Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kia dan Pelangi


__ADS_3

"Hallo Kia.”


“Ibu Dewi, saya minta tolong kepadamu, tolong jaga anakku selagi dia masih tinggal di rumahmu.” kata Kia.


“Tenanglah Pelangi akan aman bersama ku di sini. Kia, kalau besok kamu tidak sibuk luangkan waktu mu untuk bertemu dengan Pelangi di taman dekat dengan komplek ya nak.”


“Di taman buk? Baiklah. Aku akan selalu ada waktu kapanpun Pelangi akan bertemu dengan ku buk."


“Sebab dia sudah sangat merindukan kamu. Setiap malam dia selalu menggigau memanggil – manggi kamu. Dia juga sudah beberapa minggu ini tidak mau makan dan minum. Hanya beberapa sesuap saja yang dia makan, setelah itu dia tidak mau melanjukan makannya.” cakap Dewi.


“Baiklah buk. Aku juga sangat merindukan Pelangi kecilku. Aku minta tolong ya buk, jaga dia baik – baik di sana. Aku tidak menginginkan Pelangi masuk rumah sakit lagi seperti kemarin."


“Iya nak, pasti. Ibuk akan merawat dan menjaga Pelangi dengan baik selagi dia masih tinggal di sini. Kalau begitu, aku akan menemani Pelangi tidur dulu ya Kia. Nanti untuk waktu bertemunya biar ibuk whatsapp ke kamu. Ibu akan menceritakan dongeng dulu untuk Pelangi."


“Biaklah buk. Saya ingin berbicara dengan pelangi sebentar ya buk. tolong berikan teleponenya kepada dia buk.”


“Iya sebntar ya.”


“Pelangi, ini bunda ingin berbicara kepadamu nak.” Tutur Dewi sambil menyodorkan teleponnya kepada Pelangi.


“Hallo bunda.”


“Sayang dengerin bunda, mulai sekarang bunda akan menelepon nenek untuk mengetahui kalau pelangi sudah makan apa belum. Pelangi harus makan, supaya cepat tumbuh menjadi anak pintar ya. Pelangi, walaupun pelangi sekarang tidak bersama bunda, Pelangi harus sehat dan harus makan yang banyak ya. Pelangi mengerti?"


"Iya bun, Pelangi janji tidak akan mogok makan lagi."


"Anak pintar. Sekarang Pelangi tidur, jangan lupa untuk berdoa sebelum tidur ya sayang.”


“Iya bun.”


“Kalau begitu selamat malam sayang. Selamat mimpi indah. Eemuuaaaccchhh...”


“Selamat malam juga bunda. Eemuuaaaccchhh...” jawab Pelangi.

__ADS_1


Dimatikanlah telepon itu oleh Kia. Lantas selesai menelepone Kia, Pelangi akhirnya bisa tertidur pulas dan malam itu dia sama sekali tidak lagi mengigau memanggi – manggil Kia. Rasa rindunya kini sudah sedikit terobati walau hanya mengunakan suara tanpa bertatapan langsung dengan ibundanya. Tak lama Akbar dan juga Nindi pulang. Mereka langsung menuju ke kamar Pelangi untuk melihat kondisi Pelangi. Akbar juga menanyakan kepada Dewi tentang Pelangi.


“Kalian sudah pulang?” tanya Dewi.


“Iya buk, Kami baru saja sampai rumah. Aku sangat merindukan keponakanku satu ini. Tapi sayang dia justru sudah tertidur pulas.” Kata Nindi.


“Iya dia baru saja tertidur.” Cakap Dewi.


“Hari ini bagaimana buk? apakah dia masih sama dengan kemarin? Susah makan dan minum susu?” tanya Akbar.


“seharian ini aku sudah berusaha mengajaknya kemanapun yang dia inginkan. Tetapi dia sama sekali tidak merespon apapun yang ada di hadapannya, aku sampai mengajaknya untuk pergi ke kedai roti yang biasanya sangat dia sukai. Tetapi sama saja. Napsu makannya hilang. Dan dia sama sekali tidak mau makan roti kesukaannya.”


“Tetapi ibuk sudah membawanya ke dokter anak belum? Dan menanyakan kondisinya.” tanya Akbar.


“Sudah Akbar, Ibuk sudah membawanya ke beberapa dokter anak. Dokter pun juga sudah memberikan obat napsu makan dari yang termurah sampai yang termahal. Tapi semua itu tidak merubah kondisi napsu makannya. Dan sudah beberapa hari ini dia selalu mengiggau dan menyebut – nyebut nama Kia.”


