
kemudian Pelangi mengetuk ngetuk pintu kamar Amel.
Tok.. tok.. tok..
“Iya,”
“Ada apa kak?”
“Tante dan amel di suruh turun sama bunda, karena makan malam akan kita mulai.”
“Hem!”
“Baik kak, yuk tan kita turun, Amel sebenarnya sudah lapar sekali.”
“Iya, yuk sayang.” Kata mellyt sambil mengandeng Amel.
Mereka kemudian berjalan untuk makan malam bersama di samping kolam renang belakang rumah. Pelangi lalu berjalan di belakang amel dan Melly. Pelangi berjalan dengan rasa penasaran karena ia baru saja mendengar pembicaraan melly.
“Ada apa ya sebenarnya? Aku masih sangat penasaran dengan ucapan tante melly tadi.”Ucap Pelangi dari dalam hati.
Makan malam itu pun di mulai, mereka semua menikmati makan malam waktu itu.
“Enak tidak masakannya?”
“Enak tante, ternyata masakan tante enak juga.” Ucap Calvin
“ah masak sih?”
“Iya, tante jago masak ya?”
“Enggak nak. Ini semua bukan tante saja yang masak, tapi tadi pelangi juga yang membantu tante menyiapkan ini semua.”
“owh, kalau begitu anak sama ibunya sama – sama pintar memasak. He.. he.. he..” kata Calvin,
“Iya nak Calvin, makannya besok cari istri seperti tante Kia ya. Yang jago masak. Pokoknya tante Kia itu super the best. Ya bisa di bilang istri idaman.” Ucap Cleo sembari menyantap hidangan di hadapanya itu.
“Ah kamu mas, bisa saja.”
Mereka semua pun tertawa bersama. Akan tetapi Melly sangat tidak menyukai Kia di puji – puji oleh suaminya itu.
“Ehem, ehem, kayak gini kok di bilang enak.” Ucap Melly.
“Tante.” Kata Amel.
Riri waktu itu hanya mengeleng – gelengkan kepalanya karena perkataan Melly.
“Tante enggak bohong, nih buktinya, masak, rendang kok dagingnya masih sangat keras dan alot seperti ini. Nih tante kasih tahu, tante kalau masak pasti enak, tidak seperti ini enggak enak sama sekali. Apa lagi Kalau tante yang masak, dagingnya pasti empuk, terus tidak keras seperti ini.”
“Iya menurut aku ini enak kok. Apa lagi soal rasa juga enggak kalah enak kok sama yang di restaurant.” Kata Calvin menjawab perkataan Melly.
“Ya, kalau keras dan alot di situ masih banyak lauk atau sayur tan. Kia ambilkan ya? Tante mau makan pake apa.” Ucap Kia.
“Hadeh, baru makan rendang saja tidak enak, apa lagi yang lain?”
“Aku makan pakai sambal ayam enak juga kok tan.” Cakap Brayen.
“udah lah ini saja. tante sudah terlanjur mengambil. Terpaksa tante habiskan.”
Kia hanya terdiam saja waktu itu. sebab dia tidak ingin suasa makan malam terganggu hanya karena meladeni omongan dari Melly. Ketika sedang menikmati makannannya brayen menatap Pelangi lama sekali.
“Nak brayen, kok berhenti makannya. Ayuk di habiskan.”
“Owh, iya nek.”
Ia merasa tidak enak karena dirinya kelamaan memandang wajah pelangi. Pelangi dan Calvin terlihat begitu sangat akrab, sehingga membuat Brayen merasa cemburu.
“Mereka seperti sudah sangat akrab sekali. mungkin aku hanya bisa mencintai tapi tidak memiliki. Kenapa mereka memperlihatkan kedekatannya di hadapanku? Setiap kali aku melihat senyuman dari wajahnya, aku seakan – akan tidak pernah bisa melapas pandangan mataku dari dirinya. Pelangi wajahmu membuat aku benar – benar tidak bisa berhenti memperhatikanmu. Tapi aku tahu kalau kamu akan lebih baik untuk dirinya, sebab kalian cocok karena sama – sama dari keluarga yang berada. Berbeda dengan aku. Hah, sudahlah aku harus sadar diri.” Gumam Brayen yang cemburu melihat kedekatan Calvin dan Pelangi kala itu.
