Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Nindi


__ADS_3

"Semuanya sudah selai kok mas, tinggal ini saya akan menata barang barang di depan saja."


"Ya udah mari aku bantu untuk menatanya."


Kia dan Cleo merapikan dan membereskan barang - barangnya. Selesai merapikan mereka pulang ke rumah orang tuanya.


"Emm, Kia. Mungkin aku akan pergi untuk beberapa hari ini. "


"Kamu mau ke mana mas?"


"Aku ada urusan besok di luar kota bersama keluarga ku."


"Sama istri kamu?"


"Ha.. ha.. ha.. Kamu ini."


"Maaf loh ya mas, selama ini kita dekat aku belum tahu setatus mu. Aku takut kalau nanti orang berprasangka buruk lagi tentang kita. Padahal kita hanya teman."


Saat Cleo mendengar Kia berkata teman. Cleo langsung termenung.


"Kia menganggap ku hanya sebagai teman saja. Aku harus mencoba membuka hatinya kembali. Mungkin hatinya memang sudah sangat sakit dengan mantan suaminya itu." ucapnya dari dalam hati dengan menghela napas panjang. ia pun meneruskan percakapannya dengan Kia.


"Aku nih masih lajang tahu. Ya umurku memang sudah hampir kepala empat. Aku belum bisa menemukan wanita yang benar - benar bisa mengisi hatiku saat ini Kia. Alias belum ada yang cocok dengan kriteria ku."


"Kenapa?"


"Kalau kamu juga kenapa?"


"Kalau aku masih trauma mas. Takut di sakiti lagi hatiku. Entah sampai kapan hati ini bisa aku buka kembali."


"Ya sama itu juga jawaban ku. Kebanyakan wanita yang menyukaiku, mereka tidak tulus mencintaiku. Mereka hanya menginginkan hartaku saja."


"Kenapa bisa? Owh, kamu dari keluarga yang berada ya mas?"


"Sudahlah tidak usah di bicarakan. Sekarang kita harus fokus sama masa depan. Bukan begitu?"


"Iya benar."


-----------


"Ibuk, "


"Nindi? Kamu itu kebiasaan ya kalau datang tidak pernah kasih kabar dulu."


Nindi membalas ucapan Dewi hanya dengan senyumannya. Ia mengajak Dewi untuk pergi ke rumah kakak iparnya. Nindi belum tahu yang terjadi mengenai rumah tangganya. Namun, ketik Dewi akan menjelaskan kepada Nindi tentang semuanya. Terdengar suara bel berbunyi. Ia lalu pergi untuk membukakan pintu rumah. Ternyata Ida lah yang datang di rumah Dewi.


Ting.. tong..


"Siapa itu buk?"


"Ibuk juga enggak tahu. Ya udah gih mandi dulu sana. Ibuk, mau nemuin tamunya dulu."


"Iya, Nindi mau ke kamar dulu mau buk."


Kemudian Dewi pergi ke pintu depan rumah untuk menemui tamunya. Terdengar suara ibunya yang menyambut tamu itu melengking di telinga Nindi.


"Ya ampun besan. " Ucapnya sambil berpelukan dan saling cium pipi kanan kiri.


Saat Nindi mendengarkan bahwa ibunya menyambut dengan kata - kata besan yang terlintas di pikiran Nindi adalah orang tua dari kakak iparnya.


"Owh, mama papany kak Kia yang datang sepertinya." Ucapnya dari dalam hati.


Selesai membereskan barang bawaannya di kamar dan mandi. Nindi, langsung turun ke bawah untuk menemui tamu yang datang tadi.


Di dalam hatinya berkata "loh siapa ibu - ibu itu? Sepertinya aku tidak mengenalnya."


"Eh, Nindi, sini kenalin nih. "

__ADS_1


"Nindi." Ucap Nindi mengenalkan dirinya sambil mengajukan tangannya untuk berjabat tangan.


"Owh, ini anak kamu. Cantik loh ya." Ucap Ida dengan menunjuk jarinya ke arah Nindi.


"Makasih tante."


"Iya jeng, dia baru saja wisuda. Sekarang masih cari cari kerjaan."


"Fakultas apa nak?"


"Saya difakuktas hukum tante. Ya sudah saya tinggal dulu ya. Silahkan kalau mau berbincang bincang. "


Nindi pun masih bertanya - tanya di dalam hatinya. Siapa wanita itu yang datang ke rumahnya. Sepertinya sangat akrab denga ibunya. Apa lagi tadi ibunya menyambutnya dengan sebutan besan.


Setelah beberapa jam kemudian Ida pamit pulang. Lalu Nindi mendekati ibunya dan menanyakan siapa waniata tadi.


"Buk, siapa dia tadi? Sepertinya aku tidak mengenalnya."


