Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Akbar datang ke rumah Nisa


__ADS_3

“Makannya buk, enggak usah nyari – nyari kerjaan saja! Kalian juga, kenapa sih yang di  pikiran kalian hanya Pelangi, Pelangi dan Pelangi. Aku tuh juga pengen punya anak. Tapi bukan dari wanita itu, tetapi tidak ada satu dari kalian yang peduli dengan ku. Sudah tahu kehadiran ibu di sana tidak akan di sukai, masih saja nekat untuk kesana!”


“Kak sudah, jangan banyak omong. Kalau kak Kayla masih saja banyak omong seperti ini, lebih baik kakak keluar dari kamar ibuk sekarang. Biarkan ibuk istirahat.”


“Sudah Nin, ini memang salah ibuk. Kayla berhak marah. Karena memang semenjak ibuk melihat dan bertemu pelangi yang ada di pikiran ibuk hanya Pelangi. Ibuk akui ibuk sudah jarang memberikan perhatian kepada Kayla.”


Tidak lama Akbar datang dan menenggok ibunya di kamar. Sebab dirinya mendapatkan kabar dari Nindi tentang yang di alami ibunya saat ini.


“Ibuk, ibuk baik – bik saja?” tanya Akbar yang mendekati ibunya itu


“Ibuk baik – baik saja nak.” Jawab dewi.


“Aku sangat menghawatirkan ibuk.”


“Ibuk tidak apa – apa Akbar. Nak, ibuk minta maaf ya.”


“Minta maaf apa buk?”


“Ibuk minta maaf karena sudah menhancurkan rumah tanggamu dulu dan sekaranng.”


“Sudahlah buk, jangan pikirkan Akbar. Pikirkan kondisi ibu sekarang.”


“Tidak Akbar, ibuk benar – benar menyesali perbuatan ibuk. Mungkin ini semua balasan untuk ibuk, karena telah merusak kebahgiaan anak ibu sendiri.”


“Akbar sekarang sudah bahagia dengan Kayla buk.”


Seketika mata Kayla tertujun kepada Akbar yang bebica seperti itu. Ia terkejut mendengar apa yang telah akbar katakan.


“Apa mas? Kamu mencintaiku?”


Akbar sesengukan menanggis sambil memeluk Kayla. Ia meminta maaf kepada Kayla yang telah membuat dirinya merasa tidak di perhatikan. Ia merasa selama ini rumah tangganya sedang banyak problematis.


“Kayla, aku minta maaf karena sudah membuatmu tidak nyaman akhir – akhir ini. Memang saat ini yang ada di pikiranku hanyalah Pelangi, sebab aku tidak bisa melupakan darah daging aku sendiri Kay. Aku benar – benar sangat mencintaimu. Maafkan aku yang sudah berbuat kasar dan membuatmu tidak nyaman dengan ku.” Kata Akbar sambil memeluk erat istrinya itu.


“Apakah yang kamu katakan itu sungguh - sungguh mas? Kamu benar - benar mencintaiku?”


“Benar Kay, di hati aku saat ini hanya ada kamu, Pelangi dan keluargaku.”


“Kamu sudah tidak mencintai mantan istrimu itu mas?”


“Kayla, untuk apa aku harus mencintai dia? Sedangkan di hadapanku saat ini adalah wanita yang benar – benar aku cintai.”


Kayla juga membalas Pelukan dari Akbar. Ia juga menanggis ketika dirinya mendengarkan suaminya berkata seperti itu. Sebab selama ini dia menganggap, bahwa suaminya masih mencintai mantan istrinya dan Pelangi yang di jadikan alasan agar Akbar bisa bertemu dengan Kia.


 


“Ternyata apa yang aku pikirkan selama ini salah kepada mas Akbar. Aku kira dia menjadikan Pelangi alasan baginya supaya dia dapat bertemu dengan Kia lagi. Ternyata mas Akbar selama ini benar – benar menginginkan dan menyangi Pelangi. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Alex secepatnya. Aku tidak mau mas Akbar mengetahui, jika aku sudah bermain di belakangnya. Jika dia mengetahui kalau aku bermain di belakangnya pasti semua akan hancur. dan mas Akbar pasti juga akan sangat membenciku." Dalam hati Kayla berkata.


Lalu Nindi menceritakan kejadian yang di alami Dewi saat sedang berada di rumah orang tua Kia. Setelah mendengarkan cerita dari Nindi, Akbar tidak terima ibunya yang mempunyai tekat baik di perlakukan seperti itu oleh keluarga Kia. Raut mukanya mulai terlihat kesal, emosi dan juga mulai membara hatinya.


