Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Pelangi


__ADS_3

Pelangi pun kemudian kembali ke kamarnya. Ia lalu duduk bersandar di bahu tempat tidurnya.


“Ternyata tidak hanya aku saja yang merasakan hal seperti ini. Tetapi dion justru lebih rumit dari pada aku. Ksihan juga dia, hidupnya saja sudah tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mamanya, apa lagi dia juga sama sekali tidak tahu siapa ayah kandungnya. Ternyata masih untung aku, walaupun aku tidak tahu siapa ayah kandungku, tapi aku masih bisa hidup dengan keluarga utuh, walaupun bukan dengan ayah kandungku. Ayah Cleo juga mencintai dan menyayangi aku seperti putrinya sendiri. Nyatanya selama ini aku tidak pernah di bedakan dengan amel. aku jadi merasa bersalah sama bunda.” Gumam Pelangi dari dalam hatinya.


Kedekatan Pelangi dan brayen semakin hari semakin lebih dekat. Kedekatan mereka membuat mereka saling mencintai satu sama lain, namun, di sisi lain hati pelangi juga memiliki rasa dengan Calvin.  Karena pelangi merasa nyaman ketika ia sedang bersama Calvin. Sifat Calvin selalu lembut dan penuh perhatian kepadanya. Tapi berbeda dengan sifat brayen. Brayen memang tidak seromantis Calvin, tapi ia selalu membuat Pelangi bisa melepaskan senyumannya tanpa beban, seperti contohnya brayen pernah mengajak pelangi untuk merasakan olahraga gantole berdua sedangkan itu adalah hal pertama kalinya buat pelangi, apa lagi Brayen selalu mengajak pelangi makan di pinggir jalan atau warung – warung di pinggir jalan, sedangkan Calvin, ia selalu mengajak pelangi makan di lestaurant atau cafe.


Pagi itu, Brayen sengaja menjemput pelangi untuk berangkat bersama ke kampus. Ia datang ke rumah Pelangi dengan mengunakan motor pribadinya atau motor ke sayangannya. Malam itu Brayen menelpon pelangi, ia mengatakan kepada pelangi kalaui dirinya akan mengajak pelangi untuk berangkat ke kampus bersama.


“Hallo bray,”


“Kamu belum tidur.”


“Belum bray, gimana ada apa?”


“Emm, besok aku mau ajak kamu berangkat ke kampus bareng ya.”


“Owh, iya boleh, kamu jemput aku di rumah ya.”


“Iya, bsk aku ke rumah kamu.”


“Okey bray.”


“Kalau begitu selamat malam.”


“Malam bray.”


Ke esokan harinya, Brayen datang ke rumah Pelangi, ia menjemput pelangi. pelangi kemudian keluar dari rumah sebab dirinya tahu kalau Brayen sudah ada di depan rumah menunggunya.


“Nih,” ucap Brayen kepada pelangi dengan menyodorkan helm untuk di kenakan oleh Pelangi.


“Makasih.”


Pelangi pun kemudian naik ke atas motor Brayen. Mereka ber dua pun kemudian berangkat menuju kampus. Sesampai di kampus brayen dan Pelangi berjalan bersama menuju ke ruangan yang sebentar lagi akan di mulai mata kuliah.


Namun, terlihat calvin memanggil manggil Pelangi. brayen yang mengetahui calvin mendekati pelangi, ia kemudian langsung berkata kepada pelangi kalau ia akan ke ruangan duluan.


“Pelangi, pelangi tunggu.”


“Kak calvin.”


“Emm, pelangi, aku ke ruangan dulu saja ya.”


“Owh, iya bray.”


Brayen kemudian pergi meninggalkan pelangi dan ia berjalan sendiri menuju ruangan itu.


“Kamu tadi berangkat bareng dia?” tanya Calvin sambil menuding brayen.”


“Iya kak, kenapa emang?”


“Nanti pulangnya juga sama dia lagi?”


“Emm, enggak tahu kak, tadi dia enggak bilang juga sih sama aku kalau mau anterin pulang. Ya mungkin kalau enggak sama dia, aku telpon pak moko saja biar jemput aku.”


“Enggak usah, biar nanti aku yang anter kamu pulang ya.”


“Hemm.. boleh kak, kak aku ke kelas dulu ya, soalnya bentar lagi sudah mau di mulai nih.”


