Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Dion hampir tertabrak


__ADS_3

“Brayen. Brayen.” Ucap Nindi kepada Brayen yang baru saja pulang


“Tante, tante kenapa tan? Kenapa tante menanggis? Apa yang terjadi.


“Udah, kamu jangan banyak tanya, sekarang kamu tolongin tante susul dion. Dion tadi pergi ke arah sana nak, cari dia dan suruh dia pulang. Tolong ya nak. Cepetan.”


“Iya – iya tan, brayen akan susul dion.


Breyen kemudian langsung pergi begitu saja untuk mencari dion.


Semenjak keinginan dion untuk berkuliah di kota yang Kia tempati itu, akbar mencari tahu atau langsung menghubungi adiknya nindi untuk menitipkan brayen kepada dirinya, ia ingin brayen tinggal bersama Nindi. Di saat anak – anaknya sudah beranjak dewasa  Nindi dan akbar mulai memperbaiki hubungan persaudaraannya yang dulu pernah terputus karena alex. Maka dari itu, brayen tinggal bersama Nindi dan juga Dion. Akan tetapi dion dan brayen jarang sekali atau hampir tidak pernah saling sapa menyapa. Sebab, di saat dion di rumah, Brayen selalu pergi. Begitu pula dengan Brayen, ketika dirinya di rumah dion terkadang sudah di kamar atau pergi.


Brayen mencoba mencari – cari dion di mana – mana. Akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan dion. Beberapa jam kemudian brayen kemudian pulang dan mengatakan kepada Nindi kalau dirinya tidak berhasil untuk membuntuti atau menemukan Dion. Nindi menangis tak henti – hentinya. Ternya apa yang di katakan dion tadi benar – benar dion lakukan.


“Sebenarnya ada apa sih tan? Kenapa dengan dion?”


“Dion, tadi...”


“Kenapa tante?”


“Hah, sudah lah. Percuma kalau tante akan menceritakan sama kamu. Brayen, tante minta tolong sama kamu. Tolong kamu cari Dion sampai ketemu ya nak. Tante tidak mau terjadi sesuatu dengan anak tante. Tante sudah keterlaluan dengan dia. Tante mohon ya bray, tolong bantu tante. Hisk.. hisk.. hisk..”


“Iya tan, brayen akan terus berusaha mencari Dion tan. Tante sekarang lebih baik istirahat ya.”


Nindi kemudian berjalan ke dalam kamarnya. Ia menyesal karena telah berbicara kasar yang membuat hati Dion terluka. Ia duduk di kursi riasnya, dan berteriak sambil memberantaki beberapa kosmetik – kosmetiknya itu sehingga terjatuh berserakan di lantai.


“Agh! Kenapa. Kenapa hidup aku tidak pernah tenang. Kenapa aku selalu mempunyai masalah. Semua ini gara – gara alex. Alex kamu di mana! Kenapa kamu memberikan kesedihan di hatiku! A... lex...” gemam Nindi dengan amaranya.


Bebrapa asisten rumah tangga dan Brayen hanya bisa mendengar dari lantai bawah. Ketika baby sister Dion mendengar ia akan naik dan mencoba untuk menenangkan Nindi yang sedang marah marah di kamarnya brayen melarangnya.


“Tuan, biar bibik coba tenangkan nyonya besar ya. Saya takut kalau nyonya besar nanti....”


“Bik, enggak usah, biarin tante nindi meluapkan amaranya. Aku yakin tante tidak akan nekat untuk menyakiti dirinya sendiri. Jadi bibik tenang saja. sekarang semua lebih baik istirahat.”


“Baik tuan.” Ucap beberapa asisten rumah tangganya itu.


**


Pelangi malam itu sedang pergi bersama Calvin untuk makan malam. Calvin memang sengaja mengajak keluar atau jalan pelangi, karena ia ingin sekali bisa lebih dekat lagi dengan pelangi. saat mereka sampai di sebuah Cafe, calvin sengaja memesan tempat romantis untuk makan malam dengan Pelangi. mereka pun sudah berada tepat di depan meja dan kursi yang sudah di pesannya. Calvin kemudian menarik kursi dan mempersilahkan Pelangi untuk duduk.


