
"Buk, tokong diam. Jangan asal menuduh. Aku berjanji akan aku buktikan bahwa ini anak yang ada di dalam kandunganku adalah darah daging mas Akbar. Dan ingat kamu mas, kamu akan menyesali semua perbuatan mu ini mas. Aku sudah cukup banyak menerima hinaan dari ibumu dan sakit hatiku ini tidak akan hilang."
"Heh, kamu wanita tua yang jahat. Kamu akan menyesal dengan perbuatanmu yang telah menyakiti hati Kia. Kamu akan merasakan perbutan mu itu sendiri." Ucap Sinta.
"Hentikan kak Sinta! Hentikan ucapan kakak yang tidak sopan kepada ibukku. Kakak boleh menampar, memukul atau menyakitiku. Tapi jangan pernah kak Sinta berani - beraninya menyakiti atau menghina ibukku kak. Aku tidak akan pernah terima ibukku di caci maki oleh orang lain. Dan sekarang kita sudah tidak ada hubungan apa - apa. Jadi jangan lagi kalian menginjakkan kaki kalian di rumah ini. Mengerti!" Ucap akbar sambil mengancam Sinta. Karena ia tidak terima ibuknya di perlakukan kasar oleh orang lain.
"Kamu juga mas, sudah cukup aku menerima semua ini. Kamu sudah membuat aku kecewa dan sakit hati. Kamu gunakan alasan untuk berpisah karna aku tidak bisa memberikan mu anak. Namun kenyataannya kamu sudah bermain di belakangku dan kamu sudah mempunyai wanita lain dihatimu. Ingat mas ini janji aku. Ini terakhir kali kita bertemu. Dan ini terakhir kali aku tegaskan kepadamu, jika besok anak ini lahir akan aku buktikan semua apa yang telah ibumu tuduhkan kepadaku itu semua salah. Dan kamu akan menyesal karena telah menyia nyiakan aku dan anakmu. Camkan itu baik baik. Aku selama ini hanya diam karena aku menghargai kamu sebagai suamiku. Tapi semua yang aku lakukan hanyalah sia sia. Dan kamu (sambil menuding Kayla), aku memeng sudah mengenalmu. Kamu wanita murahan yang hanya bisa merebut suami orang lain. Kamu wanita yang tidak mempunyai harga diri." Ucap Kia dengan raut muka marah.
"Kamu tidak usah berani - beraninya ya menghina calon menantuku! Lihat dirimu baik - baik." Ucap Dewi sambil memelototi Kia.
"Dasar memang mulutmu itu benar - benar tidak bisa di jaga ya wanita tua! Dasar wanita tidak punya hati! " Sahut Sinta.
__ADS_1
"Cukup! Hentikan semua. Saya minta kalian berdua pergi dari sini! Pergi!" Bentak Akbar menyuruh Kia dan Sinta agar segera pergi dari rumah ibunya.
"Enggak perlu kamu menyuruh kami pergi, kami akan segera pergi mas! Ayo kak, kita hanya membuang - buang waktu di sini kak." Kata Kia sambil mengeret tangan Sinta.
"Pergi sekarang! Aku bilang kalian pergi!" Bentak Akbar kepada Sinta dan Kia.
Perdebatan itu berlangsung di depan rumah Dewi. Ketika itu mereka di tonton oleh banyak orang dan tetangga - tetangganya. Sehingga apa yang mereka katakan semua terdengar oleh semua orang.
Kia menanggis nanggis didalam mobil. Sinta sangat kasihan melihat Kia yang menanggisi kejadian tadi. Sinta tidak habis pikir, apa yang telah di lakukan oleh Akbar dan juga ibuknya. Mereka berlaku kejih terhadap Kia.
"Kamu yang sabar ya dek. Mungkin memang ini semua jalan yang ditakdirkan Allah untukmu. Dengan semua ini, kamu bisa tahu bagaimana sifat asli dari suami dan keluarganya."
__ADS_1
"Ini kak yang tidak aku inginkan. Perkataan mertua ku itu sangat menyakiti hatiku kak. Apa lagi aku sangat sakit hati ketika mendengar dia berkata bahwa anak ini bukan anak mas Akbar, sakit banget rasanya kak. Hiks.hiks." Ucap Kia sambil menanggis.
"Sudah kamu tidak usah memikirkan mereka. Nanti setelah sah perceraianmu dengan Akbar, kamu buktikan kepada mereka. Kakak tahu kamu pasti kuat. Dan kamu memang harus kuat untuk jadi seorang ibu. Semangat adikku." Kata Sinta dengan memegang pundak Kia.
"Makasih kak. Doakan aku dan juga anakku sehat ya kak."
"Pastinya. Jangan fikirkan mereka lagi. kita fokus saja dengan kehamilanmu sekarang."
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️
__ADS_1