Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Adu mulut


__ADS_3

Setelah selesai mendengarkan keterangan dari dokter, Akbar lalu keluar dari ruangan itu. Wajahnya nampak terlihat begitu sangat marah. Matanya memerah, alisnya mengkerut menumpuk di tengah, seakan – akan dirinya telah memperlihatkan kemarahannya. Ia berjalan dengan wajah yang penuh dengan emosi. Akbar mulai berpikir bahwa yang memberikan obat tidur itu adalah Kayla. 


 


"Pasti Kayla yang sudah memberikan obat itu kepada Pelangi. Dasar dia! Berani - beraninya memberikan obat tidur yang dosisnya tinggi untuk anakku. Apa sih yang dia inginkan? Anak sekecil Pelangi harus di sakiti dengan caranya. Lihat saja aku tidak akan memaafkan dia." Ucapnya dari dalam hati dengan raut muka yang begitu sangat marah. 


 


Tak lama dirinya sampai di hadapan mereka. Lalu laki - laki itu langsung melirik ke arah istrinya bersama mata yang penuh dengan amarah. Ia mencengkram lengan Kayla dengan sangat kencang kemudian menyeret dan membawanya menuju arah parkir mobil miliknya dengan memaksa. Akan tetapi Kayla memberontak mengenai tindakan Akbar yang kasar terhadapnya itu.


 


Kemudian Nindi dan dewi mengikuti mereka, sebab Dewi taku jika Akbar akan bertindak di luar batas normal.


“Lepasin, lepasin mas!” Ucap Kayla sambil menyeret tangannya sendiri.


“Maksud kamu apa? Sudah memberikan obat tidur kepada Pelangi? Hem! Kamu mau anak aku cepat mati?!” kata Akbar dengan mata melotot dan nada yang sangat tinggi.


“Apa obat tidur?” Ucap Nindi yang sangat terkejut mendengar kakaknya berkata sperti itu.


"Obat tidur." Sahut Dewi.


Waktu itu Nindi dan juga Dewi begitu sangat terkejut setelah mendengarkan Akbar membentak - bentak Kayla di depan umum dan menjelaskan kata - kata yang dokter berikan. Mereka juga di krumuni banyak orang untuk melihat kejadian yang sangat memalukan itu. Pengunjung itu adalah mereka yang akan mengunjungi sanak saudaranya yang sedang di rawat di rumah sakit itu. Dan di saat itu lah Akbar tidak  bisa mengendalikan emosinya. Ia tidak ingin anaknya dilukai  oleh orang lain atau siapa pun walaupun hanya terluka sedikit saja.


“Iya buk. dia sudah memberikan Pelangi obat tidur.”


“Kamu ini gila ya mas! Berani ya kamu menuduh aku untuk melakukan perbuatan sekeji itu?!”


“Lalu siapa lagi kalau bukan kamu? Pelangi ¹ ini hanya bersama kamu!”


“Memang dia seharian ini bersama ku. Lantas apakah aku tega memberikan obat untuknya?”


“Kak, sabar dulu. Kita masih bisa bicarakan baik – baik masalah ini. Enggak enak di lihatin banyak orang. Kita bisa kan membicarakan semua ini di rumah?”


“Enggak bisa Nin, aku harus menyelesaikan sekarang dengan dia. Sekarang kamu bilang atau aku akan.....”


“Akan apa?! Hem... Mentalak aku? Silahkan saja talak aku sekarang! Aku juga sudah sangat menyesal menikah denganmu tahu kamu mas!”


“Sudah nak, sabar. Mari kita pulang dan bicarakan ini baik – baik. Ibuk yakin Kayla tidak seperti yang kamu bayangkan.”


“Percuma buk ngomong sama dia. Dia ini tidak punya malu! Menuduh istrinya sendiri yang bukan – bukan!”


“Lalu siapa yang memberikan obat tidur dengan dosis tinggi kepada Pelangi?”


“Ya aku nggak tahu lah! Untuk apa aku memberikan obat itu kepada Pelangi?! Bisa saja kan anakmu itu mendapatkan obatnya di atas meja lalu dia berpikir kalau itu adalah sebuah Permen lalu dia memakannya.”

__ADS_1


 


“Tapi aku tidak percaya dengan apa yang kamu katakan!”


