
Kesokannya Dewi baru saja tiba di rumah Kia yang lama. Ia mengetuk - ngetuk pintu rumah Kia. Keluarlah orang lain yang saat itu dirinya sama sekali tidak mengenalinya. Dirinya berfikir bahwa orang itu bukan saudara Kia. Dewi tertegun melihat sesorang yang keluar dan membukakan pintu itu.
"Kamu siapa?" Tanya Dewi.
"Maaf, ibu ini siapa? Saya pemilik rumah ini. Ibu mencari siapa?"
"Bukan kah pemilik rumah ini bernama Kia? Aku sedang mencari Kia. Apakah dia ada di sini?"
"Owh, mbak Kia. Dia sudah lama pindah dari sini bu."
"Pindah ke mana ya kalau boleh saya tahu?"
"Saya kurang tahu di pindah di mana rumahnya sekarang. Tapi terakhir yang aku tahu ketika mbak Kia hamil tua dia tinggal bersama orang tuanya."
"Kenapa dia pindah dari sini? Bukan kah ini rumah Kia yang katanya penuh dengan kenangan?"
"Sebenarnya kalau tidak ada kejadian dia di usir oeleh warga sini dia tidak akan menjual rumah ini."
"Di usir warga? Kenapa bisa?"
"Setahu saya, warga salah paham dengan Kia sewaktu dia sedang hamil tua. Warga mengira dia hamil bukan dengan suaminya. Karena kehamilan Kia terlihat setelah dia sudah sah berpisah dengan suaminya itu. Demikian dengan suaminya yang selalu pulang membawa wanita lain di rumahnya.
Sesaat mendengarkan cerita dari orang yang mempunyai rumah itu Dewi hanya bisa terpelongo. Ia mendengar sendiri bagaimana Kia melawan dan berusaha sendirian di saat dirinya sedang hamil tua. Dia mulai merasa bersalah dengan perilakunya yang sudah membuat Kia selama ini menderita sendirian. Penyesalan itu datang terlambat. Setelah semua yang ia lakukan itu membuat hati Kia tersakiti hiongga saat ini.
Seusai mendengarkan cerita dari orang itu Dewi langsung menelpon Nindi untuk menanyakan tempat tinggal Kia saat ini.
“Hallo nak.”
“Iya ada apa buk?”
“Tolong kasih tahu ibuk, di mana Kia saat ini tinggal?”
“Ada urusan apa lagi sekarang? Sudahlah buk, Nindi mohon tidak usah mencari – cari masalah lagi denga keluarga kak Kia.” Cakap Nindi.
“Aku tidak akan mencari – cari masalah dengannya. Aku hanya ingin meminta maaf kepada dia. Ternyata selama ini dia sudah hidup dengan penderitaan yang telah aku buat.”
“Mengapa ibuk baru sadar saat ini?”
“Sudah sekarang beri tahu ibuk di mana tempat tinggal Kia saat ini.”
“tapi aku takut ibuk akan membuat masalah lagiu dengannya.”
“Tidak Nin, ibuk janji sama kamu.”
“Baiklah aku akan memberitahu ibuk. Sebenarnya jika ibuk mencari kak Kia siang ini pasti tidak akan bertemu dengannya. Sebab dia pasti sedang bekerja buk.”
“Owh, Kia sekarang bekerja?”
__ADS_1
“Iya buk.”
“Lantas Pelangi dengan siapa di rumah?”
“Kalau Pelangi pasti selalu di titipkan ke rumah ibu Nisa. Karena di sana ada Bella yang selalu menemani Pelangi bermain.”
“Kalau begitu biar ibuk datang ke rumah Nisa.”
“Tapi buk,”
“Kenapa?”
“Apakah mereka mau menerima kedatang ibuk nanti?”
“Iya ya, sudah biar ibuk pikirkan nanti. Yang jelas ibuk mempunyai niat baik kepada mereka.”
“Atau biar Nindi temani ibu ke sana?”
“Tidak perlu nak, biar ibu yang ke sana sendiri. Lagian nanti pasti akan lmenghabiskan banyak waktu untuk menunggu kamu datang ke sini.”
“Beneran buk? Tidak ingin Nindi temani?”
“Tidak usah nak. Ibuk bisa sendiri kok.”
“Iya, iya nak.”
