Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Terdahulu...


__ADS_3

Terdahulu...


semenjak kematian Ibunya Dewi, Akbar kemudian mencari pasangan hidup. Sebab yang dia pikirkan kala itu adalah ia harus mempunyai pasangan untuk mengisi kekosongan di hidupnya. Ia juga ingin di masa tuanya nanti akan ada anak yang bisa menjaga dan merawat dirinya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari pasangangan hidup.


Ketika dirinya pindah dari kota yang dulu terdapat banyak kenangan – kenangan entah itu bersama Kia atau bersama Kayla, ia langsung menemukan wanita yang bisa mengisi hatinya,wanita itu bernama Eva. Eva adalah teman satu kantor di perusahaan  tempat kerjanya. Waktu perkenalan mereka berdua sangat begitu singkat. Hingga akhirnya Akbar memutuskan untuk menikahi Eva. 


Dan tak lama menikah mereka pun langsung di karuniai seorang anak laki – laki. Anak laki – laki itu di berikan nama Brayen Akbar Sanjaya. Sejak mereka mempunyai anak kehidupan Akbar menjadi begitu berubah ia sangat bahagia. Sebab anak yang selama ini ia nanti – nantikan akhirnya ia dapatkan juga dan bisa hidup bersamanya. Semenjak kedatangan Brayen di hidup Akbar, akbar mulai sedikit bisa mengikhlaskan Pelangi yang menurutnya tidak akan pernah hidup dan tinggal serumah dengan putri kecilnya itu.


Akbar begitu menyayangi Brayen. Dengan pengalaman dan masa lalu yang pernah buram ia menginginkan kelak brayen bisa menjadi anak yang baik. Tidak seperti ayahnya. Brayen selalu di bimbing dalam agama yang ia anut. Ia juga mempunyai istri yang begitu baik sehingga membuat Akbar merasa menjadi seorang imam yang di hargai. Bagi Akbar, semua akan indah pada waktunya.


Akan tetapi Akbar sengaja tidak menceritakan perihal masa lalu hidupnya kepada isteri barunya yang sudah memberikan dia anak. Semua masa lalu Akbar sengaja ia bungkam seorang diri. Mulai dari ia meninggal kan Kia sampai mempunyai anak perempuan yang bernama Pelangi sengaja memang tidak akan ia ceritakan kepada isterinya sekarang. Yang istrinya tahu adalah Akbar hanya seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya. Ia menutup rapat – rapat cerita hidupnya kepada sang istri. Ia tidak mau kehidupannya sekarang terganggu oleh masa lalu kala itu.


Dari awal pernikahan hingga Brayen berumur 17 tahun istrinya sama sekali tidak mengetahui bagaimana masa lalu dari suaminya yang sebenarnya itu.


Keseharian Eva di sibukan dengan berbisnis. Bisnis yang di miliki Eva memang masih di bilang bisnis kecil. Sebab dia mempunyai beberapa home industri di luar kota. Akan tetapi kesibukan itu tidak membuat dia lupa akan semua tugas yang ia miliki. Dia membagi beberapa waktunya untuk mengurus anak, suami dan juga bisnis yang saat ini sedang ia tekuni.


Keberuntungan bagi Akbar karena memiliki istri yang begitu baik seperti Eva. Eva selalu mengajarkan sesuatu yang bisa membuat Brayen menjadi anak yang bisa dibilang dalam katerogi anak Jenius.


Sejak kecil Eva selalu mendidik Brayen dengan baik, sehingga brayen begitu sangat menyukai namanya belajar. Menurut Brayen, belajar itu adalah hal wajib bagi dirinya. Ia juga memiliki hobi membaca, ia sangat menyukai buku – buku, sebab menurut dia ilmu yang bisa ia dapatkan bukan hanya dari pelajaran yang sering ia pelajari, namun banyak ilmu yang bisa ia dapatkan hanya dengan membaca dan memahami isi dalam buku. Maka dari itu brayen anak yang sangat jenius.


