Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
jreng jreng jreng


__ADS_3

Selesai mengikuti mata kuliah pagi itu, brayen tiba – tiba menarik tangan pelangi. Ia ingin sekali bertanya kepada pelangi tentang keberadaan Dion, sebab Brayen sudah berjanji kepada Nindi kalau ia akan mencari dion sampai ketemu. Brayen juga tidak tega melihat nindi seperti itu.


“Pelangi tunggu.”


“iya bray,


“Pelangi apa kamu tahu dion sekarang di mana?”


“kita bicarakan di kantin saja yuk.”


Akhirnya mereka berdua berjalan menuju ke katin. dan sesampai di kantin mereka berdua membicarakan kejadian saat malam itu. pelangi pun juga merasa sangat – sangat ingin tahu permasalahannya. Sebab ia tahu betul sikap bundanya.


“Pelangi, aku ingin tahu di mana kamu lihat dan bertemu dengan dion?”


“Sebentar – sebentar bray, sebenarnya ada apa sih? Kenapa kemarin sore kamu dan mamanya Dion bisa datang ke rumahku?”


“Aku ke rumahmu karena aku tahu kalau bunda Kia mengetahui keberadaan dion. Sedangkan tanteku sampai sekarang masih binggung mencari cari keberadaan anaknya, dia juga sangat khawatir.”


“Owh, jadi gini brayen, sebenarnya yang mengetahui di mana dion itu aku. aku menceritakan sama bunda karena waktu itu aku lihat dion mau bunuh diri. Dion berjalan di tengah jalan raya, dan dia hampir saja di tabrak sama truk.”


“kalau begitu, kamu mau kan antarkan aku bertemu dengan dion?”


“Sekarang?”


“Iya,”


“Ya oke, kalau begitu kita ke sana.”


Kemudian Pelangi dan brayen pergi menuju tempat kerjanya dion. Pelangi sengaja meninggalkan mobilnya di kampus, sebab dia takut kalau bundanya tahu pelangi pergi dengan Brayen. Sedangkan brayen dan pelangi pergi mengunakan motor milik brayen, karena mereka menghindari kemacetan di jalan.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di tempat lokasi di mana dion bekerja. Di sana Brayen bertanya kepada salah satu karyawan, lalu karyawan itu menunjukan di mana posisi dion berada. Merekapun akhirnya bertemu dengan dion, brayen lalu mendekati dion dan memintanya untuk segera kembali ke rumah.


“Itu dion kak.” Ucap salah satu karyawan itu sambil menunjuk ke arah dion yang sedang  bekerja.


“terimakasih ya kak.”


“Sama – sama.” Ucap karyawan itu.


Setelah itu dion berjalan mendekati dion.


“Dion.” Kata Brayen,


“Bang. Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku kerja di sini?” ucap dion yang sangat terkejut sembari melakukan pekerjaannya.


“Pelangi yang memberi tahu ku.” Jawab brayen.


Dion pun kemudian menghentikan sejenak pekerjaannya lalu melihat ke arah pelangi.


“balik yuk. Tante khawatir sama kamu.” Ucap Brayen yang mengajak Dion pulang.


“Khawatir? Hem!” kata dion sambil nyengir kuda yang terlihat begitu sinis.


“dari kemarin, aku dan tante mencari kamu. Ternyata kamu di sini.”


“Pulanglah, dan katakan sama tante mu untuk tidak usah mencariku.”


“Dion, kamu benar – benar sudah tidak ingin kembali ke rumah?”


“Untuk apa bang. Aku lebih bahagia seperti ini sekarang.”


“jangan seperti itu.”


“Pulanglah, aku di sini baik – baik saja.”


“apakah kamu benar bisa bahagia di sini?”


Dion kemudian hanya tersenyum dengan menyengir kuda.


“kenapa tidak bang. Di sini aku bisa hidup tenang bersama teman – teman baruku. Katakan kepadanya jangan memperdulikan aku. suruh dia pikirkan saja dirinya sendiri itu.”


“Tapi bray?”

__ADS_1


“Bang, aku sekarang sedang bekerja, jadi aku minta tolong sama kamu, pergilah dari sini. Aku tidak ingin bosku marah kepadaku.”


“Baik lah, aku akan pergi dari sini. Kamu jaga diri baik – baik. Jika kamu butuh sesuatu jangan sungkan – sungkan untuk menghubungi ku.”


“Hem!”


brayen pun kemudian pergi meninggalkan dion dan berjalan menuju pelangi yang sudah menunggu brayen dari tadi. Akan tetapi dion memanggil - manggil brayen.


“bang brayen tunggu.”


Langkah kaki brayen dan pelangi pun kemudian terhenti. Mereka lalu menolehkan kepalanya.


“Kenapa?”


