
Tengah malam waktu itu, Kia terbangun dari tidurnya, ia kemudian tiba – tibar langsung berlari menuju ke kamar mandi ia merasa mual, di sana masih terlihat Cleo yang tertidur sangat pulas karena kelelahan seharian bekerja. Kepala Kia juga begitu terasa pusing dan berat. Ia kemudian mencari obat yang sudah tersedia di rak mejanya yang berada di samping tempat tidur.
Selesai meminum obat itu, ia merasa sakit kepalanya itu mulai mereda. Kemudian ia kembali untuk lanjut tidur.
Pagi harinya di mana waktu sarapan yang biasanya Kia yang menyiapkan semua hidangan di atas meja, belum terlihat. Riri kemudian bertanya kepada asisten rumah tangganya itu.
“Bik di mana Kia? Apa dia belum bangun?” tanya Riri.
“Belum nyonya,” jawab asisten rumah tangga itu.
“Kok tumben ya, Kia jam segini belum bangun? Biasanya pasti dia yang menyiapkan semua hidangan di atas meja ini.” gumam Riri dari dalam hati.
Riri kemudian berjalan menuju kamar Cleo. Sesampai di depan kamar Cleo, Riri lalu mengetuk – ngentuk pintu itu.
Tok.. tok.. tok..
Cleo terbangun dan beranjak dari tempat tidurnya lalu berjalan untuk membukakan pintu itu.
“Iya sebentar.” Ucap Cleo.
Cklek...!
“Owh, bunda. Ada apa bun?” tanya Cleo sambil menggosok – gosokkan matanya.
“Em, Kia belum bangun ya?” tanya Riri.
“Belum bun, tuh dia masih tidur. Ada apa bun? Biar aku bangunkan dia, kalau bunda ada perlu?”
“Owh, tidak usah nak, kok tumben sudah siang gini dia belum bangun? Biasanya dia yang menyiapkan makan pagi kita.” Tanya Riri.
“Kan udah ada bibik bun? Mungkin Kia lagi ke capekan bun, biarkan dia istirahat.” Ucap Cleo.
“Ya sudah, ya sudah. Kalau begitu bunda turun lagi. Kamu cepetan mandi gih. Ini udah siang loh. Nanti terlambat pergi ke kantornya.”
“Iya, iya bun.”
Riri kemudian kembali turun ke bawah dan berjalan menuju ke ruang makan. Dirinya khawatir kalau Kia sedang sakit.
Cleo yang selesai menutup pintu kamarnya kemudian berjalan lagi menuju tempat tidurnya. Sesampai di tempat tidur itu, ia kembali membaringkan tubuhnya di depan Kia. Kemudian ia menyipakan rambut Kia yang menutupi telinganya itu sembari memandang wajah Kia yang masih terlihat pulas tidurnya.
“Sayang, kamu cantik sekali sih, kalau lagi tidur seperti ini.” Ucap Cleo dari dalam hatinya.
Kia pun mengeliatkan tubuhnya. Kemudian mengatikan posisi tidurnya yang awalnya miring, ia kemudian membaringkan tubuhnya itu. Cleo masih saja menatap wajah istrinya itu sambil tersenyum manis dengan menyandarkan separuh tubuhnya ke bahu tempat tidurnya sambil duduk melihat wajah Kia.
Sudah hampir sepuluh menit, Cleo tidak berhenti untuk memandangi wajah Kia yang sedang tertidur itu, tiba – tiba Kia membukakan matanya, lalu ia bergegas untuk bangun dari tidurnya. Cleo hanya tersenyum manis melihat wajah istrinya yang baru saja terbangun itu.
Ketika Kia melihat Cleo, Kia langsung turun dari tempat tidurnya dan akan menggenakan sandal kamar tidurnya. Akan tetapi Cleo tiba – tiba langsung mengeret tangan Kia.
“Kamu mau ke mana?” tanya Cleo yang masih memegang tangan Kia.
“Ya ampun mas, aku ke siangan ini bangunnya. Aku juga belum menyiapkan sarapan pagi untuk kalian.”
“Huusst.. jangan khawatir semua sudah beres, bibik sudah mempersiapkan semuanya.”
“Tapi mas, aku enggak enak sama bunda.”
__ADS_1
“Kenapa tidak enak? Sini sebentar lah sayang, duduk dengan aku.” Ucap cleo.
“Ah, apaan sih kamu mas, aku mau turun ke bawah dulu. Takutnya bunda mencariku nanti.”
“Bunda baru saja dari sini.”
“Apa? Ya udah kalau begitu aku mau buru – buru turun ke bawah dulu mas.”
“Hhee.. sini sebentar, masa kamu enggak mau mencium suami kamu ini? Kasih sambutan yang hangat dulu dong di pagi hari.”
Kia hanya tersenyum malu, ia kemudian duduk mendekati suaminya itu. di saat Kia sudah duduk di hadapan suaminya, bibir Cleo langsung mendarat begitu saja dimulut Kia.
