Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Dewi dan Ida


__ADS_3

“Aku kasihan dengan keadaan Kayla, tidak tega aku melihat keadaanya sekarang dirinya. Semoga penyakit Kayla segera di sembuhkan dan di angkat oleh – Nya. Aamin.” Gumam Kia yang masih duduk di samping suaminya itu.


“Sayang, kamu ngalamun? Lagi mikirin apa sih?” kata Cleo sambil memegang  jemari Kia.


“Hem,, enggak apa – apa kok mas. Hanya... sudahlah lupakan. Gimana mas? Kamu mau ngomong apa tadi?” tanya Kia.


“Hanya apa?” tanya Cleo.


“Emm, kenapa ya aku terus memikirkan Kayla.”


“Kamu ini memang baik banget. Sudah berulang kali kamu di sakiti oleh dia, tetapi di saat mereka sedang menerima akibatnya kamu justru memikirkan kondisi mereka. Terbuat dari apa sih hati kamu ini?” cakap Cleo.


“ah apaan sih mas kamu ini. Suka banget kalau memuji – muji aku.”


“Aku bukan nya memuji tapi kenyataan, maka dari itu aku memilih kamu untuk aku jadikan pendamping hidupku untuk selamanya.”


Kia hanya tersenyum malu mendengarkan suaminya itu selalu memuji dirinya. Kia dan juga Cleo setelah menikah mereka merasakan hidup bahagia. Mereka selalu bercanda bersama. Dan mereka juga saling terbuka satu sama lain.


“Aku sangat bersyukur sekarang, karena memiliki suami yang sangat – sangatlah baik kepadaku. Dia selalu menghargai ku sebagai seorang istri. Aku ingin supaya dia selalu di berikan kesehatan dan keselamatan.” Gumam Kia lagi.


--


Beberapa hari kemudian setelah kedatangan Kia ke rumah sakit untuk menenggok Kayla, kondisi Kayla semakin hari semakin parah. Dirinya selalu merasakan sakit di seluruh  tubuhnya. Wajahnya selalu terlihat pucat.


Dirinya selalu menatap ke langit, ia juga selalu meminta kepada perawat untuk di ajak ke sebuah taman yang ada di rumah sakit itu. Dirinya selalu melamun, karena merasakan kondisi tubuhnya yang tak kunjung membaik saat itu.


“kondisiku sekarang bukan tambah membaik, tetapi justru semakin parah. Sudah banyak yang menghina kondisiku. Suamiku saja sampai sekarang tidak tahu dengan kondisi ku yang memburuk seperti ini. Dia memang sudah tidak ingin melihatku lagi. Aku tahu kalau dia itu sebenarnya masih mencintai mantan istrinya. Untuk apa aku hidup. Yang hanya bisanya duduk di kursi roda ini. Aku tidak bisa lagi bersedang senang seperti dulu. Karena penyakitku ini.”


Setelah Kayla mengidap penyakit yang serius seperti ini, ia sudah merasa frustasi dengan apa yang sedang ia hadapi. Dirinya selalu menyendiri dan selalu mengerutu.


Setelah beberapa hari kemudian Ida mendapatkan sebuah ampop coklat. Kemudian ia membuka ampop itu dan ia membacanya. Ternyata isi di ampop coklat itu adalah sebuah panggilan dari pengadilan agama untuk Kayla yang akan di ceraikan oleh Akbar.


Ida merasa kalau Akbar benar – benar sudah tidak memiliki hati. Sebab Kayla saat ini sedang menderita karena sakitnya yang serius, tetapi Akbar justru menambah semua kesakitan yang akan Kayla hadapi.


“ternyata Akbar sungguh – sungguh akan mengugat cerai Kayla. Dia itu tahu tidak sih sebenarnya kalau Kayla sedang sakit parah saat ini. Dia itu memang kejam. Aku harus menemuinya sekarang dan aku akan memaki maki dia. Dasar orang tidak punya otak dan hati nurani sedikitpun.” Gumam Ida sendiri sambil melamun memegang amplop coklat itu. Kemudian selesai itu dirinya bergegas untuk pergi ke rumah Dewi.


Ting.. tong... ting.,.. tong...


“Iya sebentar. Jawab Nindi sembari berjalan untuk membukakan pintu rumah itu.


Lalu dia membuka pintu itu, setelah membuka pintu dirinya kaget karena melihat Ida sedang berada di rumahnya.


“Owh tante, ada apa ke sini?”


“Aku ingin bertemu dengan Akbar, dimana dia sekarang?”


“Tante ada keperluan apa bertemu dengannya?”


“Ya, pokoknya ada lah. Di mana dia sekarang. Suruh dia keluar.”


“Dia lagi enggak ada. Dia pergi.” Jawab Nindi dengan sadis.


“Dia pergi kemana?”


“Ya, Pokoknya dia sedang pergi, aku enggak tahu dia lagi pergi kemana, memangnya aku ini satpam apa?”


“Kamu jangan bohong seperti itu Nin, tante ingin sekali bertemu dengannya.”

__ADS_1


“udahlah mau ngapain lagi sih kalian ganggu hidup kami. Sudah cukup ya kaliam membuat kami sakit hati. Sekarang lebih baik tante segera pergi saja dari sini.”


“kamu ini kenapa sih? Sadis banget sama tante? Tante ini lebih tua dari kamu loh Nin.”


“Terus kenapa? Tante itu ajarin anaknya biar enggak jadi wanita murahan.”


Plak!


“Jaga omongan kamu.” Cakap Ida dengan membentak Nindi.


“Apa? Itu semua kenyataan kan? Kenapa tante berani – beraninya menampar aku?!”


“Kamu, tante tahu kamu ini sarjana hukum. Tapi kamu harusnya punya mulut yang bisa di jaga! Jangan asal bicara!”


“Loh aku bicara seperti ini kan semuanya kenyataan. Bukan karena aku asal asalan ngomong kan tan? Sekarang kalau tante enggak mau anak tante aku panggil dengan sebutan wanita murahan, terus apa yang lebih cocok untuk memanggil dirinya itu? Atau tante lebih senang anaknya di panggil dengan sebutan “Pelacur”?


“Nindi. Jaga ya ucapanmu itu! Jangan asal bicara! Aku di sini untuk mencari kakakmu bukan malah berdebat dengan mu.”


“Aku sudah bilangkan ke tante kalau kak Akbar tidak ada di rumah. Ngapain tante masih ngotot kepengen bertemu dengan kak Akbar. Tante masih punya telinga kan?”


“Kamu!”


“Apa? Mau menampar aku lagi? Tampar aja, nih tampar.” Kata Nindi sambil menyodorkan pipinya yang masih membekas telapak tangan Ida di wajahnya.


“Percuma ngomong sama kamu! Tidak ada gunanya. Hanya capek berdebat.”


“Ya sudah silahkan tante pergi dari sini. Dan jangan injakan kaki lagi di sini.” Cakap Nindi.


Kemudian ida, berjalan berbalikan diri untuk meninggalkan Nindi yang masih terlihat berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah yang murung dan marah. Lalu Ida mencegat sebuah taksi dan masuk ke dalam mobil taksi itu.  Ida tidak menyangka ternyata Nindi berani berkata kasar kepada dirinya, sedangkan yang selama ini ia tahu adalah Nindi anak yang pendiam dan baik hati mungkin karena Kayla anaknya sudah membuat Nindi kecewa.


Akan tetapi di saat ida akan berlari ke dalam taksi, Dewi melihat namun saat akan di kejar Ida sudah terlihat jauh. Kemudian Dewi masuk ke dalam halaman rumahnya  dan melihat Nindi sedang duduk di pinggir pintu rumahnya.


“Nin, kenapa tante ida ke sini?”


“Dia mau mencari kak Akbar buk?”


“Menang ada keperluan apa?”


“Entah lah buk. Aku sangat malas melihat dia ke sini.”


“Loh kenapa begitu nak? Memang apa yang sudah dia lakukan?”


“ ya sebenarnya sih bukan tante ida nya yang bikin kesel Nindi, tapi anaknya itu.”


“Owh, kamu tidak menyuruhnya dia masuk tadi?”


 “tidak buk, aku sengaja tidak menyuruhnya masuk, ya males aja gitu sama mereka apa lagi sama anaknya yang murahan itu.”


“Husst.. sekarang masuk yuk.”


“Ibuk dari mana sih tadi?”


“Ibuk tadi sedang ada keperluan sebentar nak.”


Dan ketika Dewi masuk ke dalam rumah. Suara hp nya berdering. Ada sebuah panggilan masuk. Di lihatlah nama yang menelepon dirinya itu. Dan ternya Ida yang menelpon. Ida berkata kalau dirinya tadi ke rumahnya untuk mencari Akbar.


“Hallo.”

