
Setelah mendengar cerita dari Pelangi, Kia begitu sangat kaget. Ia juga merasa bersyukur, sebab Pelangi tidak kenapa – kenapa. Dan Pelangi bisa pulang dengan selamat berkat pertolongan Brayen.
“Jadi begitu ceritanya bun, yah. Ya memang ini juga salah Pelangi, soalnya Pelangi nekat untuk mencari jalan tikus. Karena waktu itu pelangi berpikir kalau ingin segera cepat sampai ke rumah. Dan tidak tahunya, pelangi kena jebakan yang di buat oleh preman – preman itu.”
“Lain kali kamu jangan ceroboh seperti ini lagi ya nak. Untung ada teman kamu yang langsung menyelamatkan mu dari preman – preman itu. kalau enggak, entah bagaimana nasipmu ini nak.” Kata Kia sambil membelai rambut Pelangi.
“Iya benar apa yang bunda katakan. Lain kali lebih hati – hati lagi dan jangan nekat ya nak. Ayah dan bunda tidak ingin melihat kamu kenapa – napa. Mengerti?”
“iya ayah, bunda. Ini akan Pelangi jadikan pelajaran. Besok – besok pelangi akan lebih berhati – hati ketika pulang sendiri saat malam hari.”
“sebab nak, di luar sana itu banyak orang jahat. Kita kan tidak tahu, mana orang yang datang dengan niat baik, dan mana orang yang mempunyai niat jahat kepada kita.jadi kamu harus lebih berhati – hati lagi saat sedang di luar sendirian.”
“Iya bun. Maafkan pelangi ya ayah, bunda. Karena Pelangi kalian jadi merasa khawatir.”
“Sudah, kami tidak apa – apa sayang. Kami hanya mencemaskan keadaanmu saja. kamu sudah makan?” tanya Cleo kepada anaknya itu.
“Tadi pelangi di ajak mampir sama Brayen yah untuk makan bakso di pinggir jalan. Dia tahu kalau Pelangi ke dinginan. Karena Pelangi tidak pernah biasa naik motor. Kemudian dia mengajak Pelangi makan supaya Pelangi bisa merasa hangat sedikit.”
“Dia baik sekali ya nak. Besok kamu ajak dia main ke rumah ya nak, untuk makan malam bersama di sini. Bunda ingin mengucapkan terimakasih kepada dia karena dia sudah mau menolong dan membantu kamu.”
“Coba deh besok Pelangi akan ajak dia untuk makan malam di sini bersama – sama.”
“Kalau begitu sekarang kamu cepat bersihkan tubuhmu dan istirahatlah. Bunda sama ayah juga akan istirashat. Ayah sangat mengantuk sekali nak.”
“Iya yah, emm, ayah, bunda sekali lagi maafkan Pelangi ya.”
“Enggak apa – apa sayang. Yang penting itu kamu pulang dengan selamat dan baik – baik saja. udah sana sekarang kamu mandi, selesai mandi kamu beristirahat.”
“Iya bun.” Ucap pelangi sembari berdiri dan dia berjalan menuju ke kamar pribadinya itu.
Di susul oleh Cleo dan Kia. mereka juga berjalan meninggalkan ruang tenggah itu menuju kamar mereka berdua. Sesampainya di kamar, Cleo kemudian merebahkan dirinya, begitu pula di susul oleh Kia yang juga duduk menyandar di bahu ranjangdengan kaki di luruskan di depannya.
“Aku lega kalau Pelangi tidak kenapa – kenapa mas. Awalnya tadi aku bener – bener parno, aku sangat khawatir dan taku kalau sampai Pelangi ke napa – napa. Tapi syukurnya Pelangi tidak apa – apa.”
“Iya, dengerin cerita dari Pelangi tadi aku jadi harus mulai mencari orang supaya bisa membuntuti semua aktifitas Pelangi yang ada di kampusnya. Tapi masih ada ya orang baik seperti Brayen. Dia mau beradu jotos dengan preman – preman itu hanya untuk menolong pelangi, apa lagi pelangi juga di ajak makan olehnya. Ya walaupun di pinggir jalan. Tetapi setelah mendengarkan cerita dari pelangi dia laki – laki yang perhatian.”
“Iya mas. Aku juga berpikir seperti itu.”
“Besok akan aku pikirkan lagi soal mencari orang agar bisa selalu mengawasi Pelangi, dan besok aku akan meminta tolong asisten pribadiku untuk segera mencarinya.”
