Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Cerita


__ADS_3

Kegiatan ospek pun sudah selesai. Mahasiswa baru sudah memulai mengikuti mata kuliah seperti pada umumnya. Kebetulan Pelangi dan Brayen bisa sama – sama dalam satu fakultas dan satu kelas.


Awal masuk kuliah ini bisa di bilang adalah masa transisi untuk Pelangi dan juga mahasiswa baru lainnya yang di mana perubahan dari masa sekolah dan kuliah itu perlu di lakukan. Biasanya di sekolah saat itu memakai seragam, sedangkan saat kuliah hanya memakai pakaian bebas tetapi tetap menjaga kesopanan dalam berpakain. Apa lagi ketika sekolah sebutan untuk murid adalah siswa, namun kini sebutan itu berubah menjadi mahasiswa. Begitu pula dengan pengajarnya, yang dulunya di sekolah sering di sebut dengan sebutan Guru, sekarang berbeda memanggil seorang pengajar dengan sebutan Dosen.


Kesan pertama kalinya saat di ajar oleh dosen waktu itu, Pelangi merasa dosen lebih santai dalam memberikan atau menyampaikan beberapa materi mata kuliah berbeda dengan guru. Tetapi tetap saja tugas yang di berikan dosen sama seperti saat sekolah, yaitu tugas individu atau tugas kelompok yang harus dikumpulkan tepat waktu. Apa lagi banyak tugas yang sering di kejar – kejar dosen agar segera di kumpulkan. Walaupun hal tersebut memang melelahkan, namun Pelangi tetap harus menjalankan perkuliahan ini dengan semangat apa lagi ia mempunyai teman – teman baru.


Pernah di suatu ketika di saat Pelangi sedang akan keluar dari kantin ia tidak sengaja bertabrakan dengan Brayen. Semua buku yang saat itu di pegang pelangi terjatuh di lantai. Dan Brayen membantu menata buku itu kemudian ia berikan kepada Pelangi.


Bbrruukkk...


“Maaf,” ucap Brayen.


“saya yang seharusnya meminta maaf kepadamu.” Kata pelangi sembari menundukan kepalanya tanpa melihat wajah Brayen.


“Sepertinya saya yang tidak berhati – hati jalannya.”


“Bukan, bukan kamu, tapi aku, aku yang terburu – buru berjalannya.”


“Owh, kalau begitu kamu lain kali yang hati – hati ya. Permisi.” Kata Brayen yang langsung begitu saja meninggalkan Pelangi setelah membantu untuk menata buku yang terjatuh itu.


Sahabat baru Pelangi yang bernama Cici pun terkagum – kagum ketika melihat Brayen dari dekat.


“Gila, tuh cowok ganteng abis.”


“Siapa?”


“Iya itu, cowok idaman para wanita di kampus ini yang barusan tabrakan sama lo.”


“Owh, Brayen maksud lo?”


“Iya Brayen. Beneran deh dia cakep banget. Gue terpesona melihat ketampanannya. Andaikan saja dia itu cowokku. Pasti udah gue lem dihati ini. Bagaikan perangko sama amplop. Nempel terus. Ha.. Ha.. Ha..”


“Idih, ngimpi lo.”


“Beneran Ngik, dia itu cowok idaman para wanita yang ada di kampus ini. Tapi sayangnya dia itu cuek abis.”


“Masak sih?”


“Iya Ngik, lo sih orangnya serius banget sama kuliah, jadi ya gini deh. Ketinggalan berita.”


“Ya, niat gue ke kampuskan hanya akan belajar dan menggapai ilmu Cik. Gak kayak lo, cuman liatin cowok sana cowok sini.”


“Maksud lo, gue ganjen gitu?” tanya Cici sembari memanyunkan mulutnya.


“Ha.. ha.. ha.. enggak, enggak, bercanda. Udah ah ayo pulang.”


“Ih lo mah jahat baget sih Ngik ama gue?”


“Bercanda sayang. Piss. He.. he.. he.. sekarang gue anterin lo pulang ya.”


“Emang bener sih yang di bilang Cici, Brayen memang ganteng. Tapi dia cuek banget, buktinya dia langsung pergi gitu aja setelah menabrak aku tadi.” Kata Pelangi di dalam hatinya sambil melihat ke arah bawah dan menggenggam buku yang baru saja terjatuh.


Kemudian mereka pun mulai melanjutkan langkah kakinya untuk menuju ke tempat parkir kendaraan.


“Cik gue mau ke supermarket dekat sini dulu, lo mau ikut kagak?” tanya Pelangi kepada sahabatnya.


