
Kia sudah mengetahui ternyata selama ini Nindi sudah berbohong kepada dia. Kia tidak memperbolehkan siapapun untuk menemui Pelangi terkecuali keluarganya sendiri. Ia juga berpesan kepada baby sisternya jika suatu saat ada orang yang akan memaksa untuk membawa Pelangi pergi, ia berpesan supaya langsung menghubunginya dan jangan langsung memberikan pelangi padanya.
Bermula ketika Kia mengetahui bahwa Pelangi sudah mengenal Akbar ataupun Dewi, pengawasan terhadap putrinya itu pun akan lebih di perketat lagi. Pelangi selalu Kia titipkan di rumah Nisa sewaktu dirinya pergi bekerja. Ia khawatir apabila Pelangi di rumah hanya dengan baby sisternya, Nindi pasti akan datang ke rumah dan beralasan ingin mengajak Pelangi pergi bermain bersama.
Kia tidak sudi dan tidak mau Pelangi mengenal ayah maupun neneknya karena Kia teringat dengan pertentangan atau hujatan dan tuduh - tuduhan Dewi terhadap dirinya apalagi sewaktu mereka tidak menganggap Pelangi itu cucunya sendiri semasih Kia sedang hamil. Gara - gara mereka juga, Kia di tentang dan di usir dari kampung rumahnya yang dulu oleh warga setempat disaat dirinya sedang hamil tua. Apa yang pernah mereka perbuat tidak akan pernah Kia lupakan semasa hidupnya ini.
Dirinya akan berjuang apapun itu demi untuk menjaga Pelangi sekalipun nyawa yang akan menjadi taruhannya. Di hidupnya kini hanya ada satu orang yaitu Pelangi, sebab putri kecilnya itulah adalah harta satu - satunya yang sangat berharga bagi dirinya. Kia sengaja tidak menberi tahu kan ataupun menanyakan perihal Nindi membawa Pelangi ke rumah ibunya. Ia akan menunggu sampai kapan Nindi akan berterus terang kepada Kia, bahwa dirinya telah membohingi Kia.
Selang beberapa hari Nindi datang ke rumah Kia dan rumah Kia terlihat kosong. Raut wajahnya pun biasa - biasa saja seperti tidak bersalah atau pun gelisah. Ia belum tahu bahwa Kia sudah megetahui dirinya yang sering membawa pulang Pelangi ke rumah Dewi.
Nindi mengira Kia dan Pelangi sedang pergi bersama Cleo. Hari berikutnya ia datang lagi ke rumah Kia. Namun, rumah Kia masih terlihat sepi. Dan hari ke tiga ia datang lagi, rumah Kia masih terlihat sama seperti kemarin. Lalu ia bertanya kepada Kia melalui telephone. Karena Dewi, Akbar, Kayla, dan dirinya sudah sangat merindukan Pelangi. Mereka sudah tidak sabar ingin bermain dan menemui Pelangi. Apa lagi Dewi sangat antusias ingin sekali bertemu dengan Pelangi. Ia seperti kebingungan karena sudah beberapa hari belakangan ini dirinya tidak menyanding atau bertemu dengan cucunya itu.
Di kala Kia sedang bekerja, hanphone miliknya berdering, di lihatlah oleh dirinya. Rupanya Nindi yang menelfone Kia. Di angkatlah telephone itu.
"Iya hallo."
"Kak, sudah beberapa hari ini kenapa rumah sepi? Aku sudah ke sini hampir tiga kali kak."
"Kamu ada urusan apa ke rumah?"
"Ya seperti biasa kak, aku sangat merinduan Pelangi. Aku ingin bermain bersamanya."
"Kamu ingin bermain atau ingin mengajak Pelangi pergi ke rumah ibumu?"
"Maksud kakak?"
Seketika firasatnya mengatakan bahwa Kia sudah mengetahui dirinya yang selalu membawa Pelangi ke rumah ibunya itu.
__ADS_1
"Aku sudah percaya sepenuhnya ya Nin sama kamu. Tetapi mengapa kamu mengecewakan kepercaan itu? Apa maksud kamu?"
"Kak Kia sudah tahu jika aku selalu membawa Pelangi ke rumah ibu?"
"Ya, mulai sekarang dan seterusnya kamu tidak usah lagi datang ke rumah ataupun bertemu dengan Pelangi. Karena aku sudah sangat kecewa kepadamu!"
"Tapi kak, apa aku salah membawa Pelangi kepada ayah kandungnya sendiri? Aku melakukan semua ini karena aku sangat kasiha dengan kak Akbar."
"Apakah kamu juga tidak melihat pengorbanan ku selama ini? Aku sudah susah payah melahirkan Pelangi sendirian sehingga menaruhkan nyawaku? Apa kamu juga belum sadar dengan apa yang pernah ibumu katakan kepadaku saat aku hamil dan itu semua sangat menyakitkan di hati aku Nin?
"Maafkan aku kak Kia. Aku hanya ingin membantu Kakakku bertemu dengan anak kandungnya sendiri."
"Sudahlah. Aku sudah memaafkan mu Nin. Akan tetapi kemarin adalah hari terakhir kalinya kamu bertemu dan membawa Pelangi pergi.
"Apa kak? Kak aku mohon, jangan larang aku bertemu dengan Pelangi. Aku tidak bisa jauh kak dari Pelangi aku sangat menyayanginya."
"Tapi kak."
"Maaf Nin, pekerjaan ku masih banyak. "
Kia kemudian mematikan telephonenya. Lalu ia menelfone Sinta menanyakan kabar Pelangi.
"Hallo kak."
"Kenapa Kia?"
"Pelangi gimana?"
__ADS_1
"Aman, nih dia sedang bermain sama Bella. Tenang saja, di sini aman. Kakak yang akan menghadapi jika ada salah satu keluarga Akbar datang ke sini."
"Baiklah kak, aku akan menyelesaikan pekerjaanku secepatnya supaya aku bisa pulang lebih awal."
"Iya. Fokus sama kerjamu."
"Baik kak. Terimakasih ya kak."
Sebelum Kia menitipkan Pelangi ke Sinta, ia sudah menceritakan semuanya kepada kakak dan juga ke dua orang tuanya. Sebab dirinya menyadari Pelangi akan aman di sana karena ada yang menjaganya.
Selesai menelephone Kia, Nindi kembali pulang dengan raut muka kecewa. Di depan rumah sudah terlihat Dewi yang sedang sangat menanti nantikan kedatangan cucunya itu. Dari arah kejauhan terlihat mobil Nindi yang masuk ke dalam halaman rumah, wajah dewi saat itu terlihat gembira. Akan tetapi setelah melihat Nindi turun dari dalam mobil tanpa Pelangi, raut muka Dewi berubah menjadi kecewa. Karena cucu kesayangannya tidak datang bersama Nindi. Dewi pun menanyakan kepada Nindi.
"Loh, Pelangi mana? Kenapa kamu sendiri? Katanya tadi kamu akan menjemput Pelangi?"
"Ibu, Pelangi sudah tidak akan bisa aku bawa ke rumah lagi. "
"Kenapa? Apakah waita itu sudah pindah tempat tinggal?"
"Bukan itu ibu." Ucap Nindi dengan wajah murung.
"Lalu kenapa? "
" Kak Kia melarang ku untuk menemui Pelangi buk." Kata Nindi sambil menangis.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1