Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
semua akan bertemu


__ADS_3

Sesampai di rumah sakit, pelangi dan kia melihat dari arah luar jendela. Mereka melihat brayen yang sedang terbaring dengan beberapa bagian dari tubuhnya yang dililit perban. Pelangi tidak tega melihat brayen seperti itu, ia kemudian memeluk Kia yang sama – sama berdiri.


“Bun, kenapa semua menjadi seperti ini? Kenapa dia mencelakai dirinya sendiri bu. Hisk.. hisk.. hisk..”


“Kita doakan saja supaya brayen segera pulih dan membaik nak. Bunda juga tidak tahu akan terjadi seperti ini.”


Pelangi pun mengangguk anggukan kepalanya.


“Aku tidak tega melihat dia seperti ini bun. Hisk.. hisk.. hisk..”


Kemudian Kia mengusap usap rambut putrinya itu sembari melihat ke arah brayen.


“Kasihan anak ini. Dia belum bisa menerima semua yang ada. Harusnya dia bisa menerima semuanya. Apa cinta dia memang benar – benar besar untuk pelangi? jangan, aku tidak mau. Aku ingin mereka mempunyai hati yang sewajarnya seperti mencintai saudaranya sendiri.” Gumam Kia.


Setelah itu, Kia mengajak Pelangi pulang. Karena kia tidak ingin pelangi terlalu terbawa suasana karena melihat kondisi brayen.


“Sayang, kita pulang yuk. Bunda mau menjemput adik kamu.”


“Bunda duluan saja, biar aku di sini dulu bun. Aku ingin menemani brayen.”


“Kamu yakin?”


Pelangi pun lalu mengangguk anggukkan kepalanya.


“Ya sudah, kalau begitu bunda jemput amel ya. Tapi bunda pesan sama kamu nak, tolong kamu jangan berlarut – larut kesedihan kamu melihat brayen. Bunda enggak mau, perasaan suka kamu akan bertambah setelah melihat dia seperti itu.


“Iya bun, pelangi paham, pelangi juga tahu apa yang harus pelangi lakukan.”


“Kalau begitu bunda pergi ya. Nanti setelah menjemput amel, bunda ke sini untuk menjemput kamu.”


“enggak perlu bun, biar pelangi nanti pesan go- Car saja. bunda tidak perlu khawatir kepadaku.”


“Baiklah kalau begitu. Kamu baik – baik ya di sini. Kalau ada apa – apa hubungi bunda.”


“Iya bun.”


Karena pak tono sedang mengantar riri pergi, kia lah yang menjemput amel.


Di rumah sakit, pelangi duduk sendiri di depan pintu ruang ICU yang di mana brayen terbaring di sana. Ia menangis karena melihat kondisi brayen seperti itu.


“Brayen, kenapa sih kamu harus mencelakai diri kamu sendiri. Kenapa kamu tidak bisa menerima semua ini. Aku tahu cinta kamu begitu besan kepada ku. Tapi tidak perlu sampai seperti ini. Aku ini kakak kamu brayen. Aku tidak ingin cinta kita ini terlarang. Aku akan tetap terus menghapus rasa cinta ini.” Ucap pelangi dari dalam hatinya sambil melamun.


Tak lama Nindi datang dan mendekati Pelangi. ia kemudian duduk di samping pelangi.


“pelangi, bunda kamu mana?”


“Bunda sedang menjemput amel tan.”


“Owh, pelangi, tante minta tolong sama kamu bisa?”


“Apa tan?”


“Tante akan pergi sebentar, kamu di sini ya jagain brayen, nanti kalau dokter butuh apa – apa dari brayen kamu bisa hubungin tante.”


“Iya tan, aku akan menunggu brayen di sini.”


“Kalau begitu tante pergi dulu.”


“Iya tante.


“Emm, pelangi, tapi tante ingin minta tolong sama kamu satu kali lagi.”


“Apa tan?”


“kamu mau tidak bujuk bunda mu untuk memberi tahukan tante di mana dion berada?”


“Bunda?”


“Iya, tante ingin sekali bertemu dengan dion. Tante ingin meminta maaf dengan dia. Tante menyesal karena sudah menyianyiakan dia dan tidak memberikan perhatian sama sekali kepadanya.”


“Pelangi akan mengantarkan tante untuk bertemu dion nanti.”


“Ha? Beneran? Pelangi mau antar kan tante ke sana?”


“Iya tante.”


“tante senang sekali pelangi, kamu mau bantu tante. Terimakasih ya. Kalau begitu, tante akan pergi sebentar untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus di selesaikan hari ini.”