“Bang, aku minta sama abang tolong jangan kasih tahu kalau aku bekerja di sini ya. Aku sudah bahagia dengan kondisi dan posisi ku sekarang. Jadi, biarkan aku hidup seperti ini yang apa adanya tanpa beban di hati bang.”


Baiklah, kalau itu memang yang kamu inginkan. Asalkan kamu bisa menjaga diri kamu baik – baik di sini.


Iya bang. Tolong jaga mama ya bang.”


“Pasti, aku pergi dulu ya.”


“Bye... dion...”


“kalian hati – hati.” Kata dion.


Pelangi dan brayen kemudian pergi dari tempat kerja dion.


“Kamu habis ini ada acara lagi enggak Ngi?” tanya brayen sambil mengemudikan motornya.


“Enggak Bray, kenapa?”


“Cari makan dulu ya.”


“Boleh.”


Hingga akhirnya mereka mampir di salah satu tempat makan. Di tempat makan itu mereka menikmati makanan yang telah di pesan dan di sajikan di atas meja depan mereka. tak lama selesai makan, brayen menanyakan sesuatu kepada pelangi dengan mengenggam tangan pelangi.


“Iya, kenapa?”


“gimana?”


“Apanya?”


“Soal kemarin? Apakah kamu sudah bisa menjawabnya sekarang?”


“emm, kamu beneran cinta sama aku bray?”


“Pelangi, apa aku kelihatan bercanda?”


“Enggak sih. Tapi gimana ya bray.”


“Gimana apanya? emm, kamu enggak ada rasa ya sebenarnya sama aku ngi? Kalau begitu aku minta maaf ya.”


“Enggak bray, jujur, aku tidak mempunyai maksud apa – apa sama kamu. Semenjak kejadian sore itu kamu datang dengan mamanya dion, bunda melarang aku untuk bermain ataupun bertemu kamu bray.”


“Terus?”


“Ya gimana ya bray. Aku juga enggak bisa membantah semua perintah dari bunda. Bukannya aku secara tidak langsung menolak cinta dari kamu bray. Aku hanya tidak ingin, jika suatu saat kita pacaran terhalang oleh jarak dan waktu. Aku juga tidak mau kucing – kucingan dengan bunda ku.”


“Emm, baiklah, jika itu mau kamu.”


“Aku harap kamu bisa mengerti dengan apa maksud aku bray.”


“Iya, aku mengerti.” ucap brayen yang terlihat kecewa.


“kita kan sudah dewasa, jadi enggak mungkin kan kita menjalani hubungan dengan cara kucing – kucingan sama orang tua kita. Aku ingin, hubungan yang akan kita jalani itu bisa bebas bray. Supaya kita bisa menjaga satu sama lain bray.


“Jadi kalau aku bisa meyakin kan bunda kamu, kamu mau menerima aku menjadi kekasihmu?” tanya brayen.


Pelangi kemudian hanya menunjukan senyumannya saja.

__ADS_1


“Baiklah, aku tidak akan menyerah, aku akan berusaha meyakinkan bundamu untuk bisa mempercayai aku lagi agar kita menjalin hubungan tanpa harus kucing – kucingan. Karena aku sungguh – sungguh cinta sama kamu ngi. Kamu mau kan menunggu aku untuk berjuang?”


“Pasti. Aku akan menunggu kamu. Aku yakin kamu pasti bisa meyakinkan dan membuat bunda percaya sama kamu lagi.”


“terimakasih ya ngi.”


Di saat brayen mengatakan kalau dirinya akan meyakinkan kia, pelangi langsung menilai kalau Brayen benar – benar mencintai dirinya, sehingga membuat hati pelangi semakin bertambah rasa cintanya kepada brayen.


Beberapa jam kemudian. Pelangi kembali ke kampus lalu pulang ke rumah. Sampai di rumah pelangi masuk ke kamar Kia, ia ingin bertanya kepada kia alasan apa dirinya melarang pelangi untuk berhubungan dengan Brayen.


Tok... tok.. tok..


“Iya masuk.”


“Bunda.”


“Eh pelangi.”


“bun, aku ingin bertanya sesuatu sama bunda.” Ucap pelangi sembari berjalan mendekati Kia yang sedang duduk di depan meja riasnya.


“Pasti pelangi menanyakan lagi soal ayah kandungnya.” Ucap pelangi dari dalam hati.


“ada apa sayang?”


“Bun, pelangi mau tanya sama bunda, kenapa bunda melarang pelangi untuk dekat dengan brayen?”


“Loh memang kenapa?”


“Bun, apa salah brayen? Sampai bunda harus melarang pelangi?”


“Ya, kamu tahu sendiri kan brayen itu kakak sepupunya dion? Lihat dong, dion saja seperti itu, apa lagi keponakannya, bisa jadi dia tidak jauh beda dengan brayen kan?”


