Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Nindi dan Alex


__ADS_3

Hingga Akhirnya Nindi mulai tenang. Sepulang dari rumah sakit, Alex menawarkan kepada Nindi kalau ia akan mengantarkan Nindi pulang ke rumah ibunya. Akan tetapi Nindi menolak tawaran dari Alex. Kemudian ia duduk di depan rumah sakit dengan wajah murungnya.


Lalu Alex bertanya kepada kepada Nindi, alasan apa yang membuat dirinya tidak mau pulang. Kemudian Nindi menanggis di dekapan Alex, Alex memeluk Nindi. Dan Alex menduga kalau Nindi sedang ada masalah dengan keluarganya.


“Aku anterin kamu pulang ya.” Tawaran Alex kepada Nindi.


“Emm, enggak usah. Aku sedang tidak ingin pulang. kalau kamu mau pulang, pulanglah saja dulu."


“Kenapa? Sedang ada masalah ya dengan keluargamu? aku akan menunggu kamu di sini saja."


Nindi hanya terdiam, dan mengusap usap pipinya yang basah itu. karena dia menangis mengingat ibu dan kakaknya pertama kali menampar dirinya itu.


“Kamu sedang ada masalah ya?” tanya Alex lagi.


“Hisk.. Hisk.. Hisk..” Nindi kembali menanggis.


“Loh kenapa kamu justru malah menanggis? Lagi ada masalah ya?”


“Hisk.. hisk.. hisk.. semua ini gara – gara kamu sama wanita murahan itu.”


“Maksud kamu? Kenapa gara – gara aku?”


“kenapa sih kamu harus selingkuh dengan dia? Kamu tahu tidak? Aku sampai sekarang belum bisa melupakan kamu. Aku sungguh sangat cinta sama kamu. Hisk.. hisk.. hisk..”


“Nin, aku tahu, justru itu aku juga minta maaf sama kamu dengan semua kesalahan yang sudah aku perbuat. Aku ingin menjalin hubungan lagi dengan kamu. Tapi aku takut pasti kamu akan menolak ajakanku ini kan?”


Nindi pun menatap wajah Alex dengan mata yang basah. Lalu dirinya menceritakan semua kejadian waktu lalu di rumah Dewi saat Kayla datang ke rumahnya dan memohon – mohon untuk mendapatkan maaf dari Nindi. Nindi terus bercerita apapun kejadian di saat ia telah mencaci maki Kayla dan lain – lainnya. Alex yang mendengarkan cerita Nindi saat itu hanya terdiam.


“ternyata begitu besarnya cinta kamu ke aku. Kalau begitu, dari pada kamu kluntang kluntung di jalanan dan gak jelas gini lebih baik sekarang kamu ikut aku saja. biar mobil kamu di ambil sama Asisten pribadiku. Apakah kamu mau Nin.”


Lalu Nindi menerima semua ajakan Alex, ia berfikir jika dirinya menolak ajakan Alex ia pasti hanya di pingir jalan. Dan dari hati kecilnya sebenarnya dia sangat sangat bahagia karena bisa dekat dengan alex lagi. Karena Nindi mau menerima tawaran dari Alex, Alex pun membawakan koper milik Nindi dan mereka berjalan menuju tempat parkir mobil.


Di saat sampai di depan mobil Alex, Nindi melihat dengan mata terpelongo, ia bertanya kepada Alex mobil yang sekarang ada di hadapannya.


“Ini mobil siapa?”


“salah satu mobil pribadi aku. Ayo sekarang masuk. Koper kamu sudah aku letakan di belakang.”


“Owh, iya. Terimakasih.”


Mereka Pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sakit. Di dalam mobil Nindi begitu kagum melihat kemewahan mobil itu.


“Ini kan mobil mahal, gila bagus banget. Baru kali ini aku bisa naik di mobil yang mahal seperti ini. Aku seperti mimpi. Apakah dia benar – benar orang konglomerat?” gumam Nindi dari dalam hatinya sambil melihat sisi – sisi depan mobil itu.


“Kamu ini kenapa Nin? Kok wajahmu seperti itu?”


“Emm, engak apa – apa.


"Tapi kenapa wajah kamu seperti itu Nin, ceritalah. Ada apa?"


