Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kejadian yang tidak terduga


__ADS_3

Setelah Pelangi menelepon supirnya karena dia meminta kepada supirnya untuk mengantarkan mobil pribadinya ke kampus. Pelagi kemudian pergi berpamitan kepada Clvin dan juga Cici.


“Ngi, telepon kamu geter tuh.” Ucap Cici sambil melihat handpone Pelangi.


“Owh iya, gue angkat dulu ya.”


Pelangi lalu mengangkat telepon itu. supir Pelangi ternyata sudah sampai kampus dengan membawa mobilnya.


“Em, cik, kak Calvin, aku pergi dulu ya. Ini tadi supir aku ngasih kabar kalau dia udah ada di depan kampus, aku mau ambil mobil terus habis itu aku sama temen – temen cabut ngerjain tugas kelompoknyanya.”


“Owh, kalau gitu gue juga mau pulang saja Ngi.” Ucap Cici


“Kalau kak Calvin? Masih mau di sini atau ikut balik?”


“Kalian pergi saja, aku mau di sini dulu. Soalnya habis ini aku masih ada kelas. Kamu hati – hati di jalan ya Ngi.”


“Iya kak. Ya udah, aku tinggal ya kak. Bye..” kata Pelangi sembari mencangking tasnya itu.


“Aku juga ya kak Calvin. Bye kak ganteng.” Kata cici sambil melambai – lambaikan tangannya daengan genit.


“Bye.. kalian hati – hati di jalan ya.” Teriak Calvin.


Saat itu Pelangi berjalan menuju ke arah supirnya yang sedang menunggu majikannya. Waktu pelangi akan keluar dari kampus dia bertemu dengan Brayen.


“Eh Brayen.”


“Aku duluan.” Ucap Brayen dengan singkatnya lalu pergi begitu saja.


Pelangi kemudian hanya diam dan melihat ke arah Brayen yang telah berjalan pergi meninggalkan dirinya sambil memasang mulut manyunnya.


“Ih, sumpah, tuh orang ya, super – super nyebelin. Yakin! Harusnya dia itu tuh nyapa balik kek, atau apa lah! Sebel. Sebel. Sebel. Dasar Brayen cowok batu!” gerutu Pelangi sambil memukul mukuli kepalanya sendiri dengan tangannya perlahan. Lalu Pelangi melanjutkan langkah kakinya menuju ke sopirnya yang telah menunggu dirinya dari tadi di depan kampus.


Tak lama dia sampai di depan mobilnya. Ia meminta pak supir untuk kembali pulang menggunakan taksi. Sebab Pelangi waktu itu akan pergi bersama sama dengan teman yang ada di kelompoknya itu. Sedangkan per kelompok harus ada empat orang untuk mengerjakan tugas itu.


Tak lama Pelangi dan rombongannya sampai di tempat yang telah mereka sepakati untuk mengerjakan tugas dari dosen Kiler itu. hampir 5 jam mereka meneliti dan kemudian menganalisa tugas yang saat itu sedang mereka kerjakan.  Karena hari sudah sore, mereka sepakat untuk menghentikan analisa tugas tersebut, dan akan mereka lanjutkan besok. Mereka semua pulang. Seperti biasa, karena Pelangi orang yang sangat baik, sebelum pulang ke rumahnya dia mengantarkan dahulu teman – teman yang saat itu berangkat bersama – sama dengan Pelangi. Satu persatu teman – temannya sudah sampai di rumahnya masing – masing. Sedangkan waktu sudah menunjukan jam tujuh malam. Selesai mengantar teman – temannya, Pelangi kemudian meljukan tujuannya untuk segera kembali pulang. Ia memilih jalan pintas agar segera sampai ke rumah.


Setengah dari perjalanannya tiba – tiba ban mobil Pelangi kempes, dia kemudian menghidupkan lampu sain atau Lampu hazard  yang menandakan kalau dirinya sedang dalam keadaan darurat. Kemudian Pelangi keluar dari dalam mobil untuk melihat kondisi kendaraannya kala itu.


“Ya, ampun, kenapa sih bannya pakai bocor segala. Mana jalan sepi banget kayak gini lagi. Ya ampun. Sial banget sih.” Kata Pelangi sendirian menggerutu di depan mobil.