“Enggak ah Ngik, gue ada acara ama pacar gue.”


“U.. u.. Dasar lo. Giliran ma lakinya aja ogah ama gue.”


“He.. he.. he.. Maaf ya Ngik, mumpung lagi ada waktu senggang, jadi gue manfaatin aja buat ketemu ama cowok gue.”


“Iya sudah, lo hati – hati ya Ci.”


“Lo juga. Bye..”


Pelangi pun kemudian pergi sendirian di supermarket yang dekat dengan kampus. Sesampai di supermarket itu, Pelangi lanjut membeli makanan dan minuman. Usai membayar makanan dan minuman yang ia beli, ia kemudian pergi ke sebuah toko buku. Pelangi berniat ingin mencari novel yang akan dia baca untuk menemani dirinya sebelum tidur, atau ketika mengisi waktu senggangnya. Pelangi memang hobi senang membaca.


Di saat dirinya duduk di sebuah tempat membaca yang di sediakan oleh toko itu sembari membaca deskripsi , ada seorang laki – laki yang mendekati dirinya. Laki – laki itu tiba – tiba menyodorkan tangannya di hadapan Pelangi saat Pelangi sedang fokus membaca, ia ingin memperkenalkan dirinya di hadapan Pelangi.


“Hay...”


Pelangi kaget dan kemudian melihat ke arah laki – laki itu.


“Iya...” jawab Pelangi dengan nyengir kuda.


“Boleh kenalan?”


“Owh, iya. Aku Pelangi.” Ucap Pelangi dengan bersalaman kepada laki – laki itu.


“Kenalin, aku Calvin.”


“Calvin?”


“Iya aku kakak angkatan mu. Ak udah semester empat.”


“Owh,”


“Kamu sekolah di universitas xxx kan?”


“Iya, kok kamu tahu?”


Calvin hanya tersenyum.


“Apa kamu enggak mengenali aku?” tanya Calvin kepada Pelangi.


“He.. he.. he.. Maaf kak. Aku lupa. Kak Calvin yang mana ya?” tanya Pelangi.


“Oke deh tak masalah. Jadi aku ini adalah salah satu dari beberapa panitia saat mengadakan ospek kemarin. Inget enggak?”


Pelangi hanya membalas dengan senyum siputnya. Sebab dia sama sekali tidak mengenal siapa Calvin. Akan tetapi Pelangi masih menanggapi perkenalannya dengan laki – laki yang memperkenalkan dirinya itu. Calvin begitu sangat mengagumi kecantikan yang di miliki Pelangi.


Ketika dia berkenalan dengan Pelangi, ia begitu sangat senang. Sebab wanita yang selalu ia lirik dan curi – curi pandang kini telah berada di hadapannya. Sebelum Calvin memberanikan untuk memperkenal kan dirinya kepada Pelangi, ia hanya bisa melihat dari jarak jauh wajah manis nan cantik yang di miliki Pelangi. Setelah ia bisa berhadapan langsung dan melihat dari dekat kecantikan yang di miliki oleh Pelangi itu, hati Calvin pun terlihat begitu bahagia. Sebab yang sedang ada di hadapannya itu adalah wanita yang ia sukai.


“Gila nih cewek. Dari jauh saja kecantikannya bukan main. Apa lagi dari deket kayak gini. Beneran, gue kayak ngimpi bisa lihat dia sedekat ini. Sumpah, enggak ada yang bisa menandingi kecantikan dia di kampus. Mengapa jantung gue berdetak kencang kayak gini ya. Aduh, jangan gugup Vin, jangan Gugup.” Gumam Calvin dari dalam hatinya.

__ADS_1


“Kak...” kata Pelangi sambil mengibas – ngibaskan tangannya di depan wajah Calvin yang sedang melamun itu.


“Owh, iya.. Kenapa Ngik?”


“Kak Calvin masih mau di sini apa mau pulang?”


“Memang ada apa?”


“Kalau kak Calvin masih mau di sini, aku pamit pulang dulu ya. Ini juga udah sore.”


“Owh, kalau begitu biar aku anterin kamu Pulang yuk.”


“Enggak usah kak, lagian aku juga bawa mobil sendiri.”


“Owh, ya udah, kebetulan aku juga udah nyari bukunya. Kalau begitu kita keluar bareng ya.”


“Owh, oke kak.”