“Ter.. se.. rah.. kamu, mau percaya mau enggak aku enggak peduli. Lain kali jangan titipkan Pelangi kepadaku kalau akhirnya kamu harus menyalahkanku seperti ini. Aku seperti tidak ada harganya lagi di mata kamu. Kamu sudah tidak lagi percaya denganku. Aku lebih baik pulang, malas berlama – lama di sini hanya untuk mendengar ocehan dan kemarahan kamu mas!”


“Kak, kak Kayla.”


“Kay, Kayla. Jangan seperti itu nak. Tunggu nak.”


Kayla pun berjalan menuju mobilnya itu dan akan kembali pulang. Sebab dirinya takut berlama – lama di rumah sakit. Karena jika nanti Akbar terlalu marah kepadanya, dirinya takut kalau akan keceplosan berbicara.


Akbar pun kembali melihat kondisi Pelangi yang sedang berbaring. Lantas dirinya sesegera mungkin menemui perawat yang sedang berjaga di bangsal itu. Akbar meminta izin kepada perawat agar di berikan izin masuk untuk menjenguk putri kecilnya itu.


Perawat yang menjaga di bangsal tempat rawat inap Pelangi mempersilahkan untuk masuk di kamar Pelangi. Tak lama dirinya masuk menemui putri kecilnya itu, lalu ia duduk tepat di samping Pelangi yang sedang berbaring dengan di bantu alat pernapasan yang tertempel di hidung mungil balita cantik itu. Setelah masuk Akbar tak kuasa menahan atau membendung air matanya. Tanpa ia sadari dirinya mengeluarkan air matanya itu di samping putri kecilnya.


“Putri kecilku sayang, maafkan ayah yang tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Ayah menyesal karena telah meninggalkan kamu sendiri di rumah hanya dengan tante Kayla. Bangun nak, ayah benar – benar tidak bisa melihatmu seperti ini. Jika semua ini bisa di tukar, ayah berharap yang sedang terbaring di tempat ini bukan kamu nak, tetapi biarkan ayah saja. Sudah cukup kamu merasakan tajamnya alat – alat suntik dari dokter, dan sudah cukup kamu tidur saat ini nak. Bangunlah putri kecil ayah.” Ucapnya dari dalam hati sambil mengusap usap jidat Pelangi.


Ia juga tidak sadar jika air matanya telah banyak yang tertumpah membasahi jari jemari mungil milik putri kecilnya itu. Sebab di saat dirinya duduk di samping Pelangi, ia menggenggam erat tangan Pelangi dan menciumnya hingga beberapa kali.


Lalu setelah ia merasa sudah terlalu lega bertemu dengan Pelangi, dirinya kembali keluar dan berjalan layaknya orang yang tidak mempunyai banyak tenaga.


“Sayang, bagaimana keadaan Pelangi saat ini?” tanya Dewi kepada Akbar.


“Dia masih belum membuka matanya buk. dia masih tertidur sangat pulas sekali.”


“Tapi buk? Aku tidak bisa meninggalkan Pelangi di sini sendirian buk.” Ucap Akbar.


“Sudah kak, biarkan kami yang akan menunggu Pelangi kak. Karena kakak sudah terlihat begitu sangat lelah.” Sahut Nindi.


 


“Aku tidak lelah Nin, aku hanya ingin tahu siapa orang yang telah tega memberikan obat tidur berdosis tinggi kepada putriku itu. Apa salah dia. Sehingga dia harus merasakan lagi tajamnya  alat rumah sakit seperti saat ini.” Kata Akbar dengan wajah yang murung.


“Tenanglah kak. Kakak harus yang sabar dan tabah. Doakan semoga Pelangi baik – baik saja.”


“Betul Akbar apa yang dikatakan oleh Nindi. Kita jangan langsung mengambil kesimpulan yang belum pasti. Bisa saja semua ini yang terjadi kebetulan. Karena kecerobohan istri kamu.”


“Oleh karena itu Akbar sangat kesal dengan Kayla yang sudah teledor menjaga Pelangi. Tapi buk? Mana mungkin anak sekecil Pelangi bisa naik – naik sendiri di atas meja. Sedangkan meja yang ada di rumah kita hampir semuanya tinggi. Apa lagi untuk menggapai saja Pelangi  tidak akan sampai.” Cakap Akbar.


