
Ketika kia menghentikan mobilnya di depan rumah Dion, Amel terlihat begitu terkejut dengan rencana bundanya waktu itu dan di dalam hatinya dia juga bertanya – tanya tentang rencana apa yang sedang bundanya buat itu.
“loh, kenapa bunda berhenti di depan rumah Dion? Apa teman bunda itu mamanya dion? Tapi, kalau mamanya dion itu temannya bunda, harusnya bunda tahu dong kalau dion itu anak temannya bunda. Ada apa sih ini? Atau bunda memang sengaja membawa aku ke sini untuk memperbolehkan aku bermain lagi dengan Dion? Aku yakin bunda pasti akan meminta maaf kepada dion lalu memperbolehkan aku bermain dengan dion lagi.” Gumam Amel dari dalam hati sambil melirik ke arah Kia.
Setelah kia berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Dion. Security pun datang menghampiri Kia.
“Selamat sore. Maaf ibu mencari siapa ya?”
“Saya ingin bertemu dengan Dion. Tolong buka kan pintu gerbangnya. Saya tadi sudah janjian.” Bisik Kia kepada Security itu.
Scurity itu pun dengan cepat – cepat langsung membukakan pintu gerbang rumah dion. Setelah beberapa menit Kia dan amel turun dari mobilnya.
“Ayuk mel, turun. Kita sudah sampai di rumah temannya bunda.”
“Apa bun. Sini rumah teman bunda.”
“Iya. Sudah yuk turun.”
Mereka kemudian berjalan menuju pintu depan rumah Dion. Kia lalu menekan tombol bel yang menempel di samping kanan pintu rumahnya itu. Tal lama asisten rumah tangga dion pun langsung membukakan pintu itu.
“Maaf nyonya mencari siapa?”
“Saya mau bertemu dengan dion.”
“Owh, tuan muda. Mari silahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Saya akan memanggilkan tuan muda sebentar.”
“Baiklah.”
Amel terlihat melonggo menatap bundanya. Mereka kemudian masuk kedalam rumah lalu duduk. Sedangkan asisten rumah tangga sedang memanggil dion di kamarnya.
Beberapa menit kemudian, dion turun lalu berjalan mendekati Amel dan juga kia yang telah duduk di ruang tamu itu. Ia kemudian menyapa Kia dan bersalaman dengan Kia.
“Sore tante.”
“Sore juga. Kamu sendirian di rumah?”
“Iya tante. Aku kira tante enggak jadi ke sini.”
“Jadi lah. Memang orang tua kamu ke mana? Masih kerja ya?”
“Iya tan, mungkin sebentar lagi sampai rumah. Hallo mel.”
“Hay yon. Bun, apa – apaan sih ini? Tadi bukannya bunda mengajak amel ke rumah teman bunda kan? Kenapa bunda malah mengajak amel ke rumah dion?”
“Kenapa memang? Kamu enggak suka? Kalau enggak suka sekarang kita pulang saja.”
“ya bukannya amel enggak suka bun. Maksud amel, apa rencana bunda? Kok tiba – tiba langsung datang ke rumah Dion?”
“Hust! Kamu ini kenapa sih mel. Kebanyakan tanya. Bukannya kamu senang kan kalau bisa bertemu dengan Dion? Dari pada harus mencuri – curi waktu dan tidak ada kabar.”
“Tapi bun.”
“sudah diam. Dion enggak ke beratankan tante datang ke sini?”
“Enggak tante, dion malah senang karena tante dan amel mau main ke rumah.”
“tuh dion saja enggak apa – apa. Kamu kok berisik sih mel.”
“Yah, tapi bun, enggak biasanya gitu bunda kayak gini. Bukannya bunda benci banget ya lihat aku main sama dion?”
“Enggak, kata siapa? Buktinya bunda ajak main kamu ke rumahnya dion kan?”
“Iya sih.
“Kalau gitu tante mau minum apa? Biar aku suruh bibik membuatkan minum.”
“Enggak usah repot – repot. Apa aja tante mau.”
“Owh, iya. Biar aku pangil bibik ke sini ya tan.”
“Silahkan – silahkan.”
Dion pun kemudian memanggil asisten rumah tangganya itu.
“Bik, bibik.”
“Iya tuan,”
“tolong buatkan minum untuk tante dan juga amel ya.”
“baik tuan.”
Asisten rumah tangga itu kemudian pergi untuk membuatkan minuman di dapur.
“orang tua kamu kerja apa memang?
“Aku kebetulan hanya tinggal bersama mama tan di sini.”
“Mama? Ayah kamu?”