“Terimakasih ya mas,
“Sama – sama sayang. Sekarang mari kita tidur, ini sudah jam dua belas malam. Kamu beristirahatlah. “
“Iya mas. Emm, mas Cleo, maaf ya, karena Pelangi kamu jadi ikut –ikutan menunggu dia. Harusnya ini adalah waktu kamu untuk beristirahat. Padahal kamu sudah banyak memikirkan masalah dikantor. Maaf ya mas sudah.”
“Kenapa kamu harus meminta maaf kepada ku. Ini semua kan bukan salah kamu sayang. Ini semua itu musibah. Tugas membesarkan dan mendidik anak itu bukan cuman kamu, tapi di sini aku juga harus bisa membesarkan atau mendidik anakku dengan baik. Bukan hanya anak – anakku saya tapi kamu, kamu adalah istriku, aku harus bisa menjadi contoh yang baik buat kalian semua. Jadi tugasku bukan hanya mencari nafkah, tetapi masih banyak tugas – tugas lain yang harus aku lakukan untuk membawa anak – anak dan juga istriku menuju masa depan yang lebih baik. Apa lagi, kewajibanku adalah bisa membahagiakan kalian semua dengan kringat yang aku keluarkan.”
“Kamu memang sangat baik mas. Kamu bukan hanya suami atau ayah dari anak – anakku, tetapi kamu adalah malaikat yang tuhan kirimkan untuk menjaga aku dan juga anak – anakku. Terimakasih atas semua yang kamu berikan kepada kami ya mas.”
“Iya sayang. Semua ini aku lakukan hanya untuk bisa melihat kamu dan juga anak – anak bahagia. Aku sangat mencintai kalian semua. Sekarang kita tidur. Ini sudah malam. Aku selalu mencintaimu sayang.”
“Aku juga cinta kamu mas. Jangan pernah pergi meninggalkan kami.”
“Tidak akan pernah. Eemmuuaaaccchhh.” Ucap Cleo sembari mencium kening istrinya yang sedang ia peluk.
Selesai membersihkan tubuhnya, pelangi kemudian duduk di depan meja belajarnya, ia mengambil handponenya, kemudian dirinya mulai menghidupkan Hpnya itu yang masih terpasang oleh kabel charger.
Setelah hpnya menyala ia kemudian membuka gallery fotonya saat itu. ia lalu mencari – cari file yang telah ia simpan pribadi di hpnya dengan nama “Ospek”. Di sana banyak sekali foto – foto brayen yang sengaja dia curi atau dia foto diam – diam di saat masa ospek itu berlangung.
Dia kemudian melihat salah satu foto yang sangat terlihat jelas wajah Brayen. Ia lalu mengeklik tombol zoom untuk melihat dengan lebih jelas lagi wajah tampan Brayen.
“Gila ya. Ternyata kamu ini baik sekali. Di balik sikap kamu yang cuek dan dingin kepada semua wanita, ternyata kamu orang yang sangat pengertian dan baik hati. Aku tidak menyangka aku bisa seharian bersama kamu. Ia rela memberikan jaket ini kepadaku. Padahal dirinya sendiri tadi juga pasti sangat merasa kedinginan. Tapi... ya sudahlah. Yang terpenting aku sampai rumah denagn selamat semua berkat bantuan dari dia. Aku tidak akan pernah melupakan semua kejadian tadi. Owh, iya.. jadi kebayang melihat wajahnya yang bisa tersenyum. Ternyata dia manis juga ya kalau sedang tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat dan di boncengin oleh dia.” Gumam Pelangi dari dalam hatinya sembari melihat – lihat foto yang ada di Hpnya.
Berhubung waktu sudah sangat malam, Pelangi lalu merebahkan tubuhnya itu. ia tiduran sambil tersenyum – senyum sendiri sedari tadi karena membayangkan wajah Brayen saat tersenyum.
Di sisi lain, Brayen juga sangat begitu senang karena ia bisa dekat dengan Pelangi di saat dirinya menolong pelangi tadi di jalan. Apa lagi dia bisa memboncengkan Pelangi dengan motor besarnya itu. karena kejadian tadi Brayen jadi bisa mengetahui rumah Pelangi. Ia pun tersenyum – senyum sambil duduk di depan rumah lalu memandangi bintang – bintang dengan di temani secangkir kopi hitam membayangkan wajak Pelangi yang begitu sangat cntik dan enak untuk di lihat.