Akbar akan nekat mendatangi rumah kedua orang tua Kia dan menantang mereka karena dirinya benar – benar tidak terima dengan perilaku mereka terhadap ibunya itu tadi siang. Selesai mendengarkan cerita Nindi, kemudian Akbar turun dan pergi begitu saja untuk menemui keluarga Kia. Akan tetapi Nindi melarang dan mengikuti Akbar yang pergi begitu saja dengan hati yang marah besar. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tidak normal.


“Kak, kamu mau ke mana?” tanya Nindi yang membuntuti Akbar


“Aku tidak terima mereka memperlakukan ibuk seperti itu. Jika memang mereka tidak memeperbolehkan kita untuk tidak menemui Pelangi setidaknya mereka jangan seenaknya seperti itu dengan ibuk. Sebab ibuk saat ini sudah sangat tua."

__ADS_1


“Kak, sudahlah kita tidak usah lagi berurusan dengan mereka.” kata Nindi dengan mengandeng tangan Akbar dan mencegah agar Akbar tidak membuat masalah dirumah Kia.


“Aku tidak terima. Aku tidak suka ada orang yang berani – beraninya menghina atau kasar kepada ibuk. Sekarang kamu tunggu ibuk. Aku akan pergi sebentar.”


“Ta..pi kak.”


Nindi saat itu tidak dapat membujuk Akbar supaya tidak lagi membuat masalah kepada keluarga Kia, namun Akbar tidak mengubris omongan adiknya itu. Setelah beberapa jam berlalu. Akbar sampai di rumah Nisa. Dirinya mengetok – ngetok pintu rumah. Tak lama pintu rumah itu di buka oleh Surya.


“Ada apa lagi sih kalian ke sini?”


“saya kesini karena tidak terima dengan perilaku kalian terhadap ibuk saya!”


“Terus mau kamu apa anak muda?!”


“Aku ingin sikap atau perilaku kalian jangan seprti itu kepada keluarga saya!”


“apa kamu bilang?!” Kata Surya sambil mendorong tubuh Akbar.


Karena Surya tidak terima Akbar berkata seperti itu. Sedangkan selama ini keluarga Kia hanya diam dengan apa yang sudah di lakukan oleh keluarga Akbar. Terutama perilaku Dewi yang sudah membuat putrinya itu selama ini menderita.


Akbar yang sedang di dorong tubuhnya oleh Surya seakan – akan dirinya juga tidak terima dan menantang, ia lalu membalas mendorong bahu Surya.


“Owh, kamu sudah berani ternyata kepada saya?! Dasar orang tidak tahu malu!” ucap Surya.


“Saya tidak takut dengan anda.”


Merekapun saling pukul memukul. Sedangkan di rumah itu tidak ada satu orang pun yang hanya ada pembantu yang bekerja di ruamh Surya. Pembantunya melihat Surya dan Akbar sedang saling pukul memukul lalu ia berteriak meminta tolong agar mereka segera di lerai. kebetulan ada dua pemuda yang sedang berjalan dan melihat pembantu itu sedang berteriak meminta tolong. Lalu ke dua pemuda itu menghampiri pembatu Surya dan melerai mereka berdua yang sedang saling pukul memukuli.


Tak lama Sinta, Nisa, Bella dan Pelangi datang kemudian melihat Akbar atau Surya yang berwajah berantakan karena baku hantam tadi. Akbar pun melihat ke arah Pelangi yang sedang berdiri dengan di gandeng oleh Nisa. Akbar berlari kemudian berlutut di hadapan Pelangi ika mengatakan bahwa dirinya adalah ayah kandung yang sebenarnya.


“Pelangi, sebenarnya om ini adalah ayah kandung Pelangi. Om ini ayah Pelangi.” Ucap akbar sambil memegang ke dua tanggan Pelangi.


Pelangi pun hanya terdiam kebinggungan mendengar Akbar berkata seperti itu. Dengan wajah yang sangat polosnya itu ia memandang Akbar.


“Akbar cukup hentikan omonganmu itu!” teriak Nisa.


“Maafkan ayah Pelangi, karena ayah telah salah selama ini.” Ujarnya sambil meneteskan air matanya.


“Akbar cukup!” kata Nisa lagi.


“Pelangi, ayah ingin bisa bersama Pelangi. Ayah ingin Pelangi tinggal bersama ayah dan juga nenek”


“Uti?” Ucap Pelangi dengan menatap Nisa.


“Mbak ajak anak – anak masuk sekarang!” Pinta Sinta kepada baby sisternya.


