Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kritis lagi


__ADS_3

Kritis.


Rasa kehilangan, khawatir, cemas, dan sedih, pasti di rasakan oleh semua keluarga yang akan kehilang orang terdekatnya. Begitu pula yang di alami oleh Ida yang sebentar lagi akan di tinggal oleh putri semata wayangnya itu untuk selama lamanya.


Berat rasanya hati ini, ketika melihat anak satu – satunya yang begitu sangat ia cintai harus merasakan susahnya melewati masa kritis dan rasa sakit yang sedang di alami. Ida kembali melangkahkan kakinya untuk mondar mandir di depan ruang ICU, ruangan itu sudah sering kali ia datangi untuk menemani Kayla memperjuangkan hidup dan matinya.


Ida juga menelpon semua orang yang pernah di buat sakit hati oleh Kayla selma putrinya itu masih sehat. Ia mempunya firasat kalau ini adalah hari terakhir untuk Kayla bisa melihat dunia. Sebab sebelum Kayla kritis ia berpesan kepada ibunya untuk menelpon beberapa orang yang ia sebutkan. Ia juga pamit kepada Ida kalau dirinya sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit yang selama ini dideritanya itu.


Berulang – ulang kali Kayla meminta untuk di peluk oleh Ida. Dan berulang – ulang kali juga Kayla meminta kepada Ida untuk tidak meninggalkannya walau hanya sebentar saja. Permintaan Kayla saat sebelum menjelang ajalnya, ia sungguh – sungguh tidak bisa lepas dari Ida , ibu kandungnya itu. kata yang selalu ia ucapkan yaitu “Mah, Kayla ingin selalu berada di dekat mama. Mama jangan ke mana – mana ya. Kayla mohon.”. ida juga tidak bisa menolak semua permintaan anaknya , selama beberapa hari Ida hanya selalu di samping Kayla. ia tidak pernah pergi ke mana – mana.


Ida hanya bisa menangis melihat tubuh anaknya yang banyak dipasang kabel dan selang – selang. Detak jantung Kayla semakin lama semakin melemah, denyut nadinya pun semakin lama juga semakin berdenyut pelan. Dokter memberikan kabar kepada Ida bahwa Kayla sudah sangat melemah, dokter juga meminta kepada pihak keluarga untuk mendatangkan sanak saudaranya di waktu – waktu terakhir nya.


Beberapa menit berlalu, Akbar datang dan menanyakan keadaan Kayla waktu itu.


“Tante gimana Kayla?”


Ida yang saat itu sedang duduk dan menundukan kepalanya dengan air mata yang membanjiri pipinya itu langsung beranjak dan melihat ke arah Akbar.


“Hisk.. hisk.. hisk... Kayla semakin melemah nak. Tante tidak kuat melihat keadaannya yang seperti ini. Dokter tadi mengatakan kalau kita hanya bisa membantu Kayla hanya dengan Doa saja. dokter sudah menyerah untuk menangani Kayla.”


“Apa tan? Aku akan hubungi ibuk. Agar ibuk ke sini.”


“Iya nak, tante sudah tidak bisa berpikir lagi sekarang nak.”


Kemudian Akbar langsung menghubungi Dewi untuk memberikan kabar kalau Kayla saat itu sudah benar – benar Kritis.


“Hallo ibuk,” ucap Akbar di telepon.


“Iya ada apa nak?”


“Buk, sekarang ibuk cepetan datang ke rumah sakit. Kayla sudah sangat kritis.”


“Apa? Iya, iya, ibuk akan segera ke sana.”


“Kasihan tante Ida buk dari tadi hanya menanggis saja.”


“Iya, iya, kalau begitu ibuk akan siap – siap sekarang.”


“ibuk hati – hati ya.”


“Iya sayang.”


Tot.. tot.. tot..


Lalu sanak saudara Ida juga sudah terlihat banyak yang datang di rumah sakit. Mereka juga banyak yang mendoakan Kayla di rumah sakit. Ida terlihat tak henti – hentinya mengeluarkan air matanya yang sudah banyak menetes membasahi pipinya.


Ida berjalan meninggalkan ruang ICU itu, ia sengaja ingin menyendiri di kamar inap Kayla. Dia mengambil kotak musik kecil pemberian dari Rara kala itu yang selalu Kayla mainkan setiap hari untuk menemani dirinya. Di kamar yang sunyi dan gelap karena lampu kamar sengaja tidak Ida hidupkan, ia memegang dan kemudian menghidupkannya sambil memandangi foto Kayla yang ada di hpnya itu dan menangis mengingat ingat anaknya.