“Dia memang sangat – sangat cantik. Akhirnya aku bisa juga tahu di mana tempat tinggal pelangi. Wajahnya memang sangat terlihat manis sekali. Senyumnya pun bigitu terlihat berseri seperti memancarkan sinar. Ini Pertama kalinya motor ku di duduki oleh wanita cantik seperti Pelangi. Walau pun dia anak orang konglo merat, tapi dia sama sekali tidak sombong dan jijik ketika tadi aku ajak untuk makan bakso di pinggir jalan. Gila ya, rumahnya tadi bak istana yang megah. Apa aku mampu menyatakan cinta untuknya? Tapi... kalau aku menyatakan hati ini kepada dia, apakah dia mau menerima kekuranganku? Apakah dia juga mau menerima keadaanku dengan apa adanya? Ah, aku sangat bodoh. Harusnya aku bisa sadar diri. Lihat saja laki – laki yang sering bersama dengan dirinya itu. mana mungkin Pelangi bakal menerima aku dan mau berpacaran dengan ku. Sedangkan laki – laki yang dekat dengannya itu sangat kaya. Mana mungkin Pelangi mau denganku. Itu semua hanya imajinasiku yang bisa membawaku untuk selalu dekat dengan dirinya.” Ucap Brayen dari dalam hatinya itu.
Brayen merasa ragu, sebab dirinya menyadari kalau Pelangi adalah anak orang kaya. Orang konglomerat, sedangkan Brayen hanyalah laki – laki biasa yang tumbuh dengan keluarga yang sederhana. Memang ibunya sudah mempunyai bisnis sendiri. Namun mereka belum bisa di bilang orang konglomerat. Sedangkan posisi keluarga Brayen bisa di bilang orang mampu kalangan tengah.
Akan tetapi dia dan Dion berbeda, kalau dion masih bisa di bilang anak konglomerat, karena ayah kandung dion adalah seorang CEO yang mempunyai perusahaan di mana – mana. Apa lagi Dion masih mendapatkan haknya yang di berikan oleh Alex kepada anaknya Dion.
**
Keesokan harinya. Seperti biasa mereka di sibukan dengan aktifitas dan kesibukan masing – masing. Nada dering Hp pelangi waktu itu berbunyi. Pelangi mendapatkan Telepon dari Calvin yang mengabarkan kalau dirinya akan jalan menuju rumah Pelangi dan akan menjemput Pelangi di rumah untuk berangkat bersama ke kampus.
“Iya kak, kenapa?”
“Aku jalan sekarang ya.”
“Kemana?”
“Ke rumah kamu lah. Kemarin aku kan sudah bilang sama kamu kalau aku akan menjemput kamu berangkat kuliah. Kita berangkat bersama – sama.”
“Astaga kak. Aku lupa kalau kita janjian.”
“Hu.. u... u... ya sudah kamu siap – siap ya cantik.”
__ADS_1
“Oke deh kak. Aku siap – siap sekarang. Hati – hati ya kak Calvin.”
“Iya cantik. Bye.. bye..”
Telepon itu seketika Calvin matikan. Calvin kemudian mengambil tas kuliahnya dan langsung berjalan menuju garasi mobilnya. Ia lalu menghidupkan mesin mobil. Dirinnya mengemudi dengan begitu senang karena Pelangi mau di jemput atau mau di ajak untuk berangkat kuliah bersama Calvin.
Tak lama Calvin sampai di rumah Pelangi. Ia kemudian turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah Pelangi. Di sana ia di sambut baik oleh Kia dan juga riri.
“Misi tante. Selamat Pagi.” Ucap Clvin sambil bersalaman atau berjabat tangan kepada Riri dan juga Kia
“Pagi juga.” Jawab Kia kepada Calvin.
“Owh, kamu yang namanya nak Calvin yang sering Pelangi ceritakan ke oma?”
“Iya oma. Saya Calvin kakak angatan Pelangi di kampus.”
“Sebentar ya nak Pelangi sedang siap – siap di kamarnya.”
“Baik tante.”
“Silahkan duduk dulu nak. Kamu sudah sarapan belum?” Kata Kia mempersilahkan Calvin untuk duduk sembari menunggu Pelangi keluar dari kamarnya.
“Iya tante. Terimakasih.” Ucap Calvin sembari duduk di ruang tamu.
Tak lama ia duduk di ruang tamu itu. Pelangi langsung keluar dan turun dari kamarnya. ia kemudian berpamitan kepada Riri dan juga Kia untuk berangkat ke kampus. Di saat dirinya akan pergi dan keluar dari pintu rumahnya, Cleo juga saat itu berpamitan kalau dirinya akan berangkat kerja kepada ibu dan juga kepada istrinya. Ia kemudian melihat Calvin yang yang sedang menjemput Pelangi untuk berangkat kuliah bersama.
“bunda, nenek, pelangi berangkat kuliah dulu ya.”