"Sebenarnya sih aku heran sama kamu. Kenapa sih kamu dulu harus bohong sama aku, kalau kamu hanya karyawan biasa. Padahal kamu orang konglomerat. Apa kamu pikir aku cewek matre ya? Sampai kamu harus berbohong sama aku? Dan kamu takut kalau aku akan meminta apa - apa dari kamu?" Tanya Nindi.


"Enggak bukan gitu. Okey aku ceritakan dari awal ya, supaya kamu tidak salah paham sama aku.


Lalu Alex menceritakan semua nya kepada Nindi tentang yang terjadi dengan mantan - mantan pacarnya dulu yang memanfaatkan kekayaan dirinya itu. Mereka di dalam mobil saling bercerita satu sama lain. Hingga akhirnya Nindi melupakan sakit hatinya itu kepada Alex. Nindi juga memahami maksud Alex, berbohong kepada dirinya.


Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di salah satu gedung tinggi, kalau di bilang seperti hotel iya, karena gedung itu tinggi sekali, bertingkat - tingkat. Tetapi itu bukan hotel, bukan mall dan juga bukan rumah susun yang ada di pojok kali - kali gitu.


Mereka kemudian turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam gedung bertingkat itu. Karena Alex tidak mengatakan apapun kepada Nindi, hingga Akhirnya Nindi mempunyai pikiran jelek kepada Alex.


"Kamu mau ngapain ngajak aku ke sini?"


"Hem, sudah ayo ikut aku saja."


"Nggak mau, aku nggak akan mau. Maaf ya aku bukan Kayla yang mau di ajak berhubungan badan dengan mudah. Aku tidak mau menjual harga diri aku.


“Huustt! Kamu ini ngomong apa sih?”


“Kamu sebenarnya punya niat apa sih sama aku? Kenapa kamu ajak aku ke hotel?”

__ADS_1


“Hotel? Ha.. ha.. ha..”


“Kok kamu ketawa?”


“Nindi, Nindi. Siapa yang ajak kamu ke hotel?”


“Teerus ini apa? Bukannya ini hotel ya?”


“Kamu itu lucu banget sih. Ini bukan hotel sayang tapi ini apartemen. Ayo ikuti aku sekarang, biar aku kasih tahu ke kamu tempatnya di mana.”


Dengan wajah yang begitu sangat malu Nindi melanjutkan lakngkah kakinya untuk mengikuti Alex dari belakang. Ia merasa terlalu ***** dan konyol waktu itu. Sebab, apartemen dia mengira hotel.


Sesampai di depan apatemen Alex. Ia membuka pintu dan menyuruh Nindi masuk di dalam. Dengan ragu Nindi pun masuk ke dalam dan melihat – lihat di sekeliling sudut ruangan itu. kemudian Alex memberikan sebuah kunci apartemen pribadinya itu kepada Nindi.


“Nih, kamu pakai dulu. Sampai kamu bosan. Tinggal saja di sini. Semua fasilitas di sini aman dan nyaman. Jadi kamu tidak perlu pusing – pusing untuk mencari barang yang kamu inginkan.”


“Owh, iya terimakasih banyak.” Ucap Nindi dengan menundukkan kepalanya.


“iya sama – sama. Kalau begitu aku akan pulang dulu. Kamu baik – baik ya di sini. Nanti kalau kamu kenapa – kenapa langsung saja telepon aku ya. Aku akan secepatnya ke sini.”


“Iya, baiklah.”


“Kalau begitu kamu segeralah istirahat Nin. Aku mau pulang dulu ya.”


“YA, hati – hati di jalan ya.”


“Oke.”


Alex kemudian pergi meninggalkan Nindi sendirian di dalam apartemen pribadinya. Ia memang sengaja menyuruh Nindi tinggal di apartemennya itu. sedangkan baru kali ini Nindi tidur atau tinggal di apartemen. Ia seperti bermimpi dengan kemewahan yang Alex punyai dan Alex berikan kepada Nindi.


Nindi mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang itu. di sana ia mulai melihat – lihat setiap bagian – bagian ruangan yang begitu terlihat esotis, lanjut ia melihat ke depan jendela. Di sana ia merasakan hembusan angin malam yang dingin. Ia juga begitu sangat senang melihat cahaya lampu gedung – gedung dan rumah rumah yang berada di bawah sana.