“Em,, “
“Bun, udah dong, jangan introgasi dion kayak gitu kenapa.”
“Kan bunda cuman ingin tahu saja. kamu ini kenapa sih mel, berisik banget. Ayah kamu emang ke mana?”
“papa...”
“Owh, iya papa kamu.”
“Emm.. saya dari kecil sudah di tinggal pergi sama papa tan.”
__ADS_1
“Maksud kamu?”
“Papa, pergi enggak tahu ke mana saat aku masih dalam kandungan mama.”
“Owh,” jawab Kia sambil mengangguk anggukan kepalanya.
“Kasihan juga ini anak.” Guamam Kia dari dalam hatinya.
“terus mama kamu kerja apa?”
“Mama kerja sebagai pengacara tan.”
“Owh,”
“Bun, ayuk pulang. Udah sore ini bun.” Kata Amel. Karena Amel merasa malu dengan dion sebab bundanya terlalu banyak tanya.
“Iya bentar lagi.”
Setelah beberapa menit kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
“Sepertinya mama sudah pulang tan.”
“Owh sudah pulang mama kamu?”
“Iya, sepertinya tan.”
Nindi lalu berjalan masuk ke dalam rumah dengan mencangking tas pribadinya. Ketika dia sudah masuk ke dalam ia hanya melihat dion yang sedang duduk di ruang tamu tanpa menyapa atau meliohat sedikitpun tamu dion yang datang waktu itu. Dion merasa tidak enak hati karena Nindi terlalu acuh kepada tamunya. Dion lalu memanggil Nindi dan meminta kepada Nindi supaya dia mau menemui sebentar tamu yang datang waktu itu.
“mah, mamah.” Panggil Dion kepada Nindi saat mamanya itu terus berjalan.
“Hem..”
“Mah, di depan ada tamu. Kenapa mama tidak menyapa tamu dion sebentar saja?”
“Mama capek. Mama mau istirahat. Itu kan tamu kamu, jadi kamu sendiri saja yang menemui mereka.”
“tapi mah.”
Kia merasa perilaku mamanya dion itu keterlaluan. Karena ia merasa tidak di hargai sebagai tamu dari anaknya. Kia lalu mendekati mamanya dion.
“Permisi. Kenalkan saya bundanya amel.” Ucap Kia yang sedang berdiri di belakang samping tubuh nindi sambil menyodorkan tangannya ke arah Nindi.
Nindi pun kemudian menoleh ke belakang samping, ia begitu terkejut melihat Kia.
“Nindi.”
“Kak kia?”
“Jadi kamu?”
“Iya tan, ini mamanya dion.”
“Aku bundanya amel. Jadi dion anak kamu?”
Nindi pun hanya mengangguk anggukan kepalanya dengan mulut melonggo.
“Kak kia gimana kabarnya?”
“Baik.”
“Amel kita pulang sekarang.”
“Tapi bun?”
“Kak kia tunggu.” Ucap Nindi yang berlari mengejar Kia.
“Kak, aku minta maaf kak.”
“Amel kamu masuk mobil sekarang.”
“Iya bun.” Ucap amel dengan penuh ke bingungan.
Setelah Kia melihat amel sudah masuk ke dalam mobil, Kia kemudian berhadapan langsung dengan Nindi.
“tenang saja aku sudah memaafkan kamu, tapi aku tidak akan pernah melupakan sikap kamu yang sudah menghianati kepercayaanku.”
“Kak, tapi aku sudah merasakan apa yang dulu kamu pernah rasakan kak. Semua perbuatan jahat ibuk dan kak akbar sudah aku rasakan. Dulu mereka yang membuat kamu menderita. Tapi sekarang aku yang di buat menderita dengan pacarku kak.”
“Aku tidak peduli nin, dengan hidup kamu, hidup kakak kamu atau hidup keluarga kamu. Karena rasa sakit itu masih membekas di benakku. Ingat nin sampai kapan pun aku masih menginggat inggat kejadian di mana kalian pernah merebut pelangi dari aku. Aku tidak akn pernah lupa dengan semua apa yang pernah di perbuat oleh keluarga mu dan kamu. Owh, iya satu lagi, aku ke sini memang berniat ingin bertemu dengan Orang tua Dion, tapi ternyata secara tidak sengaja aku bertemu kamu. Kebetulan sih, aku jadi enggak canggung ingin mengatakan sesuatu.”
“Sesuatu? Maksud kak kia?”
