
Setelah menghadiri acar persidangan ke-dua yang saat itu Kia jatuh pingsan. Kia beserta rombongan pulang ke rumah. Sesampai di rumah Kia merebahkan badannya yang masih lemas. Nisa membantu menuntun Kia masuk ke rumah. Ia menyuruhnya untuk makan, namun Kia menolak. Nisa tetap saja memaksanya untuk makan, karena ia memikirkan anak yang sedang di kandungnya.
"Sayang, makan ya."
"Nanti saja mah, aku belum lapar." Kata Kia.
"Kamukan tadi jatuh pingsan nak." Ucap Nisa.
"Mulut aku terasa pahit mah. Aku sedang tidak ingin makan apapun mah." Katanya sambil bersandar di bahu tempat tidur.
"Sedikit saja nak kasihan anakmu. Mamah suapin ya."
"Tapi mah aku sedang tidak ingin makan."
"Kalau kamu menuruti nafsumu terus, apakah kamu tidak memikirkan anakmu yang sedang berada di perutmu itu. Kasihan, dia juga ingin makan nak. Setiknya sedikit saja ya." Ucap Nisa sambil menyodorkan sendok makanannya untuk Kia.
Setelah Nisa merayunya untuk makan Kiapun menuruti apa kata mamanya. Sesuap, dua suap, tiga suap rasa ingin mengunyah makananpun sudah tidak selera. Di saat ia sedang makan rasa mual itu datang. Ia merasa ingin muntah ketika memakan makanannya. Nisa paham betul apa yang saat ini sedang Kia rasakan di kehamilan pertamanya. Selesai menyuapi Kia, Nisa pergi meninggalkan Kia seorang diri di kamar.
"Sudah mah, aku merasa mual." Ucap Kia.
"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat ya nak. Mama tinggal ke dapur dulu." Kata Nisa sambil menarik slimut putrinya itu.
__ADS_1
"Iya mah, makasih ya mah. Aku ingin rebahan dulu mah. Kepala ku sedikit pusing." Ucapnya.
"Iya sayang, kamu tiduran dulu. Mama akan ke depan bersama papa ya nak." Ucap Nisa sambil ia mengecup kening putringnya itu saat akan keluar dari kamar.
Nisa pergi meninggalkan Kia di kamarnya. Pintu kamarnya sengaja Nisa tidak menutup semuanya. Ada sedikit sela yang terbuka. Ketika ia akan mengembalikan piring kotor bekas makan Kia, ia mengintip putrinya dari balik pintu kamar Kia itu.
"Kasihan sekali hidup kamu nak, ketika kamu sedang hamil suamimu justru pergi meninggalkan kalian dan sungguh tega sekali ibu mertuamu itu menuduh kamu yang bukan - bukan." Katanya dari dalam hati.
Selesai makan Kia membaringkan tubuhnya dengan menghadap ke samping. Ia mengambil handpone miliknya dan membuka buka gallery foto miliknya. Di situ banyak terdapat kenangan kenangan dirinya bersama Akbar. Satu demi satu foto itu di lihat olehnya. Namun Kia tidak menghapus kenangan - kenangan indah itu saat sedang bersama Akbar dulu. Sebaliknya dengan Akbar, ia juga melihat lihat gallery foto kenang - kenangan indah di handphonenya.
"Ini semua hanya kenangan. Ini semua sudah berlalu. Dan ini semua hanya akan menjadi masa lalu yang etah bisa aku lupakan atau tidak. Cinta pertamaku dan rumah tanggaku kini sudah musnah. Sudah cukup aku di sakiti, sudah cukup hati ini menderita, dan sudah cukup air mata ini menetes terlalu banyak. Kenapa mas kamu bisa setega itu kepadaku. Kamu yang sehat ya nak, di perut bunda. Bunda yakin kita bisa menghadapinya bersama. Bunda selalu menantikan kehadiran mu di dunia ini. Bunda janji akan selalu menjagamu nak, sehat terus anak bunda." Kata Kia sendiri, sambil mengelus - elus lembut perutnya yang buncit itu.
Ketika Sinta berjalan akan menuju ruang tengah, ia melihat sepintas adinya yang sedang berbicara sendiri sambil memegangi perutnya dan menetes air matanya. Sinta tidak sanggup melihat adiknya yang masih merasakan kesedihan mendalam perceraian yang sedang berada diujung jalan ini. Setelah ia mendengar dan melihat adiknya itu, Sinta langsung meninggalkan dan cepat cepet pergi dari kamar itu. Ia mendekati Surya dan Nisa yang juga sedang duduk di ruang tengah itu. Surya bertanya kepada Sinta, karena ia menanggis setelah melihat adiknya tadi.
"Hiks, hiks, hiks, aku tidak tega melihat Kia seperti ini pah. Ia selalu bicara sendiri akan perpisahannya dengan Akbar untuk menguatkan dirinya sendiri."
"Papah sebenarnya juga tidak tega melihatnya. Namun, takdir sudah berkata lain. Mungkin inilah yang terbaik. Kia memang harus pisah dengan laki - laki pengecut itu."
"Benar pah, biarkan Kia hidup bahagia bersama kita. Tanpa dia, anak dan cucu kita pasti akan bahagia. Biarkan Kia merasakan sakit hati untuk saat ini, kita harus bisa meyakinkan dia, supaya dia kuat untuk menghadapi ujian ini." Kata Nisa.
"Betul mah, pah kita harus bisa menguatkan Kia. Kita juga harus bisa membuat Kia bahagia tanpa laki - laki pengecut itu." Ucap Sinta sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"Untuk beberapa hari ini biar papa dan mama yang menjaga Kia di sini sin. Kamu pulanglah, karena kamu masih mempunyai kewajiban mu. Kasihan Bella nanti." Kata Surya.
"Aku sudah ijin kepada mas Ibnu kok pah, lusa dia akan ke sini bersama Bella. Katanya Bella kangen sama Kia." Ujar Sinta.
"Iya, kalau ada Bella kan ramai pah. Biar Bella nanti yang menghibur Kia di sini." Ucap Nisa.
"Ya sudah kalau begitu." Jawab Surya.
Hari ini adalah hari di mana Kia harus mengontrolkan kandungannya itu. Ia pergi ke Rumah Sakit di temani Nisa. Beberapa menit kemuadian mereka sudah tiba di Rumah sakit khusus ibu dan anak mereka. Mereka masuk dan mengambil no antrian. Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya no antriannya sudah dipanggil oleh petugas. Kia masuk di ruangan USG dengan di temani Nisa. Dokter memeriksa semua kondisi Kia. Perkembangan bayi yang ada di kandungan Kia sehat dan bagus. Kia tetap masih di berikan vitamin oleh dokter agar bayi dan ibunya tetap sehat.
"Bagaimana kondisi cucu dan anak saya dok?" Tanya Nisa kepada dokter.
"Semuanya baik, justru bayinya sangat aktif di dalam perut. Perkembangannya juga bagus sekali."
"Alhamdhulillah.
"Hanya saja saya berpesan jangan terlalu setres ya mbak Kia. Nanti jika ibunya setres bayinya juga ikut setres. Perbanyak minum air putih dan makan makanan bergizi. Istirahat yang cukup.
"Baik dokter. Terimakasih."
Selesai kontrol Kia dan Nisa pulang ke rumah. Kia langsung beristirahat.
__ADS_1
Bersambung..
❇️❇️❇️❇️❇️