
Hari brganti begitu sanga cepat. Ia kembali bangkit atas kepergian sahabat singkat itu. ia meminta kepada Akbar untuk menemani dirinya pergi menemui Nindi. Ia ingin meminta maaf kepada adik iparnya. Sebab Kayla tahu kalau Nindi di minta untuk datang ke rumah sakit pasti tidak akan pernah mau, maka dari itu Kayla meminta tolong kepada Akbar untuk menemaninya menemui Nindi.
Dengan senang hati Akbar mau membantu Kayla. Kayla sudah meminta ijin kepada dokter. Kalau ia akan pergi keluar sebentar untuk menemui seseorang. Dokter itu pun memberikan ijin kepada Kayla. akan tetapi dokter juga mempunyai beberapa syarat ketika Kayla akan pergi. Kemudian mereka memahami semua yang dokter sarankan.
Akbar membawa Kayla ke rumah Dewi. Sebab sebelum Akbar pergi tadi ia melihat Nindi masih berada di rumah.
“Mas, tolong aku ya.”
“Apa Kay?”
“Antarkan aku bertemu dengan Nindi.”
“untuk apa?”
“Aku ingin bertemu dan meminta maaf kepadanya mas.”
“Kamu tahu sendiri kan gimana Nindi. Yang aku takutkan saat kamu bertemu dengan dia itu kalau Nindi nanti marah – marah lagi sama kamu gimana? Kalau nindi menghina dan membuat kamu bersedih lagi gimana?”
“Mas, aku mohon, ya. Aku akan terima semua itu. aku janji aku tidak apa – apa mas.”
“Tapi Kay.”
“Mas, ayo lah, sebentar saja. aku janji aku tidak akan kenapa – napa.”
“beneran?”
“Iya mas. Kita pergi sekarang yuk.”
Kemudian Kayla dan juga Akbar pergi untuk menemui Nindi di rumah. Di dalam perjalanan tubuh Kayla terlihat sangat lemas sekali. Akan tetapi Kayla masih saja keras kepala, ia inginj sekali bertemu dengan Nindi. Ia menahan semua rasa sakit yang saat itu dirinya rasakan. Agar Akbar bisa melanjutkan perjalanannya.
Setelah beberapa menit berlalu, sampailah mereka di rumah Dewi. Akbar membantu Kayla untuk keluar dari dalam mobilnya. Akbar juga mendorong kursi roda milik Kayla. Dewi yang melihat anak dan menantunya pulang memberikan sambutan yang begitu ramah kepada mereka.
“Ya ampun Kayla?” sapa dewi sambil memeluk Kayla.
“Ibuk? Bagaimana keadaan mu buk? Ibuk baik – baik saja kan?”
“Iya nak. Ibuk baik kok. Bagaimana bisa kalian ke sini? Memang dokter sudah memberikan ijin ya?”
“Sudah buk. Tadi Kayla sudah meminta izin kepada dokter.”
“Terus dokter bilang gimana? Sebab dulu kita sulit banget meminta izin sama scurity ya Kay.”
“Iya buk. Ha.. ha.. ha...”
“Nindi di mana buk? Kok enggak kelihatan?”
“Iya dia sedang pergi.”
__ADS_1
“Pergi kata ibuk? Dia Pergi kemana?”
“Ibuk juga tidak tahu Akbar. Lagi pula biarkan dia pergi. Dia juga butuh hiburan untuk melupakan mantan pacarnya itu.”
“Iya tapi buk aku takut kalau Nindi bertemu dengan laki – laki keparat itu.”
“Kamu ini apaan sih Bar, Akbar. Kalau adiknya keluar itu seharusnnya kamu doa kan dia supaya pulangnya selamat. Jangan malah menyumpahi adimu seperti itu. mana mungkin mereka akan beretemu, sedangkan adikmu sudah begitu sangat membenci laki – laki itu. toh juga mau ketemu gimana, keberadaan laki – laki itu saja kita enggak tahu kan?”
“Agh! Terserah ibuk lah. Dia itu licik buk,”
“Maaf ya nak, ibuk jadi tidak memperdulikan kamu dan menyuruh kamu untuk masuk. Ayo silahkan masuk nak Kayla.”
“Iya buk, saya akan menunggu Nindi pulang saja.”
“ibuk akan coba telephone dia. Sebentar ya.”