Brayen adalah anak yang mempunyai ambisi besar untuk menggapai semua impiannya. Dia selalu rajin belajar, sehingga prestasi yang di dapatkan sungguh – sungguh sangat memuaskan. Dia memilih diam ketika ada salah satu teman di sekolahnya memberikan julukan kepada Brayen dengan sebutan “Si Kutu Buku” akan tetapi ia tidak mau mempermasalahkan temannya yang sudah mengejek dirinya itu.


Dari mulai sekolah dasar, hingga Sma dia selalu mempunyai peringkat pertama dari satu sekolahan. Ia juga selalu mengikuti semua perlombaan kurikulum mulai dari antar daerah sampai antar Propinsi. Banyak piagam dan penghargaan yang sudah didapatkan. Dan di dalam perlombaan mata pelajaran itu ia selalu menjadi juara utama dalam kategori semua mata pelajaran di perlombaan itu.


Guru, teman dan juga ke dua orang tua Brayen begitu sangat bahagia karena Brayen mampu mengalahkan semua lawan yang ada di beberapa perlombaan itu. sekolahan yang saat itu Brayen duduki sangat bangga mempunyai murid yang sangat jenius dengan prestasi yang sangat bagus. Sehingga membuat bangga nama sekolahannya.


Pernah suatu ketika saat Brayen masih duduk di kelas 1 SMP ia dipilih untuk mengikuti lomba antar propinsi dari kelas 1, 2, dan 3 SMP. Saat perlombaan itu berlangsung Brayen mampu mengalahkan semua lawannya, bahkan kakak kelasnya pun bisa ia kalahkan dengan mudah menjawab semua mata pelajaran.


Brayen memang salah satu anak yang sangat menyukai sebuah tantangan yang menurutnya itu sangat asik untuk dia lakukan. Terutama dalam hal perlombaan antar pelajar dengan memperebutkan piala utama.


Dari kompetisi antar provinsi dengan lomba mata pelajaran yang pernah ia ikuti beberapa kali. Ia pun kemudian mempunyai imajinasi atau harapan ingin segera menyelesaikan masa sekolahnya.


Ketika dirinya sudah duduk di kelas 1 SMP, ia ingin langsung melompat kelas ke kelas 3 SMP. Antara percaya atau tidak percaya dan antara yakin atau tidak yakin kalau dia bisa atau tidaknya untuk melakukan hal yang tidak pernah di lakukan oleh pelajar yang lain.


Keyakinannya begitu membuat dirinya semakin tertantang. Ia kemudian mempelajari semua mata pelajaran dari kelas 1 sampai kelas 3 SMP. Waktunya ia habiskan dengan belajar dan belajar. Ia tidak akan menyerah sampai keinginannya bisa ia gapai.


Hari demi hari ia terus menerus belajar dengan begitu giat. Suatu ketika ia meminta izin kepada ayahnya, agar ayahnya mau menemui guru di sekolahnya untuk meminta izin kalau Brayen harus di lompat kelas kan dari kelas 1  langsung ke kelas 3.


Ketika itu Permintaan Brayen menurut Akbar sangat – sangat lucu dan tidak wajar. Akan tetapi Brayen tetap berusaha untuk meyakinkan ayahnya itu dengan menunjukan keahliannya dalam menyelesaikan semua mata pelajaran kelas 3 SMP. Dan dikala itu Akbar tidak langsung menerima permintaan anaknya, walaupun anaknya sudah membuktikan bahwa dia mampu menyelesaikan mata pelajaran kelas 2 dan 3. Lalu membuat Brayen semakin hari semakin jenuh dengan mengikuti semua pelajaran yang bisa ia selesaikan dengan begitu mudahnya.


“Mah, pah, Brayen ingin meminta satu permintaan. Apakah kalian mau mendengarkan permintaan Akbar kali ini?”


“Apa sayang? Katakanlah, apa permintaanmu?” tanya Akbar


“Pah, sekarang Brayen masih kelas 1 Smp, Brayen ingin mempersingkat masa belajar di SMP pa.”


“Apa? Ha.. ha.. ha.. kamu ini lucu ya nak.”


“Beneran pah. Brayen mohon, papa menemui kepsek Brayen.”


