
Beberapa waktu berlalu. Akbar dan Kayla akan pergi keluar kota dan meninggalkan tempat di mana banyak kenangan yang pernah Akbar lakukan bersama - sama dengan Kia. Akbar memutuskan untuk menikahi Kayla. Ia sudah bertekan untuk meninggalkan ibunya dan membangun rumah tangga tanpa ada campur tangan dari siapapun.
Kayla menerima lamaran itu dan ia ingin pergi bersama dengan Akbar di manapun dirinya berada. Beberapa hari setelah ia di lamar oleh Akbar mereka melangsungkan pernikahan. Namun disaat mereka merayakan pernikahan adik Akbar yang bernama Nindi sama sekali tidak nampak dan tidak diberi kabar apapun dari keluarganya.
Setelah menikah Kayla juga sudah mengundurkan diri dari perkerjaannya. Karena ia ingin hidup berdua bersama suami barunya itu. Mereka sudah merencanakan dari jauh - jauh hari untuk kehidupan selanjutnya setelah pernikahan itu berlangsung dan akan pergi jauh untuk meninggalkan kota itu.
Sebelum Akbar meninggalkan kota itu, ia pergi diam diam memperhatikan kondisi rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Kia. Ia melihat rumah Kia dari dalam mobinya yang berhenti di seberang jalan. Di sana ia melihat Surya yang sedang duduk didepan rumah sambil membaca koran. Ia tidak melihat sedikitpun wajah Kia. Hari pertama ia mengawasi rumah Kia dari kejauhan namun ia tidak melihat Kia. Hari ke dua ia diam diam pergi lagi ke rumah Kia untuk mengamati, namun tidak sedikitpun ia melihat Kia nampak di rumahnya. Dan hari ke tiga ia pergi lagi ke rumah Kia, ia mulai mengamati dari pagi hingga malam hari karena sebelum akan meninggalkan kota itu ia ingin sekali melihat wajah Kia walaupun hanya dari kejauhan. Tetapi harapannya untuk bertemu dengan Kia tidak lagi bisa. Akbar tidak mengetahui bahwa Kia saat ini sudah tidak tinggal di rumahnya setelah kejadian warga setempat menginginkan dirinya pergi mebinggalkan rumahnya.
Akbar bertanya - tanya di dalam hati karena ia tidak dapat melihat Kia. Padahal ia sudah beberapa hari mengamati dan menunggu di seberang jalan supaya bisa melihat wajah Kia walaupun hanya dari kejauhan.
"Dimana Kia. Kenapa aku sudah beberapa hari terakhir ini mengamati rumahnya namun dia tidak pernah keluar rumah dan aku tidak bisa melihat wajahnya. Apakah dirinya baik - baik ya? Semoga dia dan calon bayinya selalu sehat. Ini hari terakhir aku di sini di kota ini. Semua kenanganku bersamanya akan aku tinggalkan. Semoga kamu bisa menemukan laki - laki yang benar benar bisa menjaga dan mencintaimu. Hiduplah bahagia dengan kehidupan baru mu Kia. Sekali lagi aku minta maaf karena sudah banyak menyakitimu." Katanya dari dalam hati sambil melihat rumah Kia dari dalam mobil.
Setelah itu Akbar mulai menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah Kia. Akbar pulang dan mempersiapkan semuanya karena ia akan pergi dari kota itu esok harinya dengan Kayla.
Pagi harinya mereka berpmaitan kepada Ibunya.
"Buk, Akbar pergi dulu ya. Ibuk baik - baik di sini.
"Hati - hati di sana ya nak. Ibuk pasti akan selalu merindukan mu. Jaga anak ibu dengan baik ya Kay. Ibu titip." Ucap Dewi dengan raut muka sedih karena akan di tinggalkan anaknya.
"Iya buk. "
"Kayla, kalau ada apa - apa jangan lupa langsung kasih kabar ke mama ya nak. Kamu jaga diri baik - baik ya di sana. "
"Iya mah tenang saja. Kan aku sudah menikah dengan mas Akbar. Jadi sudah ada yang bisa menjaga aku di sana ma."
"Iya sayang. Nak, titip Kayla juga ya. Jaga istrimu baik - baik." Kata Ida sambil memegang pundak Akbar.
"Iya mah." Ucap Akbar.
