Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
pelangi kaget


__ADS_3

Tak lama Pelangi dan Amel pun kemudian pamit kepada dion karena mereka berdua akan pulang.


Sesampai di rumah Kia sudah menunggu mereka dari tadi.


“hay, kalian sudah pulang.” Kata Kia yang menyambut anak – anknya itu.


“Sudah bun. Bun aku mau ke kamar ya.”


“Iya, istirahatlah.”


Amel kemudian memeluk bundanya sambil berdiri.


“bunda, terimakasih ya, karena bunda sudah ijinkan amel untuk menemui dion. Amel sudah lega sekarang. tapi amel janji sama bunda, amel akan fokus sama sekolah amel.”


“Iya sayang, bunda sayang banget sama amel dan juga kakak.”


“Tapi bun, aku masih kasihan sama kak pelangi.”


“Kenapa? Dia harus benar – benar berjuang menghapus rasa cintanya sama kak brayen.”


“iya bunda tahu itu nak. Tapi biarkan kak pelangi mengikuti jalan ceritanya sayang. Bunda yakin kak pelangi pasti bisa melewati ini semua.”


**


Ketika nindi di telepon oleh pihak rumah sakit, nindi pun sanget kaget. Nindi langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi keponakannya itu. nindi takut jika terjadi sesuatu kepada keponakannya itu, pasti akbar akan marah besar.


Beberapa jam setelah ia mendapatkan kabar itu, ia kemudian sampai di rumah sakit. Nindi bertanya kepada petugas rumah sakit. Pasien atas nama Brayen.


“Sus, sus, saya mau cari pasien yang baru saja di antarkan oleh warga karena kecelakaan sus.”


“Owh, iya. Orang itu saat ini sedang di rawat di ICU.”


“Terus, terus gimana ke adaanya sus?”


“Mari ibu saya antarkan untuk menemui dokter yang baru saja menanggani orang tersebut. Sebab saya tidak berani menjelaskan kondisi pasien.”


“Baik sus, terimakasih banyak.”


Suster itu kemudian mengantarkan Nindi bertemu dengan dokter tersebut. Lalu dokter memberi tahukan ke adaan Brayen yang koma dan kritis.


“Dokter, saya keluarga dari pasien tersebut. Bagaimana dok kondisi keponakan saya?”


“mari silahkan duduk dulu.”


Nindi pun akhirnya duduk di hadapan dokter itu.


“Jadi begini ya bu, pasien saat ini sedang koma dan kritis. Dia mengalami patah tulang di bagian tangannya. Sedangkan lehernya mengalami cendera yang serius, kita sudah usahakan semua upaya untuk menyelamatkan orang tersebut. Semoga saja pasien bisa kuat dan melewati ini semua.”


“Apa dok, patah tulang dan cendera di leher.”


“Iya ibu, itu terjadi karena pasien mengalami benturan yang sangat hebat. Apa lagi Dia mengemudikan motornya dengan sangat kencang lalu menabrak mobil yang juga sedang melaju dari arah berlawanan. Maka dari itu patah tulang di bagian tangan dan cendera di bagian leher pasien.”


“tapi dok apakah ada kemungkinan besar dia bisa sembuh dok.”


“kita pasrahkan saja sama sang pencipta bu. Saya dan dokter di sini sudah berjuang keras demi keselamatan pasien, apa lagi kami juga sudah melakukan penanganan yang terbaik untuk pasien.”


“iya dok. Semoga saja keponakan saya cepat sadarkan diri ya dok. Apakah saya bisa melihat kondisi keponakan saya dok? Saya ingin melihat dia.”


“untuk saat ini karena pasien sedang kritis dan koma maka tidak di perbolehkan siapapun untuk menjenguk pasien, kecuali suster atau perawat dan dokter yang memeriksanya. kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk pasien. Semoga pasien bisa kuat dan bertahan untuk melewati masa kritisnya. Ada lagi yang mau di tanyakan bu?


“Amiin. Enggak dokter, terimakasih banyak, saya akan mengabarkan kepada ke dua orang tuanya.”


“iya sebaiknya segera berikan kabar untuk ke dua orang tuanya. Tapi sebelumnya silahkan ibu mengurus administrasinya dulu di depan.”

__ADS_1


“Baik dokter.”


Setelah dari ruangan dokter dan mengurus administrasi brayen, Nindi lalu melihat Brayen dari luar jendela ICU. Terlihat saat itu brayen sedang terbaring dengan di pasang beberapa kabel dan selang, apa lagi di bagian leher terpasang penyangga leher. Terlihat saat itu tangan bagian kiri brayen juga di liliti perban – perban. Wajahnya penuh luka dan memar akibat benturan itu.


