Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Koma


__ADS_3

Baru kali itu Ida melihat wajah Alex dan bertemu dengan Alex. Selama Alex dekat dengan Kayla, Ida tidak pernah tahu wajah Alex.


“Owh, itu yang namanya Alex?” tanya Ida kepada Dewi.


“Iya, itu yang namanya Alex, laki – laki bejat otak mesum. Kamu enggak apa – apa kan nak?” tanya Dewi sambil memastikan kalau anaknya dalam ke adaan baik – baik saja.


“Aku enggak apa – apa buk.”


“Dari mana ya dia bisa tau kalau Kayla di rawat inap di sini? Heran aku.” Tanya Ida yang juga merasa sebel dengan Alex.


Kemudian Ida, Dewi dan juga Akbar semua masuk ke dalam kamar Kayla setelah orang – orang yang menyaksikan pertengkaran Akbar dengan Alex tadi. Lalu Ida membuka pintu kamar Kayla, Ida terkejut melihat putrinya yang terbaring atau tergeletak di lantai tepat di balik pintu itu. Dewi dan juga Akbar pun melihat dengan terpelongo. Ida yang awalnya berdiri di depan Kayla tergeletak itu kemudian ia duduk jogkok dan memangku kepala Kayla.


“Kayla, Kay, Kayla, bangun nak. Bangun. Kamu kenapa sayang, tolong panggilkan dokter. Cepat!” kata Ida sambil menanggis.


“Kayla bangun nak, bangun, hiks.. hiks.. hisk.” Ucap Ida lagi sambil mengoyang – goyangkan pipinya itu.


Dewi pun hanya bisa terdiam dan memeluk Ida yang sedang memangku kepala Kayla itu dengan bercucuran air mata.


Akbar pun langsung berlari mencari dan memanggil dokter yang sedang berjaga di sana.


“Dok, dokter, doter tolong segera ke kamar no 08 di sana ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongan.”


“Baiklah kami akan segera ke sana. Saya minta satu perawat menemani saya untuk melihat kondisi pasien yang ada di kamar no 08.” Ucap dokter yang langsung bergegas ke arah kamar Kayla.


Tak lama dokter dan perawat berlari dengan Akbar menuju kamar Kayla dengan secepat mungkin. sebab dokter takut kalau pasien akan mengalami kritis lagi.


“Dokter, dok tolong periksa anakku ini dok, tolong dokter.”


“Baik, baik saya akan memeriksanya, tapi saya mohon untuk tetap tenag dan saya minta bantuannya mengangkat tubuh pasien ke hospital bed dan akan segera saya priksa.”


“Biak dokter.” Ucap Akbar dan langsung membopong Kayla di hospital bednya.


“Saya minta semuanya keluar dahulu ya. Biarkan saya memeriksa pasien terlebih dahulu.


Ida, Dewi dan juga Akbar kemudian keluar dari kamar Kayla lalu mereka semua duduk di tempat duduk yang ada di depan kamar Kayla dan menunggu kabar dari dokter.


Sudah hampir lima belas menit dokter berada di dalam kamar, Ida masih menanggis dan membanjiri ke dua pipinya itu. sedangkan Akbar hanya mondar mandiri berdiri di depan pintu kamar. Mereka sangat berharap tidak terjadi apa – apa dengan Kayla.


“Dew, Kayla baik – baik saja kan Dew?” tanya Ida yang penuh dengan rasa takut, khawatir dan cemas mengenai kondisi anaknya itu.


“Iya Da, kamu harus berdoa terus ya. Jangan khawatir.” Ucap Dewi sambil memeluk tubuh Ida.


“Tapi aku takut kalau Kayla kenapa – kenapa. Hiks.. hiks.. hiks..” ujar Ida yang masih menanggis.


“Sudahlah jangan berkata seperti itu. positif saja. benyaklah berdoa supaya Kayla baik – baik saja.” kata Dewi memberika suport kepada Ida yang masih menanggis itu.


Ida pun terus menanggis dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Dewi yang sedang duduk di sampingnya itu. tak lama perawat itu keluar dari kamar Kayla, akan tetapi dokter masih ada di dalam kamar Kayla.


Kemudian perawat itu kembali ke kamar Kayla dengam membawa alat pendeteksi denyut jantung. Wajah Ida begitu sangat sedih melihat anaknya harus kembali lagi ke masa kritisnya itu. ia sangat membenci kehadiran Alex di rumah sakit itu karena hanya membuat keributan dan juga membuat Kayla menjadi kritis lagi.


Tiga puluh menit berlalu dan dokter pun keluar dari kamar Kayla. kemudian mereka mendekati dokter dan bertanya tentang bagaimana ke adaan Kayla.


