
Pelangi kemudian pergi dan berjalan menuju kamarnya. Di saat itu amel datang dan mendekati Pelangi yang sedang bersedih itu.
“Kak.”
“Kenapa mel?” ucap Pelangi sembari mengusap air matanya.
“Kak pelangi kenapa menanggis?”
“Enggak apa – apa kok mel. Gimana? Ada apa?”
“Pasti kakak marahan lagi ya sama bunda.”
Pelangi pun mengangguk anggukan kepalanya.
“Kakak sedih mel. Kenapa bunda melarang kakak untuk bertemu atau berhubungan lagi dengan brayen ya? Padahal kakak sudah ada rasa sama kak brayen. Kakak suka sama dia mel.”
“amel tahu apa yang kak pelangi rasakan. Aku juga kak, aku sedih banget saat bunda harus melarangku untuk bertemu atau berhubungan dengan dion. Sedangkan dion orangnya baik banget kak sama aku. dia tidak prnah macam – macam saat sedang bersama ku. Di memang luarnya seperti itu, tapi orangnya baik banget kak. Kenapa sih bunda harus melarang – larang kita?”
“Entah lah mel. Kakak juga binggung, apa yang sebenarnya bunda pikirkan. Kalau kakak lihat, sepertinya bunda pernah kecewa dengan mamanya dion.”
“Eh, tapi kak, kemarin aku enggak sengaja mendengarkan bunda dan ayah sedang....”
Di saat amel akan menceritakan apa yang pernah dia dengar saat menguping di balik pintu kamar milik ke dua orang tuanya, cleo tiba – tiba ikut masuk ke dalam kamar Pelangi.
Cleo waktu itu sedang pulang dari kerja, dan waktu dirinya akan masuk ke dalam kamar, ia melihat ke dua anaknya sedang berbicara.
“anak ayah belum pada tidur nih?”
“eh, ayah pulang.” Ucap amel.
“Ayah sudah pulang.” Kata pelangi.
Karena mata pelangi terlihat sembab, Cleo pun menanyakan kepada pelangi.
“Pelangi, mata kamu kenapa? Kamu habis menanggis ya nak.”
“Kak pelangi habis marahan sama bunda yah.”
“Kenapa sayang?”
“Enggak apa – apa kok yah.” Ucap pelangi sembari mengosok – gosokan matanya.
“kamu berdebat lagi ya sama bunda?”
Amel pun kemudian menjawab pertanyaan Cleo.
“Ayah, sebenarnya kenapa sih bunda melarang kita dekat dan bermain dengan dion atau kak brayen?”
“Iya yah kenapa sih yah? Pelangi ini sudah dewasa yah, kenapa bunda sangat menentang pertemanan kami? Kenapa hanya dengan brayen dan dion saja bunda melarang kami?” ucap pelangi, yang tanpa tidak sengaja air matanya pun terjatuh membasahi pipinya.
“mungkin bunda...”
“amel lihat, sepertinya bunda pernah di kecewakan oleh mamanya dion ya yah?”
“Coba nanti ayah akan bicarakan sama bunda. Kalian jangan menanggis ya.”
“Iya yah, terimakasih. Kami sayang ayah.”
“Ayah juga. Kalau begitu, ayah akan mandi dulu ya.”
__ADS_1
Cleo pun kemudian pergi dan membersihkan badannya. Di saat dirinya selesai mandi, kia datang menghampiri Cleo.
“Kamu sudah pulang mas?”
“Sudah dari tadi, dari mana sih bun.”
“Aku tadi ke swalayan sebentar mas. Kita makan malam yuk.”
“Sebentar, ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“Soal apa mas?”
“anak – anak.”
“Kenapa lagi dengan anak – anak? Mereka mengadu sama kamu apa mas?”
“Kia, sudahlah, kamu jangan seperti ini. Hilangkan ke khawatiran kamu yang berlebihan itu. kasihan anak – anak.”
“Mas, aku enggak bisa mas. Apa lagi tadi pelangi bilang sama aku kalau dia ada rasa sama brayen. Padahal mereka kan kakak adik, walau beda ibu.”
“Apa?”
“Iya, jadi aku mulai sekarang harus kerja keras lagi untuk memantau ke dua putriku. Supaya mereka tidak berurusan lagi dengan keluarga akbar.”
Perdebatan itu pun beberapa menit berlalu. Cleo tetap menentang semua keputusan kia. sebab Cleo tidak ingin pelangi salah jalan. Di pikiran Cleo waktu itu, pelangi harus cepat – cepat mengetahui siapa Brayen dan siapa ayah kandungnya.
Selesai makan malam. Cleo sengaja mengumpulan semuanya di ruang tengah. Di ruang tengah itu ada riri, pelangi, amel, Kia dan juga dirinya.
