Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Bla.. bla.. bla...


__ADS_3

Acara tunangan telah selesai. Terdengar suara dan gemerlap kerlap kerlip dari indahnya kembang api yang begitu meriah di luar gedung. Para tamu undangan, kerabat dan juga keluarga sudah mulai meninggalkan acara tersebut.


Namun keluarga inti dari pihak Cleo atau Kia masih berada di sana untuk saling berbincang satu sama lain.


 


Di sana semua saudara Cleo menghadiri acara proses tunangan waktu itu. Akan tetapi tante Cleo istri dari Antok yang bernama tante Mely, seperti tidak menyetujui atau menyukai kalau keponakanya harus menikah dengan seorang janda dan yang sudah memiliki satu anak itu. Dirinya mendekati Riri yang sedang berdiri memandang putranya itu dari kejauhan.


 


“Mbak,” Ucap Mely yang berjalan mendekati Riri.


 


“Kenapa Mel?” tanya Riri.


 


“Apakah kamu sudah yakin dengan pilihan Cleo itu?” tanya Mely.


 


“Maksud kamu apa sih Mel? Katakan terus terang saja kepadaku.


 


“Aku hanya menyayangkan saja.”


 


“Iya, menyayangkan gimana maksud kamu? Yang jelas dong bicaranya. Aku enggak paham.”


 


“Aduh mbak, kamu enggak ngerti – ngerti juga dengan apa yang aku maksud. Kamu merestui hubungan mereka ini sudah kamu pikirkan matang – matang atau belum?”


 


“Memangnya gimana sih Mel?”


 


“Ya kan sayang kalau di pikir- pikir mbak. Lihat tuh anakmu, sudah baik, pintar, kaya, mapan dan juga tampan seperti itu. Masak iya sih mau menikah dengan seorang janda. Apa lagi janda itu sudah memiliki satu orang anak. Dan aku dengar, mantan  suaminya itu, saat ini sedang mendekam di penjara ya kan mbak.” cakap Melh dengan tangkasnya.


 


“Iya, aku juga sudah tahu itu semua. Cleo sudah menceritakan kepadaku tentang semuanya.”


 


“Tapi kan mbak, di luar sana kan masih banyak wanita yang lebih baik dan lebih berkelas dari pada dia. Coba deh kalian pikirkan semua itu baik - baik."


 


“Iya aku tahu, Mel, kamu enggak mikir Cleo itu umurnya sudah berapa? Kamu tahu sendirikan. Tidak mudah bagi dia untuk memilih wanita yang bisa mengisi hatinya itu. Dan lagi memilih wanita yang tepat untuk hatinya itu.”


 


“Ya terserah kalian, aku sih berkata seperti ini karena aku sangat menyayangkan kalau ponakan kesayanganku itu harus mendapatkan atau menikah dengan wanita yang sudah bersetatus janda."


 


“Sudahlah Mel, kamu jangan meracuni pikiranku. Dia adalah anak satu – satunya yang aku miliki. Aku akan mendukung apapun demi kebahagaianya. Jadi tolong kamu juga harus bisa menghargai pilihannya.


 


“Tapi mb, aku hanya khawatir mungkin memang benar, awal – awal wanita itu menunjukan sikap baiknya sama kita, tapi, jika nanti lama ke lamaan sikap dan sifat aslinya pasti akan terlihat jelas, aku yakin itu mbak? kalau dia mau menikah dengan Cleo hanya karena menginginkan hartanya Cleo saja. Apakah kamu tidak menyayangkan semua itu akan benar - benar terjadi? Dan Cleo juga harus membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Pikirkan semua ini baik- baik mbak. Aku hanya tidak mau kalau keponakaan ku ini akan sengsara di kemudian hari.”


 


“Sudah kamu lebih baik diam saja. Aku bisa mengurus anakku sendiri. Biarkan dia memilih kebahagiaannya dengan caranya sendiri. Dan jika apa yang kamu ucapkan itu benar benar terjadi, mungkin itu semua sudah menjadi kehendaknya. Aku percaya kalau Cleo sudah memilih wanita yang tepat untuk masa depan dirinya itu. Apa lagi aku lihat – lihat wanita itu begitu lugu dan mencintai Cleo dengan apa adanya. Tidak seperti wanita - wanita lain yang pernah Cleo kenalkan kepadaku, mereka hanya menginginkan harta Cleo saja. Jadi kamu tidak usah khawatir ya Mel. Doakan saja semoga semua acara yang akan mereka jalani berjalan dengan lancar dan normal Mel.”


 


“ya terserah kamu saja lah mbak. Yang penting aku sudah memperingatkan kamu sebelumnya. "


 


“iya terimakasih karena kamu sudah mengkhawatirkan anakku.”