“Apa alasan kamu ingin mempercepat masa belajarmu nak?” Tanya Akbar.


“Brayen ingin sekali masuk ke Universitas yang selama ini Brayen impi – impikan pah.”


“Sudahlah nak, kamu tidak udah mengarang cerita apa lagi meminta seperti itu.”


“Tapi pah, Brayen sanggup untuk menyelesaikan semua mata pelajaran kelas 2 dan kelas 3. Brayen mampu pah.”


“Nak, tidak semudah apa yang ada di bayanganmu. Sekarang kamu istirahat. Papa rasa kamu sudah lelah karena waktumu hanya kamu habiskan untuk belajar.”


“Ta.. pi.. pah..”


“Sekarang lebih baik kamu istirahat saja ya nak. Papa juga sudah capek seharian kerja.”


“Iya sayang, betul apa yang di katakan oleh Papa. Sekarang lebih baik Brayen tidur dan beristirahat ya.”


“Tapi mah...”


Ke dua orang tau Brayen kala itu kala itu menganggap kalau permintaan Brayen hanyalah lelucon bagi dirinya. Namun, Brayen berpikir kalau dirinya pasti bisa menyelesaikan dan mempersingkat masa sekolah di Smp itu.


“Aku harus bisa. Aku harus bisa merayu papa, supaya papa mau menghadap kepala sekolah nanti.” Gumam Brayen.


Akan tetapi Akbar sama sekali tidak menggubris ke inginan Brayen. Sedangkan sudah berulang – ulang kali Brayen memohon dan memberikan bukti bahwa ia mampu untuk mempercepat masa sekolahnya di SMP itu. hingga akhirnya Brayen menekatkan dirinya untuk menemui kepsek di sekolah itu.


Dengan tubuh gemetar, jantung berdegup kencang ia menghadap kepsek. Kemudian ia mulai perlahan – lahan mengatakan kepada kepsek kalau dirinya ingin mengajukan akselerasi kepada kepala sekolah itu.


Tok.. tok.. tok..


“Iya masuk.”


“Permisi pak.”


“Owh, kamu nak Brayen. Ada apa?”

__ADS_1


“Emm, saya ingin menagukan sesuatu kepada bapak.”


“Maksudnya mengajukan apa ya?” tanya kepsek itu.


“Bolehkah saya duduk pak?”


“Astaga, silahkan nak, silahkan duduk.” Ucap kepsek itu mempersilahkan Brayen duduk di kursi yang berada di depannya.


“Jadi kedatangan saya menemui bapak kepala sekolah itu, saya ingin sekali mengajukan Akselerasi masa sekolah di SMP ini pak.”


“Apa?” dengan wajah yang begitu kaget.


“Tapi pak, sebelumnya itu saya mohon kepada bapak supaya bapak mau memberikan kesempatan kepada saya untuk mengetahui kemampuan saya pak.”


“begini nak Brayen, bukannya bapak tidak menyetujui, akan tetapi seperti yang kamu inginkan jarang sekali kita temui, bahkan hampir tidak pernah ada siswa yang meminta untuk mempercepat masa belajar. Apa lagi kamu ini masih duduk di bangu kelas 1, bagaimana mungkin aku langsung memberikan kamu loncatan kelas nak.”


“Tapi pak, saya berani di tes atau di coba jika memang itu salah satu syarat agar aku bisa  langsung naik ke kelas 3 Smp. Bapak juga sudah tahu sendirikan bagaimana prestasi yang selama ini saya dapatkan?”


“Iya bapak tahu, tapi alangkah baiknya kalau kamu mengikuti semua peraturan dari dinas pendidikan untuk melewati step by step kurikulum yang ada.”


“Tapi pak, brayen mohon tolong memeprtimbangkan permintaan brayen kali ini. Jika memang brayen harus di tes dengan berbagai macam tes brayen siap pak.”


“Ha.. Ha.. ha.. bapak terus terang sangat bangga dengan ambisimu itu nak. Tapi jika kamu mendatangkan orang tuamu menghadap saya, untuk membicarakan Akselerasi yang kamu ajukan ke bapak. Mungkin bapak bisa mempertimbangan semua ke inginan mu itu nak.”