“Iya, aku minta sama kamu, didik anak kamu dengan baik – baik. Aku tidak suka dion dekat atau main bersama dengan amel lagi. Aku tidak sudi melihat masa depan anakku rusak seperti anak mu itu. Dan terlihat jelas sekali kalau dion itu anak brandal. Kenakalan itu sudah terlihat karena dia telah hidup dan dididik oleh kamu. Permisi!” kata Kia kemudian ia terus pergi masuk ke dalam mobilnya.
Di saat Kia mengatakan itu, nindi seperti tidak menerima dengan semua hinaan yang telah di katakan oleh Kia. Dirinya seperti di rendahkan sekali dengan perbuatan anaknya. Hingga akhirnya Nindi masuk ke dalam rumah dan memarah – marahi Dion.
“Diii.... oooonnnnn....” teriak Nindi dengan sangat kencang karena dia sedang naik darah.
“Mah...” ucap dion.
“Kamu! Kenapa kamu selalu membuat hidup aku menderita! Kenapa! Kamu ( dengan suara terenggah – enggah karena mengeluarkan amaranya ).... aku benci mempunyai anak seperti kamu. Kamu selalu dan selalu membuat masalah untuk hidup! Sifat kamu tidak jauh beda dengan ayah kamu! Dasar anak pembawa sial! Kamu sudah dengar sendiri kan gimana orang tua amel menghina mama! Belum puas kamu! Hem! Dasar anak tidak tahu di untung! Menyesal aku harus mempunyai anak seperti kamu dion!” ucap Nindi yang penuh dengan amarnya. Dia tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya itu sehingga membuat Dion merasa sangat tidak berguna sebagai seorang anak. Dion juga merasa kalau dirinya hadir di dunia ini memang tidak akan pernah di harapkan kepada ke dua orang tuanya.
“Mah.... kalau memang mama menyesal telah melahirkan aku, baik aku akan pergi dari kehidupan mama sejauh mungkin. Aku tidak akan kembali di kehidupan mama dan papa. Aku sudah sadar kalau kehadiranku di dunia ini memang sangat tidak di harapkan oleh kalian.” Kata dion sambil meneteskan air matanya.
Ia kemudian berlari menuju ke kamarnya untuk mengemas semua barang – barangnya yang akan dia bawa. Sebab ia berniat akan pergi dari rumah, karena hatinya terluka dengan ucapan Nindi yang baru saja dia katakan kepada anaknya.
Setelah beberapa menit, dion turun dengan membawa tas ransel yang berisi beberapa pakaian. Ia berjalan dengan raut wajah yang begitu sangat – sangat kecewa. Nindi yang melihat anaknya berjalan dengan begitu cepat tanpa mengucapkan sepatah katapun langsung saja bertanya dengan anaknya itu.
“Mau kemana kamu?!”
“Bukan urusan mama!”
__ADS_1
“Berani ya kamu sama mama! Hem!”
“Untuk apa mama tanya aku mau ke mana? Mama sudah lupa dengan apa yang baru saja mama ucapkan kepadaku? Hem! Bukan kah mama tidak ingin aku hidup bersama mama. Dan mama sendiri yang bilang kalau aku ini anak pembawa sial? Iya kan mah? Dan mama juga baru saja mengatakan kalau mama telah menyesal melahirkan aku. Iya kan? Jadi mulai sekarang aku akan pergi jauh dari kehidupan mama. Dan aku tidak akan mencari tahu lagi siapa ayah kandungku. Karena percuma kalau aku harus mencari dia, mungkin dia juga akan mengatakan hal yang sama seperti mama. Buktinya sampai sekarang dia sama sekali tidak mencari ku.”
“Kamu mau pergi dari sini? Bisa apa kamu hidup di luar sana? Kamu pikir hidup di luar sana enak, dan gampang? Dari mana kamu bisa membeli semua apa yang kamu miliki saat ini? Hem! Semua itu uang dari jerih payah mama mencari uang sendirian. Kalau kamu mau pergi dari rumah ini, silahkan. Silahkan kamu pergi, tapi tinggalkan semua fasilitas yang sudah mama berikan ke kamu! Kalau memang kamu ingin hidup di luar sana, cari uang sendiri saja! dan rasakan perjuangan keras untuk menghadapi hidup yang pahit ini! Kamu pikir gampang apa mencari uang!”
“Baik, kalau itu mau mama. Dion akan meninggalkan semua fasilitas yang sudah mama berikan untuk dion.”
Dion lalu mengeluarkan semua atm, kartu kredit, stnk, hp, tab, laptop, jam tangan mewahnya dengan merk terkenal dan juga beberapa kunci kendaraan pribadinya yang telah di berikan oleh Nindi.
