Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
pelangi berubah sikap dengan brayen


__ADS_3

“Selamat pagi pelangi sayang.” Kata Kia menyambut anaknya yang baru saja duduk di meja makan.


“Selamat pagi putri kecil bunda.” Ucap Kia lagi menyambut kedatangan amel yang akan duduk dikursi makan.


“met pagi bun,” sahut Cleo kepada istrinya.


“Selamat pagi juga mas,”


“Selamat pagi bunda, ayah.” Ucap Pelangi yang menjawab sapaan dari Kia.


Akan tetapi amel masih terlihat seperti mendongkol kepada Kia. namun, kia tetap berusaha untuk terus menyapa atau mencari perhatian dari amel supaya amel tidak lagi marah kepadanya. Kia mengambilkan nasik dan juga lauk pauk untuk Amel. namun amel masih menunjukan wajah cemberutnya.


“Amel sayang, bunda ambilkan nasi ya. Amel mau seberapa? Segini cukup?” ucap Kia sambil menuangkan nasi ke piring yang ada di depan amel.


“Hem.” Jawab amel.


“Lauknya mau pakai apa sayang? Ayam atau ikan? Em, bunda tahu, pasti amel mau nya pake ikan kan?”


“Hem.” Jawab amel lagi.


“Nih bunda juga sudah masakin tumis kangkung ke sukaan putri tercinta bunda. Bunda ambilkan ya.”


“Hem.”


Ketika Cleo mengetahui kalau amel hanya menjawab dengan sepatah kata saja. Cleo seperti tidak menyukai dengan tingkah laku anaknya itu.


“Amel, kalau bunda tanya di jawab dong. Enggak cuman hem, hem, hem saja.”


Amel lalu melihat ke arah ayahnya sambil mengerutkan ke dua alisnya dengan mulut yang cemberut. Sedangkan kia menyadari kalau anaknya seperti itu karena dia masih marah kepada dirinya.


“Sudah, bunda enggak apa – apa kok yah.” Ucap Kia sambil memegang pundak suaminya itu.


Mereka kemudian sarapan pagi bersama, tak lama selesai sarapan mereka terus bersiap – siap akan berangkat ke sekolah dan lain – lain.


“Bun, ayah pamit ya, ayah berangkat dulu.”


“Iya mas, hati – hati di jalan ya mas.” Kata Kia sambil mengantarkan suaminya ke depan pintu rumah lalu mencium tangan suaminya itu.


Cleo lalu berjaln menuju mobil pribadinya. Dari dalam rumah terdengar suara amel yang berteriak memanggil – manggil ayahnya itu.


“Ayah...”


“Terus yang antar amel siapa yah?”


“Kamu sama bunda dulu nak. Ayah keburu – buru mau berangkat kerja. Soalnya juga sudah di tunggu sama Klien.” Ucap Cleo sambil berjalan menuju ke mobilnya.


Semua itu memang sudah di rencanakan oleh Cleo dan Kia. mereka sengaja merencanakan itu supaya Amel mau dekat dengan Kia lagi.


“Amel, biar bunda ya yang antar amel berangkat ke sekolah ya.”


Amel hanya terdiam saja dan tidak menjawab apapun saat Kia mengatakan seperti itu. tak lama pelangi pun juga keluar kemudian ia berpamitan kepada Kia karena ia akan berangkat ke kampus.


“bun, pelangi berangkat dulu ya bun.”


“Kak, aku anterin sekolah ya kak.”


“sama bunda dulu ya dek, kakak ke buru – buru nih soalnya”


“Tapi kak.”


“Udah kamu biar di anterin bunda aja berangkat sekolahnya.”


“Iya pelangi, kamu berangkat saja dulu, biar bunda yang anterin amel berangkat sekolah.”


“kalau gitu pelangi pergi dulu ya bun.”

__ADS_1


“Iya pelangi, kamu hati – hati di jalan ya.”


Pelangi pun kemudian pergi menuju ke mobilnya. Kia lalu mengatakan kepada amel kalau dirinya akan mengambil tas.


“Sayang, bunda siap – siap ambil tas dulu ya. Kamu tunggu sebentar.”


Amel hanya diam. Kia lalu pergi masuk ke dalam rumah untuk mengambil tas dan hpnya. Setelah beberapa menit kemudian, kia lalu mengantar amel berangkat ke sekolah. Di jalan Kia meminta maaf kepada anaknya itu karena sudah membuatnya kecewa.