“Doter, dokter, bagaimana ke adaan putri saya dok?” tanya Ida.


“untuk sementara biarkan dia tenang terlebih dahulu. Denyut jantungnya dan juga tekanan darahnya normal. Jadi dia hanya pingsan karena pusing setlah melakukan kemoterapi.” Ucap dokter itu sambil menjelaskan kepada Ida.


“Syukurlah kalau begitu.”


“Tapi saya mohon jangan ada lagi keributan di sini ya. Biarkan pasien beristirahat. Jangan ada yang menganggunya.”


“Baik dokter. “ ucap Dewi.

__ADS_1


Hati ida setelah mendengarkan penjelasn dari dokter itu langsung merasa lebih sedikit tenang.


“tuhkan  Da, semua pasti akan baik – baik saja. sekarng biarkan Kayla beristirahat, lebih baik kita menunggu dia di sini saja.


“Kalau begitu saya permisi.” Pamit dokter itu.


“Silah kan dok, terima kasih banyak ya dok.”


Dokter dan perawat itu kemudian pberjalan pergi meninggalkan mereka.


“Sebenarnya tadi bagaimana ceritanya sih nak? Kenapa kalian ribut di rumah sakit?” tanya Dewi dengan memegang punda Akbar.


“Keparat itu tadi tiba – tiba keluar dari kamar Kayla, saat aku akan masuk ke dalam.”


“Lalu bagaimana kalian bisa saling pukul memukul?” tanya Ida yang mendekati Akbar saat dia sedang bersandar di bahu pintu kamar.


“Ya, aku kesel aja lihat dia ada di sini, dari dulu aku ingin sekali menghajar wajahnya keparat itu.” ucap Akbar dengan emosi.


“tapi yang masih membuat ibuk penasaran, dari mana dia bisa tahu kalau Kayla masuk di rumah sakit ini ya?”


“Buk, dia itu adalah CEO jadi dia bisa membayar atau menyuruh orang untuk mata – mata tentang Kita. Dan dengan mudah dia mendapatkan ifo tentang kita buk.”


“Owh, dia CEO? Orang kaya berarti?” tanya Ida.


“Iya tante. Perusahaannya di mana – mana. Semua wanita yang dia dekati hanya untuk menemaninya dia tidur dan membuang semua hasrat birahinya.”


“Wah, Nindi harus berhati – hati kalau begitu. Ibuk jadi khawatir sama adikmu, kalau dia akan kembali lagi kepada Alex itu. ibu takut kalau Adikmu akan di jadikan salah satu dari tujuannya itu. amit – amit.”


“Maka dari itu, aku sudah sangat membenci dia semenjak aku memegroki Kayla berselingkuh dengan dia.” Cakap Akbar.


Setelah beberapa menit, akbar merasa risih dengan keadaanya yang berantakan dan tubuhnya yang penuh dengan luka lebam itu. Dia berpamitan kepada Ida dan juga Dewi kalau ia akan pulang terlebih dahulu untuk membersihkan luka – luka dan menganti bajunya itu.


“Buk. Tante, aku mau pulang dulu ya. Aku sudah risih sekali dengan penampilanku seperti ini.” Pinta Akbar.


“Baiklah buk. Aku akan segera kembali.” Cakap Akbar.


“Iya nak, kamu hati – hati di jalan ya.” Ujar Dewi kepada anaknya itu.


Kemudian Akbar meninggalkan mereka dan berjalan menuju keluar rumah sakit. Setelah beberapa lama dirinya sampai di rumah dan dia masuk ke dalam rumah. Nindi yang sedang duduk di sofa depan dan sedang membaca sebuah buku majalah lalu melihat kakaknya yang masuk dengan luka lebam. Kemudian Nindi bertanya kepadanya.


“Kak Akbar. Tunggu.”


“Hheemm. Kenapa?”


Nindi berjalan mendekati kakaknya itu dan milihat dengan kedua alias yang dikerutkan seperti penasaran.


“Kamu habis ngapain kak? Berantem lagi ya?”


“Iya.”


“Sama siapa lagi sih kak?” Tanya Nindi.


“Sama keparat itu!” jawab Akbar dengan tangkas.


“Keparat?” kata Nindi.


“Iya,”


“Cleo?”


“Mantanmu! Sudah lah aku mau ke kamar dulu. Mau membersihkan luka – luka ku ini.” Kata Akbar dan langsung berjalan meninggalkan Nindi.

__ADS_1


Nindi pun masih di buat penasaran oleh perkataan Akbar tadi yang sama seklai tidak menjelaskan dengan detail.