“Iya ngi. Tapi bener ya nanti pulangnya aku saja yang antar,”


“iya kak.”


Pelangi pun kemudian pergi ke ruangan yang sebentar lagi akan di mulai mata kuliahnya. Setelah beberapa jam kemudian mata kuliah sudah selesai. Calvin menunggu pelangi di depan ruangan, ia tidak mau kalau brayen yang duluan akan mengantar pelangi.


“Kak calvin,”


“He.. he.. he..” Calvin hanya tersenyum melihat pelangi.


“Kakak sudah dari tadi menunggu aku?”


“Lumayan sih. Udah selesai mata kuliahnya?”


“Sudah kak.”


“Kalau gitu kita pulang sekarang yuk.”


“Boleh. Tapi kak, sebelum pulang kita jalan ke mall dulu yuk.”

__ADS_1


“Beneran?”


Pelangi pun mengangguk – anggukan kepalanya.


“Tumben kamu ajak aku ke mall. Biasanya juga aku yang sering ajak kamu ngi.” Ucap Calvin.


Pelangi hanya tersenyum lagi dan lagi. Ia memang sengaja mengajak pergi Calvin karena dia mulai menyukai Calvin. Setiap kali dirinya sedang bersama – sama dengan Calvin, pelangi merasa calvin selalu bisa membuatnya tersenyum dan nyaman untuk di ajak bicara.


Namun, brayen masih di kampus dan menunggu pelangi himgga sore. Barayen mengira kalau pelangi saat itu masih berada di kampus. Waktu itu brayen memang sengaja tidak menghubungi pelangi sebab yang ia tahu pelangi akan pulang dari kampus bersamanya. Beberapa jam lamanya ia menunggu pelangi di tempat parkir motornya. Karen waktu sudah mulai sore, brayen lalu menelepon Pelangi.


“Kamu di mana? Aku menunggu kamu di parkiran dari tadi.”


“Kamu masih di kampus bray?”


“Iya, selesai mata kuliah tadi aku pergi ke perpustakaan.”


“Astaga bray, aku udah dari tadi pulang. Aku pikir kamu tidak mengantarkan aku pulang, ya sudah aku terus balik selesai mata kuliah tadi.”


“Owh, berarti sekarang kamu sudah ada di rumahkan?”


“Ini aku lagi di mall sama kak calvin. Aku di antar pulang kak calvin.”


“Kirain kamu sudah di rumah. Ya sudah kalau gitu.”


Tot.. tot.. tot..


Brayen kemudian menutup telpon itu begitu saja. dirinya merasa kecewa karena pelangi telah pergi pulang begitu saja, tanpa memberi kabar kepadanya.


“Huft.. ya sudahlah, kalau begitu aku lebih baik sekarang pulang. Ini salah aku juga, harusnya tadi aku bilang ke pelangi kalau mau nganterin dia. Nanti malam coba aku hubungi dia lagi. Emm, nanti aku mau ajak dia jalan – jalan lihat pemandangan malam di puncak sana. Pasti dia suka.” Gumam Brayen dari dalam hatinnya.


Sedangkan di saat pelangi sedang bersama Calvin mereka bersenang – senang di mall dan menyantap makannan di lestaurant. Calvin bertanya kepada pelangi siapa orang yang baru saja menelpon dirinya.


“Siapa ngi.”


“Owh, brayen kak.”


“Yang tadi ngantar kamu?”


“Iya.”


“Dia pikir aku masih di kampus. Dia nungguin aku dari tadi sampai sekarang.”


“Hah? Ini udah mau sore loh. Berari tiga jam dia nunggu kamu di kampus?”


“Iya kak.”


“Kenapa dia enggak ngubungin kamu?”


“katanya sih tadi dia kira aku masih di kampus, terus dia pikir kalau aku akan pulang bareng sama dia kak.”


“Ha.. ha.. ha.. lucu ya. Harusnya dari awal dia bilang kalau mau mengantarkan kamu pulang. Tapi dia udah balik kan?”


“Sudah kak, aku suruh dia balik, aku juga bilang kalau aku lagi sama kak calvin di sini.”


“Owh, gitu.”


“Kak ngomong – ngomong, dion masih tidur di tempat kakak?”


“sudah enggak,”


“Terus?”


