Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Ke rumah sakit


__ADS_3

Usia kehamilan Kia kini memasuki bukan ke delapan. Cleo hampir setiap seminggu dua kali selalu bermain di rumah Kia. Ia sudah tidak sabar ingin melihat kelahiran anak Kia.


Setiah hari juga Cleo selalu membawakan barang barang keperluan bayi. Ia lah yang menyiapkan semuanya untuk calon bayi Kia.


Di sisi lain. Kia tidak mau terlalu merepotkan Cleo karena ia tidak ingin berhutang budi degannya.


Tin..


Suara klakson mobil terdengar dari pintu luar rumah.


"Om Cleo," teriak Bella sambil berlari menghampiri Cleo.


"Mari masuk nak." Kata Nisa.


"Mas Cleo." Ucap Kia.


"Hallo manis." Ujar Cleo sambil memeluk dan membalas sambutan dari Bella.


"Om Cleo bawa apa ini? Wah, banyak banget. Ini pasti untuk adek yang ada didalam perutnya tante Kia ya?" Tanya Bella dengan polosnya.


"Ini ada boneka juga buat Bella yang endut."


"Om Cleo gitu. Bella enggak gendut tahu."


"Terus ini perut apa bola hayo?" Tanya Cleo sambil mencubit santai perut Bella yang gendut.


"Ini bukan perut om, "


"Terus?"


"Tapi bola. Ha .. ha.. ha.."


"Dasar Bella. Sana masuk taruh bonekanya di kamar Bella. Tapi jangan lupa bilang apa nak?"


"Terimakasih om Cleo."


"Iya sama - sama cantik."


Kemudian Cleo masuk dan duduk di ruang tamu.


"Aku buatkan minum ya mas."


"Sudahlah, tidak usah repot repot."

__ADS_1


"Tidak kok mas. Sebentar ya."


Kia berpamit ke dapur untuk membuatkan secangkir teh hangat untuk Cleo. Saat beberapa menit Kia selesai membuatkan teh untuknya lalu mengantarkannya di ruang tamu.


Akan tetapi tiba - tiba terdengar suara cangkir pecah karena terjatuh. Di saat itu Cleo, Nisa, Bella dan juga Sinta berlari menuju dapur. Mereka melihat Kia menahan sakit di perutnya.


Mereka langsung menolong Kia yang hampir terjatuh. Cleo yang tidak tega melihat Kia menahan sakitnya langsung membopong dan di bawakan ke rumah sakit yang tidak jauh dari rumahnya itu.


Terlihat sangat jelas raut wajah Cleo yang saat itu sanggat menghawatirkan kondisi Kia. Sesampai di rumah sakit Cleo langsung berteriak meminta tolong kepada petugas rumah sakit bahwa ia sedang membawa wanita yang sedang hamil dan sangat membutuhkan pertolongan saat itu juga.


"Dokter, suster, scurity."


Scurity yang pertama menghampiri Cleo yang berteriak teriak di UGD.


"Ada apa ya pak?" Tanya scurity itu


"Tolong bantu saya pak. Ini ada wanita hamil yang kesakitan. Dia butuh penanganan. Mana dokternya . Tolong bantu dia suster. Cepat beri dia pertolongan."


Akhirnya dokter, suster dan scurity langsung menolong Kia. Saat itu Kia masih merintih kesakitan merasakan perutnya yang terasa mulas setelah di pindahkan dari mobil ke hospital bad. Saat itu juga dokter memeriksanya.


Cleo berjalan mondar mandir seperti orang yang sedang menghawatirkan sesuatu di depan pintu UGD. Nisa sedang duduk dan juga menghawatirkan kondisi putrinya itu menunggu dokter keluar dari ruang UGD.


Saat itu Sinta sengaja tidak tidak ikut dengan Bella karena peraturan di rumah sakit tidak diperbolehkan untuk membawa anak masuk di kawasan rumah sakit.


"Bagaimana dok dengan anak saya dan cucu saya? Apakah mereka baik - baik saja?" Tanya Nisa dengan penuh rasa kekhawatiran.


"Gimana dokter?" Tanya Cleo.


"Tenang, tenang, ibu Kia tidak apa - apa. Berhubung janinnya terlalu aktir di dalam perut ibu Kia dan ini adalah gejala atau bisa di sebut kontraksi palsu maka semuanya baik - baik saja. Jangan khawatir.


"Alhamdhulillah. Iya terimakasih ya dok." Kata Nisa sambil memegangi tangan donternya karena ia merasa bahagia mendengar jika anak dan cucunya semua baik - baik saja.


Yang terjadi kepada anak dan juga cucunya hanyalah kontraksi palsu yang di alami oleh kebanyakan wanita hamil di masa hamilannya saat akan mendekati kelahiran.


"Terus ibu Kia saat ini gimana ya dok?" Tanya Cleo.


"Ibu Kia saat ini sedang berbaring dan sedang di tangani oleh beberapa suster. Nanti jika sudah membaik boleh pulang."


"Baik dokter. Terimakasih banyak."


"Baik, kalau begitu saya permisi."


"Iya dok, silahkan."

__ADS_1


Dokter itu pergi meninggalkan mereka. Cleo dan Nisa masih menunggu Kia di rumah sakit itu.


"Tante, kalau tante capek lebih baik tante istirahat saja di rumah. Biar saya yang akan menunggu Kia."


"Tapi nak. "


"Saya tidak apa - apa kok tan. "


"Ya sudah tante akan pulang biar nanti om yang ke sini ya."


"Tidak usah tan, nanti jika kia sudah bangun dan di perbolehkan pulang biar saya antar saja kerumah. Tante dan semuannya tidak perlu khawtir."


"Apakah tidak merepotkan mu nak? "


"Tidak tante."


"Ya sudah, kalau begitu tante akan pulang dahulu ya nak."


"Iya tante, hati - hati ya tan di jalan. "


"Iya, tante titip Kia ya nak Cleo."


"Iya tan."


Akhirnya Nisa pulang dengan mengunakan taksi di area rumah sakit itu. Nisa pulang dan memberikan kabar kepada Sinta dan juga Surya. Mereka menanyakan kabar Kia lalu Nisa mejelaskannya bahwa itu hanyalh kontraksi palsu yang umum terjadi kepada kebanyakan ibu - ibu hamil.


Akhirnya merek lega mendengarkan kabar bahwa Kia tidak apa - apa. Satu, dua, tiga, empat, dan lima jam Cleo masih menunggu Kia. Akhirnya doter dan suster memanggil Cleo untuk masuk ke ruangan Kia.


"Mas Cleo."


"Iya aku di sini. Tenanglah."


"Mama mana mas?"


"Tante aku suruh pulang. Karena aku kasihan kepadanya. Tante seperti sudah lelah."


"Gimana perutnya masih sakit?"


"Enggak kok mas, sudah membaik."


"Kamu enggak pulang mas?"


Bersambung...

__ADS_1


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2