“Ini mah, semua fasilitas aku kembalikan ke mama. Aku hanya ingin bilang satu kata sama mama kalau aku sayang sama mama. Terimakasih mah, mama sudah sabar mendidik dan membesarkan aku dengan kasih sayang yang mama berikan. Dan terimakasih juga karena mama sudah melahirkan aku di dunia dengan menaruhkan nyawa mama sendiri. Jaga diri mama baik – baik. Dion janji, dion akan kembali dengan hasil kerja keras dion, dion akan tunjukan ke mama kalau dion bisa dan dion mampu untuk menjalani hidup. Sekarang mama tidak lagi merasa menderita karena keberadaan dion di hidup mama. Dion juga akan keluar dari sekolah untuk mencari kerja di luar sana. Jadi, mama tidak perlu mencari dion ke sekolahan. Aku sayang mama.” Ucap dion dengan memandang wajah nindi lalu pergi.
Di saat Nindi mendengarkan anaknya berkata seperti itu, amarahnya mulai sedikit reda, dengan bibir bergetar. Dia tidak menyakangka kalau anaknya bisa berkata seperti itu. Sedangkan apa yang dia katakan untuk meminta semua fasilitas mewah dion itu hanya sebuah gertakan saja yang keluar dari mulut Nindi.
“Dion. Dion.”
Dion pun kemudian langsung pergi begitu saja, Sesudah meletakan semua barang - barangnya tanpa memperdulikan Nindi yang memanggil – manggil namanya.
Sedangkan dion pergi meninggalkan rumah itu hanya dengan berjalan kaki. Entah ke mana tujuan dion waktu itu. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah ia ingin melangkah jauh dari kehidupan ibunya. Ia tidak mau membuat hidup Nindi menderita lagi karena keberadaan dirinya di hidup ibunya itu.
Setelah Dion pergi Nindi kemudian menanggis dengan menyandarkan tubuhnya di lantai dekat dengan sofa. Ia tidak menyangka kalau dion benar – benar akan pergi.
Sedangkan di sisi lain amel dan Kia di mobil mereka berdebat.
“Bun, bunda kenal sama mama nya dion?” tanya Amel.
Akan tetapi Kia hanya diam saja. ia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Amel waktu itu. Namun, amel terus menerus bertanya kepada Kia, sehingga membuat Kia naik darah karena nindi tidak mau diam. Apa lagi di pikiran Kia waktu itu, ia takut kalau nindi akan bertemu dengan pelangi.
“bun, bunda kok diam saja sih? Bunda kenal? Tapi kalau bunda kenal sama mamanya dion, kenapa tadi bunda sama mamanya dion seperti tegang gitu sih ngomongnya? Seperti orang sedang marah gitu?”
Kia lagi dan lagi tidak menjawab pertanyaan Amel sama sekali.
“Bun, bunda. Bunda kenapa sih? Setelah bertemu dengan mamanya dion, kenapa bunda diam aja sih? Bunda enggak apa – apa kan?”
Lalu Kia pun langsung menghentikan mobilnya dengan seketika. Dia kemudian melihat ke arah amel. Karena dia ingin memperingatkan kepada amel untuk tidak menceritakan apapun yang telah dia lihat saat berada di rumah dion.
“Amel, udah deh jangan tanya melulu. Berisik bunda tuh dengan kamu ngoceh terus.”
“Habis, bunda di tanyain dari tadi cuman diem, diem aja.”
“Bunda kasih tahu sama kamu. Dia itu teman bunda dulu, bunda dulu pernah punya masalah sama dia. Bunda juga enggak menyangka ternyata dion anak dari teman bunda itu.”
“tapi kok bisa kebetulan gini sih bun?”
“Iya bunda juga enggak tahu kenapa bisa kebetulan seperti ini. Emm, jadi karena bunda sangat paham betul siapa itu ibunya dion, bunda sangat melarang keras sama kamu untuk tidak usah lagi berhubungan atau pun main dengan dion lagi. Kalau kamu berani melanggar kata – kata bunda, bunda tidak lagi mau memperdulikan kamu, dan bunda akan mengurangi jatah uang jajan kamu. Ngerti kamu amel.”
“Bunda kok gitu sih. Bunda itu belum tahu yang sebenarnya dion seperti apa.”
“Amel! Melihat dari ibunya saja bunda sudah tahu siapa itu dion, dan bagaimana sifat aslinya. Mereka semua itu keluarga yang tidak mempunya hati. Bunda lebih paham dari kamu.”
Amel kemudian terdiam setelah mendengarkan Kia membentak Amel. Amel merasa pertemuan atau pun pertemanan dia dengan dion akan semakin lebih sulit lagi untuk mereka jalani.