Akhirnya mereka pergi meninggalkan orang tuanya. Mereka pergi menggunakan taksi menuju ke bandara. Ketika mereka berdua sudah duduk di dalam mobil taksi Akbar membuka handponenya dan melihat - lihat di gallery foto miliknya. Di samping Akbar, Kayla tiba tiba melirik suaminya yang sedang memegang handphonenya yang sedikit seperti menyembunyikan sesuatu agar Kayla tidak curiga.
"Kamu lagi lihat apa sih mas? Kok seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari aku. Coba sini aku lihat handphone kamu." Ucap Kayla sambil meminta handphone milik Akbar.
"Owh, bukan apa - apa. Aku hanya melihat galleri foto pernikahan kita." Kata Akbar.
"Masak sih. Terus kenapa kamu melihatnya dengan posisi sperti seperti itu." Ujar Kayla.
Kayla, berkata seperti itu karena posisi Akbar yang sedang melihat - lihat foto Kia menempel pada pintu mobil taksi dengan menutup - nutupi handponenya agar Kayla tidak melihatnya.
"Ya udah, ni kita lihat berdua. Biar kamu tidak curiga."
"Aku sih bukanny ngmbek sih mas, asalkan di handphone kamu sudah tidak ada lagi foto - foto mantan istri kamu. Aku enggak suka."
"Iya aku sudah menghapus dan melupakan masa lalu aku. Kamu percayakan kamu sama aku Kay."
"Iya, percaya."
"Sekarang kita berdua fikirkan masa depan kita. Aku juga sudah berjanji kan sama kamu kalau aku akan melupakan Kia."
"Iya mas, kita hidup berdua ya mas, susah duka kita jalani bersama. Aku akan percaya sama kamu." Kata Kayla dengan memeluk dan bersandar di bahu Akbar saat mereka berada di dalam taksi.
"Iya Kayla."
Sesampai di bandara mereka berdua menunggu supir taksi menurunkan beberapa koper miliknya dan mereka berdiri tepat di dekat taksi yang baru saja mereka naiki lalu mendorong kopernya dan berjalan menuju boarding room. Saat akan menuju boarding room Kayla pamit akan ke toilet dan meminta Akbar untuk menunggunya sebentar. Ketika itu mata Akbar melihat ke arah samping kiri. Ia melihat dari kejauhan seperti wajah Kia. Saat itu Kia berdiri membelakangi Akbar.
"Wanita itu seperti Kia. Tapi kenapa ia juga sedang berada di bandara? Apakah saat aku mengamati rumahnya saat itu ia tidak lagi tinggal di sana? Tapi kenapa dia ke bandara bersama keluarganya?" Ucapnya dari dalam hati.
Ketika Kia menoleh dan sedang mengandeng tanggan Bella, ternyata apa yang dilihat Akbar tidak salah. Wanita itu benar - benar Kia.
"Ternyata benar. Wanita itu adalah Kia. Akhirnya aku bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya berada di kota ini.Perutnya juga sudah mulai membesar dan sudah sangat terlihat jelas. Kalian jaga diri baik - baik ya. Selamat tinggal Kia. Semoga kamu bisa mendapatkan pengantiku yang jauh lebih baik dari aku. Terimakasih sudah pernah mengisi hati ini. Apakah benar calon bayi yang saat ini ia kandung itu adalah anakku sendiri?" Ucapnya dari dalam hati sambil memandangi Kia dari kejauhan.
Kayla datang dari toilet dan mereka melanjutkan perjalanannya menunu boarding room. Sesampai di sana Akbar ingin membeli secangkir kopi untuk dirinya dan juga Kayla.
__ADS_1
"Kay, "
"Iya, kenapa mas? " Kata Kayla sambil memegang handphonennya.
"Aku mau cari kopi dulu. Kamu tunggu di sini ya."
"Iya mas."
Akbar pun pergi berjalan meninggalkan Kayla. Dia berjalan menuju caffe yang ada di bandara itu. Sesampai di caffe itu Akbar berdiri di depan meja pelayan caffe. Ia meminta dua cup kopi hangat. Ia tidak menyadari bahwa ternyata di sampingnya berdiri seseorang wanita yaitu Kia. Saat ia akan mengambil uang dari dalam dompet lalu akan membayarnya matanya terpana dan melonggo kalau di sampingnya ternyata adalah Kia, Kia juga sedang memesan beberapa minuman untuk kelurganya di caffe itu bersama Bella.