“Ternyata pemandangan malam di sini begitu sangat bagus sekali ya. Enggak nyangka aku bisa tinggal di apartemen elit seperti ini. Fasilitas semua ada, setiap ruangan yang ada di sini tidak sempet. Sepertinya aku sangat nyaman di sini. Pantasan saja Kayla menjual dirinya hanya ingin hidup mewah seperti ini. Ternyata enak juga ya. Aku enggak akan kembali ke rumah sampai ibuk dan kakak mencariku. Aku yakin Alex pasti juga akan memberikan aku uang, saat aku tinggal di sini. Sebenarnya sih tabungan ku masih, tapi menipis. Gampanglah kalau soal duit. Yang penting aku akan menenangkan hati aku dulu.” Ucap nindi sendirian di atas tempat tidur.


Setelah Nindi berbicara sendiri di sana, ia kemudian tertidur dan menikmati semua kemewahan yang saat itu sedang dia rasakan.


Keesokan harinya Kayla mengambil hp milik ida ia menelepon Akbar. Hari itu dirinya sangat ingin sekali bertemu dengan Akbar.


“Iya, Gimana tan? Ada apa?” tanya Akbar.


“Mas, ini aku Kayla. Kamu hari ini ke rumah sakit kan?”


“Enggak tahu Kay. Kenapa emang?”


“Owh, kalau kamu lagi gak sibuk ke sini ya. Bisa kan? Emm, enggak tahu kenapa aku rasanya kepengen banget ketemu sama kamu.”


“Coba nanti aku usahakan ya Kay.”


“Tapi kalau kamu lagi enggak sibuk aja mas. Kalau kamu sibuk enggak usah ke sini enggak apa – apa mas.”


“Iya – iya Kay.”


“Ya sudah kalau gitu aku tutup telponnya ya mas.”


“Iya Kay, kalau kamu ada apa – apa kabarin aku saja ya.”


“Iya.”


Di matikanlah telepon itu oleh Kayla. Akbar merasa tidak biasanya Kayla menelepon dan ingin bertemu dengan dirinya itu. Akbar sudah mulai merasakan firasat ketika Kayla telpon dirinya tadi.


“Kenapa Kayla telepon aku ya? Enggak biasanya. Ada apa ini? Atau...? Hah sudahlah, semoga saja ini hanya perasaanku saja.” ucapnya dari dalam hati.


**


Sedangkan sudah dua hari dua malam Nindi sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepada Dewi. Dewi mulai merasa khawatir dengan putrinya itu. ia tidak pernah bisa tidur atau istirahat tenang karena Nindi sama sekali tidak ada di kamar atau memberikan kabar untuk mereka. Sehingga Dewi meminta tolong kepada Akbar supaya dia mau mencari Nindi. 


Dewi dan Akbar pikir kalau Nindi benar – benar pergi dari rumah itu hanya sebuah gertakan Nindi saja. mereka kira Nindi akan segera kembali ke rumah. Akan tetapi semua jauh dari dugaan, putrinya justru sama sekali tidak memberikan kabar apapun kepada ibu dan juga Kakaknya. Sedangkan nindi sangat sulit sekali di hubungi. Sekali di telpon panggilan masuk, ia justru menolak panggilan masuk itu.


“Akbar, coba nak, kamu telpon adikmu.” Pinta Dewi.

__ADS_1


“Memang kenapa sih buk? Biarin saja dia pergi, nanti juga bakalan kembali pulang buk. Dia itu masih kayak anak kecil. Enggak pernah bisa dewasa. Ibuk terlalu memanjakan dia.”


“bukan masalah itu Akbar. Seorang ibu itu mempunyai naluri. Ibuk sangat menghawatirkan dia. Ibuk takut kalau terjadi apa – apa sama dia. Apa lagi Nindi itu perempuan Akbar.”


“Alah, paling juga dia numpang tidur di rumah atau di kos – kosan temannya buk. Sudahlah ibuk tenang saja. Akbar yakin tidak akan terjadi apa – apa kepada dia.


“Kok kamu bisa bicara semudah itu sih Akbar? Dimana pun namanya orang tua itu sangat menghawatirkan anaknya ketika anaknya sedang mempunyai masalah atau anaknya sedang tidak ada di samping kita. Apakah kamu benar – benar tidak mngkhawtirkan adikmu itu?”


