
“Loh kenapa?”
“Saat itu aku berpikir, untuk apa aku panjang lebar dan susah payah menjelaskan kepada mereka tentang kehamilan dan anak yang saat itu aku kandung. Sedangkan mereka sama sekali tidak mempercayaiku lagi. Aku jadi buang – buang waktu kan bun, apa lagi saat itu ibu mertuaku benar – benar sangat tidak menyukai ku. Apa yang aku kerjakan selalu saja salah di mata dia.”
“Astaga, ibu macam apa dia. Bisa jadi Akbar itu mau pisah sama kamu karena ibunya juga yang menuntut anaknya untuk cepatmeninggalkan kamu nak.”
“Ya mungkin juga bun, kia tidak bisa berpikir jika mas Cleo tidak ada di samping kia selama ini mungkin aku sudah pasrah dan pergi bunuh diri.”
“Jangan seperti itu nak. Bunuh diri itu adalah sifat yang paling di benci oleh Allah. Apapun masalahnya kita harus pasrahkan semua kepadanya, sebab rejeki, jodoh, dan kematian semua hanya miliknya tinggal kita sebagai perannya bisa atau tidak untuk mewati semua ujian darinya.”
“Iya bun, aku akan selalu mengingat – ingat pesan bunda ini.”
“Terus sekang kabar mantan suami kamu gimana nak?”
“Kia tidak tahu bun, terakhir yang aku tahu itu jika Akbar masih di dalam sel tahanan. Persidangan memperebutkan anak waktu itu memang rencana dari aku dan juga mas Cleo untuk menjebloskan dia ke dalam Penjara, supaya dia jera dengan perbuatannya yang selalu mengusik – usik kehidupan ku bersama Pelangi. Dia juga sudah membuat cukup banyak penderitaan yang aku alami dihidupku ini bun.”
“Kamu, memang wanita yang tangguh, bunda salut sama kamu. Bunda dahulu juga hidup sendirian. Ayah Cleo meninggal saat Cleo masih sangat kecil. Bunda dulu tidak mempunya apa – apa sampai untuk membeli beras saja kami tidak mampu. Semua yang bunda dapat saat ini adalah hasil jeripayah ayah Cleo. Dia yang sudah bersungguh – sungguh membanting tulang. Karena impiannya hanyalah satu yaitu “sukses”. Dia tidak ingin anaknya kelak akan merasakan kerasnya hidup. Hingg akhirnya kami mempertahankan perusahaan yang saat itu di bangun oleh ayah Cleo dari enol. Setelah ayahnya tiada, bunda yang mempertahankan itu semua, karena bunda janji akan terus dan selalu menjaga sebuah amanatnya. Karena itu semua adalah aset untuk Cleo.”
“Tapi aku juga mengakui kalau bunda ternyta hebat juga ya, bunda juga wanita yang kuat. Bisa hidup sendiri dan membesarkan anak sendirian tanpa bantuan orang lain. Apa lagi anak bunda itu sangat pintar dan baik. Aku juga ingin seperti bunda,”
“yah beginilah, namanya kehidupan itu pasti mempunyai roda. Layaknya orang yang sedang mengendarai sepedanya sendiri. Jika pengemudi itu berjalan lurus dia pasti akan berjalan lurus juga, tetapi jika dia dikemudikan dengan berbelok – belok pasti roda itu juga berjalanya akan berberlok. Iya kan nak. Maka dari itu dinamika kehidupan itu selalu berputar, kadang kita di bawah kandang kita di atas.”
“Iya bun seperti kehidupan yang aku jalani, dulu aku di injak – injak harga diriku tetapi sekarang orang yang sudah menginjak – ijak dan membuat aku sengsara mereka sudah kena imbasnya sendiri – sendiri. Dan bukannya aku menyukai atau bahagia dengan penderitaan yang sedang mereka alami, namun aku justru belajar dari apa yang telah terjadi pada hidupku ini.”
“Iya betul nak. Semua yang terjadi itu bukanlah suatu kejadian yang membuat kita rapuh, tetapi semua kejadian atau masalah yang ada itu justru akan membuat kita lebih kokoh untuk menghadapinya. Ya ibarat pohon, semakin ia bertumbuh besar semakin kuat pula angin yang menerpanya, tetapi pohon itu akan semakin kuat dengan akar yang kuat.”
“Iya bun. Tapi bun, bagaimana bunda bisa mengenal tante Ida?”
“Dia itu kan teman kuliah bunda. Dulu kita itu selalu apa – apa bersama. Sampai akhirnya dari kami masing – masing sudah menikah dan memiliki anak ya kita sibuk sendiri – sendiri.”