“Mas, ini masih pagi. Udah sana pergi mandi. Aku mau bantu bunda.” ucap Kia yang mendorong tubuh Cleo.
“kamu tahu gak sayang, aku tuh setiap hari kangen banget sama kamu. Pengen cepet – cepet pulang ke rumah untuk melihat wajah kamu ini. Beneran deh. Kamu sih bikin aku kangen terus."
“Udah deh, pagi – pagi enggak usah ngegombal. Buruan mandi sana gih.”
“Mandiin, yuk Ay.” ucap Cleo sambil tersenyum.
“sudah sana buruan mandi, nanti terlambat ke kantornya loh." Ucap Kia
“Sayang dulu dong Ay.”
“Eemmuucchhh.... udah, sekarang mandi ya. Kan udah aku cium." Kata Kia sambil tersenyum malu.
"Kurang Ay."
"Hem, udah sa.. naa.." ucap Kia.
"Pagi bun." Sapa Kia yang melihat Riri sedang merapikan piring makan di atasa meja.
"Eh, kamu udah bangun?" Ucap Riri
"Maaf ya bun, Kia ke siangan bangunnya."
"Iya enggak apa - apa sayang. Bunda tahu kok, kalau kamu pasti kecapekan."
Kia hanya tersenyum. Kemudian Kia mulai membantu Riri untuk menyiapkan sarapan paginya. Setelah semua selesai Kia kemudian kembali masuk ke kamarnya dan melakukan ritual pagi yang biasa dia lakukan.
Lalu setelah semua hidangan untuk sarapan pagi sudah siap dan mereka pun makan bersama – sama pagi itu. waktu itu wajah Kia terlihat sangat pucat dan lesu. Riri kemudian bertanya kepada Kia. Dan menyuruh Kia untuk segera beristirahat hari itu.
“Kia, kamu baik – baik saja kan?” tanya Riri yang melihat wajah Kia begitu sangat pucat.
“Aku merasa sedikit pusing bun. Dari tadi malam, kepalaku terasa berat sekali.”
__ADS_1
“Kita ke dokter sekarang ya, Periksakan kondisimu.” Ajak Cleo.
“Tidak usah mas, aku mungkin hanya kecapekan saja.”
“tapi kita harus tahu kamu sakit apa sebenarnya Kia.” Kata Cleo yang sangat – sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.
“Sudah, kamu tenang saja. Aku enggak apa – apa kok Ay,” ucap Kia.
“Yakin?”
“Iya mas.” Jawab Kia sembari menggenggam tangan cleo.
“Tapi wajah kamu terlihat pucat sekali.”
“Apa iya bun?” tanya Kia yang begitu saja langsung bertanya kepada ia.
“Iya Kia, Wajah kamu sangat terlihat pucat sekali.” Ucap Riri.
“mungkin karena kepala Kia rasanya sakit ya bun.”
“Ya sudah habiskan saja sarapan kamu itu, terus kamu istirahat lah. Tiduran saja di kamar.”
“Iya bun, nanti Kia akan ke kamar, setelah mas Cleo sudah berangkat kerja. Tapi nanti Kia tidak bisa membantu bunda membereskan semua ini?”
“Sekarang yang terpenting adalah kesehatan kamu sayang. Urusan rumah, biar nanti di beresin sama bibik. Jangan pikirin yang lain. Yang harus kamu pikirkan adalah kesehatan kamu ya.”
“baik lah kalau begitu bun. Emm, maaf ya bun, tadi Kia bangun kesiangan jadi tidak bisa menyiapkan sarapan pagi ini. Sebab tadi malam Kia mual – mual dan pusing sekali kepala ini. Setelah itu Kia coba ambil obat yang ada di tempat khusus obat. Ehh, begitu selesai meminumnya, Kia bisa tidur sangat pulas sekali sampai – sampai tidak tahu kalau tadi bangunnya ke siangan.”
“Jangan – jangan kamu hami?” ucap Riri spontan.
“Aamiin. Semoga saja ya bun. Supaya Pelangi bisa mempunyai adik dan teman bermain di rumah. Iya kan sayang?” tanya Cleo.
Kia tersenyum mendengarkan ucapan suaminya itu tadi.
“Kalau kamu menunggu aku, pasti nanti akan lama sayang, sekarang kamu lebih baik istirahatlah di kamar ya.” Ucap Cleo sembari memegang bahu Kia yang saat itu sedang sarapan.
“enggak apa – apa aku tinggal ke kamar mas?” tanya Kia.
“Iya sayang.” Balas Akbar.
“Kalau begitu aku mau ke kamar dulu ya mas. Kepala aku pusing banget soalnya.” Ucap Kia sambil memegangi kepalanya itu.
“Sini biar aku bantu kamu berjalan ke kamar Ay,”
“Aku bisa sendiri kok mas.” kata Kia.
“Udah, sini aku bantu.”
Kemudian, Cleo langsung saja menggendong Kia dari belakang. Kia merasa sangat malu dengan Ridi, karena Cleo begitu saja menggendong tubuhnya Kia.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1