“Apa? Jadi bapak serius?”


“Iya,” ucap kepsek itu sembari menyengir kuda kepada brayen.


“Heran aku, padahal banyak anak seusia Brayen ini lebih memilih untuk bersantai dalam belajar, tapi satu anak ini memang tidak ada tandingannya. Salut aku terhadap keberanian dia.” Gumam kepsek itu sembari melihat Brayen yang tersenyum.


“Baik pak, terimakasih banyak ya pak. Saya akan membicarakan semua ini kepada ke dua orang tuaku.”


“Iya silahkan. Suruh orang tuamu yang menghadap bapak ya.”


“Baik pak.”


Sejak itulah Brayen berusaha untuk menyakinkan Akbar dan juga Eva kalau dirinya mampu untuk mengajukan Akselerasi kepada kepala sekolahnya itu.


“Pah, tadi bRayen sudah menghadap kepsek, untuk mengajukan Akselerasi pah.”


“Apa? Kamu serius?”


“Iya pah. Brayen mohon pah, datanglah untuk menghadap dan membicarakan tentang mempercepat masa belajar Brayen di SMP pah, Brayen mohon.”


“Apakah kamu benar – benar ingin mempercepat masa belajar mu di Smp nak?”


“Apa alasan kamu itu sayang?”


“Sebenarnya Brayen ingin sekali cepat – cepat masuk ke perguruan tinggi di salah satu kota yang sangat brayen impikan itu mah. Plies mah, pah. Brayen mohon. Jika memang brayen harus di tes brayen sudah siap dan sanggup.”


“Kamu sungguh – sungguh serius?”


“Iya mah.”


“Baik, jika memang itu sudah menjadi niatmu, papa akan menghadap kepala sekolahmu.”


“Beneran pah?”


“Iya, tapi ada satu syarat.”


“Apa itu pah?”


“Papa dan mama akan mengetes dan memberikan soal – soal dari kelas 2 dan 3. Jika kamu mampu menyelesaikan semuanya dengan baik, papa akan menghadap kepada Kepala sekolahmu itu.”


“Baik pah, mah. Terimakasih banyak. Brayen janji tidak akan membuat papa dan mama kecewa. Brayen siap jika harus menyelesaikan tugas soal – soal yang papa berikan untuk brayen.”


“Ya kalau memang kamu bisa, tunjukan kepada kami atas kemampuan yang kamu miliki.”


“Baik pah.”


Brayen pun sangat bahagia ketika mendengarkan papa nya menyetujui keinginannya itu. dengan wajah tersenyum Brayen masuk ke dalam kamar. Di kamar dia mulai belajar memahami sendiri satu persatu soal – soal kelas 2 dan 3 yang akan dia tunjukan nanti kepada ke dua orang tua dan kepala sekolahnya itu.


Ia juga meminta kepada Eva untuk di carikan guru bimbelnya yang bisa di panggil ke rumah. Awal itu guru bimbel Brayen sangat terkejut dengan kejeniusan yang di miliki brayen. Brayen mampu menyelesaikan tugas dan soal – soal itu dengan sangat baik dan benar. Hampir 99% semua jawaban Brayen betul semuanya.


 


Hingga suatu ketika Akbar juga mulai mengetes anaknya dengan didampingi guru bimbelnya. Brayen mulai di berikan satu persatu mata pelajaran sekolah dari kelas 2 dan ke kelas 3. Dengan perlahan namun pasti ia mampu menyelesaikan tugas atau soal – soal yang di berikan oleh Akbar dan guru bimbelnya. Akbar juga mulai satu persatu untuk mengoreksi soal – soal yang telah ia berikan kepada anaknya itu. semua jawaban dari soal itu hampir 99% sempurna.


 


“Pah, gimana? Papa sudah percayakan kepada ku sekarang? Papa sudah tahu kalau aku mampukan?”


 

__ADS_1


Dengan mulut yang melonggo Akbar mengagumi anaknya yang sudah mampu menjawab semua jawaban dari soal itu dengan benar.