Obrolan mereka berlanjut sampai mereka tiba di ruamah. Terlihat begitu akrabnya Kia dan juga ibu mertuanya itu. Terlebi Pelangi yang terlihat begitu menyayangi Riri. Rasa syukur kia tak akan pernah bisa di ucapkan karena saat ini ia telah bertemua dan mendapatkan suami atau ibu mertua yang begitu baik kepdanya. Hanya saja dirinya masih selalu takut jika mertuanya akan di pengaruh i oleh tantenya Cleo yang begitu membenci dirinya itu.
Sesampai di rumah Kia bergegas untuk mengurusi semua kebutuhan seisi rumah, ia juga tidak pernah lupa untuk selalu membuatkan susu untuk ibu mertuanya, dan selalu menjadwalkan obat untuk mertua tercintanya. Selesai menyiapkan hidangan untuk makan malam bersama, Kia bergegas untuk membersihkan tubuhnya yang mungkin berbau bawang waktu mask tadi. Ia ingin, ketika suaminya pulang dari kerja, dirinya sudah terlihat cantik di hadapan suami.
malam itu, Cleo pulang ke rumah, kia menyambut kepulangannya dengan menunggu Pelangi yang sedang bermain di ruang tengah bersama Riri. Ya memang bisa di akui, rasa sayang Riri bisa dilihat sangat besar kepada Pelangi. Ia menyayangi Pelangi seperti cucunya sendiri. Dia juga tidak pernah melihat atau memandang Pelangi itu anak orang lain. Dia sangat menyukai anak kecil dan sayang kepada anak - anak.
__ADS_1
“Ayah pulang.” Kata Cleo yang berlari menuju ke arah Pelangi. Sedangkan saat itu Kia sedang membawakan tas kerja milik Cleo dan juga jasnya.
“Ayah.” Ucap Pelangi dan menyambut dengan berlari ke arah Cleo.
Lalu Cleo pun memeluk Pelangi seperti halnya seorang ayah memeluk anak kandungnya sendiri. Pelangi pun sangat manja ketika di peluk atau sedang bersama ayahnya itu. Cleo juga setiap pulang dari pekerjaanya selalu membelikan sesuatu untuk anaknya itu.
“Nih ayah belikan Pelangi boneka berby.”
“Yea yea boneka berbiku baru.”
“bialang apa ke ayah nak?”
“Terima kasih ayah.”
“Sama – sama sayang. Pelangi suka?”
“Suka banget.” Sahut Pelangi dengan polosnya.
“Pelangi, ayahkan baru pulang, biarkan ayah mandi dulu ya.”
“Iya bun.”
“Nak, kamu tahu enggak.”
“Apa bun?”
“Bunda kan tadi siang pergi sama Kia dan juga pelangi untuk membesuk anak teman bunda itu nak.”
“Iya, terus?”
“Terus yang bikin bunda sangat terkejut adalah, ternyata teman bunda itu adalah ibu dari pelakornya nak Kia.”
“maksud bunda gimana sih? Cleo enggak ngerti.”
“Jadi gini loh mas. Ternyata teman bunda itu adalah tante Ida. Tante Ida itu adalah ibu kandung Kayla.”
__ADS_1
“Haa? Kok bisa kebetulan gitu?”
“Iya tante ida itu sahabat dekat bunda saat beliau – beliau ini kuliah.”
“Iya nak,”
“Terus bukannya Kayla itu anak tunggal ya bun?”
“iya nak, betul.”
“terus bunda sama Kia tadi bukannya mau membesuk? Lalu sakit apa Kayla itu?”
“Ternyata Kayla selama ini sedang mengalami penyakit yang cukup serius mas.”
“Serius?”
“iya, dia terkena kanker serviks,”
“Haa? Kok bisa?”
“Iya, tante ida itu cerita ternyata dia berhungan badan atau menjual diriny bukan hanya dengan Alex saja, tetapi ke semua laki – laki hidung belang yang mempunyai namyak duit.”
“Kenapa semua ini bisa kebetulan ya. Terus – terus gimana dia?”
“Ya sekarang dia sedang di rawat di rumah sakit mas, karena dia sudah stadium lanjut.”
“Kasihan juga ya. Yah begitulah. Apa yang mereka tanam, dan itulah yang mereka tuai. Yang terpenting sekang aku hidup bersama orang – orang yang aku cintai. Biarkan mereka merasakan buah dari perbuatannya.”
"kasihan juga sih mas, melihat dia tadi. aku tidak tega jadinya. wajahnya begitu layu mas."
"kamu ini ya, lembut banget hatimu. padahal jelas - jelas mereka sudah banyak menyakiti kamu, tetapi masih saja kamu tidak tega dengan mereka."
Kemudian Kia hanya terdiam dan membalas Cleo dengan sebuah senyuman kecil dan manis. Hati Kia memang sangat lembut, dirinya selalu memikirkan orang -, orang yang sudah jahat kepadanya.
Bersambung...
__ADS_1
❇️❇️❇️❇️❇️