Kemudian mereka berjalan bersama berdua menuju pintu keluar toko buku itu. Pelangi pun berjalan menuju ke arah mobil pribadinya lalu menghidupkan mesin mobilnya itu dan kemudian pergi meninggalkan Calvin di depan toko itu. Setelah Pelangi pergi, Calvin begitu sangat bahagia karena dia bisa berkenalan dan melihat wajah cantik Pelangi. Akan tetapi Calvin menyesal karena ia lupa untuk meminta no Hp Pelangi. Ia membodoh – bodohkan dirinya sendiri karena ia terlalu menikmati melihat wajah cantik Pelangi sehingga lupa untuk meminta no telepon Pelangi.


“Aadduuhh... ****, ****. Gue ****. Kenapa bisa sampai lupa sih minta no Hp Pelangi. Agh!” Gerutu Calvin sambil tangannya yang mengepal dan memukul pelan jidatnya sendiri.


Sesampai di rumah sepulang dari toko buku itu, Pelangi kemudian masuk ke kamar dan membersihkan seluruh tubuhnya. Selesai mandi dan lain – lain Pelangi kemudian duduk di ayunan dekat dengan gazebo yang ada di belakang rumah tepat di samping kolam renang. Ia mulai membaca sebuah buku novel yang di belinya tadi.


Amel datang mendekati Pelangi yang sedang membaca buku itu. Amel memang sangat dekat sekali dengan Pelangi. Sebab Pelangi begitu menyayangi Amel.


“Kak, lagi ngapain?” tanya Amel.


“Lagi baca novel Mel. Kenapa?


“Kak kita jalan – jalan ke mall yuk.”


“Aduh dik, kakak baru saja sampai rumah.”


“Ayolah kak. Amel bosen nih di rumah.”


“Sekarang?” tanya Pelangi.


Amel pun hanya mengangguk - anggukan kepalanya.


“Memang amel mau ngapain ke mall?”


“Jalan – jalan saja kak. Ya, kita lihat lihat dulu di sana nanti, kalau sudah sampai moll pasti nanti kita ada inspirasi buat beli sesuatu di sana. Ya kak.” Ucap Amel yang merengek – rengek ingin mengajak pergi kakaknya itu.


“Dasar adik kakak satu ini memang paling pintar buat ngerayu kakak.”


“Ya udah sekarang kamu ganti baju. Kakak juga mau ganti baju. Yuk kita berangkat sekarang mumpung masih sore.”


“Yea.. oke deh kak. Aku siap – siap dulu ya kak.”


“Iya sayang.”


Akhirnya mereka berdua pergi berjalan untuk masuk ke kamar masing – masing untuk mempersiapkan dirinya yang akan pergi ke mall. Pelangi sudah duluan selesai ganti pakaian dan siap untuk pergi. Ia menunggu Amel di ruang tamu sambil memainkan handphone nya.


“Iya kak sebentar lagi.” Teriak Amel.


Beberapa menit kemudian tante Melly datang dengan membawakan sebuah cinderamata oleh – oleh dari Korea. Sebab beberapa hari yang lalu tante Melly habis liburan di Korea bersama keluarganya. Tante Melly adalah tante dari Cleo, tepatnya adik kandung dari Riri, ibunda Cleo. Ia sudah berumah tangga namun tak kunjung di berikan momongan. Ia memang mempunyai satu anak. Dan anak itu adalah anak angkat yang berasal dari keluarga jauh suaminya itu.


Ia membelikan cindera mata hanya untuk di berikan kepada Amel saja, sebab Amel adalah cucu kandung dari Cleo. Sedangkan Pelangi menurut Melly, ia adalah anak bawaan Kia dengan laki – laki lain. Melly memang tidak menyukai Kia sejak awal menikah dengan Cleo. Dengan Alasan ia tidak rela kalau keponakannya yang ia cintai harus menikah dengan seorang janda yang mempunyai satu anak. Apa lagi Kia hanya keturunan dari keluarga yang sederhana, dan tidak sebanding dengan kekayaan yang dimiliki oleh Cleo.


“Amel, Amel.” Panggil Melly kepada cucu kandungnya itu.


“Eh, tante Melly.” Sapa Pelangi kepada Melly sambil mengajukan tangannya untuk bersalaman.


Akan tetapi Melly sama sekali tidak mau membalas sapaan dan berjabat tangan yang saat itu di lakukan oleh Pelangi. Pelangi lalu menurunkan tangan. Dengan sadis Melly bertanya kepada Pelangi tentang Amel.


“Amel mana?!” tanya Melly.


“Owh, Amel di kamarnya tan. Mungkin sebentar lagi dia akan turun.”