 


“Baik, kalau begitu nanti papa dan mama akan menghadap kepala sekolahmu.”


 


“Serius pa?”


“Iya, sekarang sudah cukup, dan kamu cepatlah istirahat, karena kamu sudah berpikir terlalu keras hari ini untuk menyelesaikan tugas soal yang papa dan guru mu ini berikan.”


“Baiklah pa. Terimakasih.”


Kemudian Brayen berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat. Beberapa hari kemudian Akbar dan juga Eva pergi untuk menghadap atau menemui kepala sekolah Brayen.


Tok.. Tok.. Tok..


“Iya silahkan masuk.”


“Permisi pak.”


“Iya silahkan duduk,” ucap kepala sekolah itu sembari menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Kemudian kepala sekolah itu mempersilahkan duduk Akbar dan juga Eva.


“Ada apa ya bapak ke sini.”


“Jadi gini pak, kedatangan kami kemari menghadap bapak, kami ingin mengajukan akselerasi untuk anak kami yaitu salah satu siswa bapak. Nama nya Brayen.”


“Owh, Brayen. Memang dulu dia pernah menghadap saya untuk meminta mempercepat masa belajar, atau akselerasi. Akan tetapi, saya memang tidak mengijinkan dia untuk pengajuannya itu. karena kenapa, karena saya belum ingin Brayen lulus dari sekolahan ini dengan kemampuan yang dia terima step by step.”


“Tapi pak, kami mohon, berikan dia izin supaya dia cepat untuk mengapai semua cita – citanya.”


“Tapi bu, saya tidak yakin dia mampu untuk menyelesaikan semua tugas yang akan saya berikan dari kelas 2 atau 3. Sebab banyak kurikulum yang setiap tahun selalu berubah – ubah.”


“anak saya sudah siap jika dia harus di tes,”


“Jadi begini pak Akbar, biar saya jelaskan secara rinci, biar bapak dan ibu juga paham mengenai akselerasi yang ada di dinas pendidikan. Anak harus bisa menunjukan kesiapannya untuk tingkatan nilai akademis yang dia miliki, kemudian apakah siswa tersebut sudah mampu untuk melatih kreatifitas dalam semangat belajarnya yang tinggi. Lalu siswa yang mengajukan mempercepat masa belajarnya itu harus bisa benar – benar memahami pelajaran materi tingkat atas, apa lagi siswa harus wajib memahami beberapa konsep trigonometri.”


“Saya yakin pak kalau anak saya mampu dan bisa.” Kata Eva.


Kepala sekolah itu terdiam sesaat setelah eva mengatakan kalau dirinya menyakinkan bahwa anaknya mampu menghadapi semuanya itu. kepala sekolah itu juga berpikir bahwa memang nilai akademis yang di miliki brayen dari tingkat SD sampai saat ini begitu sangat bagus. Apa lagi dia juga sudah pernah memenangkan beberapa lama antar provinsi dengan membawa pulang piala utama dan mengharumkan nama sekolahannya itu.


“Baik, kalau begitu saya akan memberikan ijin untuk Brayen. Akan tetapi semua itu juga butuh syarat dan proses. Berhubung saat ini akan mendekati ujian kenaikan kelas saya mohon kepada bapak dan ibu dari siswa yang bernama Brayen kalau memang akan atau jadi mengajukan akselerasi tes kenaikan kelas itu wajib di atas kkm, kemudian waktu belajar harus dipadatkan, dan masih banyak lagi. Nanti akan saya berikan sepotong kertas syarat dan prosesnya ya bu.”


 


“Terima kasih banyak ya pak. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak.”


 


“Iya sama – sama. Memang sedikit berat persyaratan yang akan Brayen tempuh. Tapi jika semua itu sudah menjadi niat, saya yakin brayen pasti bisa. Satu hal lagi, berhubung 3 bulan lagi ujian kenaikan kelas akan di mulai. Saya akan membrikan ujian khusus untuk brayen. Jika dia mampu untuk melewati tahapan – tahapan ujian kenaikan kelas nanti, saya yakin dia pasti bisa langsung naik ke kelas 3. Tapi jika dia belum bisa. Dengan berat hati saya tidak akan mengijinkan Brayen untuk mempercepat masa belajar di SMP.”