Kemudian Dewi melanjutkan perjalanannya menuju rumah Nisa. Di perjalanan dirinya membelikan beberapa buah tangan untuk di berikan kepada keluarga Nisa. Dan ia membeli mainan atau boneka untuk Pelangi. Tidak lama Dewi sampai di rumah Nisa. Di depan gerbang dirinya memarkirkan mobilnya itu. Lalu dia masuk ke dalam gebang yang terlihat sedikit terbuka itu. Ia masuk dengan membawa buah tangan dan bebrapa mainan untuk Pelangi yang dia beli tadi. Terlihat di depan rumah Pelangi yang sedang asik bermain dengan Bella berlarian sambil di awasi oleh baby sisternya. Dari kejauhan Dewi memanggi – manggil Pelangi dengan wajah semringah.
“Pelangi, Pelangi, sayang.”
Pelangi dan Bella pun langsung menoleh ke arah orang yang sedang memanggilnya itu. Pelangi juga membalas panggilan dari Dewi.
“Nenek?”
Kemudian Pelangi berlari menuju ke arah Dewi yang berjalan masuk dengan perlahan –lahan itu. Nisa dari dalam mendengar bahwa Pelangi berteriak memanggil – manggil nenek. Ia kemudian keluar dan melihat Pelangi. Ketika dirinya melihat Dewi yang sedang memeluk Pelangi, Nisa pun langsung berlari ke arah Pelangi untuk menarik Pelangi supaya menjauh dari Dewi.
“Hey, wanita gila! Kenapa kamu ke sini? Mbak tolong ajak anak – anak masuk ke dalam rumah.” Kata Nisa sambil menyuruh baby sisternya itu.
Kemudian Bella dan Pelangi masuk dengan di gandeng oleh baby sisternya.
“Bu Nisa, saya ke sini....”
Saat dirinya akan melanjutakan perkataanya tiba – tiba Surya keluar rumah.
“kenapa kamu ke sini!” ucapnya dengan tangan menenteng ke dua tanganya itu.
__ADS_1
“Saya ke sini, ingin meminta maaf kepada kalian semua, terutama kepada Kia. Karena aku sudah membuat hidup putri kalian susah dan menderita.”
“Pergilah saja dari sini dan bawa semua omong kosongmu itu! Kami tidak membutuhkan kamu hadir disini apa lagi memeluk cucuku.”
“Sudah sana pergi! Kita jijik lihat kamu.” Ujar Nisa.
“Buk Nisa saya mohon tolong maafkan saya. Ijinkan saya bertemu dengan cucu saya. Saya mohon.” Ucap Dewi sambil mendekati dan memohon - mohon kepada ke dua orang tua Kia.
Tak lama Sinta pun datang dan langsung memarkirkan motornya. Sebab dirinya melihat Dewi sedang berada di rumahnya.
“Hey kamu nenek tua tidak tahu diri. Berani ya kamu menginjakan kaki di rumah sini!”
“Aku tidak perduli kalian mencaci maki aku atau membenciku, kedatangan ku ke sini hanya ingin meminta kata maaf. Dan memohon kepada kalian agar aku dapat menemui cucuku.”
“Sudah aku katakan berulang kalikan kepadamu! Bahwa Pelangi itu bukan cucumu! Bukan kah kamu sendiri yang berkata seperti itu?! Sekarng lebih baik kamu pergi dari sini dan bawa semua barang bawaanmu ini! Karena kami tidak membutuhkan sampah seperti yang kamu bawa ini!”
“Dasar orang tidak tahu malu! Kita sudah tidak ada hubungan apa – apa lagi! Jadi aku harap kamu tidak perlu lagi susah payah untuk datang kemari, apa lagi berharap kamu akan bertemu dengan Pelangi lagi.” Teriak Surya yang tegas untuk mengusir Dewi dari rumahnya itu.
Nindi memahami betul dua keluarga ini yang sama sama tidak menyukai satu sama lain karena perbuatan Dewi kepada Kia dahulu seperti apa, dirinya menghawatirkan Dewi jika nanti ibunya itu bakal di perlakukan tidak sopan atau akan di usir dengan keluarga Kia terlebih dengan Sinta yang terlihat jelas bahwa kebenciannya terhadap keluarga Dewi begitu besar. Sebab jika Sinta tidak menyukai sesorang yang sudah menyakiti keluarganya pasti dirinya akan memperlakukan orang itu dengan tegas. Entah itu orang tua sekalipun.Kemudian Nindi berfikir untuk menyusul ibunya menuju rumah Nisa, karena khawatir dengan ibunya itu.