__ADS_1


“Iya tante.” Ucap pelangi sambil mengangguk – anggukan kepalanya.


Satu jam, dua jam, tiga jam, pelangi masih setia menunggu brayen di sana. Di saat dirinya akan beranjak dari tempat duduknya tadi. Ia melihat ada dua pasangan suami istri yang berlari tergesa – gesa mendekati ruangan ICU itu. mereka kemudian bertanya kepada suster yang melintas waktu itu.


“Sus, suster, saya mau tanya ruang ICU di sebelah mana ya?”


“Sebelah kiri bapak ini ruang ICU. Bapak dan ibu ingin menjenguk pasien yang kecelakaan kemarin?”


“Iya sus, saya ingin melihat kondisi anak saya.” Ucap eva dengan wajah sedihnya.


Di saat itu pelangi hanya terdiam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan dengan suster itu.


“silahkan, tapi, untuk yang akan menjenguk pasien tidak di perbolehkan masuk ke dalam ruang ICU, jadi bapak dan ibu silahkan melihat kondisi pasien dari luar jendela sebelah selatan ya pak, bu.”


“Owh, baik. Baik sus.”


Mereka kemudian pergi berjalan menuju ke arah jendela Brayen. Di sana eva berdiri dan menangis tak henti – hentinya melihat kondisi anaknya saat itu.


“Mas.” Ucap eva sambil menyandarkan kepalanya di pundak suaminya itu.


Akbar pun kemudian mengusap usap punggung istrinya yang terlihat menenangkan hati istrinya itu. tanpa dia sadari, air mata akbar pun keluar begitu saja. ia tidak menyangka anaknya akan seperti itu. begitu pula eva, sambil berjalan perlahan – lahan mendekati kaca jendela itu, ia menangis bercucuran.


“Sayang, kenapa bisa sampai kamu seperti ini sih. Hisk.. hisk.. hisk.. ibu khawatir sama kamu nak. Bangunlah sayang. Ibu dan ayah sudah ada di sini. Hisk.. hisk.. hisk..”


“Ibu, sudah jangan menangis terus seperti ini. Kita doakan semoga brayen lekas pulih dan sadarkan diri. Kamu harus yang kuat. Aku yakin, brayen kuat. Dia bisa melewati masa sulitnya seperti ini.”


“Hisk.. hisk.. hisk.. aku tidak tega mas, melihat brayen seperti itu.”


“Sama, aku juga seperti apa yang kamu rasakan sekarang. tapi, mau bagaimana lagi. Yang bisa kita lakukan sekarang itu adalah mendoakan dirinya.”


Eva hanya terdiam, dan terlihat masih menangis mengeluarkan air matanya yang begitu membanjiri pipinya sendiri. Pelangi hanya menyaksikan dari jauh eva dan akbar. ketika ia mendengar kalau eva mengatakan kata ibu dan ayah, pelangi lalu terpelonggo. Ia berpikir kalau laki – laki paruh baya yang seumuran dengan Ayah Cleo itu adalah Ayah Akbar.


“Apa dia ayah akbar? ayah kandungku?” gumam pelangi.


Pelangi kemudian mendekati eva dan akbar sebab pelangi waktu itu penasaran ingin memastikan kalau akbar adalah ayah kandungnya.. dia kemudian berdiri tepat di samping akbar sambil menggenggam tali tas Selempang yang waktu itu ia kenakan.


Akbar kemudian menoleh ke sebelah kirinya sebab ia merasa kalau ada seseorang yang mendekati dirinya dari sebelah kiri. Sambil mengusap air matanya yang jatuh, ia kemudian bertanya kepada Pelangi.


“Maaf adik siapa ya?”


“Ha.. llo.. om..” ucap pelangi termangu melihat akbar di depannya sembari menyodorkan tangannya.


Pelangi hanya mengangguk – anggukan kepalanya dan tidak mengatakan apapun. Dirinya tidak menyangka kalau ternya ayah kandungnya saat ini sudah di hadapan dirinya sekarang.


“Aku, enggak menyangka, di hadapanku sekarang ini adalah ayah kandungku sendiri. Ingin  rasanya memeluk tapi hati ini belum sanggup. Aku belum siap. Aku seperti mimpi. A.. ku.. sekarang bisa melihat sendiri wajah ayah kandungku dengan begitu jelas dan lagi dia sedang berdiri tepat di hadapanku.” Gumam pelangi dengan mata yang berkaca – kaca seperti akan mengeluarkan air matanya.


“Adik, adik baik – baik saja kan?”


“Hem.. iya om, saya baik – baik saja. saya temannya brayen. Om dan tante orang tua brayen ya?”