 


“Baik pak, kami mengerti. Sekali lagi terimakasih.”


 


Karena keyakinan dan tekad bulat yang di miliki oleh Brayen maka ia mampu untuk mempercepat masa belajarnya mulai dari SD, SMP, dan SMA. Setiap ujian kenaikan kelas atau mid semester peringkat satu selalu ia dapatkan. Dengan penghargaan dan hadiah pemberian dari sekolah selalu ia dapatkan. Brayen juga selalu menerima beasiswa yang di berikan khusus oleh pemerintah karena kejeniusannya dalam mengerjakan semua mata pelajaran yang ia ikuti. Terlebih ia mengajukan akselerasi yang biasanya jarang siswa seperti dirinya, bahkan hampir tidak ada sama sekali. Bisa di bilang 1001 siswa yang berpendidikan seperti Brayen.


 


Maka dari itu, ia bisa melanjutkan kuliah di kampus termahal yang saat ini bisa satu fakultas atau satu kampus dengan Pelangi. Perguruan tinggi yang begitu sangat ia idam – idamkan. Mungkin ini memang terdengar sangat asing di telinga kita, namun nyatanya semua yang menjadi ke ingin brayen bisa ia tempuh dengan begitu mudahnya akibat kejeniusannya yang ia miliki. Tidak hanya Nilai – nilai akademis yang sangat bagus ia miliki tapi beberpa budi pekerti dan lain – lainnya pun juga sangat bagus.


 


Banyak wanita begitu sangat mengagumi ketampanannya, dan juga kejeniusannya itu. Akan tetapi dia tidak memiliki sikap yang sombong, angkuh dan juga pelit. Brayen selalu membantu temannya atau mengajari teman yang setara dengan dia untuk mengerjakan semua tugas – tugas dari sekolah yang belum mereka ketahui cara mengerjakannya.


 


Akbar dan Eva begitu sangat bangga mempunya anak yang jenius seperti Brayen. Mereka tidak salah mendidik Brayen menjadi seperti ini. Apa lagi brayen sangat membenci dengan orang yang sering membuang waktunya dengan sia – sia. Di kala teman – temannya sedang asik menongkrong, akan tetapi brayen sama sekali tidak mau di ajak oleh teman – temanya itu. Menurut Brayen, waktu adalah uang di mana waktu itu akan ia gunakan dengan sebaik – baik mungkin  untuk mencari ilmu dengan membaca, atau mengerjakan tugas – tugas dari gurunya.


 


Di waktu senggang dia selalu menyempatkan diri untuk membaca buku – buku di perpustakaan daerah. Ia sering sekali membaca buku - buku di sana. Hampir semua buku memenuhi semua ruangan kamar pribadinya itu. mulai dari komik, novel, buku sejarah, dan masih banyak lagi. Ia merasa sebuah buku adalah emas bagi dirinya. Sebab ia juga salah satu penggemar buku – buku kuno seperti buku novel kuno Hed Lied Van Bernadette, buku soekarno, buku babad mataram, buku sarinah dan masih banyak lagi. Di situlah ia mulai menggemari atau hobi membaca buku.


 


Ia tidak memperduli orang mau bilang apa tentang dirinya, sebab ia terpenting dalam hidupnya adalah dia bisa membahagiakan ke dua orang tuanya yang sudah payah menjaga mendidik dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Menurutnya keluarga itu adalah harta yang paling berharga. Ia juga berfikir kalau tiada keluarga apalah daya raga tak dapat memerangi hidup yang penuh dengan kekejaman ini.


 


Sifat yang sangat cuek yang di milikinya membuat semua wanita melihat Brayen adalah laki – laki yang sangat cool, perfect dan lain – lain. Suatu ketika ada seorang wanita yang ingin sekali mempunyai hubungan lebih dengan Brayen, namun ia sama sekali tidak memperdulikan wanita itu sehingga wanita itu merasa lelah menghadapi sikap cuek yang di miliki brayen.

__ADS_1


Bersambung....


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2