“ada apa sih cleo kamu menyuruh kita untuk kumpul di ruang tengah?” tanya Riri, dengan wajah binggungnya.
“Iya ada apa sih mas?” tanya Kia dengan begitu penasaran.
“Baik, mumpung semua sudah duduk di sini, aku akan memulainya. Pelangi, ayah tahu mungkin kamu selalu bertanya – tanya tentang siapa ayah kandung kamu. Di mana tempat tinggalnya dan gimana ke pribadian ayah kamu itu. ayah akan jelaskan semuannya sama kamu, tapi sebelum ayah jelaskan, ayah dan bunda meminta maaf sama kamu selama ini, bukan maksud ayah atau bunda untuk tidak menceritakan atau memberi tahukan yang sebenarnya.”
“Mas. Hentikan!” ucap Kia
“Maaf bunda, aku tidak bisa harus melihat kamu jauh dengan anak – anak karena ke egoisan kamu. Dan aku tidak ingin melihat pelangi yang terus – terusan harus bingung atau bersedih seperti ini. Sudah cukup semua ini kamu sembunyikan dari dia. Sekarang sudah waktunya pelangi harus tahu, tentang ayah kandungnya.”
“tapi mas.”
“Bun, pelangi mohon, apa yang di ucapkan ayah itu benar bun. Kasih tahu pelangi yang sebenarnya. Pelangi sudah dewasa bun.”
Kia lalu terdiam dengan menundukan kepala dengan wajah murung.
“Pelangi, ayah akan melanjutkan. Jadi yang perlu kamu tahu nak, ayah dan bunda sangat sangat menyayangimu. Ayah, amel, apa lagi nenek, tidak pernah membeda – bedakan kamu selama kamu masih kecil sampai sekarang. ayah, harap ayah tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang perhatian, kasih sayang dan juga kedekatan kami kepadamu selama ini. Karena kami tulus menyayangi kamu walaupun kamu dan amel berbeda ayah. Ayah yakin kamu bisa menilai sendiri dan melihat sendiri atau paham dengan ucapan ayah ini.”
Pelangi kemudian mengangguk – anggukan kepalanya.
“Okey, ayah akan memberitahumu siapa nama ayah kandung yang selama ini ingin kamu ketahui. Ayah kamu bernama akbar, dia sudah lama meninggalkan kamu sejak kamu masih berumur tiga tahun. Ayah dan bunda tidak tahu keberadaan ayah kamu sekarang. sebab kami tidak pernah berkomunikasi lagi dengan dia.”
“Akbar?”
“Jadi...” ucap amel tanpa sengaja.
“kenapa mel? Kamu tahu siapa akbar?”
“Amel minta maaf ayah, sebab amel tidak sengaja pernah mendengar kan bunda dan ayah berbincang bincang tenang yang namanya akbar. Jadi ayah kandung kak pelangi itu om Akbar?”
“Iya, benar.”
__ADS_1
“Tapi, bukannya akbar itu ayah kandung kak brayen ya yah?”
“Apa?!” ucap pelangi dengan begitu terkejutnya.
“Iya, bener enggak yah? Atau amel yang salah dengar?” ucap Amel.
“Iya, memang brayen itu saudara tiri kamu. Tepatnya dia adalah adik tiri kamu pelangi.” kata Kia.
“enggak, enggak, aku enggak percaya ini. Kalian bohong.”
“Pelangi, itulah maksud bunda nak. Kenapa bunda melarang kalian untuk bermain dengan dion dan juga brayen.”
“Apa? Dion? Kenapa dengan dion bun?”
“Dion adalah sepupu dari brayen, bunda enggak mau kalian akhirnya nanti saling jatuh cinta. Bunda enggak mau.”
“Kenapa bunda enggak dari dulu – dulu memberitahuku bun. Kenapa?!
“bunda jahat!” kata Amel dengan penuh rasa kecewa.
“Iya, bunda sangat jahat sama kami. Bunda tega membuat hati kami sakit seperti ini. Hancur rasanya bun,”
“Sebentar, sebentar maksud kalian apa? Bukannya seharusnya kamu senang pelangi karena sudah mengetahui siapa itu brayen dan siapa ayah kamu?”
“Iya nek, pelangi memang senang karena ayah sudah memberitahukan yang sebenarnya. Tapi pelangi juga kecewa sama bunda, kenapa bunda tega menghancurkan hati pelangi, di saat pelangi mencintai brayen. Sedangkan pelangi baru saja mengetahui, kalau ternyata orang yang selama ini pelangi sayangi dan cintai itu adalah adik tiri pelangi. hisk.. hisk.. hisk.. bunda benar – benar tega. Aku benci bunda!” ucap Pelangi sambil berlari meninggalkan ruang tengah itu
“Astaga, pelangi.” ucap Riri dengan begitu kagetnya setelah mendengarkan pelangi.