“Kasihan brayen, kenapa dia bisa sampai seperti ini. Apa yang terjadi dengan dirinya? Aku enggak menyangka ini semua bisa terjadi sama kamu nak. Selama tante mengenal kamu, tante tidak pernah melihat kamu mabuk – mabukan atau yang lainnya. Tapi kenapa kecelakaan ini bisa terjadi. Lagi pula warga juga mengatakan kalau kamu lah yang salah dalam kecelakaan ini. Sku harus segera memberikan kaber kepada kak akbar. supaya Brayen ada yang menjaganya. Sebab aku sedang sangat sibuk akhir – akhir ini. Apa lagi aku masih belum bisa menemukan dion ada di mana.” Gumam nindi sambil melihat ke arah brayen.


Ke esokan harinya. Nindi menelepon akbar dan memberikan kabar kepada akbar kalau saat ini anaknya sedang koma dan kritis di rumah sakit.


“halo mbak?”


“Iya ada apa nin?”


“Mbak, saya cuman mau ngasih kabar. Tapi saya harap mbak yang tenang ya.”


“Maksud kamu nin? Memang kabar apa?”


“Emm... brayen mbak.”


“Ada apa dengan brayen?


“Brayen mengalami kecelakaan tunggal. Sekarang brayen di rawat di ruang ICU dan di tangani oleh dokter di rumah sakit mbak.”


“Astaga, Apa? Terus, terus keadaan anakku gimana nin sekarang?”


“Iya keadaanya kritis dan masih koma mbak.”


“Makasih nin, kamu sudah memberikan kabar sama mbak. Nanti kami akan segera berkemas – kemas untuk ke sana. Aku juga akan memberikan kabar ini kepada mas akbar. aku titip brayen ya nin, tolong jaga dia dulu sampai aku datang ke sana.”


“iya mbak, mbak sama kak akbar jangan terlalu panik, biar aku menjaga brayen di sini dulu sampai kalian datang. Soalnya sudah beberapa minggu ini dion juga kabur dari rumah. Aku masih mencari dia ke mana – mana.”


“iya, iya nin. Mbak paham. Kalau begitu mbak akan siap – siap dan memberikan kabar ke mas akbar ya nin. Aku akan matikan telpon ini.


“Iya mbak.”


Tot.. tot.. tot..


Beberapa menit kemudian ia sampai di rumah Kia, ia memencet bel pintu rumah Kia. tak lama pintu itu di buka oleh pelangi. sebab waktu itu kuliah pelangi sedang libur, jadi pelangi hanya di rumah saja.


Ting.. tong..


“Iya sebentar.” Teriak pelangi sambil berlari menuju ke arah pintu depan.


Cklek!


“Tante?”


“Pelangi.” ucap Nindi yang langsung memeluk Pelangi begitu saja.


Akan tetapi Kia pun juga mendengar kalau waktu itu ada tamu yang datang saat ia sedang berjalan menuju ke ruang tamu.


“si.. a.. pa.. nak...” ucap Kia dengan perlahan sambil tercengang.


Karena ia melihat nindi sedang memeluk pelangi Kia pun bergegas langsung mendekati pelangi dan menarik tubuh pelangi dari pelukan Nindi.


“Apa lagi sih nin kamu ke sini. Aku enggak suka ya kamu seperti ini apa lagi memeluk – meluk Pelangi seperti ini.”


“Kak, aku ingin tahu di mana anakku berada kak. Tolong kak, kasih tahu aku di mana dion sekarang.” kata Nindi dengan memohon mohon kepada Kia


“Dion? Tante mencari dion?” ujar Pelangi sambil melepaskan genggaman tangan bundanya dengan perlahan – lahan.


“Iya pelangi. tante ingin sekali bertemu dion. Tante sudah lama mencari dia di mana mana. Apa lagi sekarang brayen kecelakan, dia sedang koma dan kritis di rumah sakit. Tante sudah tidak bisa berpikir lagi, karena selama ini yang membantu tante mencari dion hanya brayen.”


“Apa? Brayen ke celakaan tan?”

__ADS_1


“Iya, di kecelakaan tunggal tadi malam.”


Pelangi langsung terdiam dengan wajahnya yang cenderung tidak percaya atau kaget mendengarkan kabar dari nindi. ia lalu mendekati nindi dan bertanya di mana brayen di rawat saat ini.


“terus brayen di rawat di rumah sakit mana tan, tolong kasih tahu aku tante, di mana dion berada.” Kata pelangi sembari mengoyang – goyangkan tangan Nindi. sehingga membuat air matanya terjatuh tanpa ia sadari setelah mendengarkan kabar kalau brayen habis kecelakaan.


“Brayen di rawat di rumah sakit DUA KASIH pelangi.” Ucap Nindi sambil menangis.


“apa?” kata pelangi yang langsung merasa lemas seluruh badannya, sehingga membuat dirinya jatuh mendelosor ke lantai sambil menangis.