Pelangi kemudian berpikir akan menghubungi salah satu keluarganya, meminta tolong untuk menjemput dirinya. Pelangi kemudian kembali masuk ke dalam mobil untuk mengambil hpnya dan menelpon salah satu teman atau keluarganya. Akan tetapi hp pelangi waktu itu mati, dan tidak ada seorang pun yang bisa ia hubungi. Pelangi kembali kebinggungan dengan kondisinya waktu itu. dirinya merasa takut karena tidak ada seorang pun yang bisa di mintai pertolongan. Di pikirannya juga takut kalau dirinya akan di datangi oleh orang jahat. Kemudian Pelangi menyandarkan kepalanya di setir mobil. Beberapa detik kemudian ia lalu keluar dari dalam mobil untuk menghirup udara di luar supaya ia bisa mendapatkan ide untuk meminta pertolongan kepada orang lain.


Dari kejauhan terlihat ada dua pemuda yang sedang berjalan ke arah Pelangi. Pelangi berpikir dengan ke datangan ke dua pemuda itu dirinya bisa meminta pertolongan. Ke dua pemuda itu semakin lama semakin mendekat ke arah Pelangi. Akan tetapi saat ke dua pemuda itu mendekati Pelangi, salah satu di antaranya berjalan denga sempoyonga, dan yang satunya berjalan biasa saja. ke dua pemuda itu kemudian bertanya kepada Pelangi tentang keadaanya sekarang. Sebab dirinya sendirian di tempat yang sepi dan gelap.


“Hay nona, sedang apa kamu sendirian di sini?”


“Ah, kebetulan ada mas – mas disini.”


“Memang kenapa kamu?”


“Mobil saya ini bannya kebetulan bocor. Apakah kalian bisa membantu saya?”


Kedua pemuda itu hanya menyengir kuda menatap Pelangi dengan maksud dan tujuan yang jahat.


“Bisa, tapi ada syaratnya.”


Pelangi pun mulai takut, ia juga mulai curiga kepada ke dua Pemuda tersebut. Karena Pelangi takut kalau ke dua pemuda itu akan melakukan ke jahatan kepadanya.


“Syarat, maksud kalian, syarat bagaimana?” kata pelangi dengan wajah yang sangat takut.


“Syaratnya mudah, kamu harus membuka semua pakaian yang sedang kamu kenakan itu sekarang.”


“enggak , aku enggak mau,


“Kalau kamu enggak mau, kami yang akan melakukannya sendiri untuk membuka semua pakaian yang kamu pakai itu.


“Tolong jangan macam – macam. Saya bisa laporkan kalian berdua ke polisi.” Ucap pelangi sambil berjalan merambat mundur seakan – akan dirinya akan masuk ke dalam mobil dengan tangannya meraba ke arah handle pintu mobilnya.


“Tenang saja nona, kami orang baik. Jika kamu turuti kemauan kami, kamu akan baik – baik saja.”


“Enggak, enggak, aku enggak mau.”


“Ha.. ha.. ha.. seksi juga tuh cewek.” Ucap salah satu preman itu.


Preman itu kemudian berjalan maju mendekati Pelangi dangan perlahan – lahan seperti akan menerkam Pelangi yang sedang kebinggungan atau takut waktu itu.


“Kalian jangan dekat – dekat aku. Aku mohon menjauhlah dari aku. Kalau enggak aku akan teriak sekencang mungkin untuk meminta pertolongan. Supaya orang – orang datang ke sini semua.


“Silahkan nona, teriaklah sekencang – kencangnya. Di sini tidak akan ada satu pun orang yang akan menolongmu. Teriak lah.”


“Tolong.. Tolong.. Tolong..”


Akan tetapi ketika Pelangi sudah berteriak sekencang mungkin, tidak ada seorang pun yang datang untuk menolong dirinya.


“Hem, tidak ada yang datang kan?”


“Jangan, jangan mendekat!” Teriak Pelangi sambil membuka pintu mobil dan sesegera mungkin ia masuk dan mengunci mobil.