“Silahkan tuan putri cantik.” Ucap Calvin.


“terimakasih ya kak.”


Calvin pun hanya tersenyum. Ia kemudian memanggil waiters restaurant untuk memesan makanan malam itu.


“Kak calvin romantis banget sih. Aku enggak nyangka. Sudah cakep, baik perhatian lagi.” ucap pelangi dari dalam hatinya.


Kemudian mereka berdua pun menikmati suasana romantis dan juga hidangan yang sudah di pesannya waktu itu. Setelah bebrapa jam kemudian mereka sudah selesai dinner, Pelangi dan Calvin pun lalu pergi ke sebuah taman yang ada di tengah kota untuk menikmati bintang bintang di langit.


Di saat mereka sedang berjalan di sebuah taman di tengah kota, pelangi melihat dion yang berjalan di tengah jalan sambil melamun. Ia kemudian mengejar Dion, calvin pun juga ikut berlari di belakang pelangi.


Terlihat dari kejauhan tepat di belakang dion berdiri, ada sebuah truk yang melaju dengan begitu kencang. Pengemudi truk itu sudah berulang – ulang kali memencet Klakson untuk memberikan tanda kepada dion kalau di belakang ada truk yang sedang melaju dengan kencang. Pelangi berteriak ke arah dion. Pelangi meminta tolong Calvin untuk menolong dion yang sedang melamun itu.


“Dion?” ucap pelangi sambil melihat ke arah dion.


“Siapa ngi?”


“Kak, kak cavin, tolong kak. Tolong orang itu yang sedang jalan di tengah jalan kak.”


“Kamu kenal dia?”


“Udah, nanti aku ceritain kak. Sekarang kakak tolong dia.”


“Iya, iya kamu tenang dulu.”


“Kak cepet kak, di belakang dia ada truk yang sedang melaju kencang kak.”


Calvin pun kemudian bergegas berlari untuk menolong dion. Banyak kendaraan yang melaju dengan kencang, dan di saat kejadian menegangkan itu sedang berlangsung, banyak orang yang melihat sambil menjerit memperhatikan Calvin saat akan menarik dion yang sedikit lagi mau tertabrak truk itu. Pelangi pun kemudian menutup ke dua telinganya sambil menundukan kepala karena ia tidak ingin melihat hal buruk itu terjadi. Namun, karena kesigapan Calvin, dion berhasil di tolong dan di ajak berjalan dengan perlahan – lahan menuju pinggir jalan.


“Dion? Kalian enggak apa – apa kan?” tanya Pelangi dengan gugup.


“Kami enggak apa – apa kok ngi.”


“Dion, kamu gila ya.”


“Kak pelangi.” ucap dion sambil duduk memeluk ke dua lututnya itu.


“ada apa dion ? kenapa kamu melamun di tengah jalan dan hampir tertabrak truk?

__ADS_1


Dion hanya terdiam dan menundukan kepalanya.


“aku antar kamu pulang ya.” Ucap Calvin.


“Tidak usah, aku sengaja pergi dari rumah bang.”


“Loh kenapa? Kamu lagi ada masalah sama orang tua kamu?”


“Aku...” kata dion yang langsung berdiri sambil mencangking tas ranselnya itu.


“bang, kak Pelangi, terimakasih karena kalian sudah menolong aku. Aku pamit kak. Aku mau pergi. Salam untuk amel ya kak. Bilang ke dia kalau jangan pernah lagi mencari – cari aku.”


“Memang kamu mau ke mana?” tanya pelangi.


“Entah lah kak. Aku akan pergi jauh dari kota ini.”


“Dion, coba kamu tenangin diri kamu dulu. Jangan gegabah sama emosi kamu. Coba sekarang ceritakan apa yang membuat mu nekat seperti tadi? Siapa tahu bisa sedikit nenangin hati kamu yang sedang kalut itu.”


“Iya dion, masa depan kamu masih panjang loh.”


