
Persidangan ke tiga sudah sangat dekat. Mereka menyiapkan semua apa yang menjadi hal wajib untuk dibawa ke persidangan itu. Masing - masing sudah mempersiapkan semua bukti yang menurut mereka bukti itu kuat untuk diserahkan kepada majelis hakim.
"Kamu siap Kia untuk menghadapi persidangan besok?" Tanya Cleo.
"Siap tidak siap harus aku hadapi. Semua demi Pelangi putri kecilku."
"Aku akan selalu di belakang kamu dan mendukung semuanya Kia. Jangan putus asa apapun yang terjadi ya. Semua ini pasti akan cepat berakhir dan berlalu. Optimis."
Kemudian Kia hanya terdiam dan tidak berkata - kata. Dia sudah yakin persidangan ke tiga ini akan menjadi persidangan terakhir menurutnya. Sebab dirinya sudah jenuh dan lelah mengahadapi semua ini. Dirinya sudah ingin melanjutkan masa depannya bersama orang - orang yang dia cintai.
Ketakutan, kegelisahan dan juga kecemasan mau tidak mau harus dia hadapinya. Akan tetapi dia bersyukur masih ada Cleo yang selalu mendukung dan membantu di setiap kesulitannya. Karena Cleo dan juga Pelangi hidupnya menjadi lebih kuat.
Malam harinya, seperti biasa membacakan buku cerita untuk Pelangi tidak pernah absen. Sebab Pelangi sebeluk tidur dia harus mendengarkan cerita dari bundanya. Selesai menceritakan dirinya tertidur lelap di pangkuan Kia, kemudian Kia membopong lalu memindahkan Pelangi ke tempat tidurnya.
"Tidurlah yang nyenyak sayang, mimpi indah ya seindah masa depan yang akan kita lalui bersama. Bunda akan terus menjaga kamu dan selalu ada di samping kamu nak. Tumbuhlah menjadi anak yang sholihah dan baik ya sayang. Bunda menyayangimu." Ucap Kia di dalam hatinya sambil mengecup kening Pelangi dan memeluk hangat dengan penuh kasih sayang yang dia berikan.
Mentari pagi kembali menyinari bumi semesta ini. Dinginnya hembusan angin pagi hari meniup di sekeliling sela sela kecil dinding rumah itu. Terbangun dan membuka mata adalah hal yang wajib untuk Kia. Dirinya menyadari aktifitas pagi ini. Dirinya sudah menyiapkan segalanya untuk berangkat ke persidangan. Sebelum ia berangkat, ia melihat putri kecilnya itu. Senyumannya membuat dia menjadi kuat dan optimis dengan pengadilan yang akan dia lakukan hari ini.
__ADS_1
Ia menarik nafas lalu ia kelurkan kemudian berjalan pergi meninggalkan Pelangi. Entah apa yang membuat dirinya saat itu merasa berat untuk pergi meninggalkan putri kecilnya itu. Kakinya pun terasa gemetar seakan tidak ingin berjalan jauh dari Pelangi. Namun, dirinya harus tetap menghadiri persidangan itu. Cleo sudah berjalan menuju ke dalam mobil, dirinya hanya tinggal menunggu Kia masuk ke dalam mobil itu. Sesampai di depan pintu mobil saat sudah hampir menelapakan kakinya di karpet dalam mobil ia kembali melihat Pelangi yang smasih berdiri di depan rumah, Kia kembali berlari untuk memeluk putrinya itu.
“Loh bunda kenapa kembali ke sini? Bunda tidak jadi pergi?”
“Pelangi sayang, bunda sangat menyayangimu, bunda tidak ingin kehilanganmu.”
“Pelangi kan masih ada di sini bun. Bunda tidak perlu khawatir, nanti di saat bunda sudah pulang pasti Pelangi menyambut kedatangan bunda.”
“Pelangi janji ya. Bunda tidak bisa sedetik pun kehilangan pandangan ini untuk melihat putri kecil bunda yang sangat cantik ini.”
“Iya bunda.”
Saat itu Kia berdiri dan melanjutkan langkah kakinya sebab waktu sudah mendekati jalannya persidangan yang akan dia hadapi.
“Ada apa sayang?”
Pelangi pun berlari menyusul Kia yang akan naik mobil itu.
“Pelangi ingin mencium bunda. Eeemmmuuuaaaccchhh... Bunda harus semangat ya.”