Kemudian Pelangi berteriak lagi dengan sekuat mungkin untuk meminta pertolongan dengan maksud agar ada orang yang mau menolong dirinyanya dan ke dua preman itu tidak lagi mengganggu Pelangi. Akan tetapi sudah berulang – ulang kali dirinya berteriak sekencang mungkin, namun tidak ada satu orang pun yang datang menolong dirinya waktu itu. rasa takut itu semakin kuat, ia kemudian berlari dan cepat – cepat untuk masuk ke dalam mobil. Setelah dirinya masuk ke dalam mobil ia kemudian mengunci semua pintu mobil dan jendelanya. Dirinya lalu menanggis ketakutan dan menutup ke dua matanya dengan tangan. ia sama sekali tidak bisa lagi berbuat apa – apa. Sedangankan ke dua preman itu terus terusan memukul – mukuli jendela mobil Pelangi yang tepat berada di sampingnya.


Pelangi hanya bisa menanggis dan menaggis di dalam mobil. Dirinya benar – benar sangat ketakutan. Dia berharap akan ada orang yang datang untuk menolongnya. Tak lama ada seseorang yang datang dan memukuli ke dua preman itu. Orang tersebut dengan ke dua preman itu adu jotos. Pelangi mulai sedikit tenang karena ada seseorang yang mau menolong dirinya. Akan tetapi Pelangi sama sekali masih takut untuk keluar dari mobil. Dirinya hanya bisa melihat dari dalam mobil. Pelangi tidak bisa melihat dengan jelas orang yang menolong dirinya waktu itu.


Setelah beberapa menit kemudian kedua preman itu pergi dengan kocar kacir karena babak dan kalah melawan adu jotos dengan laki – laki itu. ketika Pelangi melihat keadaan sudah mulai aman, ia baru memberanikan dirinya untuk keluar dari dalam mobil.


Laki – laki itu kemudian mendekati Pelangi. Semakin lama wajahnya pun terlihat sangat jelas. Pelangi mengenal orang yang baru saja melawan ke dua preman atau menolong dirinya.


“Brayen?”


“Kamu nggak apa – apa kan?”


“Ya ampun untung ada kamu. Aku nggak apa – apa kok. Sebelumnya terimakasih ya kamu sudah menolongku.”


“Kamu kenapa sih lewat sini. Sini tuh jalannya sepi dan gelap. Banyak preman yang bersembunyi di balik rumput – rumput untuk mencari mangsa supaya bisa di rampok.”


“Ya tadi aku hanya...”


“Hanya apa? ceroboh sekali sih kamu ini!”


“Iya, aku nggak tahu kalau ternyata jalan ini markas para preman. Kalau aku tahu juga aku nggak bakal lewat sini!”


“Terus kenapa dengan mobil kamu ini?”


“Iya ini, mobilku enggak tahu tiba – tiba bocor. Terus aku mau telepon keluarga ku untuk minta di jemput di sini, tapi hp ku mati. Untung ada kamu yang menolongku.”


“Coba aku lihat.”

__ADS_1


Brayen kemudian mengecek keadaan ban mobil Pelangi waktu itu. ia melihat kalau ada paku besar yang sengaja di pasang oleh preman – preman itu.


“Nah, lihat ini. Ban kamu bocor karena kamu kena jebakan yang udah di pasang sama preman – preman itu agar bisa merampas semuanya dari kamu.”


“Kalau begitu sekarang kamu aku antar pulang saja.”


“Tapi?”


“Tapi apa? kamu mau di datangi perampok lagi di sini sendirian.”


“Enggak, aku enggak mau aku takut.”


“Ya sudah, kalau begitu sekarang aku antar kamu pulang.”


“Iya sebentar, aku ambil tas dan handphone dulu.”


“Hem..”


Pelangi pun bergegas mengambil tas dan juga Hpnya. Akan tetapi sebelum dia naik ke motor ia menghubungi montir langganan untuk menderek mobilnya dan mengganti ban mobilnya.


“Em Brayen, sebentar.”


“Apa lagi sih?”


“Emm, aku boleh pinjem hp kamu enggak?”


Brayen kemudian langsung saja memberikan Hpnya kepada Pelangi.


“Nih, pakailah.”


Pelangi lalu mencari note book mini di dalam dashboard mobil yang ada catatan no telepon montir langganan yang masih melayani pelanggannya dua puluh empat jam.