Selesai makan malam itu, Calvin dan Brayen kemudian berpamitan kepada semua keluarga Pelangi yang ada di sana.
“Tante, saya pamit pulang dulu ya. Ini sudah malam, biar tante, om dan nenek bisa istirahat.” Kata brayen yang berpamitan kepada keluarga Pelangi.
“Owh, ya sudah kamu hati – hati ya nak.” Ucap Cleo.
“Nak Brayen, terima kasih ya karena kamu sudah datang untuk makan malam di sini.”
“Sama – sama tante, saya juga terimakasih, karena sudah diundang makan malam di sini. Kalau begitu Brayen pamit ya tante, om, nek.”
“Iya nak, hati – hati ya.”
Kemudian Brayen pergi meninggalkan rumah Pelangi. Tak lama di susul oleh Calvin. Calvin juga berpamitan akan pulang.
“Tante, om dan nenek, kalau begitu Calvin juga ikut pamit pulang ya. Ini sudah malam soalnya.”
“Iya nak, sebelumnya kami sangat berterimakasih karena nak Calvin sudah mau datang untuk makan malam di sini.”
“Sama – sama tante,” kata Calvin.
“hati hati di jalan ya nak Calvin.” Kata Riri.
Calvin pun kemudian Pergi pulang meninggalkan rumah pelangi. Di saat mereka berdua telah pergi, Cleo menanyakan sesuatu kepada Pelangi.
“Ayah sepertinya mengenal Brayen. Wajahnya seperti tidak asing untuk ayah.”
“Em, memang ayah pernah bertemu dengan dia?” tanya Pelangi.
“Ya jujur saja, ayah memang baru mengenal dia. Tapi ayah seperti tidak asing dengan wajah Brayen. Dia itu mirip siapa gitu, tapi ayah lupa. Atau mungkin hanya... ahg, sudahlah abaikan saja.” kata Cleo.
“Kamu ini mas, tapi memang benar sih, aku juga merasa wajahnya mirip seseorang yang pernah aku kenal. Agh, tapi sudah lah. Aku capek. Mau istirahat.” Kata Kia.
“Kalau begitu sekarang semua istirahat. Biar barang - barang di bersihkan sama bibik.”
“Iya yah.”
Ketika mereka akan menuju ke kamarnya masing – masing, Melly keluar dari kamar Riri, ia berpamitan dengan Cleo, dan juga Amel.
“Cleo, tante pamit pulang dulu ya.”
__ADS_1
“tante melly tidak bermalam di sini dulu saja?”
“Enggak, tante mau pulang saja. Amel sayang, tante pulang ya nak. Eemuach...” ucap Melly kepada Amel.
Akan tetapi Melly sama sekali tidak mau menyapa atau pun berbicara dengan Kia dan Pelangi. Di saat dirinya akan pergi ia berjabat tangan kepada Cleo dan juga Amel, dirinya hanya lewat begitu saja tanpa memperdulikan Kia dan Pelangi. Kia dan pelangi pun hanya menarik nafas dalam – dalam dan panjang dengan sikap Melly kepada dirinya itu. ia juga tidak mau mempersalahkan, karena Kia sudah sangat merasa lelah. Apa lagi Kia sudah hafal sifat Melly yang membenci dirinya dan Pelangi. Namun, Cleo merasa tidak enak dengan Kia karena prilaku Melly yang acuh kepada istri dan juga anaknya waktu itu.
“hati – hati di jalan ya tante,” Kata Cleo
Melly lalu pergi berjalan mendekati mobilnya. Dan ia kemudian menghidupkan mesinnya karena pergi pulang.
“Iya, bye.. bye..” kata Melly sembari melambai – lambaikan tangannya setelah masuk ke dalam mobil dan menyapa mereka daru dari jendela mobilnya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah masuk ke kamarnya masing – masing. Karena tubuh mereka sudah terlihat lelah, mereka semua kemudian beristirahat. Ketika itu, kia duduk di sambping suaminya yang sedang rebahan. Kia membicarakan lagi sifat Melly yang terlihat begitu membenci dirinya dan juga anaknya itu. akan tetapi Cleo meminta kepada Kia supaya jangan terlalu di masukan ke hati.