“Iya dia kemarin minta tolong sama aku untuk di carikan pelerjaan, terus aku suruh dia dateng langsung ke kantor cabang milik ayahku. Di sana juga ada mess, jadi dia bisa tinggal di mess yang sudah di sediakan kantor cabang ayahku itu.”


“kak calvin baik banget sih.”


“Ah, kamu ini, biasa saja aku tuh pelangi. ya namanya juga sama – sama manusiakan harus saling membantu satu sama lain.”


Pelangi hanye senyum dikulum.


“Pelangi, kamu nanti malam ada acara enggak?”


“Enggak kak? Kenapa kak?”


“Main yuk.”


“Kemana?”

__ADS_1


“Karauke?” ucap Calvin.


“ayuk kak, nanti kabarin saja ya kak.”


“Iya.”


“Kalau begitu kita pulang yuk kak,”


“Oke, oke. Aku mau bayar dulu ya.”


“Iya kak.”


Tak lama Calvin dan pelangi kemudian pulang.


**


Malam hari sehabis magrib berkumandang, selesai melakukan kewajibannya pelangi lalu menyiapkan diri karena ia akan pergi karauke bersama calvin. Selesai mempercantik diri ia kemudian menunggu Calvin di ruang tamu.


Kia melihat pelangi sedang duduk sendiri sambil bermain handponenya di ruang tamu. Ia lalu mendekati putrinya itu.


“Menunggu siapa sayang?”


“Owh, bunda, aku sedang menunggu kak calvin.”


“Memang mau ke mana?”


“Emm aku di ajak karaukean sih bun.”


“owh, jangan malam – malam ya pulangnya.”


“Iya bun, emm, bunda pelangi mau minta maaf ya sudah beberapa hari belakangan ini pelangi ngambek sama bunda.”


“Hem? Sama – sama sayang. Bunda juga minta maaf sudah membuat kamu kecewa.”


“Bun, kemarin saat aku sedang jalan – jalan ke taman, aku melihat dion, dia melamun di tengah jalan dan hampir saja di tabrak truk.”


“Apa? Kok bisa?”


“Katanya sih dia habis berantem sama mamanya sih bun.”


“Berantem? Kenapa?”


“Ya, gitulah bun. Kasihan dia bun. Dia nasipnya hampir sama kayak aku?”


“Maksud kamu?”


“Jadi dia dari kecil sama sekali tidak tahu siapa ayah kandungnya bun. Mamanya sangat membenci dirinya sejak kecil. Dia juga cerita kalau ke dua orang tuanya tidak menginginkan kehadiran dia di duna bun. Aku jadi berfikir, mungkin aku sama dia hampir sama nasipnya, sama – sama tidak tahu siapa dan di mana keberadaan ayah kandung kami, tapi aku masih bersykur, karena bunda sama ayah Cleo selama ini sangat sayang dengan ku. Apa lagi ayah Cleo tidak pernah membeda – bedakan aku dengan amel.”


“Em, pelangi. maafkan bunda ya, bunda.....”


Tin..


“Eh bun, kayaknya kak calvin sudah datang deh itu bun. Pelangi pamit ya bun, mau keluar sebentar sama kak calvin.”


“Iya nak. Kalian hati – hati ya.”


Di saat pelangi akan berjalan keluar menuju pintu depan, hpnya pun kemudian berdering. Pelangi menghentikan langkah kakinya lalu mengangkat telpon itu.


“Iya hallo bray,”


“Kamu di rumah?”


“Lagi mau pergi sebentar. Kenapa bray.”


“Owh, ya udah, kalau begitu kamu pergi saja dulu. Nanti kalau sudah pulang kabarin aku ya.”


“Iya, iya, nanti aku hubungin kamu ya.”


“Hati – hati ngi.”


Pelangi kemudian mematikan telepon itu dan ia melanjutkan langkah kakinya menuju ke mobil calvin. Calvin lalu menghidupkan mobilnya dan pergi dengan pelangi.


“ada apa ya brayen nyari dan menunggu aku? Apa dia mau ajak aku pergi? Sebenarnya seru sih pergi main sama brayen. Tapi romantis juga kalau sedang bersama kak Calvin. Coba deh nanti aku hubungi dia kalau sudah pulang.” Gumam pelangi dari dalam hatinya.


Bersambung...


⭐⭐⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2