"Sini ibu ceritakan semuanya."


Saat itulah Dewi menceritakan rumah tangga kakaknya itu kepada Nindi. Saat itu Nindi tidak habis pikir dengan semua yabg terjadi terlebih dia tidak di berikan kabar apapun dari keluarganya. Nindi menyalahkan ibunya karena ia telah mencapuri rumah tangga anaknya. Apalagi dengan keputusan kakaknya yang menurut Nindi semua tidak masuk akal. Saat itu Nindi begitu marah kepad ibu dan juga kakaknya.


"Buk, kenapa bisa sampai seperti ini. Kenapa ibu juga senang mengikut campuri urusan rumah tangga kak Akbar? Kenapa ibuk tega bisa menghancurkan kebahagiaan anak ibuk sendiri. Serius, Nindi tidak habis pikir dengan kejadian semua ini."


"Sudahlah percuma menceritakan semuanya kepada kamu. Kamu itu tidak tahu apa - apa. Sekarang lebih baik kamu istirahat saja!" Pinta Dewi.


"Tapi buk, "


"Ibuk sudah tidak mau terlalu banyak bicara lagi sekarang sama kamu. Ibuk mau ke kamar. Sekarang kamu tidur saja." Ucapnya sambil berdiri dan pergi meninggalkan Nindi.


"Astaga, kenapa semuannya jadi seperti ini. Lalu bagaimana dengan kak Kia. Coba besok aku akan datang ke rumahnya." Kata Nindi dari dalam hati.


Pagi haripun tiba. Nindi akan pergi ke rumah Kia. Ia akan meminta maaf kepada Kia karena sifat ibunya yang terlalu banyak mengikut campuri urusan rumah tangganya.


Ia mendatangi rumah lama Kia. Namun setelah ia tahu rumah itu sudah di jual lalu ia berfikir pasti Kia tinggal di rumah orang tuanya. Nindi pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah orang tua Kia.


Sesampai di sana, Nindi hanya bertemu dengan Sinta. Karena saat itu Nisa dan Surya sedang mengantarkan Bella pergi untuk bimbel.


"Iya, sebentar."


Sintapun menemui Nindi. Ketika ia melihat wajah Nindi, ia pun mengenali bahwa Nindi itu adalah adik dari Akbar.


"Kenapa kamu ke sini? Ada keperluan apa kamu berani beraninya kesini?!" Tanya Sinta dengan raut muka marah.


"Maaf kak, sebelumnya. Saya ke sini ingin bertemu dengan kak Kia. Apakah kak Kia ada?" Ucap Nindi.


"Kenapa kamu mencari dia? Kamu di suruh ibumu untuk mencari Kia lalu akan kalian hina lagi?!"


"Maksud kakak Sinta apa?"


"Sudahlah lebih baik kamu tidak usah berpura pura lagi atau kamu juga berpura - pura tidak tahu dengan perbuatan ibu dan juga kakakmu itu kepada Kia?!"


"Saya hanya ingin bertemu kak Kia kak. "


Tak lama Kia dan Cleo datang ke rumah orang tuanya.


"Nindi?" Kata Kia sambil berjalan.


"Kak Kia." Ucap Nindi sambil terpelonggo melihat perut Kia yang sedang berbadan dua.


"Ada apa ke sini Nin?" Tanya Kia.


"Kak, Nindi ingin bertemu dengan kakak. "


"Iya , silahkan kamu duduk dahulu."


"Usir saja dia dari sini dek! Kakak sudah tidak sudi lagi berurusan dengan keluarga mereka!" Kata Sibta dengan kasar di hadapan Nindi.

__ADS_1


"Sudah kak sabar. Aku tahu siapa Nindi. Jadi kakak tenang saja. Biarkan Nindi berbicara tentang kepentingannya untuk datang ke sini."


"Silahkan kamu duduk dahulu Nin." Pinta Kia.


"Terimakasih kak, " ucap Nindi saat akan duduk.


"Mas mari masuk."


"Iya, iya." Ujar Cleo.


"Jadi ada keperluan apa kamu datang ke sini Nin?


"Emm, kak aku minta maaf sebelumnya. Aku tidak tahu ternyata selama ini rumah tangga kakak hancur karena ibuk? Kedatangan Nindi kemari hanya ingin meminta maaf atas nama keluarga Nindi kak. Terutama ibuk."


"Kenapa baru sekarang minta maafnya?! Sudahlah kamu tidak usa banyak bosa basi. Lebih baik sekarang kamu pergi dan tinggalkan rumah ini."


"Kak, sabar. Tenanglah. Dia tidak bersalah. Kedatangannya kemari juga baik. Ia ingin meminta maaf." Kata Kia sambil memegangi tangan Sinta.