“Mas, semakin lama, sifat tante melly semakin di lihatkan kalau dia begitu sangat membenci aku dan anakku.”
“Hem... aku sudah tahu kalau kamu pasti akan membahas itu lagi. Sayang, sudah aku bilang berulang – ulang kali kalau kamu tidak usah memperdulikan sifat tante melly. Jangan masukan ke hati. Kalau kamu memikirkan sifat tante melly aku yakin kamu pasti akan merasa sakit hati terus. Sudahlah. Aku mohon dengarkan ucapanku ya.”
Kia kemudian hanya engangguk – anggukan kepalanya. Setelah itu Kia ikut berbaring di trmpat tidur. Cleo kemudian memeluk istrinya dengan erat dan mereka pun lalu menutup matanya.
Berbeda dengan Pelangi. Pelangi masih belum bisa tidur. Dirinya masih duduk di depan meja belajarnya, ia masih memikirkan tentang ucapan Melly yang tidak sengaja dia dengar di kamar amel tadi. Akan tetapi di tengah – tengah dia berdiam dan melamun, ia di kagetkan oleh Amel. Amel masuk ke kamar pelangi tanpa mengetok pintu kamar kakaknya itu, sehingga membuat Pelangi kaget bukan main.
“ddoorrr...”
“Astaga Amel. Kakak kaget tahu.”
“He.. he.. he.. sengaja kak. Weekk..” ucap Amel sambil menjulurkan lidahnya.
“Dasar anak nakal.” Kata Pelangi sambil memeluk dan mencubit pipi manis Amel.
Sehingga membuat mereka berdua jatuh di atas kasur Prlangi. Sambil menatap langit – langit kamar pelangi, amel bertanya kepada kakaknya itu.
“Kak, kak brayen cakep ya orangnya.”
“Kamu suka?”
Amel hanya membalas dengan senyuman saja.
“banyak teman – teman kakak yang suka sama Brayen. Katanya sih dia cowok terganteng di kampus.”
“Ih, enggak bisa bayangin deh kak.”
“Byangin apa?”
“Kalau aku jadi pacarnya. He.. he.. he..”
“Kamu ini.”
“Kak, aku perhatiin ya saat kita makan bersama tadi. Aku lihat kak Brayen dari awal sampai dia mau pulang, dia itu seperti curi – curi pandang gitu. Apa lagi nih kak, dia tuh kalau melihat wajah kakak tersenyum gitu.”
“Masak sih dik?”
“Iya kak, percaya deh.”
“Kamu itu, “
“Kamu tahu dari mana? Hu.. u.. u.. sok tahu kamu dik.”
“Beneran kak, mulai dari dia mencuri – curi pandang, apa lagi tadi dia tuh memperhatikan kakak lama sekali. misal nih kak, dia nyataain cinta ke kakak, kakak mau bilang gimana?”
“heh, dasar kamu ini nakal ya. Sukanya ngeledek kakak.”
“Beneran kak. Oh.. sayang ku Pelangi, mau kah kamu menjadi pacarku? Ha.. ha.. ha..”
“Dasar kamu, dah sana pergi tidur. Ini sudah malam.”
“Iya kak. He.. he.. he..”
Amel kemudian kembali ke kamarnya untuk tidur. Sedangkan pelangi masih melamunkan dan membayangkan wajah brayen.
“Amel, amel bisa ada ada saja anak itu kalau bercanda. Tapi kalau misal yang di katakan oleh amel benar kalau Brayen dari tadi memperhatikan ku, agh.. kalau dia beneran suka sama aku pasti dia akan menyatakan cintanya. Tapi bagaimana dengan kak calvin. Kak calvin laki – laki yang sangat sangat romantis. Dia perhatian sekali sama ku. Dia juga tahu semua ke sukaan ku. Jujur sih, sekarang mulai ada rasa sedikit sama kak Calvin semenjak aku dekat sama dia. Hem.. biar hati saja yang menentukan. Kata Pelangi sambil melihat dan memainkan bunga mawar merah yang di berikan oleh Calvin.
