantian panjang setelah beberapa tahun lalu, kini hadir walaupun sudah melewati banyak alangan dan rintangan yang telah ia rasakan.


"Kamu sudah hadir untuk bunda. selamat datang di dunaa nyata yang fana ini putri kecilku. Kamu sangat cantik, paras mu membuat hati bunda sangat bahagia. Bunda janji, bunda akan menjagamu dan membuat hidup kamu bahagia. Sekarang kamu adalah kekuatan bunda. Bahagia yang tidak ternilai adalah kamu putri kecilku. Bunda mencintaimu selalu." Kata Kia dari dalam hati sambil mengecup putri kecilnya itu yang masih berada di dadanya. Kemudian ia membalas perkataan Cleo.


"Kamu bisa saja mas." Balas Kia dengan lirih.


"Benar apa yang di katakan Cleo, putri kecilmu ini benar benar sangat cantik." Kata Nisa.


"Iya nak, benar itu. " Sahut Surya.


"Terimakasih ya semua. Karena sudah menolongku."


Setelah beberapa hari Kia berada dan menginap di rumah sakit, kondisi Kia semakin membaik, ia di perbolehkan pulang oleh dokter. Namun saat kepulangannya ia tidak di antar oleh Cleo, karena Cleo mempunyai urusan penting. Kia yang duduk di kursi tengah sambil mengendong bayinya. Mereka mulai berjalan kembali pulang ke rumah.


"Kamu sudah mempersiapkan nama untuk anakmu belum kia?


"Sudah mah,"


"Siapa nama cucu palah ini?"


"Aku akan kasih nama dia Pelangi. Anak bunda yang lucu.


"Namanya bagus,"


"Berarti besok papah udah bisa panggil cucu papa dong."


"Bisa dong pah." Ucap Kia sambil melihat wajah putrinya yang sedang ia gendong.


Bersambung...

__ADS_1


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2