“Iya iya deh, besok aku akan cari Nindi. Setelah aku dari rumah sakit.”


“Terimakasih banyak ya nak. Sebab ini sudah dua hari dua malam. Apa lagi dia di hubungi sangat sulit nomor teleponenya tidak terhubung. Makannya ibuk sangat khawtir. Tetapi jika Nindi pergi atau menginap di rumah temannya, ibuk tidak akan sekhawatir ini. Semoga saja dia tidak kenapa – kenapa ya ampun.”


“Sudah lah, ibuk tidak usah khawatir ya, besok akan Akbar cari keliling daerah sini. Kalau misal Nindi belum ketemu juga aku akan lapor ke polisi. Ibuk tenang ya." Kata Akbar.


-----


Siang itu, sebelum Akbar ke rumah sakit, di tengah jalan tiba tiba mobilnya mogok mengeluarkan asap. Ia kemudian berhenti. Lalu memeriksa mobilnya itu, kemudian ia menghubungi montir langanannya untuk segera datang ke tempat mobil Akbar yang macet itu.


Sembari menunggu montir datang, ia kemudian duduk di ponggir jalan sambil merokok dan memainkan hpnya.


Ketika itu di hadapannya terlihat dari seberang jalan wajah Nindi. Kemudian Akbar mencoba mengejar atau membuntuti Nindi menyebrang jalan. Akan tetapi ia juga melihat Alex. Yang masuk ke dalam mobil mewah dengan mengandeng Nindi. 


Belum sampai langkah kakinya untuk menyusul, Nindi dan Alex sudah pergi tanpa melihat Akbar di sana. Lalu Akbar menyebrang kembali ke arah mobilnya itu. Sebab montirnya sudah datang.


Sembari menunggu mobilnya selesai, ia lanjut menghubungi Nindi, wajahnya pun terlihat sangat - sangat marah karena Nindi kembali berhubungan dengan Alex.


Dan ternyata Nindi menerima permintaan Alex untuk kembali berhubungan dan menjalin cinta. Nindi begitu bahagia karena bisa berada di samping Alex dan bersama - sama dengan laki - laki yang sangat ia cintai. Ia juga tidak memperdulikan ibu dan juga kakaknya itu. Yang ada di pikirannya adalah dia bisa hidup enak dan bahagia dengan orang yang ia cintai.


"Nindi, kenapa sih kamu bodoh sekali. Kenapa kamu itu kembali berhubungan dengan laki - laki brengsek itu. Ternyata feeling aku benar. Laki - laki itu mencoba mendekati Nindi lagi. Lihat saja, kalau dia berani menyentuh adikku. Tidak akan aku maafkan." Gumamnya dari dalam hati.


Kemudian di saat ia sedang bergumam sendiri, hp nya berdering. Terlihat ada tulisan panggilan masuk dari Ida.


"Hallo, ada apa tan?"


"Akbar, hisk.. hisk.. hisk.."


"Kenapa tan? Kenapa tante menangis?"


"Kayla nak."


"Ada apa dengan Kayla?"


"Dia kritis lagi nak."


"Baiklah, kalau begitu aku segera ke rumah sakit tan."


"Cepet ya nak, di meminta kepada tante, untuk menelpon kamu dan menyuruhmu datang ke sini."


"Iya. Iya tan."


Tot.. tot.. tot..


Di matikan lah telpon itu. Kemudian Akbar menghubungi Dewi, dan memberi tahu kan kepada Ibunya kalau Kayla kritis lagi.


"Gimana mas? Masih lama gak mas?"


"Sebentar lagi pak."


"Atau enggak aku pinjam motornya gimana mas?" 


"Tapi enggak apa - apa pak, bapak naik motor?"


"Iya mas, soalnya aku ke buru - buru mau ke rumah sakit."


"Owh, kalau begitu ini STNKnya pak."


"Oke mas, saya bawa ya motornya, saya pinjam dulu. Nanti biar saya share lok dan masnya bisa susulin aku di rumah sakit." 


"Owh, gitu. Baik pak."

__ADS_1


Akbar kemudian mengemudi motornya dengan sangat kencang menuju rumah sakit.


 


__ADS_2