“Loh kamu tidak sarapan dulu? Ajak temanmu ini sarapan nak.”
“Sudah tante terimakasih banyak, saya juga tadi sebelum berangkat menjemput pelangi sudah sarapan dulu kok tan.”
“iya bun, lagian ini juga sudah siang. Pelangi takut kalau kami terlambat berangkat dan masuk kelas bun.”
“Ya sudah. Ya sudah. Kalau begitu kalian hati – hati di jalan ya.” Ucap Kia
“Iya bun.
“Baik tan. Kami pamit dulu ya tan.”
“iya. Iya nak.”
“Pelangi ayah juga mau berangkat kerja.”
“owh ayah belum pergi dari tadi? “
“Iya om. “
“Loh ini teman kamu nak?”
“Iya yah, dia ini kakak kelas Pelangi.”
“Owh. “
“Iya om.”
“Kalau begitu sekarang kita berangkat yuk.”
“Yuk yah. Da.. bunda, da.. nenek. Da.. da.. Pelangi. Hati – hati di jalan ya.”
“Hati – hati di jalan ya mas.”
“Iya sayang. Aku berangkat.”
Tin...
Mereka pun kemudian pergi dengan tujuannya masing – masing.
“Bunda kamu baik banget ya.” Kata Calvin.
“Iya kak.” Ucap Pelangi
“Aku tadi melihat bunda kamu merasa mama ku ada di dekatku.”
“Loh memang mama kak Calvin ke mana?”
“Dia sibuk mengurus pekerjaannya dan juga papaku, sama sekali tidak pernah ada waktu luang untuk anaknya.”
“sabar kak, semua yang orang tua kakak lakukan juga demi kakak. Supaya kakak bisa hidup dengan baik. Ya contohnya sekarang. Kakak sudah bisa rasakan kan?”
“Maksud kamu ngi?”
“Coba kakak pikirkan baik – baik, kakak bisa naik mobil semewah ini dari mana kalau bukan dari kerja keras kedua orang tua kak calvin. Terus kakak juga bisa kuliah di kampus ini dengan fasilitas yang baik yang di berikan oleh kedua orang tua kakak.”
“Iya sih. Tapi terkadang aku juga suka kesepian.”
“Maksud kak cavin kesepian?”
“ya aku merasa kalau di rumah itu suka ke sepian, makan cuman sendiri, terus di rumah enggak ada orang. Yah, pokoknya gitu deh.”
__ADS_1
“Ya sudah kakak yang sabar ya, yang penting kak Calvin doain terus tuh ke dua orang tua kakak, biar selalu sehat.”
“Iya ngi.”
Sesampai di kampus, Pelangi dan Calvin turun dari mobil. Terlihat Brayen dari belakang mobil Calvin yang sudah terpakirkan. Brayen juga baru saja menyenandarkan motor gede nya. Ia juga melihat Calvin dan juga Pelangi. Saat itu pelangi ingin memanggil dan mengajak masuk ke kampus bersama – sama. Namun, pelangi merasa tidak enak dengan Calvin sehingga Pelangi dan Brayen hanya bisa saling lihat melihat. Dan mereka kemudian berjalan masuk ke kampus.
Mata kuliah pagi saat itu sudah di mulai, kursi pelangi berada di samping kursi cici. Dari arah samping Brayen mulai mencuri – curi pandangannya kepada Pelangi saat dosen sedang menjelaskan di depan. Dirinya melihat Pelangi sambil memainkan bulpoin.
Karena Pelangi merasa seperti ada yang sedang memperhatikan dirinya, ia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia melihat Brayen sedang memperhatikan dirinya, akan tetapi setelah Pelangi melihat ke arah Brayen, Brayen justru menjadi salah tingkah. Ia kemudian mengalihkan tatapannya ke dosen yang sedang menjelaskan di depan. Pelangi kemudian hanya tersenyum senyum melihat Brayen yang mencuri – curi pandang.
Beberapa jam kemudian mata kuliah berakhir, seperti biasanya. Pelangi dan juga Cici, selalu pergi ke kantin setiap selesai kuliah. Merekan mencari makanan dan minuman supaya pikirannya menjadi sedikit fress. Di sana Pelangi menceritakan kepada cici tentang yang terjadi malam itu setelah pulang dari kerja kelompok.
“Cik, gue mau cerita nih sama lo.”
“Iya udah tinggal cerita aja kali Ngi, kayak biasanya.”
“Tadi malem aku dapet musibah.”
Uhuk.. uhuk.. uhuk.. ( suara batuk Cici yang saat itu dirinya sedang menyeruput minumannya )
“Apa? Lo kenapa beb. Lo kenapa?” tanya Cici sambil menggoyang – goyangkan bahu pelangi.