“A.. ku.. sebenarnya aku sedang berantam dengan mama ku kak. Sejak kecil mereka sudah tidak menginginkan kehadiranku di dunia ini kak. Untuk apa aku hidup?”


“kak, aku mau cari minum dulu untuk dion biar dia bisa sedikit tenang ya kak. Kak calvin tolong jagain dan temani dia dulu di sini ya kak.” Kata pelagi lalu berjalan mencari warung klontong yang dekat dengan taman.


“Iya,” jawab Calvin.


Dion dan kelvin kemudian duduk berdua di taman.


“Ada apa sebenarnya?”


“Enggak ada apa – apa bang.”


“Aku kasih tahu ya ke kamu. Kalau jadi cowok itu yang tangguh. Jangan mudah menyerah. Seberat apapun masalah kamu, kamu harus bisa jentel. Harus bisa hadepin semua masalah di hidup kamu. Coba cerita saja apa masalah kamu. Siapa tahu aku bisa membantu.”


“tapi untuk apa aku hidup. Sedangkan kedua orang tua ku tidak pernah peduli dengan aku.”


“Sudah jangan berbicara seperti itu. Enggak baik. Seburuk – buruk apapun orang tua kita. Kita harus selalu berbakti dengan mereka.”


“Enggak semudah yang abang katakan.”


“ya sudah. Kamu tenangin hati kamu dulu. Terus kalau kamu pergi dari rumah. Memang kamu mau ke mana?”


“Kamu tidak mempunyai keluarga lagi gitu? Ya seperti paman, bibik atau yang lain.”


“enggak bang, aku juga tidak tahu aku ini anak siapa.”


“Maksud kamu?”


“ya gitu lah bang. Rumit keluarga ku tuh bang.”


“Emm,”


Tak lama pelangi pun datang dengan membawa soft dring. Ia kemudian memberikannya kepada dion agar dion meminumnya.


“nih, di minum dulu dion. Siapa tahu hati kamu bisa tenang sedikit.”


“iya kak pelangi. terimakasih.”


“Jadi kak calvin, dion ini temannya amel. Dia itu teman dekat amel. Terimakasih ya kak, karena kakak sudah mau menolong dion.


“Iya sama – sama.”


“owh, iya kamu mau ke mana sih sebenarnya dion?”


Dion hanya mengeleng – gelengkan kepalanya.


“Loh kok kamu cuman mengeleng – gelengkan kepala? Aku antar kamu pulang ya.”


“Enggak kak. Enggak usah.”


“Terus, kalau kamu enggak mau pulang kamu mau ke mana malam – malam begini?”


“Gampang kak. Aku bisa tidur di mana saja. di jalan pun aku masih bisa tidur kok kak.”


“Ya jangan gitu dong. Gimana kak?” tanya Pelangi.


“Emm, ya sudah, kalau begitu kamu tidur di rumah ku saja dulu dion. Lagian aku di rumah juga cuman sendiri saja.”


“Enggak apa – apa kak memang?” tanya pelangi

__ADS_1


“Iya enggak apa – apa.”


“Ya sudah kalau begitu kita pulang yuk.”


Mereka kemudian pulang, dion di ajak untuk tidur dan menginap dirumah calvin waktu itu. Karena Calvin juga anak yang baik, ia mau menolong Dion yang sedang gundah hatinya karena mendengar perkataan dari mamanya itu.


**


Sesampai di rumah. Pelangi kemudian mengetuk – ngetuk pintu kamar amel. ia lalu membuka pintu kamar amel dan melihat amel yang sedang duduk bersandar di bahu ranjang tempat tidur miliknya dengan memegang sebuah buku novel.


“Kamu belum tidur?” tanya pelangi.


“Belum kak. Kak pelangi baru pulang?”


“Iya kakak baru saja pulang.”


“memang kakak dari mana?”


“Tadi kakak di ajak jalan sama kak celvin.”


“Owh.”


“Nin, tadi kakak bertemu dion di jalan. Dia sepertinya sedang mempunyai masalah.”


“beneran kak? Terus dia gimana kak?” tanya amel sambil mengenggam tangan pelangi.