Tak lama Pelangi sedang melamun dan berbicara sendirian di kamarnya sambil tersenyum – senyum, hpnya pun bergetar. Ada senuah pesan masuk. Pelangi kemudian membuka pesan itu lalu membacanya.
Kak cal.
“Hay.. cantik, selamat malam. Semoga mimpi indah, seindah wajahmu.”
Selesai membaca pesan dari Calvin Pelangi kembali tersenyum. Ia lalu berbicara sendiri sambil memegangi hp dan juga bunga dari Calvin.
“Tuh kan, dia perhatian banget orangnya. Hampir setiap malam dia selalu mengirimkan aku sebuah pesan ucapan selamat malam.” Gumam Pelangi.
**
Pagi harinya, karena waktu itu adalah akhir pekan. Pelangi, Amel dan juga Kia sudah merencanakan kalau akan pergi berolah raga joging di taman dekat kompleknya.
Ketika mereka sedang asik berolah raga, terlihat dari kejauhan wajah Dion yang sedang duduk di pinggir jalan sambil memegang rokok. Amel memang mengetahui Dion ada di sana. Akan tetapi dia sengaja tidak memanggil – manggil dion. Karena dia tahu kalau dirinya memanggil dion pasti Kia akan marah besar dan juga akan langsung mengajak anak – anaknya pulang.
Disaat mereka bertiga sedang berlari bersamaan, Amel berpura – pura kalau tali sepatunya waktu itu lepas. Dia memang merencanakan itu karena ia ingin sekali bertemu dengan Dion. Sebab dirinya sudah sangat merindukan Dion, apa lagi semenjak kejadian itu, Kia tidak pernah lenggah untuk memantai Amel setiap hari, sehingga membuat Amel tidak bisa keluar ke mana – mana. Sekalinya Amel pergi ke swalayan dekat rumah pun, Kia selalu membuntuti Amel kemana pun dia pergi. Dan sejak itu juga Kia memperketat pengawasan di mana pun amel berada.
“Kamu kenapa sayang?” tanya Kia.
“Bunda sama kakak duluan saja, nanti aku menyusul kalian. Tali sepatuku lepas bun.”
“Ya sudah bunda sama kakak lari pelan – pelan. Kamu langsung menyusul bunda dan kakak ya.” Kata Kia.
“Iya bun.” Ucap Amel sambil berpura – pura membenarkan tali sepatunya.
Ketika amel tahu kalau kakak dan bundanya sudah agak jauh, amel pun membelokan langkah kakinya. Ia berlari menuju ke arah Dion. Ia bergegas untuk menemui dion waktu itu.
“Hay, dion..” kata Amel sambil menyentuh pundak Dion dengan perlahan.
“Amel.”
“Apa kabar?”
“Baik. Kemana saja kamu? Kenapa kamu susah sekali di hubungi?”
__ADS_1
“Maaf ya.”
Lalu dion tidak melanjutkan pembicaraan, dia terdiam, begitu pula dengan Amel. Amel lalu duduk di samping dion.
“Masih balap liarnya?”
“Udah enggak.”
“Kenapa?”
“Gak apa – apa.”
“Pergi yuk.”
“Kemana?”
“Kemana gitu.”
“Nanti bunda kamu mencari kamu.”
“enggak apa apa. Yuk.”
“Serius?”
“Iya dion. ayuk.” Kata Amel sambil menarik narik tangan Dion.
Lalu dion dan amel pergi meninggalkan taman itu. mereka pergi dengan menggunakan sepeda motor KLX milik dion.
“Aku kangen banget, naik si merah ini.” Kata Amel.
“Kalau aku kangen bangen sama kamu.” Teriak dion kepada Amel.
“beneran?”
“Iya, kamu selalu ada buat aku.”
Kemudian mereka berdua menikmati pergi bersama dengan mengendarai sepeda motor milik Dion.
Beberapa menit kemudian. Kia dan Pelangi duduk untuk beristirahat, akan tetapi Kia tidak melihat Amel berlari di belakang untuk menyusul mereka.
“Pelangi, dimana adik kamu? Kok enggak menyusul kita sih?”
“Pelangi juga enggak tahu bun. Pelangi kira dia ada di belakang kita.”
“Sama bunda kira dia ada di belakang kita. Coba gih, kamu susul adik kamu di tempat tadi. Dia mungkin istirahat di sana.”