“Hhusst.. makannya gue mau cerita sama lo. Lo sekarang diem dan dengerin apa yang akan gue ceritaain.
Cici kemudian hanya mengangguk anggukkan kepalanya. Pelangi menceritakan awal mulanya dia bisa berada di jalan yang sepi dan dia terperangkap dalam jebakan yang di buat oleh preman itu. lalu dia menceritakan bagaimana saat ketakutan itu datang tanpa ada pertolongan dari satu orang pun. Pelangi masih melnjutkan ceritanya yang hingga akhirnya dia mengucapkan atau menceritakan tentang Brayen yang datang untuk menolong dirinya. Sontak Cici yang awalnya terpelonggo dan diam mendengarkan cerita dari pelangi itu langsung berdiri lalu berteriak menyebut nama Braye.
“What Brayen?” teriak Cici.
Semua orang yang sedang berada di kantin itu langsung melihat ke arah cici karena Cici berteriak begitu kencang menyebut nama Brayen. Pelangi langsung menutup mulut Cici dengan tangannya sambil clingak clinguk kemudian mengatakan maaf kepada orang orang yang melihat cici saat ada di kantin waktu itu.
“Maaf, maaf ya. Teman saya ini gila. Jadi maaf ya.” Ucap Pelangi.
Kemudian Pelangi membisiki cici sembari tangannya yang masih membungkam mulut sahabatnya itu.
“Lo ngapain teriak. Bikin malu gue aja.” Ucap Pelangi membisiki telinga Cici.
Eeemmmmhh... eemmmmhhh..
Pelangi lalu melepaskan tangannya yang membungkam mulut Cici tadi.
“Gila lo Ngi, mau bunuh gue lo. Mbungkem mulut gue lama banget.”
“Habis lo teriak sih. Bikin gue malu aja.”
“Ya gue kaget aja Ngi, kok bisa tiba – tiba Brayen datang terus menolong kamu. Haduh...”
“Makannya lo diem, ini gue masih mau melanjutkan ceritanya lagi.”
“Terus – terus gimana? Brayen cool banget sih sumpah. Dia berani melawan dua preman itu. Uuuhh, mesti keren gitu ya. Gue jadi bayangin.”
“Uh, lo tuh ya. Huft.”
Cici hanya membalas Pelangi dengan senyumannya.
“mau gue terusin gak ceritanya?”
“Iya, iya, iya dong ceritain lagi gimana. gue janji gue bakal diem nih.”
Pelangi lalu melanjutkan menceritakan kejadian tadi malam saat brayen mengantarkan dirinya pulang ke rumah.
“Ternyata ya Ngi, di balik sikapnya yang cuek dan dingin saat di kampus dia ternyata baik juga ya. Ngak nyangka gue kalau dia ternyata baik banget.”
“Iya, makannya gue cerita sama lo. Gue juga enggak nyangka Brayen ternyata baik banget orangnya.”
“Iya ya ngi.”
Ketika mereka sedang membicarakan Brayen, tiba – tiba terlihat Brayen melintas di hadapan mereka. Brayen ke kantin untuk mencari minum.
“Hhuusstt, hhuuussstt, noh dia noh. Baru saja kita ngomongin dia. Eh dia nonggol.”
“Iya ya Ci.”
Di saat Brayen melintas di hadapan mereka, Brayen hanya diam saja. ia sengaja tidak mau ngobrol atau mendekati Pelangi. Brayen hanya melintas dan melihatnya saja.
Pelangi menyapa Brayen dengan senyuman, namun Brayen sama sekali tidak membalas senyuman dari Pelangi sedikitmu,
“Gila ya tuh orang. Kapana dia beda banget ya sama tadi malam?”
“Iya ngi, kenapa dia cuek bgt ya. Dia juga sama sekali tidak membalas senyuman dari lo Ngi. “
“Mungkin dia amnesia kali ngi, dia lupa kalau tadi malem sudah menolong lo.”
“Bodo amat lah. Biarin saja. huft.” Ucap Pelangi sambil memanyunkan mulutnya itu.” kata Pelangi sembari membuang muka.
Akan tetapi Pelangi mengingat – ingat pesan dari Kia kalau dirinya di suruh untuk mengajak Brayen makan malam di rumahnya nanti. Kemudian, pelangi beralari menghampiri Brayen. Lalu dirinya menyampaikan sebuah pesan dari bundanya untuk mengundang Brayen datang makan malam di rumah Pelangi.
Bersambung...
⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1