“Amel, sayang bunda minta maaf ya. Karena bunda, kamu jadi kecewa dengan bunda.”


Amel hanya terdiam lalu sembari memainkan hpnya.


“amel, bunda enggak ada maksud apa – apa sayang. Bunda cuman tidak ingin kalian mencintai orang yang salah nak.”


“Entah lah bun. Aku sedang tidak ingin membahas itu.”


“tapi mel, yang harus kamu tahu, kalau bunda itu sayang banget sama kamu nak.”


“Kalau bunda sayang sama amel. amel minta pertemukan aku dengan dion bun.”


“Untuk apa?”


“Ada yang ingin aku katakan sama dion.”


“Yang tahu dion di mana itu bukan bunda nak, tapi kak pelangi. bunda akan ijinkan kamu untuk bertemu dengannya. Tapi ini yang terakhir kalinya. Bunda ingin kamu dan dion bisa bersahabatan, karena kalian adalah sepupu.”


“Bener bun?”


“Iya, tapi amel janji dulu sama bunda.”


“Janji apa bun?”


“Amel jangan ngambek lagi ya sama bunda. Bunda enggak bisa melihat anak – anak bunda marah sama bunda. Ya nak.”


“iya bun, amel juga minta maaf sama bunda, karena sudah membuat bunda bersedih. Amel juga sayang sama bunda.”


“Sayang, belajar yang giat ya biar jadi anak yang pintar.”


“Terimakasih bunda. Bye.. bunda.”


**


Sesampai di kampus, pelangi langsung berjalan menuju ke ruangannya. Cici pun langsung menghampiri pelangi, dan kemudian mereka berdua jalan bersama menuju ke ruangan yang akan di mulai mata kuli. Namun saat mereka berdua sudah dekat dengan ruangan itu, brayen datang kepada pelangi. ia menyapa kemudian menanyakan sesuatu kepadanya.


“Hay, pagi pelangi.”


“Brayen.”


“Bisa kita ngomong berdua sebentar saja?”


“Emm, cik, gue mau ngomong dulu sama brayen, jadi lo masuk duluan saja ya.”


“Em, oke deh. Gue duluan masuk ya beb.”


Cici kemudian langsung pergi masuk ke dalam ruangan sedangkan pelangi dan brayen masih berdiri berdua di balik tembok ruangan itu.


“Pelangi, aku mau tanya, ada apa sebenarnya kamu menghindar dari aku? apa aku punya salah sama kamu?”


“Brayen, aku lagi enggak mau bahas kayak gini ya.”


“Tapi aku ingin tahu, kenapa kamu menghindar dari aku sejak kemarin? Kalau aku punya salah sama kamu, tolong kasih tahu aku. aku benar – benar cinta sama kamu ngi.”


“brayen cukup. Aku mau masuk. Sebentar lagi juga dosennya datang.”


“Tolong katakan dulu apa yang membuat kamu menjauh dari aku ngi.”

__ADS_1


“Brayen, aku...”


Saat Pelangi akan menjelaskan yang sebenarnya kepada brayen, dosen pun datang  dan masuk ke dalam ruangan. Sehingga untuk menjelaskan semua itu kepada brayen telah Pelangi tunda. Pelangi seperti enggak sanggup jika harus menatap wajah brayen itu. hatinya masih sama, ia belum bisa jika harus menghapus perasaannya begitu saja, walaupun mengetahui kalau brayen adalah adik tirinya. Selama mata kuliah sudah di mulai, pelangi tidak bisa fokus di dalam ruangan. Pikirannya masih tertuju dengan brayen dan juga perasaanya itu.


“Aduh, gimana bisa aku melupakan dia, sedangkan aku dan brayen satu fakultas dan kelas. Huft. Aku iya aku harus mencintai adik tiri aku sendiri? Astaga. Enggak. Enggak boleh. Aku enggak bisa, aku harus berusaha keras untuk melupakan semua ini. Harus. Aku enggak mau.” Gumam Pelangi dari dalam hati.


Selesai mata kuliah itu, pelangi dan cici langsung pergi ke kantin. Pelangi melihat brayen yang juga meninggalkan kelas dengan wajah gundah. Pelangi menyadari kalau brayen seperti itu karena dia pasti kecewa dengan pelangi.