"Terserah kamu saja dik, jangan lama lama ya kamu berada di rumah ini. Aku sudah jijik dengan mereka."


"Sudah kakak sekarang masuk saja ke dalam. Biar Kia yang menemuinya."


"Baiklah. Kakak hanya berpesan jangan kamu dengarkan kata - katanya jika menyakiti hatimu. Ingat kondisimu. Sebentar lagi kamu akan lahiran


"Iya kak."


Lalu Sinta pergi meninggalkan ruang tamu itu dengan raut muka sinis melihat Nindi. Sinta khawatir jika nanti adik Akbar akan berkata yang bukan bukan kepada Kia. Namun, rasa khawatir itu sedikit reda karena Kia masih ditemani oleh Cleo.


"Kak, aku baru mengetahui semuanya ini tadi kak. Aku tidak di beri kabar apapun dari ibuk dan juga mas Akbar. Di pernikahan mas Akbar pun aku juga tidak tahu."


"Apa? Pernikahan?"


"Iya, mas Akbar saat ini sudah menikah dengan wanita pilihan ibuk. Apakah kakak tidak tahu?"


"Sudah atau tidaknya itu sebenarnya sudah bukan menjadi urusanku lagi Nin. Aku sudah cukup untuk menerima goresan yang di buat oleh ibu dan juga kakakmu itu. Wanita itu apakah yang bernama Kayla?"


"Benar kak, dia adalah teman masa kecil kak Akbar. Orang tuanya pun adalah sahabat dari ibukku kak."


"Baiklah. Terimakasih infonya ya."


Saat itulah Kia menceritakan semuanya kepada Nindi. Dan Nindi lebih mempercayai mantan kakak iparnya itu ketimbang ibu kandungnya sendiri. Di saat Kia menceritakan semua yang terjadi Nindi merasa malu kepada Kia dan keluarga Kia atas perbuatan ibunya itu.


"Kedatangan ku kemari sebenarnya aku ingin mengucapkan permintaan maaf atas nama keluarga Nindi kepada kak Kia dan juga keluarga kakak."


"Nindi, aku sebenarnya sudah memaafkan semua perbuatan yang telah ibu dan juga kakakmu lakukan kepadaku. Hanya saja goresan luka di hati ini mungkin tidak akan pernah hilang. Terutama keluargamu sudah tidak menganggap bayi yang aku kandung ini adalah anak dari Akbar. Tetapi itu semua tidak menjadi masalah untukku. Karena sekarang yang akan aku fikirkan adalah kebahagiaan anaku dan juga masa depan kami berdua. Hanya saja aku ingin meminta tolong kepadamu, jika itu juga kamu mau menolong ku Nin. "


"Apa? Mas Abar tidak mau mengakui anaknya sendiri. Dia sudah gila apa ya?!"


"Ya begitulah Nin. Maka dari itu aku ingin meminta tolong kepadamu."


"Minta tolong apa kak? Sebisa mungkin aku akan membantu kak Kia. Aku tahu kak Kia adalah orang baik dan penyabar.


"Tolong bantu aku untuk mengambil beberapa sample untuk tes DNA besok ketika anakku ini sudah lahir.Sampel dapat berupa cairan tubuh atau rambutnya, keduanya membawa DNA sehingga dapat dijadikan bahan uji dokter pernah memberi tahu kepadaku seperti itu Nin. Karena aku ingin membuktikan tuduhan tuduhan yang mereka katakan itu semua tidak benar. Dan aku ingin saat anakku lahir nanti aku akan segera tes DNA. Agar mereka semua tahu bahwa apa yang mereka ucapkan itu tidak benar. Bagaimana Nin. Kamu mau membantuku?"


"Mereka juga tidak menganggap anak yang sedang kakak kandung ini? Keterlaluan. Hanya itu yang kak Kia minta?"


"Iya aku hanya ingin mengambil semple atau apapun yang bisa mendukung untuk di jadikan uji tes DNA."


"Baiklah ka. Aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Aku akan bahagia nanti saat keponakan ku lahir. "


"Sebelumnya terimakasih banyak ya nin."


"Jangan berkata seperti itu kak, ini aku lakukan demi untuk menebus semua kesalahan keluargaku. Walaupun kak Akbar dan kak Kia sudah berpisah. Aku harap tali sirahturohmi kita akan tetap terjaga ya kak."


"Iya Nindi, kakak tahu kamu juga orang baik. Habis ini kamu mau kemana?"


"Berhubung aku sudah tahu semua cerita yang sebearnya aku akan langsung pulang kak. Kak Kia, aku harap kakak mau memberikan kabar kepadaku saat keponakkan ku sudah lahir ya kak."

__ADS_1


Bersambung ..


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2