“Pelangi tunggu, ayah belum selesai bicara nak.”
“Aku enggak mau lagi dengar penjelasan ayah sama bunda. Sudah cukup! Cukup! Hisk.. hisk.. hisk.. sakit hati ini.” Teriak pelangi waktu itu.
Sedangkan Kia saat itu hanya terdiam dan diam seribu bahasa. Yang bisa dia lakukan waktu itu hanya bisa meluapkan air matanya yang jatuh dengan begitu deras di pipinya.
“Bunda tega ya sama kita berdua. Amel juga kecewa sama bunda. Amel juga benci sama bunda. Benci!”
“amel tunggu.” Kata Cleo sambil mengeret Amel yang sedang berjalan.
“Apa lagi yah? Buda itu sudah sangat kejam. Karena bunda sudah menghancurkan kami berdua, sedangkan saat ini kami berdua mencintai saudara sendiri. Jahat. Bunda jahat.” Ucap amel yang memaksa tangannya untuk di lepaskan dari genggaman anaknya itu.
Amel kemudian terus pergi dan masuk ke kamarnya. Ia juga tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia tidak menduga, orang yang dia sukai ternyata adalah sepupunya sendiri. Hatinya pun sama seperti pelangi yang hancur berkeping – keping.
Sedangkan Kia hanya bisa menangis setelah mendengar kan anak – anaknya mengucapkan kalau mereka membenci dirinya. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi, sehingga dirinya mulai menyalahkan Cleo yang dengan mudah menceritakan semua itu kepada ke dua puterinya. Apa yang Kia takutkan kini terjadi.
“Lihatkan mas, kamu lihat sendiri, mereka belum siap mendengar kan apa yang kamu jelaskan. Sekarang anak – anak sangat membenciku. Aku kecewa sama kamu mas. hisk... hisk... hisk..” Ucap kia
“Sayang, dengarkan aku. kalau kita tidak memberi tahu mereka sekarang, mau kapan lagi? Apa lagi kalau kita sampai terlambat memberitahukan yang sebenarnya kepada mereka, apa kamu mau melihat sebuah pernikahan sedarah? Apa kamu mau melihat anak – anak kita mencintai saudaranya sendiri?”
“Tapi, kamu lihat sendirikan mas, bagaimana mereka setelah mengetahui yang sebenarnya? Mereka membenciku loh mas, aku yang sudah menaruh kan nyawaku demi melahirkan mereka. tapi karena ini mereka membenciku. Hisk.. hisk.. hisk...”
“Sayang ( kata Cleo sambil menghapus air mata Kia lalu memeluknya ), kamu harus tenang, kita hadapi semuanya ini bersama ya. Di sini ada aku, aku yang selalu menemanimu sampai kapan pun. Aku yakin, anak – anak marah seperti ini hanya sesaat, tidak untuk selama – lamanya. Sekarang aku minta, kurangi rasa kekhawatiran yang berlebihan seperti ini sayang. Dari dulu sampai sekarang kita selalu bersama – sama. Aku akan terus ada untuk kamu ya. Jadi aku mohon, belajar yang lebih tenang lagi ya sayang.” Kata Cleo yang menenangkan hati istrinya itu.
“Kia sayang, apa yang di ucapkan suami kamu memang benar nak. Sifat yang terlalu berlebihan itu tidak baik. Biarkan anak – anak tahu yang sebenarnya sekarang. lebih cepat mereka mengetahuinya, akan lebih baik pula buat mereka. mereka berkata seperti itu karena mereka sedang emosi saja nak. Bunda yakin mereka lama – kelamaan akan bisa menerima kenyataan yang sebenarnya nak.”
“Dengarkan apa yang bunda riri katakan sayang. Di sini masih ada aku, aku yang akan selalu ada buat kamu. Aku janji, aku akan memberi pengertian sedikit demi sedikit kepada mereka. aku minta kamu mulai dari sekarang jangan berpikiran yang bukan bukan lagi atau berlebihan seperti kemarin ya sayang. Mereka sudah dewasa. Jika kita memberikan pengertian, pasti mereka lambat laun juga akan mengerti dengan tujuan atau maksud kita.”
Kia pun hanya terdiam dan mulai berpikir tentang kata – kata ibu mertua atau suaminya itu. ia hanya bisa diam, ia juga merasa bersalah kepada ke dua anak – anaknya itu. karena mereka sudah terlanjur jatuh hati dengan orang yang di cintai, akan tapi orang itu ternyata adalah saudaranya sendiri. Kia hanya bisa menangis dan menangis.
__ADS_1
Bersambung...
⭐⭐⭐⭐⭐