“Nah lo, ketemu juga.” Kata pelangi sendiri sembari mendapatkan apa yang dia cari.


“Masih lama nggak sih Ngi?!” tanya Brayen yang menunggu di motornya.


“Udah aku udah dapet. Sebentar aku telpon ya Bray,”


“Hem..”


Setelah Pelangi menelepon montir pribadinya itu ia kemudian menyerahkan hp itu kepada Brayen.


“Nih, udah. Makasih ya.”


“Hem..”


Brayen kemudian melepas jaket jeans yang sedang ia kenakan kepada Pelangi.


“Pakai nih jaketnya.”


“Em.. enggak usah. Kamu aja yang pakai, aku enggak apa – apa kok.”


“Yakin?”


“He... Em...”


“Terserah deh. Yang penting aku sudah menawarkan jaket sama kamu. Kalau kamu kedinginan bukan salah aku ya.”


“Iya aku enggak apa – apa kok.” Ucap pelangi sambil mengangguk - anggukan kepalanya.


“Oke, kalau begitu sekarang kamu naik. Aku gak mau tahu kalau kamu kedinginan di jalan. Naik motor beda dengan naik mobil. Lagian jaket ku ini baru saja di cuci.”


“Terserah deh.”


Pelangi hanya terdiam dan naik ke motor besar Brayen. kemudian Brayen mulai menghidupkan motornya dan mulai menjalankan motornya itu. belum lama ia mengemudikan motornya, Pelangi menggigil karena kedinginan, sebab saat itu Pelangi mengenakan pakaian blus dengan lengan pendek dan celana jean cutbray levis berwarna biru muda. Brayen mengetahui kalau Pelangi kedinginan saat sedang ia boncengkan waktu itu. seketika Brayen langsung menghentikan lajunya dipinggir jalan dan berhenti di depan penjual bakso.


Pelangi pun bingung dengan apa yang akan brayen lakukan. Karena brayen berhenti begitu saja. pelangi pun bertanya kepada Brayen.


“Loh, loh. Kok berhenti kenapa Bray.”


“Turun.” Pinta Brayen kepada pelangi.


“Tapi ini masih jauh loh sama rumahku.”


“Kamu ini ya. Cepet turun saja.” Pinta brayen lagi tanpa mengatakan apapun kepada Pelangi.


Setelah pelangi turun dari motornya, Brayen kemudian memegang dan  menarik tangan pelangi begitu saja. Pelangi ke bingungan dengan apa yang akan Brayen perbuat. Lalu brayen meminta Pelangi untuk duduk di sebuah meja dan kursi dari pedagang bakso itu. Brayen kemudian meminta dua mangkok bakso kepada si penjual bakso itu.


 “Bang, baksonya dua ya. Minumnya jeruk hangat dua.”


“Iya saya buatkan dulu.”


“siap bang.”


Setelah itu Brayen melepas jaketnya dan memberikannya kepada Pelangi. Lalu menyuruh Pelangi untuk memakai jaket Brayen.


“Nih pakai.”


“Tapi...”


“udah pakai saja. aku tau kamu ke dinginan.”


Pelangi waktu itu memang merasa sangat kedinginan. Sebab dirinya tidak pernah pergi menggunakan motor. Kesehariannya ia selalu menggunakan mobil yang di belikan oleh Cleo di saat dirinya lulus Sma dengan predikat murid paling cerdas di sekolahnya. Kemudian ia langsung memakai jaket milik Brayen. Tak lama penjual bakso itu mengantarkan dua gelas jeruk hangat.


“Ini mas jeruk hangatnya.” Kata si penjual bakso itu sembari meletakan di atas meja depan mereka.


“Oke makasih bang.”


“Baksonya masih otw mas.”


“Ha.. ha.. ha.. abang bisa saja. oke. Oke bang. Aku tidak keburu – buru kok.”


Waktu itulah pertama kalinya Pelangi melihat Brayen tersenyum, walaupun kepada penjual bakso. Di saat itulah Pelangi benar – benar merasa kagum dengan wajah tampan saat Brayen tersenyum. Pelangi melihat Brayen tanpa berkedip sedikitpun.