“Iya bun, pelangi coba susulin amel ke sana ya bun.”
“Iya cepetan ya, semoga adik kamu tidak pingsan.”
“Iya bun.”
Pelangi pun kemudian menyusul amel ditempat terakhir mereka bertiga berpisah. Akan tetapi Pelangi sama sekali tidak melihat amel di sekitar tempat itu. Pelangi mencoba berlari ke arah penjual – penjual minum dan berlari ke sana kemari untuk mencari Amel. Akan tetapi Amel sama sekali tidak terlihat. Pelangi kemudian menelepon Amel, namun, no telepon amel saat itu tidak bisa di hubungi.
“Kamu di mana sih mel? Kenapa kamu ngilang gini? No nya juga susah di hubungi lagi. Amel. Amel. Kemana sih kamu.” Kata Pelangi yang berdiri sambil memegang hpnya karena waktu itu dirinya mencoba untuk menelpon Amel dengan wajah yang cemas.
Lalu Pelangi bergegas berlari untuk memberitahukan kepada Kia kalau Amel sama sekali tidak ada di tempat terakhir mereka berpisah. Tak lama Pelangi sampai dan mendekati Kia. Ia mengatakan kepada Kia kalau dirinya tidak menemukan Amel.
“Bun. Amel. Amel.”
“Kenapa dengan Amel?”
“Dia, dia. Dia tidak ada di tempat tadi bun.”
“Apa? Yang benar saja kamu Ngi.”
“Iya bun, Pelangi sudah coba mencari kemana – mana tapi amel enggak ada.” Ucap Pelangi sambil terenggap – enggap karena dirinya habil berlari – lari mencari amel.
“Coba bunda telpon dia.”
“Sudah bun, pelangi tadi sudah mencoba menelepon Amel. Tapi amel sama sekali tidak bisa di hubungin.”
“Serius kamu ngi?”
“Iya bun. Coba deh bunda telepon dia. Siapa tahu bisa.”
Kia pun mencoba untuk menghubungi amel. Akan tetapi no teleponnya sama sekali tidak bisa dihubungi atau mati. Kia mulai panik sebab, amel menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
“di mana sih tuh anak. Kenapa dia bisa hilang begitu saja. dia juga enggak ngasih kabar apa pun sama kita.”
“Iya bun, apa dia tadi bertemu dengan teman – temannya saat kita tinggal tadi bun?”
“enggak tahu deh. Tapi kalau dia tadi bertemu sama teman – temannya pasti dia seharusnya memberi tahukan kepada kita dong. Enggak ngilang gini.”
“Iya juga sih bun.”
“Coba sekarang kita cari sekali lagi yuk nak.”
“Iya bun.”
Pelangi dan Kia kemudian mencari – cari Amel di tempat mereka sedang berolah raga. Beberapa menit berlalu, Kia dan Pelangi belum juga menemukan Amel. Berulang – ulang kali mereka mencari – cari di tempat yang sama. Namun tidak sedikit pun mereka menemukan Amel.
“Gimana nak? Kamu sudah bertemu dengan adik kamu belum?”
“Belum bun. Pelangi sudah mencari kesana kesini, tapi sama saja Pelangi tidak menemukan Amel.”
“Astaga Amel, kamu di mana sih sebenarnya. Sama, bunda juga tidak menemukan adik kamu. Di mana sih dia. padahal bunda juga sudah mencari di mana mana, tapi tidak bertemu dengan dia. Kenapa sih dia selalu membuat masalah sih. Kesel bunda sama dia.”
“Sabar bun, bisa jadi tadi dia bertemu lalu gabung sama teman – teman sekolahnya bun.”
“Tapi harusnya dia itu memberi kabar sama kita dong, atau setidaknya dia menghubungi bunda. Ini kok malah ngilang gitu saja. dia itu suka kalau bikin orang tuanya cemas. Pusing bunda mau gimana lagi memberi pengertian dengan adik kamu itu Ngi.”
“Sabar ya bun. Lebih baik sekarang kita pulang saja deh bun.”
“Yuk, kita pulang sekarang saja. biarin nanti dia pulang sendiri.”
Bersambung...
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐⭐