Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Pingsan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Akbar pulang ke rumah. Ia ingin membicarakan sesuatu hal penting kepada kia.


"Alhamdhulilah kamu sudah pulang mas. "


"Tolong buatkan aku kopi hitam dan aku ingin bicara hal penting kepadamu."


"Hal penting apa mas ?"


"Buatkan saja dulu kopinya. Aku akan menunggumu di sini (ruang tengah)."


Saat akbar berkata seperti itu, kia tiba tiba mempunyai firasat buruk. Ia berfikir apakah yang selama ini ia takutkan akan terjadi.


Selesai membuatkan minum, kia berjalan menuju akbar dan meletakannya secangkir kopi itu di atas meja tepat di depan tempat duduk akbar. Lalu ia duduk di samping akbar.


"Apa yang ingin kamu bicarakan mas ? "


"Baik, sebelumnya aku minta maaf jika selama ini sikapku selalu menyakitimu. Aku tidak ingin semua ini berlarut larut. Kamu juga sudah tahu, apa yang di inginkan oleh ibuku. Aku juga sudah menantikan begitu lama namun semuanya sia sia. Aku akan mentalak kamu mulai detik ini. Aku akan mengakhiri semuanya."


Terkejutlah kia saat mendengar akbar berkata seperti itu. Ia tak sadar bahwa air matanya keluar menetes perlahan lahan setelah mendengar perkataan akbar waktu itu. Apa yang ia takutkan selama ini benar benar terjadi.


"Itu alasanmu karena ingin menceraikan ku mas atau ada alasan lain kalau kamu sudah mempunyai pengantiku di luar sana ?"


"Aku sedang tidak ingin banyak bicara. Mulai hari ini detik ini juga aku sudah mentalak kamu, jadi kita urus hidup kita masing masing."


"Itu mau mu mas, baik, jika itu memang keinginan kamu. Aku akan menerima semua apa yang kamu dan ibu kamu inginkan. Proseskan semuanya di pengadilan. "


"Aku akan mengurus semuanya. Jadi kamu tidak usah khawatir."


"Aku tidak akan mempersulit semua proses perceraian kita. Aku akan mengikuti semua keputusanmu, walaupun berat bagiku." ujar kia.

__ADS_1


"Mungkin hari ini aku terakhir menginjakan kakiku di sini dan berada di rumah kamu. Aku akan membawa semua pakain pakaian ku dan pergi meninggalkan mu."


"Terserah kamu. Lakukan sesuka hatimu mas. " Ucap kia dengan pasrah sambil berjalan meninggalkan akbar dengan berlinang air mata dan menuju ruang kerjanya.


Di ruangan itu kia menanggis tak tertahankan. Ia tidak bisa lagi memperjuangkan nasib rumah tangganya yang telah lama ia bangun berdua dengan suaminya itu. Susah, duka, senang, bahagia, selalu mereka rasakan bersama. Entah apa yang membuat hati akbar begitu keras dan berubah menjadi seperti orang bodoh. Ia juga sudah sadar bahwa semua yang ia lakukan hanyalah sia sia selama ini.


Di hantinya kia merasa tidak terima dengan keputusan yang akbar katakan tadi. Kenapa akbar tega sekali berkata seperti itu. Mudah bagi akbar untuk meminta berpisah kepada kia. Tetapi jika memang ini jalan terbaik baginya, ia hanya bisa pasrah kepada sang pencipta segala semesta di muka bumi ini.


Akbar melihat kia yang sedang menanggis dengan kepala yang di sandarkan di atas meja dan duduk di kursi. Hati kecil akbar pun berkata, seakan akan berat bagi akbar untuk meinggalkan kia. Namun, ia juga sadar bahwa dirinya sudah menghianati pernikahannya. dirinya juga merasa bersalah karena telah menodai janji suci yang pernah ia katakan saat acara pernikahan yang di saksikan oleh banyak orang.


Akbar mendekati kia yang sedang duduk menanggis.


"Sudahlah, kamu tidak usah menanggis. "kata akbar.


"Kamu keluar dari sini mas. Aku tidak ingin melihat wajahmu."


"Kamu tidak usah mengusir aku dari sini. Tanpa kamu menyuruhku untuk pergi aku akan pergi, dan ini terakhir kalinya kita bertemu. Aku harap kamu bisa berfikir jernih dengan keputusan ku."


"Sulit bagiku untuk menerima semua ini. Tetapi jika memang keputusan yang kamu ambil ini akan membuatmu tenang dan bahagia, aku akan menerimanya walau batapa sakitnya hati ini. Bertahun tahun kita jalani susah senang bersama, tapi sekejap semua itu akan hiang dan mungkin tidak akan pernah kembali lagi."


Kia memanggis sendirian di ruangan itu. Saat itu ia tidak ingin melihat akbar atau apapun kepada akbar. Hingga akhirnya ia tertidur dengan posisi duduk di atas kursi dan dengan tangan yang berada di atas meja lalu di tindih oleh kepalanya.


Ke esokan hari.


Kia bangun dari kursinya dan bergegas menuju kamar tidurnya. Ia ingin melihat apakah suaminya itu benar benar sudah pergi meninggalkannya. Di buka lah pintu kamarnya ia mencari di setiap rumah, tenyata benar akbar sudah meninggalkannya. ia berlari lagi ke arah almari pakaian yang berada di kamarnya untuk mengecek apakah akbar benar benar membawa semua pakaiannya. Ternya benar, akbar sudah benar benar meninggalkan kia.


Saat ia mengetahui bahwa suaminya benar benar telah pergi meninggalkannya ia hanya bisa menanggis dan menanggis sambil tergelosor bersandar di pintu almari. Tiba tiba ada sepucuk surat terjatuh dari atas tepat pendarat di hadapan kia.


Surat itu bertuliskan.


*Untukmu Kia.

__ADS_1


Aku akan pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan kamu dan meninggalkan semua kenangan kenangan yang telah kita bagun bersama.


Terimakasih, kamu sudah menjadi istri yang baik untukku. Kamu juga sudah merawatku dan memenuhi semua kewajibanmu.


Aku berharap, setelah kita sah bercerai, carilah laki laki yang bisa membuatmu bahagia. Tidak seperti aku, yang hanya bisa membuatmu menanggis dan sakit hati.


Aku tahu, bahwa kamu adalah wanita yang kuat. Jaga dirimu baik baik.


Sekali lagi terimakasih Kia*...


Setelah membaca surat itu, kia langsung bergegas keluar dan menghidupkan motor meticnya. Ia yakin bahwa akbar masih mencintainya dan berat untuk meninggalkannya. Pergilah ia ke kantor tempat akbar bekerja.


Sesampai di kantor ia langsung memarkirkan motornya dan masuk ke dalam kantor. Ia bertemu lagi dan bertanya kepada wanita yang bertugas sebagai Resepsionis dikantor tersebut.


"Selamat pagi mbak. Ada yang bisa kami bantu."


"Mbak tolong panggilkan Bapak Akbar, saya ingin bertemu dengannya."


"Baik tunggu sebentar ya mbak. Silahkan mbaknya menunggu di ruang tunggu tamu di sebalah sana. Biar saya menghadap Bapak akbar. Maaf dengan mbak siapa ?"


"Bilang saja dari Kia."


"Baik mbak , saya akan panggilkan sebentar."


Pergilah resepsionis itu menuju ruangan akbar, ternyata akbar sudah di pindah tugaskan atau di mutasi beberapa waktu yang lalu di lain wilayah. Resepsionis itu langsung menjelaskan kepada kia bahwa sistim kantor sudah memutasi akbar di wilayah lain.


Kia yang mendengar kabar dari resepsionis itu terkejut. Karena akbar tida bercerita atau memberikan kabar apapun kepada kia bahwa ia sudah di mutasi dari tempat kerjanya yang dulu. Kia pulang dengan raut muka binggjng dan sedih.


Ketika ia akan menuju tempat parkiran tiba tiba kepalanya medadak pusing dan jatuh pingsan. Scurity yang mengetahui bahwa kia pingsan langsung berteriak kepada pengunjung atau karyawan kantor yang sedang memarkirkan kendaraanya yang tak jauh dari tempat kia pingsan. Security itu meminta tolong kepada beberapa orang yang ada di sana untuk membawanya ke Rumah Sakit/klinik terdekat.


Ada sebuah mobil yang akan memarkirkan kendaraannya. Pemilik mobil itu melihat ada kerumunan orang orang, ia mendekati kerumunan tersebut. ternyata ada seorang wanita yang jatuh pingsan di area dekat parkir kendaraan. Pemilik mobil itu bernama, Cleo. Sepontan setelah Cleo melihat wanita yang jatuh pingsan itu, langsung meminta tolong kepada orang orang yang berada dikerumunan itu untuk membantu membopong kia masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Cleo langsung bergegas pergi masuk ke dalam mobil untuk membawa kia ke sebuah klinik atau Rumah Sakit terdekat.


Bersambung......


__ADS_2