
"Iya dek, apa lagi kamu tahu sendiri orang tua Akbar seperti apa memberikan kesaksian palsu apa lagi menuduh kamu selingkuh dan lain lain. Lebih baik kamu di rumah bersama mamah. Biar kakak dan papa yang menghadapi."
"Baiklah, aku akan di rumah saja. Akan aku serahkan semua kepada papa dan kakak. Aku juga sudah lelah menghadapi semua ini mah. Aku ingin bahagia. Bersama anakku dan juga kalian." Ucap Kia dengan kepala yang bersandar di bahu mamanya itu.
"Pastinya nak. Kami selalu ada untukmu. Jadi kamu tidak usah cemas atau susah lagi ya. Kita di sini hanya untuk kamu dan juga bayi kamu." Kata Surya sambil memegang ujung kepala Kia
Hari di mana persidangan terakhir akan segera mulai. Di sana Akbar melihat ke kiri, ke kanan, ke belakang, seperti sedang mencari atau menanti seseorang. Sedangkan Sinta, Surya dan Kuasa hukum Kia sudah hadir. Persidangan di mulai, pihak dari penggugat di persilhkan untuk maju dan melanjutkan apa yang terjadi di rumah tangganya itu. Di sana Akbar menceritakan cerita sandiwara yang telah di rencnakannya bersama Dewi sebelum beberapa hari lalu persidangan itu di mulai. Kemudian di lanjut dari pihak tergugat di persilahkan maju ke depan untuk membelakan dirinya. Di saat itu dari pihak Kia yang maju adalah kuasa hukumnya.
Sebelum mereka berangkat ke acara pengadilan itu, Kia sudah berpesan bahwa jangan mempersulit proses perceraian terakir ini. Karena ia tidak ingin berlarut larut berada di kursi panasnya yang dekat dengan hakim. Lalu kuasa hukumnya mencari solusi agar untuk mempercepat proses perceraian itu dan meminta izin kepada Kia. Kia mensetujuinya demi menpercepat jalan perpisahannya dengan mantan suaminya dan ia juga harus mengorbankan dirinya menjadi seorang wanita yang berselingkuh menurut kesasian atau tuduhan Dewi.
Di sana Dewi dan Akbar sedikit terheran dengan kuasa hukum Kia. Mengapa kuasa hukumnya mengiyakan tuduhan - tuduhan yang sudah ia katakan saat di persidangan kedua kemarin? Namun, itu semua tidak menjadi sesuatu yang penting lagi untuk mereka. Dewi justru semakin bahagia karena hakim sudah mengetok palu dan mengesahkan bahwa anaknya itu sudah resmi berpisah dengan Kia. Di sana Dewi tersenyum bahagia yang nampak jelas di raut wajahnya. Namun, selesai pengadilan itu Akbar bergegas keluar dari ruangan untuk menunggu Sinta dan Surya menuju mobilnya.
Akbar menghampiri Surya dan Sinta saat itu. Ia menanyakan kemana Kia dan mengapa ia tidak hadir di persidangan terakhirnya? Apakah dia baik baik saja? Atau ada masalah dengan kandungnya? Akbar menghawatirkan Kia dan bertanya sedemikian rupa.
"Pak Surya tunggu." Teriakan Akbar memanggil dan menghentikan langkah Surya kala itu.
Berhentilah langkah mereka saat mendengar ada seseorang yang memanggil. Saat Surya berhenti untuk berjalan, ia menoleh ke arah belakang.
"Pak Surya tunggu sebentar." Ucap Akbar sambil berlali kecil ke arah Surya.
"Masih berani - beraninya ya kamu memanggil dan bertemu saya!" Ujarnya Surya sambil menuding telunjuknya ke arah Akbar dengan wajah sangat marah.
"Aku hanya..." Jawab Akbar belum selesai berbicara Sinta langsung memaki - maki Akbar.
"Hanya apa kamu! Hem... Belum puas kamu menyakiti adikku?! Kamu laki - laki brengsek dan pengecut tahu kamu! " Kata Sinta dengan sangat marah.
__ADS_1
"Kak, aku hanya ingin tahu. Mengapa Kia tidak hadir? Apakah dirinya baik - baik saja? Bagaimana kondisinya saat ini?" Tanya Akbar.