“dia ternyata begitu sangat tampan. Apa lagi kalau sedang tersenyum seperti ini.” Gumam Pelangi dari dalam hatinya sembari melihat ke arah Brayen tanpa berkedip.


“Udah berhenti melihat aku sampai bengong seperti itu. minum jeruk hangatnya. Biar badan kamu merasa sedikit hangat.” Ucap Brayen.


“Ih.. PD banget sih kamu. Siapa juga yang benggong melihat kamu.”


Brayen hanya membalas dengan menyengir kuda kepada Pelangi.


“Eh, ngomong – ngomong kok kamu akrab banget sih sama penjual bakso itu?”


“Iya, baksonya paling enak sendiri di sini. menurutku sih gitu. dan baksonya Beda sama yang lain. Aku juga hampir setiap hari makan di sini. Makannya penjual bakso itu begitu sangat mengenalku dan akrab denganku.”

__ADS_1


“Owhh, begitu. Berarti rumah kamu deket dong dari sini?”


“Iya lumayan lah. Tapi nggak deket juga dan nggak jauh juga.”


“Hem..” kata Pelangi sambil memanyunkan bibirnya itu.


Penjual itu datang untuk mengantarkan bakso pesanan Brayen.


“Ini baksonya mas.”


“Oke bang, makasih ya.”


“Sama – sama. Eh, ngomong – ngomong ini siapa?” tanya penjual bakso itu.


“Temen bang.”


“Temen apa temen?” ledek si penjual bakso itu.


“Apaan sih bang. Dia ini teman aku ya bang. Kalau nggak percaya tanya aja ke dia.”


“Iya neng? Eneng temannya mas Brayen.”


Pelangi hanya mengangguk anggukan kepalanya menjawab pertanyaan tukang bakso itu sambil tersenyum malu.


“Ye ile, jangang mau neng kalau cuman di jadikan temen doang. Abang kasih tahu ya, dia ini ( sambil menuding Brayen ) di mana – mana selalu saja dibuntuti sama wanita – wanita cantik. Tapi baru kali ini dia ke sini sama eneng. Abang kira eneng pacarnya gitu, habis eneng cakep pisan oeee.”


“Bukan bang. Saya cuman temannya Brayen saja.”


“Tahu gak neng abang bilang gini karena apa?”


“Apa bang?” tanya Pelangi.


“Karena eneng sama dia ini ada kemiripan. Ya, barang kali kalian jodoh gitu.”


“Mulai deh. Dah sana pergi bang, tuh ada pembeli nungguin kamu.”


Penjual bakso itu kemudian hanya tersenyum.


“Ya sudah neng, nikmatin ya baksonya. Eneng makan sekali di sini, abang yakin eneng bakalan ketagihan. Nih dia contohnya ( menuding Brayen lagi ).”


“Iye, iye, iye, bang percaya. Udah sono.” Kata Brayen.


Lalu penjual itu kembali untuk melayani para pembeli yang datang di warungnya.


“Jangan di pikirin ya apa kata dia tadi. Anggap saja itu angin lalu. Sekarang kamu makan tuh baksonya, keburu dingin nanti bakso yang ada di hadapanmu.” Kata Brayen.


Pelangi pun kemudian memakan bakso itu sambil melihat ke arah wajah Brayen.


“Ternyata dia eggak seburuk yang aku bayangin selama ini. Aku kira dia orang nyebelin, tapi ternyata berbeda. Apa lagi dia sangat perhatian sekali sama wanita.” Ucap pelangi dari dalam hatinya sambil memakan bakso yang ada di hadapannya itu.


Selesai makan, mereka langsung pergi meninggalkan warung bakso dan mengantarkan Pelangi pulang ke rumah.


“udah ya bang,”


“Owh, iya, hati – hati. Neng jangan lupa pegangan sama mas beb beb. Entar jatuh loh. Ha.. ha.. ha..”


Pelangi hanya tersenyum kepada penjual bakso itu.


“Mari bang.” Kata Pelangi sambil mengangguk – anggukan kepalanya.