“Ih!! Kakak, di tanya jawabnya singkat banget. Coba nanti aku tanyakan lagi. Kenapa Alex bisa ada di sana dan menemui si wanita murahan itu! Atau mungkin Alex kangen dengan sentuhan dari wanita murahan itu ya?!” gumamnya dari dalam hati sembari mengigiti kukunya sendiri.


Kemudian Nindi kembali duduk di sofa yang ia duduki tadi dan melanjutkan membaca sebuah majalahnya. Setiap menit Ia melihat ke arah kamar si Akbar. Karena Nindi ingin sekali kakaknya bercerita tentang kejadian yang tadi di alaminya saat bertemu dengan Alex. Akan tetapi Akbar tak kunjung turun dari kamarnya padahal adiknya sudah menunggu diriny dari tadi untuk menceritakan hal yang sudah terjadi tadi.


“Kakak mana sih?! Kok belum turun – turun juga.”Ucap Nindi sendirian saat menunggu Akbar keluar dari kamarnya.


 “Emm, apa aku susulin saja ke kamarnya ya? Ah iya ah, aku mau naik ke atas mau tanya saja langsung. Nungguin dia turun lama.” Ucapnya sediri sambil berjalan menuju ke kamar kakaknya itu.


Akan tetapi sebelum langkah kakinya mendekati kamar Akbar, terlihat dari pintu depan Dewi pulang dari rumah sakit. Kemudian Nindi membatalkan niatnya meminta Akbar menceritakan kejadian tadi di rumah sakit.


Lalu Nindi membalikkan langkah kakinya dan berjalan menghampiri Dewi yang baru saja masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa depan dengan memainkan handphonenya.


“Sudah pulang buk?”


“Ibuk betah banget sih di rumah sakit.”


“Hemm... Ninnn... Nindi, kamu tidak tahu kejadian apa yang terjadi di rumah sakit tadi.”


“Memang ada apa buk?” Tanya Nindi penuh dengan rasa penasarannya.


“Kakak kamu.” Belum habis bicara pun Nindi langsung memutuskan perkataan ibunya itu.


“Kakak kenapa buk? Ceritain dong buk, cepetan!” sahut Nindi sambil memegang tangan ibunya yang sedang duduk di sampingnya itu.


“makannya kamu itu diem dulu. Ibuk belum selesai ngomong kamu udah nayut aja kayak bebek.” Kata Dewi sedikit kesal sambil memperlihatkan mulut kudanya itu.


“Habisnya ibuk kelamaan ceritanya bikin aku penasan deh jadinya.”


“Ya udah kamu diem dulu. Ini ibuk mau cerita.”


“Iya, iya buk.” Dengan mulutnya yang manyun.


“Tadi di rumah sakit Alex tiba – tiba datang, dan enggak tahu gimana dia terlihat keluar dari kamar Kayla. tapi tiba – tiba kakak kamu udah ada tepat di depan pintu kamar Kayla.”


“Terus – terus buk.”


“Ya sudah, akhirnya mereka berantem di sana. Makannya wajah kakakmu lebam – lebam.”


“Mau ngapain lagi sih dia menemui ******* itu?”


“Katanya sih dia mau melihat kondisinya Kayla sih. Tapi ibuk enggak tahu maksud dia yang sebenarnya itu apa. Tuh sekarang Kayla koma lagi.”


“Kirain langsung mati. Uuppssstt...” ucap Nindi dengan sadisnya.


“Huussstt, kamu ini ngomong apa sih Nin! Jangan bilang gitu ah dosa.” Kata Dewi.


“Lebih dosa juga wanita murahan itu buk. Dia udah sering menyakiti hati orang banyak. Mulai dari kak Kia, kak Akbar, ibunya sendiri dan juga sama aku. Benerkan yang aku katakan ini buk.” Ucap Nindi yang penuh rasa benci saat mendengar Alex masih berusaha untuk menemui Kayla.


“Ah terserah kamu saja deh kalau gitu. Kakak kamu mana? Katanya udah pulang?” tanya Dewi.


“Tuh masih di kamar dari tadi.”


“Ya udah kalau gitu ibuk juga mau ke kamar dulu mau mandi terus tidur.”


“Hemm..”


Hati nindi kembali mulai memanas saat mendengarkan apa yang telah ibunya ceritakan. Dia sangat kesal dengan Alex karena masih saja mau menemui Kayla yang sudah mau sekarat itu. dirinya sangat membenci kalau Alex menemui Kayla. Nindi berpikir besok dia akan menemui ******* itu kalau sudah sadarkan diri dari komanya.


Rasa bencinya sangat susah untuk ungkapkan dengan kata - katakan. Benci dan sangat sangat benci kepada Kayla yang detik detik akan pergi jauh.

__ADS_1


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2