"Kia."
Saat Kia mendengar ada orang yang memanggil namannya seperti tidak jauh dari ia berdiri. Ia langsung melihat disamping kanan.
"Mas Akbar."
"Kamu di sini? Sedang apa?"
"Aku sedang membeli beberapa minuman untuk keluargaku."
"Maaf kak totalnya semua tiga ratus dua puluh ribu rupiah kak." Kata pegawai kasir itu.
"Owh, iya ini. Terimakasih." Ucap Kia sambil membayar ke kasir.
Setelah membayar Kia langsung pamit pergi tanpa melihat wajah Akbar.
"Permisi mas."
"Kia tunggu."
Langkah Kia terhenti dengan mengandeng tangan Bella.
"Tante, om Akbar memanggil tante."
"Em, Bella, kamu ke tempat bunda dulu ya. Nanti tante menyusul kamu."
Bella pun pergi meninggalkan tantenya.
"Kia, gimana kabar kamu?"
"Maaf aku enggak ada waktu. "
"Sebentar Kia. Aku mau minta maaf karena selama ini aku telah banyak membuatmu sakit hati."
"Aku sudah memaafkan semuannya mas. Aku juga sudah melupakannya. Kalau sudah aku akan pergi."
"Aku juga akan berpamitan kepada kamu Kia. Aku akan pergi meninggalkan kota ini. Ini terakhir kali aku bisa melihat kamu. Aku tidak akan lagi mengusik dan menganggu kamu lagi."
"Ya, silahkan. Kita sudah tidak mempunyai hungungan apa - apa lagi mas. Jadi itu bukanlah menjadi urusan ku lagi. Jika kamu akan meninggalkan kota ini silahkan. Permisi, aku mau pergi."
"Emm, tunggu Kia. Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih karena sudah pernah menempati hatiku. Jaga dirimu dan calon bayimu baik - baik ya. Semoga kamu mendapatkan pengantiku yang lebih baik dari aku. "
"Kamu bilang apa mas? Bayimu? Owh, jadi kamu benar - benar tidak akan mengakui bahwa bayi ini anakmu? Baiklah. Silahkan kamu pergi dan jangan pernah kamu kembali lagi di kehidupan ku dan juga anakmu ini. Kamu akan menyesel mas, ingat itu baik - baik." Kata Kia lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Akbar.
"Kia, Kia," teriak Akbar memanggil - manggil.
Namun, Kia tidak menggubris teriakan mantan suaminya itu saat memanggil - manggil dirinya. Setelah Kia mendengarkan Akbar mengatakan bahwa Akbar benar - benar tidak menganggap anak yang Kia kandung itu adalah anak Akbar seketika Kia langsung pergi meninggalkan Akbar sendirian dan meneteskan air matanya. Miris baginya mendengarkan ucapan Akbar.
Kia pergi menghampiri keluarganya. Ia mendekati keluarganya sambil menghapus air matanya yang jatuh di pipi dengan rasa penuh kesedihan setelah mendengarkan perkataan Akbar tadi.
Sebelum sampai kepada keluarganya Sinta datang menghampiri adiknya yang sedang menanggis itu.
"Apa yang terjadi? Di mana dia? Apa lagi yang sudah dia lakukan kepadamu sehingga kamu menanggis seperti ini? "
__ADS_1
"Sudahlah kak, tidak usah perdulikan dia. Dia hanya bisa membuat aku sakit hati lagi. Lebih baik kita hampiri mama, papa, Bella dan juga mas Ibnu."
"Tapi Kia?"
"Aku enggak apa - apa kak. Sudah mari kita ke sana. Sebentar lagi sudah mau jam pemberangkatan mas Ibnu. Nanti kalau kakak menanggapi dia, waktu kakak akan tersita banyak untuk bertemu mas Ibnu."
"Ya sudah. Tapi kamu benar tidak apa - apa?"
"Iya kak. Aku enggak apa - apa. Jangan khawatirkan aku kak."
Akhirnya Sinta tidak jadi untuk menemui Akbar. Mereka berjalan menuju keluarganya yang duduk menemani Ibnu akan pergi bertugas. Karena Ibnu dipindah tugaskan oleh perusahaannya di luar provinsi maka semua keluarga mengantarkannya pergi ke bandara untuk pemberangkatannya itu.