Kemudian Dewi menelpone Nindi. Dia meminta Nindi untuk pulang ke rumah.
Tak lama Nindi pulang, ketika dirinya masuk dirinya kaget karena Kayla sedang berada di rumahnya. Nindi pun masuk begitu saja dan menghiraukan mereka yang sedang duduk dia di ruang tamu.
“Nindi, tunggu.” Teriak Dewi.
“Apa buk. Ibuk kalau ada perlu sama aku, cariu aku di kamar ya buk. Aku enggak mau bertemu dengan wanita itu.” ucap Nindi yang berdiri sambil menuding Kayla.
“Nindi, Kayla ke sini mau minta maaf sama kamu.”
Kemudian Nindi melanjutkan langkah kakinya, di saat dia akan berjalan menuju ke kamarnya Dewi meminta Nindi untuk menemui Kayla dan bisa memaafkan Kayla. namun, Nindi tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dewi. Mulai dari itu Nindi mulai membenci kakaknya itu. ia merasa kakaknya membela Kayla, sebab menurut Nindi, Akbar mau menuruti semua permintaan Kayla. akan tetapi Kayla mencoba untuk membuntuti Nindi dengan berjalan merambat kursi dan meja di ruang tamu itu. hingga akhirnya Kayla terjatuh tepat berada di belakang kaki Nindi. Lalu ia mencoba memegang kaki Nindi dan bersujud di kaki Nindi untuk meminta maaf kepadanya.
Akan tetapi Nindi menepis kakinya supaya Kayla melepaskan tangannya itu. Kayla berulang – ulang kali meminta maaf kepadanya. Nindi hanya diam tidak berbicara apa pun kepada Kayla.
“Nindi. Aku mohon maafkan aku. Aku mohon.”
“Minggi kamu. Najis tahu tangan kamu itu.”
“Nindi aku mohon. Aku mohon jikalau aku harus mencium kaki mu ini, aku akan lakukan asalkan kamu mau memaafkan aku. Aku mohon.”
“Kamu bisa minggir gak sih dari sini.” Ucap Nindi sambil menendang tangan Kayla yang saat itu sedang memohon – mohon meminta maaf kepada Nindi.
“Nindi. Kamu itu punya hati tidak sih! Di mana hati kamu?! Hem ! ibuk tidak suka melihat kamu terlalu keras kepala seperti ini. Dia ini lebih tua dari kamu. Harusnya kamu jangan memperlakukan dia seperti ini!” ucap Dewi sambil menolong Kayla yang tersungkur di lantai sambil menangis.
“Apa ibuk bilang? Hati. Kalau ibuk bertanya kepadaku tentang hati, terus aku juga akan bertanya , di mana hati dia dulu yang menghianati adik iparnya sendiri untuk mesum dengan pacar dari adiknya sendiri!”
Akbar hanya bisa terdiam. Dia tidak membela atau menolong adik dan juga Kayla.
“kalau kamu enggak mau memaafkan dia, tapi enggak gini caranya! Siapa sih yang mengajarimu jadi anak keras kepala seperti ini? Hargai dia yang lebih tua!”
“Buk mau sampai kapan pun aku tidak akan pernah mau memaafkan dia. Aku jijik.”
__ADS_1
“Nindi aku mohon, maafkan aku. Mungkin ini adalah hari terakhirku untuk meminta maaf kepadamu.”
“Iya bagus, secepatnya saja kamu mati!”
Plak!
“Lama – lama ibuk benar – benar tidak bisa melihat kelakuan kamu yang tidak berpendidikan seperti ini! Mulut kamu bisa kan di jaga! Jangan asal ngomong seperti itu.” ucap Dewi setelah menampar anaknya itu.
“Buk, ibuk lebih membela pela**r ini dari pada anak ibu sendiri. Tega ya ibuk.”
“Ibuk tidak membela siapa – siapa di sini, tapi ibuk tidak suka melihat caramu memperlakukan dia seperti ini. Kamu ini wanita. Seharusnya kamu itu punya hati. Jangan seenaknya saja kamu?! Ibuk seperti ini karena ibuk ingin kamu ini sadar. Kalau manusia itu tempatnya dosa. Tidak ada manusia di dunia ini sempurna tanpa mempunyai kesalahan. Tuhan saja mau memaafkan kesalahan hambanya, kamu yang hanya manusia biasa saja tidak mau sama sekali memaafkan sesamanya. Mau jadi apa kamu?!