“Kenapa bisa? Apa setelah dia mengetahui yang sebenarnya, brayen langsung nekat untuk mencelakaan dirinya sendiri? Gara – gara aku, brayen dan pelangi jadi sengsara merasakan sakitnya hati yang terluka. Maaf kan aku nak.” Gumam Kia dari dalam hatinya yang menolong Pelangi untuk berdiri.


“Bunda, bun. Ayo kita ke rumah sakit bun. Aku ingin tahu kondisi brayen bun.”


“Iya, iya nak, ayo kita ke rumah sakit untuk melihat kondisi brayen sekarang.” ucap Kia sambil menolong anaknya untuk berdiri.


“Tapi kak kia, tolong beri tahu aku di mana dion berada?”


“soal dion nanti saja kamu ke sini lagi. Sekarang aku mau pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi brayen.”


“tapi kak. Kak.” Teriak Nindi yang memanggil – manggil Kia, saat Kia akan berjalan menuju kamarnya mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah sakit bersama Pelangi.


Namun Kia dan pelangi tidak mengubris omongan nindi waktu itu. mereka berdua terus berjalan menuju mobilnya lalu pergi ke rumah sakit dimana brayen sedang di rawat. Karena dirinya sama sekali tidak di tanggapi oleh kia dan pelangi, nindi langsung mengikuti langkah mereka menuju ke rumah sakit.


**


Sedangkan di sisi lain, ketika eva telah mendapatkan kabar dari nindi. ia langsung menghubungi akbar, akan tetapi akbar tidak dapat di hubungi. Eva langsung pergi ke kantor tempat akbar bekerja.


Dengan wajah yang tergesa – gesa dan cemas ia mengemudikan kendaraannya. Dan takl lama ia pun sampai di kantor tempat kerja akbar. eva langsung menemui akbar ia mengatakan kalau anak tunggalnya saat ini sedang kritis dan koma di rumah sakit.


Akbar yang mendengarkan kabar tersebut langsung kaget bukan main. Bagaimana tidak, sebab brayen adalah anak satu – satunya dengan eva. Akbar tidak ingin ke hilangan anak untuk ke dua kalinya. Setelah itu ia langsung menemui HRD kantornya untuk meminta cuti beberapa hari karena ia akan pergi menemui anaknya itu.


“Mas, mas,”


“Ada apa bu?”


“Mas, brayen mas.”


“Kenapa brayan?”


“Aku tadi dapet kabar dari nindi, kalau brayen tadi malam kecelakaan, dan ke adaanya kritis mas.”


“Apa?! Kamu yang bener?”


“Iya mas, tadi nindi sudah menghubungi kamu berulang – ulang kali tapi hp kamu sama sekali tidak bisa di hubungi.”


Akbar kemudian mengambil hpnya, ia lalu mengecek hpnya ternyata hp Akbar saat itu lowbat,.


“Hpku mati. Kalau begitu kamu tunggu aku di sini. Aku akan meminta ijin kepada HRD ku untuk cuti dan pulang sekarang.” ucap Akbar lalu pergi berjalan meninggalkan eva dan menuju ke ruangan HRD.


“Iya mas, aku tunggu.” Jawab eva sambil berjalan mondar mandir dengan wajah yang begitu gelisa.


Beberapa menit kemudian akbar keluar dari ruangan HRDnya, ia lalu pergi dengan sangat tergesa – gesa bersama eva untuk pulang dan menyiapkan pakaian yang akan mereka bawa nanti.


Setelah selesai menyiapkan semua barang yang akan mereka bawa mereka kemudian langsung pergi ke bandara dan cepet cepat pergi meninggalkan rumah. Karena mereka sudah sangat khawatir dengan kondisi brayen.


“aku ingin segera cepat – cepat sampai di sana mas. Aku takut kalau brayen kenapa – kenapa. Ya Tuhan lindungi anakku.”


“Sudah, kita harus yang tenang, jangan terlalu cemas, aku yakin kalau brayen akan baik – baik saja. dia anak yang kuat. Kita doakan brayen baik – baik saja ya bu.” Ucap Akbar yang menenangkan hati istrinya itu.


“Iya mas. Semoga brayen kuat. Hisk.. hisk.. hisk..”


Di saat eva dan Akbar pergi, eva sudah mempercayai semua kepada asissten pribadinya yang mengurus bisnisnya itu, jadi eva tidak lagi tergesa – gesa pulang karena bisnisnya itu. di dalam kabin mereka hanya bisa berdoa supaya anak mereka selamat dan masa kritisnya segera berakhir, walaupun air mata eva tak henti – hentinya keluar membanjiri pipinya itu. dia berharap brayen sudah sadarkan diri ketika dia dan akbar telah sampai di rumah sakit.

__ADS_1


 bersambung...


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2