Tak lama Amel keluar dari kamar dan turun ke bawah. Ia kemudian menemui tante Melly yang sedang menunggu dirinya di bawah.


“Sayang.”


“Eh, ada tante Melly. Kapan pulang ke indonesianya tan?”


“ya sekitar beberapa hari yang lalu tante pulang.”


“Owh, tante sehatkan? Tante dari tadi di sini?”


“Iya, tante nungguin kamu keluar dari kamar. Iya sayang tante baru saja sampai sini.”


“Eeemmmm... tante mau ngapain ingin bertemu dengan Amel?”


“sini – sini duduk dulu di dekat tante. Tante membawakan sesuatu untuk kamu.”


“Apa tan?” tanya Amel sambil melihat beberapa isi tas yang di berikan oleh Melly.


“Makannya kamu duduk dulu deket tante.”


Amel pun duduk di dekat melly sambil membuka – buka beberapa tas yang di letakan oleh melly di atas meja tamu. Sedangkan di depan mereka Pelangi hanya duduk diam dengan memegang Hpnya. Dan saat itu pun Pelangi hanya menonton mereka mengeluarkan isi dari dalam tas – tas yang di bawa oleh Melly tadi.


Isi dari dalam tas itu adalah oleh - oleh dari korea. Melly sengaja membelikan cinderamata itu hanya untuk Amel. Cinderamata dari korea itu berupa Syal, tas Kanvas lukis tulis, hanbok, sujeo, beberapa kosmetik dari Korea dan masih banyak lagi. Amel yang menerima Cinderamata dari Melly begitu sangat senang. Sebab ia begitu sangat menyukai Korea. Mulai dari artis korea, k- pop, tradisi dan wisata alam yang ada di korea. Selesai membuka beberapa bingkisan yang di berikan oleh Melly, kemudian Amel berpamitan akan pergi bersama Pelangi.


“Tante makasih ya oleh – olehnya untuk Amel. Amel seneng banget sama pemberian dari tante ini.”


“Sama – sama sayang.”


Amel lalu melihat ke arah Pelangi yang sedang duduk di hadapannya sambil memainkan Hp pribadinya.


“Kak, kakak oleh – olehnya apa dari tante Melly?” tanya Amel.


“Emm,,,”


Ketika Pelangi akan berbicara Melly langsung menyahut begitu saja untuk mengalihkan pertanyaan Amel. Sebab saat itu Pelangi sama sekali tidak mendapatkan oleh – oleh dari Melly, seperti Melly memberikan banyak cinderamata untuk Amel.

__ADS_1


“Kakak kamu sengaja tidak tante belikan oleh – oleh dari korea. Sebab dia kan sudah besar dan dia anak sulung. Jadi kakakmu itu enggak butuh kayak gini.”


Amel hanya diam dan melihat ke arah Pelangi lagi. Dan saat itu juga Pelangi sama sekali tidak berbicara apa – apa, dia hanya diam dan diam dengan seribu bahasanya.


“Owh, iya cantik. Kamu mau ke mana sih? Kok rapi banget?”


“Aku mau Pergi ke mall sama kakak tante.”


“Ke mall?”


“Iya tan.”


“Ngapain?”


“Jalan – jalan. Amel bosen di rumah.”


“Emm, sebenernya sih tante ke sini enggak cuman mau ngasih ini saja. tante kangen banget sama kamu. Tante ke pingin pergi jalan – jalan sama kamu.”


“Owh, ya udah. Kebetulan banget tan. Kita jalan – jalan bertiga saja. pasti seru.”


“Bertiga dengan kakakmu?”


“Iya tan, aku sama kak Pelangi memang mau pergi jalan – jalan di mall.”


“Tapi tante maunya cuman sama Amel saja. kalau kakak kamu kan sudah sering pulang kampus mampir ke mall.”


“Em, kalau begitu tante pergi sama Amel saja. biar aku di rumah saja tan.” Pinta Pelangi yang sengaja menawarkan kepada Melly.


Melly pun sengaja mengatakan seperti itu supaya Amel membatalkan untuk pergi bersama Pelangi. Karena Melly ingin Amel pergi bersama dirinya saja tanpa Pelangi.


“Amel mau kan pergi sama tante saja berdua?”


“Tapi tan, kak Pelangi kan juga sudah siap. Kasihan kakak, sudah menunggu Amel lama tapi enggak jadi pergi.” Ucap Amel sembari memanyunkan bibirnya.


“Amel, kakak enggak apa – apa kok. Biar kakak di rumah saja. nanti Amel pergi sama tante Melly saja. Lagian tante Melly sangat merindukan kamu.”


