Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Ida ke rumah Riri


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Kayla sudah sadarkan diri. Tiba – tiba dirinya memanggil manggil nama Kia.


“Mah, aku ingin bertemu dengan Kia. Aku ingin meminta maaf kepadanya. Sebab aku sudah banyak dosa dengannya.” Kata Kayla dengan lirih.


“Apa nak? Mama enggak salah dengar? Kamu yakin ingin bertemu dengan dia?”


“Iya mah, bisa kah mama membantu aku untuk menemuinya?”


“Bisa sayang, bisa. Mama nanati akan ke rumahnya. Tapi mama ingin tahu, kenapa kamu tiba – tiba mau bertemu dan meminta maaf kepadanya setelah kamu koma beberapa hari ini?” tanya Ida kepada putrinya itu yang masih lemah.


“Aku sadar kalau aku harus meminta maaf kepadanya mah.” Ucap Kayla dengan lirih.


Selama beberapa hari ia koma, Kayla selalu bermimpi tentang kebaikan Kia kepadanya. Ia selalu bertemu Kia di dalam mimpinya. Di saat itulah ketika dia sadar dari komanya ia langsung berpikir kalau dirinya selama ini sudah banyak salah kepada Kia. Ia ingin sekali bertemu dengan Kia dan juga Pelangi. Sebab dulu Pelangi pernah di berikan obat tidur oleh Kayla. kayla juga menyadari bahwa dirinya sudah mendekati ajal maut.


“Hidupku sudah tinggal bebrapa waktu lagi. Aku harus meminta maaf kepada orang – orang yang dulu pernah aku sakiti hatinya, terutama kepada Kia. Aku sudah banyak membuat salah kepada dia. Bagaimana caranya aku harus bisa bertemu dengan dia. Hisk.. hisk.. hisk..” gumamnya dari dalam hati sambil meneteskan air mata nya itu.


Mungkin ini semua adalah firasat untuk dirinya sendiri di saat dia mengalami koma beberapa hari lalu, Tuhan telah membukakan semua hati dan jalan pikirannya sehingga membuat Kayla ingin sekali meminta maaf kepada orang – orang yang pernah ia lukai hatinya itu. Dia menyadari selama hidup dia terlalu banyak membuat dosa terutama kepada Ibunya karena dia telah mengecewakan sang ibu yang begitu sangat mencintai dirinya itu dengan tulus.


Kemudian setelah Kayla meminta kepada Ida untuk mempertemukan dirinya dengan Kia, pagi harinya Ida langsung pergi menuju rumah sahabat sewaktu kuliahnya dulu. Ia mengemudi mobilnya dengan begitu sangat cepat. Ia ingin Kia datang ke rumah sakit untuk menemui Kayla. sesampainya di rumah Riri.


Ting.. tong.. ting.. tong...


Terdengar dari dalam rumah seseorang yang sedang akan membukakan pintu rumah itu.


Ccckkkeeelllll!


“Nyari siapa nyonya? Nyonya besar sedang keluar dengan menantunya.” Tanya asisten rumah tangga Riri itu


“Kira – kira lama tidak ya bik? Mereka pergi kemana? Bibik tahu tidak?” tanya Ida yang masih berdiri di luar rumah.


“Maaf nyonya, saya tidak tahu. Silahkan masuk dulu, sambil menunggu nyonya besar pulang.” Ucap Asisten rumah tangga Riri yang mempersilahkan Ida masuk dan menunggu di dalam rumah.

__ADS_1


“Kalau begitu aku akan menghubunginya saja bik.” Ucap Ida sambil berjalan di ruang tamu.


Ida mencoba beberapa kali untuk menelpon Riri, akan tetapi no telpon Riri saat itu sulit untuk di hubungi. Sedangkan dirinya belum mempunyai no telpon Kia atau Cleo. Kemudian Ida menunggu di ruang tamu itu sendirian.


Asisten rumah tangga Riri mendekati Ida dan menawarkan minum kepada dirinya.


“Permisi nyonya, emm, nyonya mau minum apa? Biar saya buatkan.” Tanya Asisten rumah tangga itu.


“Apa saja bik.” Jawab Ida.


Kemudian Asisten rumah tangga itu membuatkan minuman untuk dihidangkan kepada Ida. Beberapa menit berlalu. Riri dan juga Kia masih belum terlihat, ia masih menunggu di ruang tamu. Dirinya setiap detik melihat jam tangan yang ia gunakan dan menanti ke hadiran Riri dan juga Kia.


“Aduh, mereka pulang jam berapa ya kira – kira? Kok lama sekali. Mana Riri susah banget lagi di hubungin. Aku juga tidak punya no telepon Kia. Gimana ya?” gumam Ida dari dalam hati sembari menganggap handphonenya.


Terlintas di pikiran Ida saat itu untuk meminta no telepon Kia kepada Dewi. Ia baru menyadari kalau Dewi itu mantan ibu mertuanya.


“Astaga , kenapa aku baru ingat ya. Kalau Ida itu adalah mertuanya Kia. Coba aku hubungi dia dan meminta no Kia kepadanya.” Gumamnya lagi sembari mencari kontak telepon Dewi.


Setelah menelepon Dewi untuk meminta no telpon Kia, Ida langsung menghubungi Kia. Suara panggilan masuk terdengar dari dalam tas Kia di saat Kia dan Riri akan kembali pulang dari pergi ke mall mengantarkan Pelangi bermain.  Riri begitu menyayangi Pelangi seperti cucunya sendiri. Setiap hari Riri tidak pernah jauh dari Pelangi. Pelangi pun juga sangat menyayangi Riri.


“Kia.”


“Iya, ini siapa ya?” tanya Kia saat itu sambil menyetir mobil.


Sebab saat itu no telepon ida belum tercatat di handphone Kia.


“Ini tante nak, tante Ida.”


“Owh, tante Ida. Iya kenapa ya tan? Ada apa tante menelponku?” tanya Kia


“Kamu lagi di mana nak?” tanya Ida.

__ADS_1


“Aku sedang keluar dengan bunda tan. Kenapa ya tan?”


“Pulang jam berapa?” tanya ida lagi.


“Ini aku dan bunda sedang dalam perjalanan pulang tan. Ada apa ya tan?”


“Tante sebenarnya sekarang sedang menunggu kalian di rumah Riri.”


“Owh, tante sekarang lagi ada di rumah. Ya udah, tunggu sebentar ya tan, aku sama bunda juga sedang dalam perjalanan mau pulang ini tan.” Ucap Kia.


“Iya tante tunggu. Cepat ya. Soalnya ada yang mau tante omongin sama kamu Ki.”


“Iya tan.”


Kemudian telepon itu langsung di matikan oleh Ida. Kia pun langsung mengemudi dengan sangat cepat. Riri yang saat itu duduk di depan bertanya kepada Kia, siapa orang yang baru saja menelpon Kia itu. Kia pun menjelaskan kepada Riri kalau Ida sedang berada di rumah saat ini.


“Siapa yang menelponmu nak?” tanya Riri kepada Kia.


“Owh, ini tadi tante Ida bun, katanya sih tante Ida sekarang sedang ada di rumah bun.” Jawab Kia.


“Ida main ke rumah?”


“Iya bun.”


“memang ada keperluan apa dia ke rumah? Tumben sekali?” tanya Riri.


“Kia juga enggak tahu bun.”


“Ya sudah buruan kamu nyetirnya nak. Kasihan nanti dia nungguin kita terlalu lama.” Pinta Riri.


“Iya bun.” Ucap Kia.

__ADS_1


Bersambung... 


❇️❇️❇️❇️❇️


__ADS_2