__ADS_1


“Iya hallo. Ada apa ya jeng.”


“Sekarang kamu di mana?”


“aku baru saja sampai rumah. Ada apa jeng tumben menelpon ku.”


“Aku ingin bertemu dengan anak kesayanganmu itu. Akbar maksudnya?”


“Iya. Dia kan anak ke sayangan mu.”


“Emm, jeng gimana kalau kita bicara nya jangan lewat telepon. Kita ketemuan saja.”


”Oke baiklah. Nanti sore kita ketemuan dan kita bertemu di resto xxx yang biasanya itu.”


“Iya jeng. Nanti saya akan ke sana.”


Sore harinya itu. Mereka akhirnya bertemu di salah satu resto yang biasanya mereka datangi. Terlihat di sisi pojok tempat duduk, Ida yang sudah menunggu Dewi. Kemudian Dewi menghampiri Ida. Lalu dirinya menghampiri Ida, di saat beretemu dengan Ida, dewi masih bersikap biasa – biasa saja.


“Jeng, maaf ya aku terlambat. Kamu sudah menunggu aku dari tadi ya?”


“Iya, dewi, aku ingin mengatakan kepadamu perihal Akbar yang sudah menggugat cerai anakku Kayla.”


“Iya, memang ada apa ya jeng?”


“Kamu ini gimana sih.”


“Sebentar – sebentar, coba kamu jelaskan dulu dan jangan marah – marah seperti ini.


“Kamu tahu enggak sih, kalau Kayla itu sedang sakit parah? Dia di dianoksa oleh dokter kalau dirinya sedang mengidap penyakit kangker serviks.”


“Apa? Sejak kapan jeng? Serius aku tidak tahu kabar ini.”


“Ya jelas kamu tidak akan tahu, karena kalian semua sudah tidak ingin tahu kabar dan keadaan Kayla sekarang kan.”


“Serius, aku tidak tahu kalau anakmu itu ternyata sedang sakit parah.”


“Kayla saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Dia setiap hari selalu frustasi. Saat ini dia hanya bisa duduk di kursi roda. Dia sudah cukup menderita Dew, tetapi kenapa anakmu Akbar malah membuatnya tambah menderita. Aku tidak tega melihat kondisinya sekarang, hisk.. hisk.. hisk..”


“Astaga, kamu yang sabar ya jeng, sejak kapan dia di rawat di rumah sakit?”


“sejak Akbar menjatuhkan talak untuk dia. Sejak kejadian di mana Akbar mengetahui kalau Kayla berselingkuh dan juga tidur atau melakukan hubungan badan dengan banyak lelaki itu, kemudian Kayla jatuh sakit. Kayla memang sangat mencintai Akbar. Rasa cinta nya untuk Akbar memang sangat besar. Dirinya seperti tidak mau kalau Akbar mentalaknya.”


“Emm, jujur aku benar – bebar syok dengan kabar ini. Aku juga ikut prihatin dengan kondisi Kayla saat ini.”


“Maka dari itu, aku ingin sekali berbicara dengan Akbar. Aku ingin dia batalkan niatnya untuk mengugat cerai Kayla Dew, tolong bantu aku untuk bertemu dengan dia.”


“tapi jeng. Aku tidak bisa janji kepadamu. Aku tidak janji bisa membantumu.”


“Kenapa Dew? Apakah aku harus bersujut kepadamu agar kamu mau membantuku?” sungguh aku benar- benar membutuhkan bantuanmu kali ini. Kalau tidak, bantu aku bertemu dengan Akbar anakmu, biar aku yang berbicara kepadanya.”


“sebenarnya jeng, Akbar masih dalam sel penjara. Sudah lima bulan setengah ini Akbar masuk sel.”


“Apa? Kenapa bisa? Dia melakukan tindakan kriminal?”


“tidak jeng, persidangan terakhir kemarin yang membuat Akbar bisa masuk ke dalam sel. Jadi sebelum melakukan persidangan terakahir kemarin. Dia sudah berbohong kepada majelis hakim mengenai bukti –bukti tentang perebutan hak asuh anak. Aku juga tidak menyangka kenapa Akbar bisa mempunyai pikiran untuk membohongi majelis hakim. Egoisnya sudah menutupi hati dan pikirannya. Yah jadinya dia seperti ini.”


“Apakah ini yang di namakan karma ya. Aku tidak menyangka semuanya menjadi seperti ini.”

__ADS_1


 Bersambung..


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2