“sayang, mama tahu, kamu pasti akan bahagia di sana nanti. Jika semua ini yang terbaik untukmu agar kamu tidak lagi merasakan sakitnya jarum yang menempel di tubuhmu ini, pergi lah. Bahagia lah kamu di Surga nanti. Mama tahu kamu masih ada di sekeliling mama saat ini, walau tubuh kamu saat ini sedang berbaring di ruang ICU. Mama tahu kamu pasti sedang melihat mama memainkan kotak musik kesayangan kamu ini. Mama sangat menyayangi kamu sayang. Tidurlah yang nyenyak. Sudah cukup kamu menderita selama ini. Mama akan mencoba Ikhlas dengan kepergianmu. Terimakasih karena kamu sudah setia menemani mama dan menjadi anak yang baik untuk mama. Tunggu mama nanti di sana ya nak. Hisk.. hisk.. hisk.. mama pasti akan merindukan sikap kamu yang selalu manja kepada mama, mama juga akan merindukan senyuman manismu, apalagi canda tawamu bersama mama. Mama akan berdoa supaya Tuhan akan mengampuni semua dosa - dosa kamu sayang. Sekali lagi terimakasih buah hati kecil mama. ” Ucap Ida sendirian di dalam kamar sambil memandangi foto putrinya itu.


Tak lama ia menelpon Kia, karena ia belum memberikan kabar kepada Kia kalau Kayla saat ini sedang kritis.


**


Waktu itu Kia memang sengaja akan pergi ke Rumah sakit bersama Cleo setelah menyuapi Pelangi. Namun Hpnya tiba – tiba berdering, ia melihat panggilan masuk dari Ida. Ia kemudian mengangkat telepon itu.


“Hallo tante Ida.”

__ADS_1


“Hallo nak Kia,”


“Kenapa tan? Ada apa?”


“Hisk.. hisk.. hisk.. Nak Kia..”


“Iya, kenapa tante menangis? Kayla kenapa tan?”


“Kayla sekarang di pindah ke ruang ICU, hisk.. hisk.. hisk..”


“Apa? Ini juga aku sama mas Cleo mau ke rumah sakit tan.”


“Hisk.. hisk.. hisk.. Segeralah kemari ya nak. Tante sudah tidak bisa berpikir apa apa lagi sekarang.”


“Iya tante. Tante yang tenang ya. Jangan sedih. Doakan terus Kayla supaya dia bisa melewati masa kritisnya lagi. Ini aku akan ke rumah sakit sekarang. Nanti aku juga akan mengajak bunda.”


“Iya nak, terima kasih.”


Tot.. tot.. tot..


Di matikanlah telepon itu oleh Kia, kemudian Cleo bertanya kepada Kia setelah Kia mematikan  Telepon itu.


“Kenapa sayang? Ada apa dengan Kayla?”


“Kayla mas, dia Kritis, sekarang kita ke rumah sakit ya. Pelangi kita antar ke rumah mama saja. Aku akan bilang ke bunda dulu.”


“Iya, biar kita berangkat bersama saja.”


“Iya, aku ke kamar bunda dulu ya mas.”


“Iya, iya.” Ucap Cleo


“Baik nyonya.”


Kia kemudian pergi ke kamar Riri, ia memberikan kabar kepada Riri kalau Kayla sekarang kritis. Ia mengajak Riri untuk pergi ke rumah sakit melihat kondisi Kayla saat ini. Sebab Riri itu adalah teman Ida. Mereka kemudian pergi mengantarkan Pelangi ke rumah Nisa dan berlanjut ke rumah sakit.


***


Masih dengan cerita di mana Ida yang masih terlihat begitu sangat sedih dengan kondisi anaknya yang Kritis itu. Dirinya juga masih duduk di sofa yang ada di kamar Kayla dengan memainkan kotak musik dan juga memandangi foto – foto Kayla.


Tak lama terdengar ada suara orang yang sedang mengetuk pintu kamar. Salah satu dari keluarganya ada yang berlari untuk memanggil – manggil Ida. Sebab dokter berkata kalau Kayla sadar dari komanya.


Tok.. tok.. tok..


“Iya masuklah.”


“Mbak, ternyata kamu ada di sini. Aku dari tadi mencarimu ke mana – mana.” Ucap salah satu dari saudara Ida itu.


“Memang ada apa?”


“Sekarang cepatlah kamu ke ruang ICU. Kayla..”


“Kenapa dengan Kayla? Aku tahu kamu pasti akan memberikan kabar kepadaku kalau Kayla sudah meninggalkanku kan?” ucap Ida dengan suara yang sangat lirih.


“Bukan itu.” kata saudara Ida yang terengah - engah karena berlarian.


“Lalu apa?” tanya Ida.