“Belain terus dia buk, belain dia terus. Buka mata kalian, kamu juga kak, dia ini sudah menyakiti hati kita. Dia juga sudah menghianati kita dan membuat malu keluarga kita. Dia ini pela**r! Buka mata kalian!” teriak Nindi sambil memelototkan ke dua matanya dan tangannya yang menuding – nuding Kayla dengan sangat marah.
Plak! Tamparan ke dua dari Akbar untuk Nindi.
“Nin, aku diam bukan berarti kamu bisa berbicara sesuka kamu! Kamu ini lulusan sarjana hukum! Harusnya kamu itu mempunyai sikap sopan santun sedikit sama orang yang lebih tua dari kamu! Jangan asal ngomong saja, nyerocos kayak bebek! Otak kamu itu juga harus bisa di pakai!”
“Owh, okey kalian semua meminta ku pulang hanya untuk menampar aku? Baiklah, aku kan pergi dari sini! Dan terus saja kalian bela pela**r ini! Untuk kamu wanita murahan, sampai kamu mati pun dan membusuk di tanah aku tidak akan sudi memaafkan kamu. Aku sangat – sangat membenci kamu! Gara – gara kamu juga kakak dan ibuku menampar aku. Kamu sudah puaskan! Kedatangan kamu di sini hanya membuat keributan di keluarga ku. Dasar wanita pela**r! Cuihhh!” kata Nindi sambil meludahi wajah Kayla saat itu dan berjalan pergi meninggalkan mereka semua lalu masuk ke dalam kamarnya.
Akbar dan Dewi tidak menyangka perbuatan Nindi saat itu. Nindi begitu sangat berubah. Sifatnya kasar dan keras kepala. Entah sebesar itukah Rasa cinta dia kepada Alex sehingga dia sulit memaafkan Kayla. Kayla hanya bisa menangis menerima kelakuan Nindi kepadanya. Begitu melihat Nindi meludahi wajah Kayla, Dewi bergegas untuk mengambilkan tisu dan memberikannya kepada Kayla, supaya Kayla bisa membersihkan wajahnya. Akbar lalu menolong Kayla untuk berdiri dan membantu Kayla duduk di kursi rodanya.
Beberapa menit Nindi keluar dari kamarnnya dengan menyeret sebuah koper. Akbar dan Dewi melihat Nindi keluar dari kamar dan berjalan menuju keluar pintu pun bertanya kepadanya.
“Mau kemana kamu?!” tanya Akbar.
Namun Nindi sama sekali tidak mau menjawab pertanyaan Akbar. Begitu pula dengan Dewi yang berjalan mendekati Nindi dan mengeluarkan pertanyaan yang sama seperti Akbar.
“Nin, kamu mau kemana?”
Langkah kakinya terhenti di saat Dewi berjalan dan menggeret tangan Nindi.
“Lepasin buk. Kenapa kalian bertanya? Aku akan pergi dari rumah! Kalau kakak dan Ibuk masih saja membela pela**r itu, silahkan. Aku akan pergi juga dari kehidupan kalian! Sayangi saja wanita pela**r itu yang sudah banyak membuat kesalahan sama kita! Aku akan kembali jika kalian sudah sadar! Gara – gara dia, pertama kalinya ibuk menampar aku! Kakak juga!”
“Nin. Dengerin ibuk. Okey, ibuk minta maaf karena sudah menampar kamu tadi. Ibuk itu bukannya tidak sayang sama kamu. Ibuk hanya tidak suka melihat sikap kamu seperti ini nak. Kamu itu sadarlah. Ada orang yang sudah berniat baik kepadamu. Meminta maaf kepadamu, tetapi kamu justeru memperlakukan dia layaknya bukan seperti manusia.”
“Layaknya manusia?! Dia itu memang seharusnya di perlakukan seperti itu. itu belum seberapa! Dia itu bukan manusia atau hewan, tetapi dia itu kotoran hewan! Dia itu sampah busuk menjijikan!”
“Nindi!” teriak Akbar.
“Agh!”
Nindi kemudian pergi begitu saja dengan menyeret kopernya yang berisikan beberapa baju miliknya. Di sana Kayla hanya terus dan terus menangis membanjiri air matanya yang tertumpah, ia merasa begitu hinanya dia. Sehingga mendapatkan perlakuan kasar dan menjijikan oleh Nindi.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1