“Iya nak, kami ke sini karena kami di kabarkan oleh tantenya brayen kalau brayen kecelakaan.”


Pelangi memang sengaja tidak menceritakan atau memperkenalkan dirinya kepada Akbar dan eva kalau dirinya itu adalah pelangi anak kandung akbar dari pernikahannya bersama Kia. pelangi ingin ayahnya tahu kalau dirinya adalah anak kandungnya setelah brayen sudah sadarkan diri.


“Owh... iya tante, aku teman satu kampusnya Brayen. Kalau begitu saya pamit pulang ya om, tante.” Ucap pelangi sambil menyodorkan tangannya ke arah mereka berdua. Pelangi pun sengaja cepat – cepat berpamitan, sebab saat itu ia telah menahan air matanya yang akan keluar membasahi pipinya, dan ia tidak ingin mereka mengetahui yang sebenarnya.


“hati – hati ya nak, om sama tante akan menjaga brayen di rumah sakit. Om minta doanya supaya brayen bisa cepat sadarkan diri.” Kata Akbar sambil berjabat tangan dengan Pelangi.


Akan tetapi di saat pelangi sedang bersalaman kepada akbar, pelangi mencium tangan akbar agak lama.


“Ayah, pelangi pulang dulu ya. Pelangi seneng sekali bisa bertemu dengan ayah. Walaupun ayah tidak tahu siapa aku sebenarnya.” Gumam pelangi yang masih bersalaman dan mencium tangan Akbar.


“emm, nak.” Ucap Akbar yang sedikit terheran dengan sikap pelangi waktu itu sembari menyentuh pundak pelangi. eva pun juga sedikit merasa aneh melihat sikap pelangi.


Pelangi kemudian mengangkat kan kepalanya dan melepaskan tangannya dari tangan akbar.


“Permisi om, tante.” Ucap pelangi yang langsung berjalan meninggalkan akbar dan eva secara perlahan – lahan. Lalu setelah ia melangkahkan kakinya tak jauh dari akbar dan eva, pelangi menoleh ke belakang melihat mereka.


“Ayah, aku akan kembali besok. Aku ingin bisa bersama ayah.” Ucap pelangi dari dalam hati sambil melihat akbar.


Kemudian setelah dia sampai di depan rumah sakit dan berdiri menunggu go- car yang telah ia pesan, ia kemudian menerima telepone dari Nindi.


“Pelangi, kamu di mana nak? Ini tante sudah selesai menyelesaikan semua pekerjaan tante hari ini. Tante jemput kamu ya. Kamu masih di rumah sakit kan?”


“Iya tante, ini aku sudah di depan rumah sakit, sekarang aku lagi nungguin go – car tan.”


“kamu batalain saja nak go – carnya. Biar tante langsung jemput kamu ya. Tante dari kantor cuman 10 menit.”

__ADS_1


“Owh, ya udah kalau gitu tan, pelangi tunggu tante saja.”


“kalau gitu tante segera jemput kamu sekarang. tunggu sebentar ya.”


“Iya tante.”


Tot.. tot.. tot..


Setelah menerima telepon dari Nindi, pelangi pun kemudian membatalkan pesanannya dengan Go – Car. Tak lama pelangi menunggu nindi di pingir jalan depan rumah sakit, nindi pun tiba dan berhenti begitu saja di depan pelangi yang sedang berdiri.


Tin.. (suara klakson mobil)


“tante.”


“Ayuk sayang cepetan masuk ke dalam.”


Pelangi kemudian masuk ke dalam dan pergi dengan nindi menuju ke tempat mess dion.


“semoga saja dion masih di mess ya. Tante sudah enggak sabar ingin seklai bertemu dengan dion, pelangi.”


“Iya tan, pasti dia masih ada si sana kok tan, tante tenang saja.”


“Aamiin, mudah – mudahan saja ya pelangi.” tak lama mereka sampai di depan mess dion. Di sana pelangi meminta kepada scurity untuk di panggilkan dion, akan tetapi dion sudah di pindahkan oleh bosnya untuk menjadi supir bribadi pemilik perusahaan tersebut. Dan pemilik perusahaan sangat suka dengan kinerja dion yang begitu sungguh – sungguh dalam mengerjakan pekerjaanya.


Pernah ada suatu kejadian di mana bos besar waktu itu sedang ke susahan mencari penganti supir pribadinya, akan tetapi banyak orang yang sudah memasukan lamaran pekerjaanya dan mereka pun juga sudah masuk dalam tahap masa uji coba atau yang sering di sebut traning. Akan tetapi bos besar itu menolak dan menghentikan mereka yang sudah memasukan CV pekerjaannya sebagai posisi supir.