“Nak, dengarkan ibuk, anak sekecil pelangi memang sudah waktunya untuk banyak melakukan aktivitas. Ibuk tidak membela siapapun saat ini, ibuk harap semua ini hanyalah ke salah pahaman belakang. Mungkin saja di saat Kayla sedang pergi ke kamar mandi untuk membuang air kecil, lalu dirinya meninggalkan Pelangi sebentar dan sendirian bermain, lalu Pelangi mengambil obat itu yang terjatuh di lantai kemudian ia memakannya. Kita kan tidak tahu nak. Bisa jadi istrimu itu juga tidak mengetahui kalau Pelangi sudah menemui obat itu dan dia memakannya.” Ucap Dewi.


Akbar hanya terdiam, dan mencerna semua apa yang Dewi katakan. Lalu di saat dirinya sudah mulai tenang, Akbar kembali pulang ke rumahnya. Sesampai di rumahnya ia langsung membersihkan tubuhnya dan menyiapkan beberapa pakaian untuk menemani putri kecilnya itu yang saat ini sedang tergeletak atau berbaring lemas tak berdaya di rumah sakit.


Di saat dirinya akan turun ke bawah. Ia bertemu dengan Kayla. Akan tetapi mereka berdua tidak tegur sapa menyapa sama sekali walaupun sudah saling bertemu. Akbar hanya terdiam membisu memikirkan kepanikan karena memikirkan anaknya. Sedangkan Kayla masih sangat marah dan kesal atas tuduhan yang di ucapkan oleh Akbar tadi.

__ADS_1


Saat Akbar sudah di depan mobilnya, ia kembali masuk ke dalam rumah untuk berpamitan kepada istrinya jika dia tidak akan tidur di rumah untuk beberapa hari terakhir sampai Pelangi kembali Pulih atau sadarkan diri. Dia juga akan menemani Pelangi di rumah sakit.


“Aku akan menemani Pelangi di rumah sakit. Aku minta kamu tetap di rumah saja. Tidak usah pergi kemana – mana.” Pinta Akbar


“Hemm..” Balas singkat dari Kayla tanpa melihat sedikit pun raut wajah Akbar.


“atau kamu mau ikut dengan ku untuk menjaga Pelangi di rumah sakit?” kata Akbar yang mengajak istrinya itu untuk menemani dirinya itu di rumah sakit.


 


“Aku mau tidur! Capek! Pergilah dan berikan aku kabar jika anakmu sudah bangun dari tidur panjangnya itu.” Jawab Kayla.


“Yakin kamu tidak akan ikut denganku dan menemaniku di sana?”


“Enggak, ya udah sih kamu pergi saja dari sini! Aku mau istirahat!”


“Baiklah kalau begitu. Segera lah tidur dan beristirahatlah.” Ucap Akbar.


“Hemm!”


Kemudian Akbar kembali pergi berjalan menuju ke arah mobilnya itu. Tak lama dirinya keluar meninggalkan rumahnya. Kayla pun juga kembali melangkahkan kakinya untuk menuju kamar tidurnya. Di saat langkah kakinya berjangkah tiga kali dari anak tangga, handphone miliknya tiba tiba berbunyi dan bergetar. Alih – Alih yang menelepon Kayla saat itu adalah Alex. Ia menanyakan kabar Pelangi.


“Apa lagi sih kamu?!”


“Kayla sayang, jangan marah gitu lah.”


“Apa lagi sekarang mau kamu? Belum cukup membuat aku seperti ini?”


“Wooww, tenanglah Kay, aku meneleponmu hanya ingin mengetahui kondisi Pelangi.”


“Untuk  apa kamu bertanya tentang kondisinya saat ini?”


“Kamu sadis banget sih Kay kalau sama aku? Sedikit saja romantis kepadaku.”


“Sudahlah aku mau istirahat!”


“Eeeiitt, tunggu Kay, aku kangen banget sama kamu. Suami kamu pasti saat ini pergi untuk menemani anaknya di rumah sakit ya kan.”


“Kalau iya kenapa?”


“Wah ada kesempatan nih buat kita kik kuk kik kuk dong.”


“Dasar orang gila!” Kata Kayla kemudian mematikan teleponnya.


 

__ADS_1


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2