Sesudah itu baby sisternya membawa Bella dan Pelangi masuk ke dalam rumah. Akan tetapi Akbar tidak mau melepas genggamannya itu. Pelangi hanya terdiam melihat Akbar yang menanggis di hadapan putrinya itu.


“Mbak saya bilang sekarang!” teriak Sinta kepada baby siternya.


Kemudian baby sisternya mengambil dan mengendong pelangi dari genggaman Akbar. Setelah Pelangi dan Bella masuk rumah. Kemarahan sinta di mulai. Ia mencaci maki Akbar saat itu.


“Kamu memang berengsek ya! Kenapa kamu berani – beraninya bilang ke Pelangi kalau kamu ayah kandung dia!” cakap Sinta.


“Apa sih yang kalian mau? Belum cukum membuat anakku menderita lagi?!” ucap Nisa sambil menuding Akbar yang masih bersimpu.

__ADS_1


“Mas tolong usir laki – laki berengsek itu dari sini! Dia yang sudah membuat kekacauan di sini!” kata Surya.


Ketika ke dua pemuda itu akan mengusir Akabr, dia pun berdiri dan berkata,


“Ingat ya kalian semua. Aku tidak akan menyerah sampai kapan pun. Aku akan tetap mengambil Pelangi dari kalian! Ingat itu! Karena aku juga masih mempunyai hak atas Pelangi!”


“Usir dia dari sini!”


Lalu ke dua pemuda itu berjalan ke arak Akbar untuk menyeret dan mengusirnya. Akan tetapi Akbar tidak mau mereka ikut campur. Kemudian akhirnya Akbar pergi sendiri meninggalkan rumah Nisa.


Tak lama Akbar pergi, Nisa pun mendekati suaminya yang berwajah berantyakan dengan sedikit ada bercak darah di sudut bibirnya itu. Badannya pun di penuhi luka lebab akibat dirinya adu jotos dengan Akbar tadi. Nisa dan Sinta membantu menuntun Surya untuk masuk ke dalam rumah dan mengobatinya.


Akan tetapi, ketika Pelangi sedang di ajak bermain dengan Bella. Pelangi hanya terdiam termenung layaknya seorang anak kecil yang melamun dengan memegang bonekanya itu. Berbagi cara Bella dan juga baby sisternya mengajak Pelangi bermain. Setelah mendengarkan Akbar mengatakan tentang dirinya adalah ayah kandung Pelangi, Pelangi saat itu tidak ingin sama sekali bermain. Dia hanya terdiam dan terdiam. Baby sisternya pun sedikit khawatir dengan keadaan Pelangi. Lalu ia menceritakan kepada Surya, Sinta , dan juga Nisa bahwa semenjak kejadian tadi sore dirinya tidak mau makan, minum, dan juga bermain dengan Bella.


Sesudah itu, Sinta pergi menuju kamar Pelangi. Ia  sedikit berbohong kepada Pelangi dengan menjelaskan yang terjadi sore tadi.


“Pelangi,”


“Iya bibik.”


“Lagi ngapain?”


“Pelangi sedang mengambar.”


“boleh bibik lihat?”


“ini bik.”


Di lihatlah apa yang sedang Pelangi gambar itu. Di gambar itu terlihat ada tiga orang yang saling bergandengan, dua di antaranya orang dewasa dengan berjenis kelamin laki - laki dan soerang perempuan, lalu ada satu anak kecil di tengahnya dengan rambut yang di ikat.


Sinta bertanya kepada Pelangi siapa saja yang ada di gambar itu menurut pandangan Pelangi. Pelangi menjawab pertanyaan bibiknya dengan polos dan lugu.


“ini siapa saja yang sedang Pelangi gambar?”


“ini bunda, ini ayah dan ini pelangi.” Kata Pelangi sambil emnuding satu persatu gambar orang itu.


“pasti Pelangi sedang memikirkan apa yang telah om Akbar ucapkan tadi ya?”


“iya.”


“Pelangi, sini bik Sinta gendong. Pelangi sayang siapa saja saat ini?”


“Bunda, ayah, bibik Sinta, kak Bella, uti, sama opa.” Kata Pelangi dengan menunjuk satu persatu orang yang sedang ia warani itu.


“Lalu siapa yang pelangi anggap ayah itu?” Tanya Sinta sedikit khawatir Pelangi akan menyebutkan ayahnya itu Akbar. Sebab Sinta benar – benar tidak menyukai Akbar beserta keluarganya itu.


“AyahCleo.” Jawab Pelangi dengan polosnya.


Sinta sedikit merasa tenang setelah mendengarkan apa yang telah Pelangi katakan tadi mengenai gambar Pelangi.


“Owh, ayah Cleo.


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️

__ADS_1


 


__ADS_2