Memang tante Cleo itu seperti tidak menyukai kehadiran Kia yang akan menikah dengan keponakanya itu. Karena dia melihat Kia dari setatusnya. Dirinya khawatir Kia hanya menginginkan harta dari Cleo saja.


------


 


Selesai acara itu Dewi berpamitan kepada keluarga Kia. Akan tetapi Nindi, masih berada di dalam mobil sedari tadi, dan ia sama sekali tidak terlihat sejak acara di mulai hingga berakhir.


 


Dewi berjalan menuju ke arah mobilnya. Sesampai di sana dirinya langsung masuk ke dalam mobil.


 


"Nin, " kata Dewi.


 


"Owh, ibuk." Ucap Nindi dengan menyandarkan kepalanya kejendela dalam mobil.


 


Dengan wajah yang murung dan juga hatinya yang kacau balau setelah bertemu dengan Alex tadi. Matanya pun juga terlihat sembab.

__ADS_1


"Kamu kenapa nak? Apa yang sudah terjadi sama kamu? "


 


"Ngak ada apa - apa kok buk, udah selesai acaranya?" Kata Nindi sambil menghapus air mata nya yang jatuh di pipi.


 


"Ceritakan dulu ke ibuk? Sebenarnya kamu ada apa dan kenapa kamu menanggis?"


 


"Enggak ada apa - apa buk."


 


"Beneran?"


 


"Kita pulang sekarang. Aku ingin segera sampai rumah buk." Ucap Nindi sambil menyalakan mobilnya.


 


"Ini anak kenapa sih? Apa gara - gara dia tadi bertemu dengan mantan pacarnya ya. Atau Alex datang ke dia terus ngomong sesuatu yang membuat Nindi sakit hati lagi?" Gumam Dewi sambil melihat ke arah anaknya itu.


 


Akhirnya mereka pun kembali ke rumah dan sesampai di rumah Nindi langsung menuju ke kamar, sebab selama di perjalanan pulang Nindi terlihat hanya menanggis saja.


 


"Nindi, tunggu." Panggil Dewi kepada anaknya itu.


 


Nindi berhenti melangkahkan kaki nya menuju kamar. 


 


"Ibuk tanya sekali lagi. Ada apa sebenarnya denga kamu?! Jawab pertanayan ibuk."


 


"Hisk.. hisk.. hisk.. ibuk, aku tadi di sana bertemu dengan Alex.  Rasa sakit belum terobati kini justru bertambah lagi sakit hati ini buk."


 


Kemudian Dewi perlahan mendekati Nindi dan  memeluknya.


 


"Hhuussttt sayang, sayang, dengerin ibuk. Kamu enggak boleh lemah dengan yang namanya cinta nak. Kamu harus bisa kuat, harus bisa tangguh menghadapi cinta. Kalau kamu seperti jni terus, rasa sakit kamu tidak akan pernah bisa hilang. Hidup kamu masih panjang, kalau kamu seperti ini terus hidupmu tidak akan pernah maju nak. Ingat sayang, masa depan kamu masih panjang. Jalani dan rencanakan dengan baik masa depanmu."


 


 


Akan tetapi setelah bertemu dengan Nindi, Alex mulai merasakan kalau dirinya pernah bersalah dan sudah pernah menyakiti hati Nindi.


 


"Kasihan juga ya lihat Nindi menanggis di depanku tadi. Aku merasa bersalah jadinya, karena sudah membuat hatinya terkuka. Pasti sakit banget rasanya di khianati sama orang yang dia cintai. Huft.. Apa lagi dia dulu mencintaiku dengan setulus hati. Dia juga tidak tahu tentang diri aku yang sebenarnya. Yah, aku akui sih memang dia berbeda dengan wanita pada umumnya di luar sana. Dia tidak matre, dia pintar, dan lagi dia begitu polos dalam hal bercinta." Gumam Alex didalam mobil saat perjalanan pulang setelah menghadiri   acara tunangan Kia dan juga Cleo.


------


 


Ke esokan harinya Dewi dan juga Nindi datang di sel tahanan untuk menjenguk Akbar yang saat itu masih mendekam di penjara.


 


“Nak, “


 


“Ada apa kalian datang kemari?”


 


“Ya, ibuk dan juga Nindi ingin melihat kondisi kamu di sini nak. Kamu sehat kan sayang?” tanya Dewi.


 


“Iya aku baik – baik saja.”


 


“Mantan kamu sudah menikah dengan laki – laki itu kak.” cakap Nindi,


 


“Aku tidak peduli dengannya, Pelangi bagaimana buk keadaanya sekarang? Dia sehatkan?” tanya Dewi.