“Tapi kak?”


“Tenang saja, adik kakak yang cantik. Kakak enggak apa – apa kok. Lagian badan kakak capek sekali tadi habis pulang kuliah.”


“Bener? Kakak enggak apa – apa?”


“Iya sayang.”


“Ya udah yuk tan kita Pergi.”


“Oke deh.”


“Kak, Amel, sama tante pergi dulu ya.”


“Iya hati – hati di jalan ya.”


“Pelangi, tolong kamu bereskan semua itu ya.” ( sambil menunjuk ke arah barang – barang yang di atas meja ). Pinta Melly.


Pelangi pun menuruti semua apa yang di katakan oleh Melly. Ia merasa kalau sejak kecil Melly sudah terlihat membedakan kasih sayang yang dia berikan kepada Amel dan juga Pelangi. Melly memang menyuruh kepada Amel dan juga Pelangi supaya memanggil dirinya dengan sebutan Tante, ia tidak mau dipanggil Uti, Nenek, atau pun oma.


Setelah Amel dan Melly pergi Kia datang mendekati Pelangi yang sedang membereskan barang – barang yang di bawa Melly tadi. Kia bertanya kepada Pelangi, karena membereskan barang – barang yang ada di meja itu.


“Loh, itu barang – barang milik siapa nak? Kok berantakan sekali?”


“Ini dari tante Melly bun.”


“Owh, tante Melly sudah pulang ke Indonesia? Terus di mana tante nak?”


“Tante sedang pergi bersama Amel ke mall bun.”


“Terus kenapa ini semua kamu yang membereskan?”


“Enggak apa – apa bun, tante Melly katanya sangat merindukan Amel. Jadi mereka langsung pergi begitu saja setelah membuka cinderamata yang di beli oleh tante melly untuk Amel bun.”


“maksud kamu untuk Amel? Barang – barang ini juga ada untuk kamu kan nak?”


Pelangi hanya tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari Kia.


“Kok kamu diem? Pasti kamu tidak di belikan lagi ya sama tante?”


“Sudahlah bun, Pelangi enggak apa – apa kok. Lagian Pelangi juga sudah besar. Biar dik Amel yang sekarang mendapatkan perhatian.” Ucap Pelangi sambil merapikan barang – barang itu.


“Kamu yang sabar ya nak. Sini bunda bantu. Besok kalau kita pergi berlibur di luar negri bersama ayah, bunda janji Pelangi mau memilih apa saja terserah Pelangi.”


“Bunda, Pelangi enggak apa – apa ya bun. Bunda jangan begitu ah, kalau bunda berkata begitu, Pelangi seperti masih bayi saja. He.. he.. he..”


Kia kemudian memeluk Pelangi dan mengusap – usap rambut Pelangi kala itu. Kia tidak tega melihat Pelangi yang tak henti – hentinya harus merasakan atau mengalami kepahitan di hidupnya. Sebab, sejak di dalam kandungan hingga ia besar seperti sekarang ia selalu saja ada orang yang membenci dirinya.


“Kasihan anakku ini, dia harus merasakan hidup di benci lagi oleh orang – orang di sekitarnya, dulu ayah kandungnya sendiri, sekarang neneknya. Aku tahu kalau Tante Melly memang sengaja membedakan kasih sayangnya untuk Pelangi dan Amel. Mungkin karena Pelangi bukan anak kandung Cleo. Sedangkan Amel adalah cucu kandung tunggal dari keluarga ini. Bunda janji sayang, akan terus ada disampingmu nak dan bunda akan berjuang untuk mempertahankan senyum manis yang keluar dari wajah mu.” Gumam Kia sambil melamun melihat Pelangi.


“Bun. Bunda.” Kata Pelangi sambil melambai – lambai tangannya di hadapan Kia yang sedang melamun.


“Eh, iya sayang kenapa?”


“Bunda benggong. Bunda baik – baik aja kan bun?”


“Iya bunda baik. Baik kok sayang. Bunda hanya rindu ingin memeluk kamu. Sebab sudah lama sekali bunda tidak memeluk Pelangi kecil bunda ini.”


Kemudian Kia dan Pelangi saling peluk memeluk satu sama lain.


“Pelangi sayang banget sama bunda. Terimakasih ya bun, karena bunda selalu ada di samping Pelangi.”


“Sama – sama sayang. Bunda juga sangat mencintai Pelangi. Eeemmuuuaaacccchhh....” kata Kia sambil mencium kening putrinya itu.


 


Bersambung...


⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2