
Setelah Kia menelfone Sinta, ia pergi ke salah satu swalayan. Ia pergi untuk mencari beberapa makanan. Namun saat ia sedang memilih milih beberapa makanann di swalayan tiba - tiba kepalanya terasa sangat berat dan pusing.
Ia tetap bertahan dengan kondisinya itu dan berjalan pelan pelan sambil berpegangan disisi - sisi rak yang berada di dekatnya itu. Namun, saat ia hampir sampai di kasir untuk membayar beberapa barang yang telah ia ambil, badannya seakan akan sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit di kepalanya itu.
"Ibu tidak apa apa? " Tanya pramuniaga yang membantu Kia.
"Saya sedikit pusing mbak, tolong bantu saya berjalan ke kasir ya mbak." Ucapnya dengan meminta bantuan kepada pramuniaga tersebut.
"Baik buk, pelan pelan ya, saya akan menuntun ibu untuk ke kasir." Ucap pramuniaga tersebut.
Sesampai di kasir Kia membayar semua yang telah ia ambil dan ia berjalan ke arah pintu keluar. Saat ia akan membuka pintu keluar tiba - tiba badannya merasa lemas sekali. Matanya berkunang - kunang, ia seperti sudah benar - benar tidak kuat lagi untuk berjalan.
Namun, ketika badannya yang lemas itu akan terjatuh tiba - tiba ada seseorang yang menyokong dirinya dari bagian belakang tubuhnya.
"Astaga mbak, mari duduk di sana dahulu kalau pusing mbak." Kata seseorang tersebut.
Di tuntunlah Kia berjalan untuk duduk di salah satu tempat yang di sediakan oleh pihak swalayan tersebut.
"Saya ambilkan minum ya mbak." Kata laki laki itu yang telah menolong Kia.
Laki - laki tersebut pergi setelah menuntun Kia berjalan ke arah tempat duduk untuk mencari air mineral yang akan di berikan kepada Kia.
Tak lama ia kembali mendekati Kia dengan membawa sebotol air mineral dan beberapa bungkus roti sobek untuk Kia.
"Minumlah mbak,"
"Terimakasih ya mas. Maaf saya jadi merepotkan."
"Tidak mbak, saya tidak merasa di repotkan. Loh, ini mbak Kia kan?" Kata laki - laki tersebut setelah memberikan minuman itu.
"Iya, mas Cleo." Ucap Kia setengah sadar.
Mereka tanpa sengaja bertemu lagi di swalayan tersebut. Lagi dan lagi Cleo menolong Kia.
"Belum sembuh ya mbak sakitnya."
"Saya hanya sedikit pusing tadi mas."
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja mbak."
"Tidak usah mas, saya tidak apa apa kok. Terimakasih ya mas Cleo sudah membantu saya untuk berjalan ke sini."
"Sama - sama mbak, kebetulan saya tadi mau cari peralatan mandi. Saat saya akan mengambil beberapa makanan saya tiba - tiba melihat mbak Kia seperti akan terjatuh. Makannya saya lari untuk menahan badan mbak Kia .
"Sekali lagi terimakasih ya mas sudah menolongku lagi."
"Yah, namanya saja manusia mbak harus saling tolong menolong."
__ADS_1
"Iya mas,"
"Mbak Kia pakai motor sendiri ke sininya?"
"Iya mas,"
"Nanti biar saya antar pulang saja ya mbak."
"Tidak usah mas, saya takut merepotkan mas Cleo. Insyallah saya kuat mas."
"Serius mbak Kia kuat untuk pulang?"
"Iya mas."
"Saya sebenarnya orang baru di sini mbak. Rumah dinas saya juga tidak jauh dari sini."
"Owh, begitu. Ada tugas di sini ya mas?"
"Iya mbak, kebetulan saya yang mengatur perusahaan milik paman saya disini."
Saat mereka sedang berbicara tiba tiba nada telephone Kia berdering. Ia di telephone oleh Sinta.
"Hallo kak,"
"Dek, kakak beragkat sekarang dari rumah ya."
"Iya, kamu lagi di mana sih dek? Kok brisik banget."
"Aku lagi keluar sebentar kak nyari makanan buat di rumah."
"Owh, ya sudah, kalau begitu kakak jalan sekarang ya."
"Iya kak, hati hati."
Di tutuplah telephone itu oleh Sinta. Setelah menerima telephone dari Sinta, Kia berpamitan kepada Cleo untuk pulang.
"Mas Cleo, berhubung kakak saya mau datang ke rumah, saya pamit ya mas."
"Tapi beneran mbak Kia sudah kuat untuk menyetir motor sendiri?"
"Iya mas, insyallah saya kuat kok mas."
"Sebaiknya, biar saya antar mbak Kia pulang saja.
"Tidak usah mas, saya sudah banyak merepotkan mas Cleo. Kalau begitu saya permisi ya mas."
"Hati hati ya mbak Kia."
__ADS_1
Kia beranjak dari tempat duduknya. Ketika ia sedang berjalan satu langkah untuk meninggalkan tempat duduknya ternyata badannya masih belum kuat dan pusingnya masih belum reda.
Namun, Cleo masih berdiri di dekatnya dan memberikan tawaran untuk megantarkan Kia pulang lagi.
"Tuh kan, saya bilang apa mbak. Sudahlah saya antar mbak Kia pulang ya."
"Tapi mas,"
"Mbak, saya orang baik - baik, jadi jangan khawatir kepada saya. Saya tidak akan macam - macam dengan mbak Kia."
"Bukan begitu mas, saya takut merepotkan mas Cleo lagi."
"Mbak, saya kan sudah bilang, saya tidak merasa di repotkan. Saya antar mbak Kia ke rumah ya. Urusan motor biar nanti saya suruh bawahan saya untuk mengambil dan mengantar ke rumah mbak Kia."
"Baiklah mas, terimakasih ya."
Akhirnya Kia mau di antar pulang oleh Cleo. Kia di tuntun masuk ke dalam mobil Cleo.Di dalam mobil Cleo bertanya tentang hasil lap waktu kia masuk Rumah Sakit.
"Mbak, nanti saya kasih tahu belokan - belokan arah rumah mbak Kia ya."
"Iya mas,
"Nanti di situ ada gang permai nanti belok kekanan ya mas."
"Oke oke. Kemarin hasil lap nya gimana mbak? Dokter mendiaknosa sakit apa kepada mbak Kia?" Tanya Cleo.
"Kemarin hasil lapnya semua baik kok. Tidak ada penyakit serius," jawab Kia.
"Lantas, kenapa mbak Kia kemarin bisa pingsan di tempat parkir?"
"Ternyata saya sedang hamil mas, saya juga baru tahu saat mas Cleo membawa saya ke Rumah sakit kemarin."
"Loh, kok bisa mbak Kia tidak menyadari bahwa sedang hamil?
"Mungkin karena sedang banyak fikiran mas jadi saya tidak berfikir sampai situ."
"Ya sekarangkan mbak Kia sudah tahu kalau sedang berbadan dua, jangan kecapekan dan banyak pikiran mbak. Nanti kasihan janinnya loh. Tapi kemarin tidak ada masalahkan mbak?"
"Alhamdhulillah mas, tidak ada masalah apa apa. Hanya memang faktor kehamilan pertama saja."
"Owh, anak pertama ya mbak."
"Iya mas," ucap kia sambil tersenyum.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1