Ciuman itu membuat hati Kia semakin terenyuh melihat kepolosan yang di berikan oleh anak sekecil Pelangi. Di dalam perjalanan menuju kantor pengadilan Kia hanya terdiam. Dirinya sama sekali tidak mengatakan apa pun kepada Cleo.
“Kia, apakah kamu baik – baik saja?”
“Hemm, iya mas, aku baik – baik saja.”
“Tapi kenapa wajah kamu tidak seperti kemarin? Kemarin kamu terlihat sangat bersemangat sekali. Apa ada yang mempengaruhi pikiranmu itu saat ini? Coba ceritakan padaku.”
__ADS_1
“Sebenarnya aku tidak tahu mas. Entah kenapa di persidangan kali ini aku seperti berat sekali untuk meninggalkan Pelangi. Hati aku hanya ingin bersamanya.”
“Itu karena Ketakutanmu itu sudah menutupi semua kegigihan kamu. Coba sekarang kamu berpikir tenang, lalu tarik nafas perlahan lahan, kemudian keluarkan. Ingat apa yang akan kita hadapi, kita harus bisa optimis dengan semua alangan atau rintangan yang ada di depan kita.”
Sementara Kia melakukan apa yang di perintah oleh Cleo. Dirinya sudah mulai sedikit lega setelah apa yang Cleo katakan tadi.
“Bagaimana, sudah agak mendingan?”
“Iya mas, sudah sedikit tenang.”
“Ingat ya sayang, sebentar lagi kita akan samapai di pengadilan. Jadi kamu harus bisa mengolah semua yang ada di pikiran kamu. Dan mengontrol apa yang menjadi beban dalam hati kamu. Semua ada di tanganmu. Lakukan yang terbaik untuk masa depan kamu dan Pelangi.”
“Iya mas. Aku pasti bisa.”
Sampailah mereka di gedung pengadilan, lalu mereka memarkirkan kendaraannya dan keluar kemudian mereka berjalan menuju ruang persidangan. Tepat di depan ruang persidangan terlihat beberapa pengacara Kia sedang menunggu mereka. Lalu mereka masuk ke ruang persidangan dan duduk dengan pengacaranya itu.
Sebelum persidangan itu berlangsung, Akbar mendekati Cleo. Ia mengatakan sesuatu dengan lirih namun mengancam.
“Akhirnya kalian datang juga.”
Cleo hanya teriam dan tidak menjawab apa yang di katakan Akbar. Ia berdiri sembari tanganya di masukan ke dalam saku celana samping.
“Persidangan ke tiga ini pasti akan menjadi persidangan terakhir untuk kita. Dan hak asuh Pelangi pasti akan jatuh ke tanganku. Ingat kalian akan kalah dalam persidangan kali ini.”
“Tidak perlu banyak omong. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Hak asuh Pelangi akan jatuh kepada kamu atau Kia. Tapi aku pastikan semua akan berpihak kepada orang yang mempunyai sifat baik. Bukan orang jahat seperti kamu!” Balas Cleo lalu berjalan masuk meninggalkan Akbar.
“Sombong sekali dia. Dia tidak tahu apa yang telah aku persiapkan untuk persidangan ini. Lihat saja, aku sangat yakin majelis hakim akan berpihak kepadaku.” Ucapnya dari dalam hati sambil melihat Cleo yang sedang berjalan membelakangi dirinya itu.
Akhirnya persidangan ke tiga sudah di mulai. Kedua belah pihak semua sudah menyiapkan apa yang menjadi bukti kuat dalam persidangan ke tiga ini. Begitu pula dengan Akbar yang sudah membayar beberapa orang untuk mencerikakan kebohongan supaya majelis hakim bisa mempercayai bukti – bukti yang di siapkan oleh Akbar itu. Ia juga memberikan beberapa rekaman yang nantinya akan menjadi salah satu bukti kuat dirinya menghadapi Kia.
Nampak terlihat Kia sudah siap untuk melakukan persidangan ke tiga kali ini. Kia yakin kali ini pasti semua akan usai dan dirinya yakin majelis hakim akan mengetok palunya untuk memutuskan atas hak asuh anak jatuh kepada Kia.
Di dalam terlihat semua orang yang hadir berwajah gelisah, mereka menginginkan yang terbaik untuk kedua belah pihak. Tak lama semua yang hadir di harapkan untuk segera memasuki ruangan persidangan itu. Lalu mereka duduk dan menyiapkan diri masing – masing. Kemudian beberapa menit majelis hakim beserta semua petugas di persidangan itu duduk di tempatnya masing – masing.
__ADS_1
Bersambung..
❇️❇️❇️❇️❇️