“Ya kakak lihat dia seperti sangat sedih sekali.”


“Pasti da habis di marahin sama mamanya. Semua gara – gara bunda.”


“Bunda? Memang tadi bunda datang ke rumah dion?”


“Iya kak, tadi aku dan bunda mendatangi rumah dion, aku pikir bunda mengajak aku ke rumah dion tadi itu untuk memperbaiki atau memperbolehkan lagi aku bermain bersama dion kak. Tapi maksud bunda sengaja datang ke rumah dion tadi untuk berbicara dengan mama dion, supaya dion tidak lagi menghubungi atau berhubungan dengan ku kak. Bunda marah – mara dengan mama dion tadi di sana kak. Dan yang lebih parahnya lagi, mama dion dan bunda itu ternyata mereka sudah saling kenal. Tapi tadi bunda bilang kalau mamanya dion utu dulu seperti musuhnya bunda gitu kak. Huft! Aku jadi kasihan sama dion.”


“Kok bisa kebetulan gitu ya mel?”


“Aku juga enggak tahu kak. Kenapa aku seperti susah sekali untuk bisa bermain dan bertemu dion ya kak.”


“Ya udah, kamu harus nurut sama semua pa yang bunda katakan. Itu semua kan juga demi kebaikan kamu.”


“Tapi kak, dion itu sebenarnya sangat baik sama aku. Dia tidak pernah macam – macam denganku. Di saat aku sedang bersama dengan dia, dion itu selalu menjaga aku dengan baik kak. Dia tidak ingin  melihat aku kenapa – kenapa. Tapi sayang, bunda tidak bisa melihat sikap baik dion. Bunda hanya melihat dion dari luarnya saja.”


“Amel, bunda seperti itu karena bunda khawatir sama kamu. Dia tidak ingin kamu kenapa – kenapa mel. Kamu yang sabar ya. Jalani saja semua perintah bunda. Semua itu juga demi kebaikan kamu mel.”


Amel pun hanya menghela nafas panjang.


“Tapi kak, dion terus gimana tadi?”


“Dia hanya memberikan pesan kepada kakak, katanya kamu tidak usah lagi mencari – cari dia atau pun menghubungi dia. Soalnya hp nya sudah di sita sama mamanya. Dia juga pergi dari rumah. Katanya sih, dia dan mamanya tadi berantam hebat. Tapi kakak enggak tahu deh cerita yang sebenarnya.”


“Aku jadi merasa bersalah sama dia kak. Kasian dia, sejak kecil dia sudah tidak pernah melihat papa kandungnya, terus mamanya juga enggak pernah perhatian ataupun sayang kepadanya. Eh, sekarang di tambah bunda. Ngapain sih bunda tadi pake acara datang ke rumah dion. Jadi panjang kan urusannya.”


“memang papanya dion kemana?”


“Katanya sih dia juga enggak tahu keberadaan papa kandungnya. Sebab sejak kecil dia sama sekali tidak mengenal siapa nama dan di mana tempat tinggal papa kandungnya itu kak. Dan setiap kali dion bertanya kepada mamanya tentang  papa kandungnya,  mama dion selalu marah besar dan uring – uring kak.”


Pelangi yang mendengarkan cerita Dion dari Amel pun kemudian berdiri dan berjalan keluar kamar amel. amel baru sadar, kalau cerita yang baru saja ia bicarakan dengan kakaknya membuat hati pelangi menjadi tersinggung.


“Kak, kak pelangi tunggu.”


Pelangi kemudian menghentikan langkah kakinya.


“Kak, maafkan amel, tadi amel tidak bermaksud ingin...”


“Amel, tenang, kak pelangi enggak apa – apa kok. Jadi jangan khawatir. Ini sudah malam, lebih baik sekarang kamu tidur dan beristirahat lah ya.”


“Tapi...”


“Sudah, kakak enggak apa – apa. Tidur ya. Selamat malam adik kak yang cantik.”


“Malam juga kak. Sekali lagi maafkan amel ya kak. Amel tidak bermaksud apa – apa kepada kakak.”


“Iya.”


 


Bersambung...


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2