Pelangi dan Brayen kembali melanjutkan perjalanannya untuk kembali pulang. Waktu sudah menunjukan pukul 23.00, kia sangat mengkhawatirkan Pelangi. Sebab sedari tadi Pelangi sama sekali tidak bisa untuk di hubungi. Kia sudah berulang – ulang kali mencoba untuk menelpon Pelangi. Akan tetapi no hp pelangi saat itu mati. Dirinya menunggu Pelangi di depan rumah sambil berjalan mondar – mandi dengan memegang Hp dan memasang raut wajah yang begitu Cemas. Cleo yang melihat istrinya sedang berada di luar. Lalu ia mendekatinya.


“Bun, Pelangi masih belum memberikan kabar apapun sama kamu?” tanya Cleo.


“Belum mas, aku sangat khawatir sekali sama dia. Mana no telponnya susah sekali untuk di hubungi lagi.”


“No Hp nya mati atau gimana maksudmu bun?”


“Enggak tau yah, pokoknya nggak bisa nyambung dari tadi. Terus aku juga sudah menghubungi beberapa teman – temannya, mereka bilang katanya sudah pulang sejak jam tujuh tadi. Tapi kenapa sampai sekarang dia belum sampai rumah juga sih.”


“Bun, sudah, kamu yang tenang. Berdoa lah saja supaya Pelangi di berikan keselamatan. Dia pulang dengan selamat.”


“aamiin.... Iya yah, dari tadi juga bunda sudah berdoa terus. Bunda khawatir kalau kejadian beberapa tahun lalu terulang lagi yah.”


“Husstt, jangan bilang seperti itu. semoga saja dia enggak kenapa – kenapa.”


“Aamiin.”


“Ayah akan menemani bunda di sini, menunggu pelangi pulang.”


Lalu Kia sedikit – sedikit hanya melihat Hpnya, karena menunggu kabar dari Pelangi. Tak lama mereka berdua duduk di kursi ayunan depan rumah menunggu Pelangi datang, terdengar suara motor yang berhenti di depan pintu gerbang rumahnya. Kia kemudian berdiri dan melihat dari kejauhan.


“Siapa itu ya yah?”


“Ayah juga tidak tahu bun. Coba kita lihat.”


Kia dan Cleo kemudian berjalan bersama menuju pintu gerbangnya, dan mereka juga meminta kepada security untuk segera membukakan pintu gerbangnya. Sesampai di depan mereka melihat kalau Pelangi di antar oleh seorang laki – laki. Dan mereka seperti belum pernah mengenal laki – laki yang mengantar Pelangi Pulang.


“Emm, Brayen, terimakasih ya udah menolong dan mengantarkan aku pulang sampai rumah.”


“Iya sama – sama. Lain kali kamu hati – hati, jangan seperti tadi.”


“Iya bray, kamu mau langsung balik?”


“Iya, ini sudah malam, aku tidak enak sama tetangga dan juga keluarga mu.”


“Owh,”


“Aku pergi dulu. Kamu cepetan masuk gih di luar dingin.”


“Iya.”


Brayen kemudian menghidupkan mesin motornya lalu pergi untuk kembali pulang. Ketika Pelangi akan membalikan badannya karena ia akan masuk ke dalam rumah, ia  melihat kedua orang tuanya berdiri tepat di belakangnya. Kia kemudian bertanya sambil mendekati putrinya yang baru saja sampai ke rumah.


“Ayah, bunda.”


“Kamu dari kemana saja sih? Kenapa baru pulang?”


Pelangi hanya menundukkan kepalanya. Ia belum menjelaskan apa pun kepada ke dua orang tuannya itu.


“bun, bunda, kita suruh pelangi masuk dulu saja. jangan di luar. Ayuk sekarang kita semua masuk ke dalam.” Pinta Cleo kepada istri dan anaknya.


Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah. Setelah masuk mereka duduk di ruang tengah, Pelangi kemudian memeluk Kia. ia lalu menjelaskan kepada ayah dan juga ibundanya musibah yang baru saja menimpa atau terjadi kepada anaknya itu.


Pelangi mulai menceritakan sedetail mungkin apa yang telah terjadi ketika dirinya akan pulang ke rumah setelah mengerjakan tugas kelompok itu kepada ke dua orang tuanya.

__ADS_1


Bersambung...


⭐⭐⭐⭐⭐


__ADS_2