Dan ketika itu dion sedang pergi bersama Calvin, sesampai dirumah Calvin, dion bertemu dengan ayah Calvin, ayah Calvin adalah pemilik perusahaan tempat kerja Dion saat ini. Ayah calvin pernah meminta tolong kepada calvin untuk mengantarkan dirinya ke rumah temannya. akan tetapi Calvin tidak bisa mengantarkan ayahnya pergi, karena ia sudah mempunyai janji dengan temannya. Sehingga akhirnya Calvin meminta tolong dion untuk mengantarkan ayahnya pergi. Dion pun tanpa berat hati langsung menerimanya, ia merasa hutang budi dengan calvin. Karena Calvinlah dia bisa mendapatkan kerja. Mualai dari itu, Ayah calvin meminta dion untuk menjadi supir pribadinya.


Semenjak dion bertemu dan sering menginap di rumah calvin, mereka pun lama – ke lamaan menjadi akrab. Dan calvin sering sekali mengajak Dion untuk pergi bermain atau nongkrong bersama layaknya sahabat. Dion sudah sangat berbeda setelah ia pergi dari rumahnya.


Dari situlah dion sekarang sudah bisa merubah dirinya menjadi yang lebih baik, karena ia sudah mempunyai pekerjaan yang layak bagi dirinya. Akan tetapi ternyata ayah Calvin adalah kerabat dekat Alex selama ini. Dan bunda Calvin adalah teman Nindi dulu saat ia masih berpacaran dengan alex. Mereka saling mengenal karena dulu mereka sering sekali pergi bermaian bersama – sama. Ayah Calvin bernama Bayu, sedangkan ibunda Calvin bernama elsa.


**


Ketika nindi mengetahui kalau dion sudah tidak tinggal lagi di mess itu, nindi langsung bertanya kepada scurity tempat tinggal dion sekarang. ia dan pelangi masih lanjut untuk mencari di mana dion berada.


“Pak, bapak tahu di mana dion berada atau dion tinggal di mana gitu?”


“Maaf buk, saya terakhir dengar, dion menjadi supir pribadi bos besar saya buk. Mungkin dion sekarang tinggal di rumah bos, atau dia mencari rumah kontrakan bu.”


“Apa? Di mana rumah pemilik perusahaan itu pak. Kalau alamatnya di perumahan xxx coba ibu tanyakan saja di sana.”


“Di rumah mana pak?”


“Di perumahan xxxx”


“Owh, anaknya namanya Calvin bukan ya pak.”


“iya mbak, bener. Anak pemilik perusahaan ini namanya Calvin.”


“Owh, kalu begitu kita segera ke sana saja ya pelangi. tante sudah enggak sabar ingin sekali bertemu dengan dion.”


“Iya – iya tan”


Kemudian pelangi dan Nindi langsung bergegas menuju ke rumah calvin, ke alamat di mana security itu berikan. Nindi mengemudi dengan sangat kencang, ia tidak ingin ke hilangan jejak anaknya. Karena ia ingin anaknya pulang dan hidup bersamanya lagi. Apa lagi nindi sudah berjanji kepada dirinya sendiri kalau ia akan memperlakukan Dion yang layak, selayaknya ibu dan anak. Kecemasan, ke khawatiran nindi pun mulai muncul saat sedang mengemudikan mobilnya.


“Ternyata calvin orang yang kaya raya ya. Bukannya kemarin dia bilang kalau dion bekerja di perusahaan milik teman ayahnya ya. Ah, tapi ya udah lah. Toh dia juga sudah menolong saudara ku.”Gumam pelangi sembari melamun.


Pelangi baru menyadari kalau Calvin memang anak orang konglo merat. Dan Calvin memang sengaja tidak ingin orang lain tahu kalau dirinya kaya. Di saat nindi hampir menabrak pengendara motor di depannya, Pelangi pu kemudian kaget bukan main.


Ssssstttt! ( suara rem mobil yang berhenti mendadak )


“astaga tante.”


“ma.. af.. ya pelangi. tante tidak sengaja.”


“Tante, pelangi tahu kalau tante itu sedang cemas. Tapi tante juga harus menjaga emosi tante.”


“iya, iya pelangi. sekali lagi tante minta maaf ya. Karena tante segera ingin sekali bertemu dengan dion nak.”


“Iya pelangi mengerti tan, kalau begitu biar pelangi saja yang mengemudikan mobilnya. Tante turun, kita gantian ya.”


“Iya pelangi.”


Mereka akhirnya bergantian untuk mengemudikan mobil dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah calvin.


Bersambung... 

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2