__ADS_1


“Kayla sudah membuka matanya dan ingin bertemu dengan kamu,”


“Apa? Kamu serius?”


“Iya, sekarang cepatlah ke ruang ICU, dokter memintaku untuk menjemputmu. Cepat Da,”


“Iya, iya aku akan ke sana.”


Kemudian Ida langsung beranjak dari duduknya dan ia langsung berlari begitu saja meninggalkan sofa itu.


Sesampai di depan ruang ICU, ia kemudian ganti pakaian menggunakan Alat Pelindung Diri, sebab peraturan di rumah sakit itu, keluarga pasien yang akan masuk ke dalam ruang ICU harus steril.


Ida lalu masuk  ke dalam ruang ICU karena ia akan bertemu dengan putrinya dengan membawa kotak musik kecil pemberian Rara. Kayla memang sudah membuka matanya, namun, keadaannya masih sangat lemah. Kayala mengetahui kalau Ida sudah masuk dan berdiri di sampingnya. Banyak kabel – kabel dan selang yang masih menempel di tubuh Kayla waktu itu. Ventilator jamak yang saat itu masih menempel di area pernapasan Kayla. ia kemudian memanggil Ida.


“Mama.” Katanya dengan sangat lirih.


“Iya sayang, mama ada di sini. Mama enggak akan meninggalkan kamu.”


“Aku.. sayang sama mama...” ucapnya dengan begitu sangat lirih.


“Mama juga. Mama sangat menyayangimu. Kamu harus kuat ya nak. Lihat mama bawakan kamu kotak musik kesukaan mu sayang.” Kata Ida yang sedang berdiri di samping Kayla sambil memberikan kotak musik itu kepada anaknya yang terbaring sangat lemah.


Kayla hanya tersenyum menjawab perkataan Ida kemudian menghidupkan kotak musik itu.


“Mah, terimakasih sudah menemani Kayla. terimakasih karena mama sudah menjadi malaikat untuk Kayla. dan terimakasih karena mama sudah susah payah membesarkan, merawat dan juga mendidik Kayla. Kayla sudah tidak kuat lagi mah. Kayla sebentar lagi akan menyusul Rara.” Kata Kayla dengan suara yang sangat lirih dan meneteskan air matanya.


Ida hanya bisa terdiam dan menangis mendengarkan putri kesayangannya mengatakan seperti itu. ia tidak bisa berkata – kata lagi.


“Mah, maafkan Kayla ya selama ini. Maafkan perbuatan Kayla yang sudah banyak membuat mama kecewa.”


“husst.. sayang, jangan berkata seperti itu. Mama yakin, kalau putri kecil mama ini kuat. Mama yakin Kayla bisa melewati semua ini. Kayla kuat ya nak. Hisk.. hisk.. hisk..” kata Ida dengan suara yang menahan tangisannya.


“Mama jangan menangis ya mah. Kayla tidak ingin melihat mama menangis.”


“Enggak sayang mama enggak menangis. Karena Kayla masih berada di dekat mama.” Ucap Ida yang menahan tangisannya, namun air matanya masih terlihat keluar begitu deras.


Berulang – ulang kali Kayla masih memainkan kotak musik itu. Kotak musik itu juga masih berada di atas dada Kayla.


“Mah.” Ucap Kayla.


“Apa sayang?” cakap Ida.


“Mah, setelah Kayla pergi nanti, ada satu lagi permintaan Kayla. Apakah mama mau membantu Kayla?”


“Pasti sayang, ada apa? Apa yang harus mama lakukan untuk membantu kamu nak.”


“Mah, di loker ada sebuah bok kecil di sana ada satu potong kertas surat yang sudah Kayla tulis. Tolong berikan surat itu untuk Akbar ya mah. Kayla mohon.”


“Iya sayang. Nanti mama akan berikan kepada Akbar.”


Kemudian Dokter masuk ke ruang ICU dan meminta Ida untuk keluar dari ruang ICU itu. sebelum Ida keluar dari ruang ICU itu dia mencium putri kecilnya itu.


“Sayang, mama akan keluar, karena dokter meminta mama untuk tidak berlama – lama di dalam sini. Kayla sayang, kamu harus kuat ya. Kamu harus bisa melewati semua ini. Mama yakin Kayla kuat. Kayla kuat ya. Eeeeeeemmmmmuuuuuuaaaaaacccccchhhh... kota musik ini biar mama tinggal di sini, untuk menemani Kayla. Mama.. sayang.. Kayla..”


Kayla hanya membalas dengan senyuman yang terlihat begitu sangat lemah dengan Ventilator yang masih terpasang. Ida pun pergi meninggalkan Kayla dengan mencium kening putrinya itu. 


 

__ADS_1


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2