Surya dan Nisa bertanya kepada Kia apakah semuanya baik - baik saja? Lalu Kia mencoba membuat keluarganya tenang setelah mendengar laporan dari Bella bahwa Kia sedang bersama Akbar. Dikarenakan keluarganya sudah benar - benar membenci Akbar. Sebab Akbar lah yang selalu membuat Kia sedih.
"Kenapa bisa kamu bertmeu dengan laki - laki berengsek itu nak?"
"Aku juga tidak tahu pah. Tadi saat aku sedang di caffe untuk membayar beberapa minuman, tenyata dia juga lagi ada di caffe itu pah."
"Lalu? Apa yang sudah dia perbuat? Apakah dia menyakitimu lagi?
"Tenang pah, dia tadi hanya berpamitan kepadaku."
"Berpamitan?" Tanya Sinta.
"Memang dia mau kemana?" Kata Nisa.
"Iya, dia tadi pamit mau pindah. Katanya mau pergi dari kota ini mah."
"Yah baguslah dek, biar hidup kamu bisa tenang tanpa laki - laki sepert dia." Ucap Ibnu .
"Tante sudah janji sama Bella kan kalau enggak boleh sedih lagi." Sahut Bella.
"Iya tante sudah janji sama Bella." Kata Kia.
Jam pemberangkatan Ibnu sudah akan tiba. Ibnu berpamitan kepada mereka, merekapun menunggu Ibnu yang akan pergi sampai tidak terlihat lagi. Pesawat yang akan Ibnu tumpangi itu akan take off beberapa menit lagi. Setelah pesawat take off mereka pun pergi meninggalkan bandara dan menunggu Surya di pintu utama bandara untuk mengambil mobilnya.
Selang beberapa menit pesawat Akbar juga akan take off. Dan ia benar - benar akan meninggalkan kota yang penuh dengan kenangan itu.
Surya berhenti untuk menghampiri istri, anak dan juga cucunya itu di depan pintu utama bandara. Naiklah satu per satu ke dalam mobil. Lalu mereka pergi meninggalkan bandara. Di dalam mobil Kia masih mengingat ingat wajah Akbar. Ia memikirkan apa yang telah Akbar katakan, bahwa dirinya akan pergi meninggalkan kota itu.
"*Apa dia benar - benar akan meninggalkan kota ini? Kenapa dia pergi? Apakah dia ada masalah dengan ibunya? Karena setahu aku dia tidak mungkin tega meninggalkan ibunya sendirian di kota ini. Sedangkan Nindi juga jarang pulang, menjenguk ibunya saja ia tidak pernah. Kenapa mas Akbar sudah tega meninggalkan ibunya ya?
--------
" Agh, sudahlah kenapa aku harus memikirkan mereka. Kenapa juga aku harus memperdulikan mereka. Sedangka mereka saja sudah banyak menyakiti hatiku. Sudahlah mulai sekarang aku sudah tidak akan memikirkannya lagi. Aku juga sudah lelah menghadapi mereka yang tidak mempunyai hati kepadaku. Apa lagi, anak yang aku kandung ini tidak di anggap olehnya. Dia juga sudah tega menuduhku berselingkuh. Mulai sekarang aku harus fokus sama kelahirankku dan juga anakku*." Katanya dari dalam hati dengan menyandarkan kepalanya di jendela dalam mobil.
"Kia, kamu baik - baik saja kan nak?" Tanya Surya sambil menyetir.
"Iya pah, Kia enggak apa - apa kok pah." Jawab Kia.
"Mulai sekarang kita harus selalu bersama ya anak - anak." Ucap Surya kepada ke-dua putrinya itu.
"Iya pah."
"Kamu juga harus fokus sama kelahiran mu Kia. Sekarang tidak usah banyak berfikir yang kiranya hanya merugikan mu. Di sini mama dan papa akan selalu menjaga putri - putri mama dan juga cucu mama yang cerewet ini." Kata Nisa.
"iya mah."
"Uti gitu ah sama Bella." Ujar Bella dengan wajah cemberutnya.
"Bercanda sayang."
Seisi mobil itu tertawa setelah melihat wajah Bella.
__ADS_1
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️