Beberapa menit berlalu. Dewi menanggis dan berjalan meninggalkan mereka yang sudah mencaci maki dirinya. Dengan tubuh yang lesu, wajah yang lemas dan tarikan nafas yang tersedak – sedak akibat dirinya terlalu lama mengeluarkan air matanya. Nindi bergegas masuk menyusul ibunya itu. Ternyata apa firasat nindi benar jika ibunya telah mendapatkan cacian dari keluarga Kia.
“Apa yang kalian lakukan kepada ibu saya?”
“Apa tidak salah kamu bertanya kepada kami?” tanya Sinta dengan tegas.”
“Tanyakan saja kepad ibumu itu! Ibu yang tidak bisa di contoh perbuatannya! Ibu macam apa dia!” kata Nisa dengan nada sedikit membentak Nindi.
“tolong hentikan omongan kalian! Kalian sudah membuat ibuku seperti tidak mempunya harga diri! Setidaknya kalian bisa menghargai sedikit atekat baik dari dia!” jawab Nindi dengan merangkul lengan ibunya itu.
“Sudah nak, lebih baik kita pulang dan pergi dari sini nak.” kata Dewi.
“Baiklah buk, mari biar Nindi yang membantu dan menuntun ibuk berjalan. Ibuk harus bersabar ya buk." ujar Nindi.
“Hey, jangan lagi – lagi ya kalian menginjakan kaki kalian di sini! Dan jangan bermimpi bisa bertemu dengan Pelangi lagi!”
“Dasar wanita tidak tahu malu! Bener – bener ibuk membencinya!” Uangkap Nisa.
Akhirnya mereka pun pergi meninggalkan rumah Nisa dengan melangkahkan kakinya perlahan. Dewi berjaln menju mobinya dengan di tuntun oleh Nindi.
“Mama tidak habis pikir dengan meraka, urat malu mereka sudah putus!” Ucap Nisa yang masih berdiri.
“Seenaknya saja meminta kepada kita agar untuk menemukan dirinya dengan Pelangi.” Kata Surya.
“Sepertinya dia memang tidak tahu malu dan pikun mah, pah.” Ujar Sinta.
“Dia tidak ingat apa ya, dengan perkataannya yang dulu sudah membuat hati Kia hancur dan seperti tidak memiliki harga diri! Sekarang dengan mudahnya dia mengatakan bahwa ingin bisa menemui Pelangi. Apakah menantunya yang baru itu tidak bisa memberikan dia cucu?!” Ucap Surya dengan nada yang sangat marah.
“Percuma kita menanggapi mereka pah, mah. Karena mereka semua tidak mempunyai hati nurani sedikit pun.” Cakap Sinta.
Lalu Nisa meminta pembantu yang berada dirumahnya untuk membuang semua barang yang di bawa Dewi tadi.
Sesampai di rumah, Dewi menanggis – nanggis karena dirinya menyesali perbutan yang pernah dia lakukan kepada Kia. Sehingga sulit baginya untuk bisa bertemu dengan Pelangi kecilnya itu. Nindi juga masih menemaninya, ia tidak tega melihat ibunya yang di injak – injak harga dirinya oleh keluarga Kia. Kemudian Nindi mencoba menenangkan hati Dewi yang saat itu hatinya seperti baru saja di tusuk – tusuk pisau yang sangat tajam.
Nindi menyuruh ibunya agar beristirahat rebahan di tempat tidurnya. Kayla melihat dari balik pintu kamar Dewi yang sedang terbuka dan melihat Nindi sedang menuntun ibunya itu langsung mendekati dan bertanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi, sehingga ibuk seperti ini Nin?” Tanya Kayla.
“Tadi ibuk pergi ke rumah orang tua kak Kia.”
“Ya ampun, ngapain sih sampai pergi ke sana segala?! Kurang kerjaan aja deh buk!”
“Aku hanya ingin menemui cucuku dan meminta maaf karena selama ini perbuatanku sudah membuat hidup Kia hancur.”
“Ibuk ini gimana sih! Kemarin – kemarin saja ibuk ngatain Kia dan menuduhnya berselingkuh. Eh, sekarang dateang – dantang ingin meminta maaf kepada mereka. Ya, otomatis lah mereka memperlakuan ibuk dengan buruk sehingga ibuk menjadi seprti ini.
“Kak Kayla, sudah hentikanlah ocehanmu itu. Biarkan ibuk menenangkan pikirannya. Jangan menambahkan hati ibuk menjadi sangat perih lagi. Lebih baik kakak membantuku untuk menenangkan hatinya itu.”
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1