Akan tetapi pelangi masih tetap melangkahkan kakinya bersama cici sahabatnya itu menuju kantin. Dan seperti biasanya Calvin juga datang menemani mereka sedang menyantap hidangan yang ada di hadapannya. Di saat Calvin dan cici sedang asik bercanda, pelangi justru melamun memikirkan brayen. Calvin kemudian menggoyang – goyangkan tangannya di depan wajah pelangi.


“Pelangi. Pelangi. hey...”


“eh, iya kenapa kak?”


“Kamu ngelamunin apaan sih?”


“Enggak apa – apa kok kak.” Ucap Pelangi sambil tersenyum.


Pelangi ingin sekali mengatakan yang sebenarnya kepada brayen kalau ia dengan dirinya adalah adik kakak. Akan tetapi Pelangi membutuhkan kesiapan yang matang untuk menceritakan semuanya dengan brayen.


**


Brayen bermain basket sambil terlihat emosi. Sebab setiap kali dia melempar atau memantulkan bola basketnya terlihat begitu sangat emosi.


“Agh. Kenapa sih pelangi menjauh dari aku. kenapa dia tidak mau menjelaskan kepada ku. Apa aku sudah menyakiti hatinya? Agh!” teriak brayen sendirian sambil melemparkan bola basket itu ke ring yang ada di depannya.


Akan tetapi brayen baru menyadari kalau ia pernah di larang oleh Kia untuk tidak lagi dekat dengan pelangi. ia kemudian pergi menuju ke rumah kia, karena dirinya ingin bertanya alasan apa Kia melarang brayen untuk bermain atau dekat dengan pelangi. brayen kemudian bergegas mengambil tasnya dan pergi menuju ke arah parkir motor. Tak lama ia lalu meninggalkan kampus, dirinya mengemudikan motornya dengan sangat kencang supaya ia bisa cepat langsung sampai di rumah Kia.


Beberapa menit kemudian. Brayen sampai di rumah kia. ia lalu cepat – cepat turun dari motornya dan berjalan menuju ke depan pintu rumah Kia. ia lalu memencet tombol bel yang ada di sebelah kanan pintu rumah Kia. tak lama dirinya memencet bel, terdengar dari dalam rumah ada yang sedang membukakan pintu itu. asisten rumah tangga Kia lah yang membukakan pintu rumah dan asisten itu juga meminta Brayen untuk menunggu Kia di ruang tamu.


“siang tuan.”


“Siang bik, saya ingin bertemu dengan tante kia. tante kia ada bik?”


“Saya panggilkan sebentar, tuan muda silahkan menunggu dan duduk di ruang tamu.”


“Iya bik. Terimakasih.”


Tak lama Kia pun datang untuk menemui brayen.


“Siang tante.”


“Siang. ada apa kamu ke sini? Pelangi belum pulang dari kampus.”


“Saya ke sini bukan untuk mencari pelangi tante.”


“Lalu apa?”


“sebelumnya saya minta maaf, karena maksud kedatangan saya ke sini ingin bertemu dengan tante kia.”


“Ada perlu apa kamu mencari ku?”


“Tante, saya ingin bertanya kepada tante, kenapa tante melarang saya untuk dekat dengan pelangi? apa salah saya?” tanya Brayen dengan tegasnya.


“Hem, harusnya tante tidak usah kasih tahu, kamu juga sudah tahu sendiri kan apa maksud  tante.”


“Tapi tan, saya ingin penjelasan yang pasti dari tante. Bukan hanya karena karena saya keponakan dari tante nindi atau sepupu dari dion. Menurut aku itu bukan alasan yang tepat tante. Jujur aku sangat mencintai Pelangi. aku enggak bisa jauh dari pelangi tan. Tolong jangan pisahkan kami. Buat aku pelangi adalah wanita yang berbeda dibandingkan wanita – wanita lain di luar sana tan. Tolong tante ijin kan saya dekat dengan pelangi.”


“Berani sekali kamu bilang seperti itu dan menyatakan isi hati kamu sama saya? Kamu di ajarkan etika tidak sama orang tua kamu?”


“Maaf tante, saya berani berkata seperti ini karena saya benar – benar suka sama putri tante.”


Di saat mereka sedang saling bercakap – cakapan, Pelangi pun tiba – tiba datang ke rumah. Pelangi sangat terkejut melihat brayen sedang duduk di sofa tamu dan berbicara dengan bundanya, ternyata brayen benar - benar nekat untuk datang ke rumahnya dan bertemu dengan Kia.


Bersambung....

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2