“Kia lagi, Kia lagi, bisa gak sih kita stop membicarakan atau menyebut dia di rumah ini. Risih aku dengerinya!” sahut Akbar.


“Ingat ya Akbar, mau bagaimana pun cara kamu untuk memisahkan Pelangi dengan ibunya, semua yang kamu lakukan saat ini itu akan sia – sia nak. Pelangi adalah anak kandung Kia juga. Dia juga masih sangat membutuhkan ibunya, apa lagi dengan umur yang masih kecil seperti ini. Ikatan batin di anatara mereka masih sangat kuat. Dan kamu tidak akan pernah bisa memisahkan mereka.” Tutur Dewi memberikan pengertian kepada Akbar dengan suara lembut.


“Sudah, sudah. Lebih baik sekarang kakak istirahat. Ibuk juga istirahat ya. Seharian ini ibuk sudah capek untuk menjaga Pelangi kan. Aku juga mau istirahat.” ujar Nindi.


“Aku mau ke kamar dulu.” Kata Akbar sambil pergi keluar dari kamar Pelangi dan meninggalkan mereka.


“Aku juga akan ke kamar ya buk.”


“Nindi tunggu.” panggil Dewi, menghentikan langkah kaki putrinya itu


“Ada apa buk?”


“Kenapa kakak kamu bisa berubah seperti ini? Dulu dia tidak pernah berbicara kasar kepada ibuk. Tetapi sekarang, ibuk hanya berkata sekecap saja dia sudah berani membentak – bentak ibuk Nin.”


“Mungkin karena kak Akbar sedang banyak masalah bun. Jadi dia seperti ini tidak bisa mengontrol emosinya. Mungkin setelah urusan hak asuh anak ini selesai, kak Akbar akan kembali seperti dahulu buk.”

__ADS_1


“Tetapi ibuk tidak tega melihat Pelangi hidup tertekan seperti ini.”


“Maksud ibuk tertekan bagaimana? Aku melihat Pelangi seperti bahagia tinggal di sini tuh buk.”


“Kamu salah Nin. Ibuk merasakan betul bagaimana hati Pelangi saat ini. Dia tidak bisa jauh dari ibunya. Mungkin karena kamu belum merasakan bagaimana mempunyai seorang anak jadi kamu kurang peka melihat kondisi hati Pelangi saat ini.”


“Ya semua itu kembali lagi sama masalah waktu buk. Pelangi hanya belum terbiasa dengan apa yang saat ini dia alami untuk hidup jauh dari ibunya. Hemm, kalau begitu Nindi masuk ke kamar ya buk.”


“Iya pergilah. Dan beristirahatlah.”


“Bagaimana lagi akau harus menjelaskan kepada anak – anakku supaya mereka bisa mengerti tentang hati kecil Pelangi. Aku benar – benar tidak tega melihat Pelangi tersiksa seperti ini. Aku hanya ingin semuanya akan kembali membaik. Entah itu mantan menantuku, anak – anakku atau cucuku. Semoga kalian semua selalu di berikan ke sehatan dan ke bahagiaan. Aamiin.” Gumamnya lagi dari dalam hati sambil memandangi cucunya yang tertidur lalap.


Ke esokan harinya, di pagi yang cerah itu. Kia sengaja datang ke kantor Cleo pagi – pagi sekali. Dia ingin membicarakan sampai mana dirinya sudah mengumpulkan bukti untuk persidangan yang akan di adakan dalam beberapa minggu lagi.


“Mas, sampai mana proses bukti – bukti yang akan kamu berikan di persidangan terakhir nanti?”


“Tenanglah Kia, asisten ku sudah mendapatkan dua orang itu.”


“Dua orang?”


“Iya dua orang yang sudah di bayar oleh Akbar untuk memberikan kesaksian palsu kepada majelis hakim waktu lalu. Mereka sudah mau bersedia untuk berkata jujur dan menerangkan kepada majelis hakim besok.”


“Mereka meminta imbalan apa mas?”


“Mereka memintaku untuk memberikan uang seratus lima puluh juta untuk dua orang itu.”


“Apa? Terus gimana mas? Lalu bagaimana tentang uang yang akan kita berikan ke mereka mas?"


“Sudah kamu tenang saja ya. Semua sudah aku atur dan aku pikirkan. Kita hanya butuh beberapa bukti akurat lagi. Agar kita dapat mendesak Akbar dam mendapatkan hak asuh itu.”


“Owh begitu ya. Mas Cleo, bukankah laki – laki selingkuhan Kayla itu adalah teman kamu ya?”


Bersambung....

__ADS_1


❇️❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2