 


“Iya, kabar Pelangi baik – baik saja. Kemarin ibuk dan juga Nindi di undang menjadi tamu undangan di acara tunangannya Kia.”


 


“Di sana aku juga melihat Alex kak. Dan bertemu dengannya.”


 

__ADS_1


“Lalu apa yang dia lakukan kepadamu Nin? Dia tidak menyakiti kamu lagi kan? Kalau aku bertemu dengannya aku ingin sekali menghajarnya lagi!"


 


“Enggak sih kak, entah lah. Males aku bahas dia.”


 


“Lantas bagaimana ya, sekarang nasip Kayla? Ibuk sudah tidak lagi berhubungan dengan Ida."


tanya Dewi.


 


“Mungkin saja dia sekarang sudah tewas.” Ucap Akbar dengan tangkas.


 


“Husstt, kamu ini. Jangan berbicara seperti itu nak. Ibu hanya kasihan kepada bu Ida, dia begitu mencintai dan menyayangi anak semata wayangnya itu. Namun, anaknya sudah mengecewakan dirinya. Yah, mau gimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.”


 


“Aku akan seneng ketika nanti aku mendapatkan kabar. Jika Kayla sudah meninggal dunia. Sebab dia sudah sangat tega sekali dengan adik iparnya sendiri.” ucap Nindi.


“Ha.. ha.. ha.. kamu bisa saja Nin. Owh, iya nin, kakak mau minta tolong ke kamu sekali lagi bisa?”


 


“Minta tolong apa kak?”


 


“tolong urus perpisan ku dengan Kayla ya. Kalau bisa sih secepatnya. Aku tidak mau mempunyai hubungan dengan dia lagi. Jijik."


 


“Iya kak, aku akan urus perpisan kalian nanti.”


 


“Aku benar - benar sudah tidak mau berurusan dengan dia lagi. Aku akui dia memang cantik dari luarnya. Tetapi kenyataanya, di busuk dan sangat busuk dalamnya.”


 


“Sudah sudah kita tidak perlu membahas dia lagi ya. Sayang, ini ibuk tadi sengaja memasakan kesukaan kamu. Mari di makan nak.”


 


“Iya buk. Terimakasih.


 


“tapi sebenarnya sih ya buk, aku kemarin iri melihat bagaimana Cleo memperlakuan Kia dengan seromantis itu. Jarang ada laki – laki yang bisa seperti dia. Apa lagi mau menikahi wanita yang sudah bersetatus janda dan mempunya satu anak.”


 


“Ehem.. ehem.. ( Akbar berpura – pura batuk saat mendengarkan Nindi mengatakan seperti itu).


 


“Owh iya, di sini ada mantan suaminya ya.. he... he... he... Maaf ya kak, bukan maksud hati akau untuk....”


 


“Hemm.. ! jawab Akbar sambil melanjutkan makanannya.


 


“Aku sebenarnya masih dendam, dengan Alex dan juga Cleo itu. Lihat saja kalau aku sudah keluar dari tahanan ini. Aku akan memberikan pelajaran untuk mereka."


 


“Akbar, hilangkan rasa benci dan dendam kamu nak. Jangan biarkan kejahatan meracuni semua isi otak dan jiwa kamu sayang. Berubahlah menjadi anak yang baik, sebelum penyesalan membuatmu menderita lagi nak.”


 


“Apa sih ibuk ini! Suka suka Akbar lah mau bagaimana.”


 


“Nak jika kamu masih ingin melihat keadaan Pelangi. Ibuk mohon dengarkan kali ini saja omongan ibuk ini nak. Semua ini demi kamu. Bukan demi ibuk. Ibuk seperti ini hanya ingin mengingatkan kamu nak.”


 


“Ya,, ya ,, ya,, ibuk ini bener – bener ya. Sekarang cerewet banget. Belain terus tuh mantan menantu mu itu. Capek lama - lama dengerin ibuk ngomong."


 


“Iya memang ibuk akui ibuk sekarang cerewet. Tetapi ibuk cerewet seperti ini juga demi kebahagiaan kamu Akbar."


"Kebaikan apa sih buk, ibuk."


"Sekarang kamu pikir saja. untuk apa kamu melakukan itu semua? yang hanya nanti kamu akan lebih di persulit untuk bertemu dengan anakmu itu. Tetapi kalau sifat kamu sudah berubah menjadi orang baik, mereka bakal memperbolehkan kamu untuk menemui Pelangi nak."


 


“Iya, iya buk. Sudah lah diem. Jadi bising telinga aku jadinya.”


Bersambung..


❇️❇️❇️❇️❇️


 

__ADS_1


__ADS_2