“Bun, kenapa sih bunda selalu menilai orang dari luarnya? Kenapa bunda, tidak bisa menilai dari hati atau sisi lain orang yang bunda benci?”


“Pelangi sayang, apa bunda salah, kalau bunda ingin melihat anak – anak bunda mempunyai masa depan yang baik? Bunda melarang kalian untuk berhubungan dengan keluarga dion itu karena mereka keluarga yang tidak baik nak. Tolong dong mengerti dengan bunda. Apa kamu akan sama dengan adikmu?”


“Bun, bunda kan belum tahu, keluarga mereka yang sebenarnya, jadi jangan asal menilai bun. Mungkin pelangi bisa melakukan hal yang sama seperti amel. sebab menurut pelangi, brayen itu tidak salah apa – apa. Jadi bunda tidak bisa melarang – larang pelangi seperti bunda melarang amel.”


“Kamu ini kenapa sih pelangi? pulang dari kampus, langsung masuk ke kamar bunda dan bertanya seperti itu. giliran bunda menjawab pertanyaan kamu, kamu malah marah – marah seperti ini? Ada apa sih sama kamu? Apakah brayen itu sangat penting buat kamu?”


“karena pelangi sudah cukup sabar sama bunda. Pelangi ingin mencari tahu siapa nama dan di mana tempat tinggal ayah kandung pelangi. akan tetapi bunda sama sekali tidak pernah mau memberi tahu pelangi. sekarang, bunda melarang pelangi bermain atau dekat dengan brayen.”


“Sepenting apa sih brayen di mata kamu? Hem?!”


“Bun, aku cinta sama brayen. Aku ingin menjalin hubungan dengan dia bun.”


Di saat kia mendengar Pelangi mengatakan seperti itu, seisi otaknya pun langsung semrawut. Hatinya langsung tidak karuan.


“Apa? Bukannya kamu ini sudah janji sama bunda untuk serius dengan kuliah kamu? Kenapa pikiran kamu jadi berubah seperti ini?”


“Bun, cinta itu datang dengan sendirinya bun. Apa lagi pelangi sudah dewasa, jadi pelangi ingin merasakan yang namanya jatuh cinta bun. Apa lagi, brayen selama ini yang bisa membuat pelangi nyaman bun. Pelangi cinta sama dia bun. Jadi pelangi mohon jangan larang pelangi untuk bertemu dia bun.”


“Pelangi! kamu ini! Cinta kamu bilang?! Kamu ini cuman cinta monyet pelangi! bunda mohon ya nak sama kamu, jauhkan perasaan itu sejauh mungkin. Bunda mohon.”


“Bun, maafkan pelangi. pelangi tidak bisa membohongi perasaan pelangi. pelangi cinta dan sayang sama brayen bun.” Ucap pelangi yang kemudian ia berjalan menuju ke kamarnya.


“Jangan nak, bunda mohon, hapus rasa cinta itu di hati kamu sayang bunda mohon.” Teriak Kia sambil mengejar pelangi yang pergi berjalan meninggalkan Kia.


Pelangi pun kemudian menangis didalam kamar. Ia tidak menyangka kalau bunda Kia saat ini sifatnya sangat berbeda dengan yang dulu. Menurut pelangi bunda Kia sudah keterlaluan. Sebab Kia sudah memilih – milih teman untuk ke dua anak – anaknya itu.


“Kenapa sih bunda jahat. Kenapa bunda melarangku untuk dekat dengan brayen. Sedangkan aku suka sama dia. Kenapa, kenapa? Hisk... hisk.. hisk...


**


Sementara itu Kia di kamar hanya mondar – mandir, bingung karena harus memberikan pengertian atau berbohong kepada pelangi lagi. Sementara itu pelangi sudah berani terus terang dengan ibundanya kalau ia sudah menyukai laki – laki yang dia rasa orang itu baik kepada dirinya. Kia tidak bisa menerima dengan apa yang telah Pelangi katakan tadi. Di pikirannya dia, dirinya tidak mau adik kakak bisa saling mencintai.


“Pelangi cinta sama brayen? Astaga! Kok bisa coba. Padahal mereka itu adik kakak. Aku enggak mau kalau pelangi beneran cinta sama adik tirinya. Bagaimana caranya aku harus bisa memisahkan mereka berdua. Ini enggak bisa di biarin, ini enggak bisa aku biarin. Aku harus cepat melakukan sesuatu untuk menjauhi mereka berdua. Apa aku kasih tahu ke pelangi saja ya yang sebenarnya? Ah... enggak, enggak. Pokoknya enggak boleh, aku enggak mau pelangi tahu siapa nama ayah kandungnya. Dan aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka berdua. Harus.. pokoknya aku harus bisa.”Gumam Kia dari dalam hatinya dengan wajah yang begitu sangat bingung karena harus memikirkan cara untuk memisahkan brayen dengan pelangi.


 


Bersambung....

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2