“Aduh, ada apa lagi ini? Kenapa tadi harus bertemu dengan tante nindi sih. Aku akan jadi lebih susah lagi untuk bertemu dan bermain bersama dion. Padahal saat bunda belum bertemu dengan mamanya dion saja sudah sangat membenci atau melarangku. Lha, apa lagi ini yang ternyata mamanya dion dulu pernah menjadi musuh bunda. Huft. Mungkin memang aku dan dion di takdirkan untuk tidak bisa bersatu menjadi sahabat.” Gumam Amel dari dalam hatinya sembari menyandarkan kepalanya di jendela mobil
“amel, satu lagi bunda akan berpesan kepada kamu.”
“Hem.. bunda mau ngomong apa lagi sama amel? Pasti bunda akan ngomng kamu tidak boleh lagi berhubungan dengan dion gitu kan? Amel sampai hafal bun, bun.”
“Dengerin bunda dulu mel.”
“Iya amel sudah siap untuk mendengarkan apa yang akan bunda katakan.”
“Jadi bunda mau, kalau misal kamu bertemu dengan mamanya dion dan dia bertanya tentang bunda apapun itu. Bunda mohon, kamu tidak usah menceritakan apa – apa kepadanya. Apa lagi ketika dia nanti bertanya tentang kakak kamu.”
“Loh, kenapa sih bun? Memang mamanya dion juga mengenal kak Pelangi? apa hubungannya coba sama kak pelangi?” ucap Amek dengan penuh rasa penasaran.
“Iya pokoknya itu pesan bunda sama kamu. Jadi kamu laksanakan saja apa yang bunda katakan. Sebab semua itu membuat hati bunda terluka lagi. Mengerti kamu?”
“Iya – iya bun.
“Ya sudah, kalau begitu kita lanjut jalan lagi ya. Kita pulang sekarang.”
Amel pun merasa terheran dengan pesan yang kia ucapkan tadi. Dirinya begitu penasaran tentang permasalahan kia dengan mamanya Dion.
“Ini bunda aneh banget deh. Padahal jelas – jelas kak pelangi tidak kenal dengan mamanya dion, atau pun pernah melihat mamanya dion, tapi kenapa bunda melarangku untuk menceritakan atau pun memberitahukan kepada kak pelangi ya. Jadi penasaran aku. Apa mungkin, mamanya dion adik dari ayah kandung kak pelangi. soalnya, enggak mungkin jika bunda mempunyai masalah dengan orang lain. Bundakan orangnya baik banget. Dia selalu di segani oleh banyak orang. Masak ia mereka berantem bisa sampai lama sekali.” Gumam amel di dalam hatinya waktu itu sambil melihat ke arah Kia yang sedang menyupiri mobilnya.
“Amel,” kata Kia sambil menyentuh pundak Amel yang sedang melamun seperti itu.
Kia pun terus mengoyang – goyangkan tubuh amel.
“Eh, apa bun?”
“Tuh kan, kamu tidak mendengarkan bunda bicara.”
“Maaf – maaf bun. Bunda tadi ngomong apa bun?”
“Tuh kan, makannya kalau bunda ngomong itu di dengarkan. Bunda minta tolong sama amel, untuk tidak menceritakan hal ini semua kepada kakak pelangi. mengertikan kamu?
“Owh, itu. Iya bunda. Amel enggak akan cerita apa – apa sama kakak.”
“Bagus, gitu dong, baru anak bunda.”
Amel hanya memanyunkan mulutnya, setelah Kia berpesan seperti itu.
“haduh, haduh.. kenapa sih aku harus bertemu dengan Nindi lagi. Dan berurusan dengan keluarga dia lagi? Aku juga enggak menyakan kalau dion ternyata anaknya nindi. Kenapa aku harus bertemu lagi dan lagi dengan keluarga mantan suami aku. Padahal aku juga sudah bahagia hidup bersama suami dan ke dua anakku. Lihat saja, aku tidak akan pernah membiarkan pelangi tahu siapa nindi itu. Dan aku juga akan memperketat lagi pengawasanku untuk amel. Pokoknya aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan mereka. aku juga tidak mau membuka luka lama yang pernah menggores hati ini. Pokonya aku harus jaga sungguh – sungguh anak – anakku ini. Aku tidak ingin kehilangan anakku untuk yang ke dua kalinya. Sebab keluarga suamiku semuanya itu licik.” Gumam Kia dari dalam hatinya sembari mengemudiakan mobilnya denagn tangan yang ia sandarkan di jendela mobil itu.
Bersambung....
⭐⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1