"Apakah penting pertanyaan mu itu semua untuk kamu?! " Jawab Sinta dengan mata sedikit melotot.
"Kak, tolong jawablah pertanyaanku."
"Kamu dan Kia sudah tidak ada lagi hubungan apa - apa jadi mulai sekarang detik ini juga kamu tidak usah mengetahui atau menanyakan kabar Kia, karena itu semua tidak penting lagi untuk mu! Mengerti kamu!" Ucap Sinta sambil mendorong bahu kanan Akbar.
"Sudah nak, kita pergi saja dari sini. Tidak penting meladeni laki - laki berengsek seperti dia." Kata Surya dengan mengeret tangan Sinta.
"Kak, pak, saya hanya ingin tahu dengan keadaan Kia." Ucap Akbar sambil berteriak perlahan dari belakang Surya dan Sinta.
Sebelum Surya dan Sinta meninggalkan Akbar, Sinta berkata kepadanya.
"Kamu akan menyesal nanti setelah kamu mengetahui hasil tes DNA saat anakmu lahir. Ingat ya, kamu memang sangat tidak pantas hidup bersama Kia." Ucapnya.
Akbar hanya terdiam tanpa bergerak sedikitpun. Dari kejauhan Dewi melihat anaknya itu berdiri dengan raut muka bersedih. Lalu ia mendekati anaknnya dan memanggil - manggil Akbar. Setelah ia mendekati anaknnya, ia melihat dari posisi berdirinya Akbar dengan tatapan kosong anaknya itu ke arah Surya dan Sinta. Dewi mengira yang membuat Akbar seperti itu pasti mereka dan mereka juga yang sudah membuat anaknnya itu terlihat bersedih.
"Akbar, Akbar." Panggil Dewi kepada Akbar dengan menepuk bahunya.
"Owh, iya buk."
"Kamu kenapa?"
"Enggak apa apa kok buk. Apa yang sudah mereka katakan kepadamu? Sampai kamu melamun dan wajah kamu terlihat bersedih? Biar ibuk datengin mereka!" Kata Dewi sambil menuding nuding kearah mereka yang sudah terlihat jauh pergi berjalan meninggalkan Akbar.
__ADS_1
"Sudah buk, mari kita pulang. " Uacp Akbar dengan membalikkan badannya.
Akhirnya mereka pergi kerumah masing - masing dan meninggalkan gedung itu. Saat itu proses perceraian berlangsung dengan lancar. Sesampai di rumah, Kia mendekati Surya dan bertanya.
"Bagaimana prosesnya pah? Semua lancar - lancar sajakan?"
"Semua sudah selesai nak, besok tinggal kamu mengambil akte cerai yang akan di keluarkan oleh pengadilan. Tapi papah sudah membayar agar semua data perceraian kamu terutama akte cerai kamu untuk di kirim ke rumah. Supaya kamu tidak usah pergu jauh untuk mengambilnya."
"Akhirnya aku bisa lega sekarang. Baiklah kalau begitu. Terimakasih ya pah, kak."
"Sekarang semuanya sudah berlalu, dan kamu harus fokus sama kehamilan kamu. Kamu enggak usah berfikir terlalu berat lagi ya." Kata Sinta yang berjalan kecil menuju kedalam rumah dengan memegang pundak adiknya itu.
"Iya kak, terimakasih ya kak." Ucap Kia dengan tangan kanan yang memegangi perutnya itu.
"Owh, iya jadwal kontrol kamu kapan lagi nak? " Tanya Nisa.
"Seprti nya hari rabu besok mah."
"Ya sudah kalau begitu kamu makan terus minum vitaminnya dan besok mama temani ya." Ucap Nisa.
"Iya mah." Kata Kia.
"Besok aku ikut ya mah, mau lihat ponakan ku saat di USG nanti. Pasti gemesin deh." Ujar Sinta.
Merekapun tersenyum. Dan di hati Kia saat ini lega karena dirinya sudah sah bercerai dengan Akbar. Kia juga sudah tidak lagi terlalu memikirkan tentang Akbar semenjak kehadiran Bella yang beberapa hari lalu telah menemani dan menghiburnya saat itu. Ia sudah merasa tenang dengan keluarga yang mencintainya dan menemani dengan tulus.
__ADS_1
Bersmbung..
❇️❇️❇️❇️