
Waktu libur sekolah Bella telah tiba, ia pergi bersama Ibnu menuju kediaman rumah Kia. Bella sudah tidak sabar ingin sekali bertemu dengan tantenya. Setelah beberapa jam kemudian, mereka sampai di rumah Kia. Suara klakson terdengar dari luar rumah. Sinta keluar dari rumah dan membukakan pintu gerbang. Masuklah mobil Ibnu ke dalam halaman Kia. Nisa, Surya, dan Sinta sudah menanti - nantikan kehadiran Bella dan Ibnu. Bella langsung keluar dari dalam mobil dan memeluk bundanya yang sedang berdiri di samping pintu mobil Bella. Setelah mematikan mesin mobilnya Ibnu keluar dan mereka berjalan menuju dalam rumah.
Ibnu langsung mencium tangan mertuanya itu. Karena Bella anak yang cerewet, terdengar dari ruang lain suara ponakannya itu. Kia bergegas keluar dari kamarnya.
"Bun, tante di mana? "Kata Bella sambil mengandeng tangannya Sinta dan berjalan kecil masuk ke dalam rumah.
"Tante di dalam, coba kamu panggil." Jawab Sinta.
"Tante, tante Kia. Bella datang. Tante di mana?" Ucap Bella sambil berteriak.
"Ya ampun, ponakan tante yang cerewet kesini." Jawab Kia kepada ponakannya itu.
"Tante, Bella kangen banget sama tante Kia."
"Tante juga kangen banget sama Bella." Kata Kia sambil memeluk keponakannya itu.
Seisi rumah yang melihat semangatnya Kia saat ada kedatangan Bella, mereka senang karena Kia terlihat sedikit ceria.
"Ponakan tante sudah makan?" Tanya Kia.
"Belum, Bella laper banget tan, ayah tadi enggak mau berhenti di warung makan dulu, padahal Bella tadi pulang sekolah belum makan sama sekali."
"Ya udah yuk sekarang kita makan. Tante temenin Bella makan ya. Tapi Bella makan yang banyak biar tambah endut." Kata Kia sambil mencolek lembut perut Bella.
"Okey deh tante. Bun, Bella makan sama tante dulu ya." Kata Bella kepada bundanya.
"Iya. Sana makan yang banyak, uti masak opor ayam kesukaan kamu. Kasihan anak bunda yang endut kelaparan. Ha.. ha.. ha.." Ucap Sinta.
Akhirnya Bella dan Kia berjalan menuju meja makannya. Nisa, Surya, Ibnu, dan juga Sinta mereka senang karena terlihat sedikit keceriaan yang hadir di wajah Kia saat keponakannya datang menghibur kekosongan di hatinya.
__ADS_1
"Melihat Kia ceria seperti itu membuat mama sedikit tenang." Kata Nisa sambil melihat ke arah Kia yang sedang berjalan bersama Bella ke meja makannya.
"Iya mah. Benar yang di ucapkan mama. Sinta juga merasa sedikit lega melihat kecerian yang nampak di wajah Kia." Ujar Sinta.
"Ya sudah, nak Ibnu, sekarang kamu juga ikut makan sana. Kata Bella kamu juga belum makan yah? " Kata Surya.
"Iya pah, Ibnu mau kekamar dulu mau rebahan dan istirahat." Ucap Ibnu.
"Ya sudah kamu istirahat dulu di kamar mas, biar nanti koper - kopernya aku bawa masuk." Ujar Sinta.
"Kalau gitu Ibnu permisi ke kamar dulu ya mah, pah. " Ucap Ibnu sambil berjalan ke arag kamar.
"Iya silahkan - silahkan." Kata Nisa.
Beberapa jam kemudian mereka berkumpul di ruang tengah untuk melihat acara di televisi. Bella duduk di sebelah Kia. Tiba - tiba ia bertanya kepada Sinta yang juga duduk di samping Bella.
"Bunda, bunda, Bella kok enggak bertemu om Akbar? Om Akbar sedang pergi ya bun?" Tanya Bella denga polosnya yang masih belum tahu tentang apa yang sedang terjadi oleh tantenya saat ini.
"Bella, om Akbar sudah tidak tinggal lagi di sini. Makannya uti sama opa tidur di sini menemani tante Kia."
"Kenapa bun?"
"Om Akbar sudah tidak lagi bersama tante Kia. Om Akbar sudah kembali kepada ibunya. Jadi kita temani tante disini ya."
"Kasihan tante sendirian. Tante enggak boleh takut ya. Nanti biar Bella yang menemani tante."
"Anak pintar, keponakan tante memang baik. Tante sayang banget sama Bella." Kata Kia sambil memeluk penakannya namun air matanya terjatuh dengan sendirinya.
"Bella juga sayang banget sama tante." Ucap Bella.
__ADS_1
Sinta melihat adiknya yang menanggis sambil memeluk Bella, ia langsung mengusap usap bahu Kia. Nisa, Surya, dan Ibnu langsung melihat ke arah Kia.
Malam harinya Bella tidur di kamar bersama bunda dan juga ayahnya. Ia diberikan pengertian lagi oleh bundanya.
"Bella sini, bunda mau ngomong." Sambil melambai lambaikan tangannya untuk memanggil Bella yang sedang asik bermain dengan mainannya.
"Iya bun, ada apa?" Tanya Bella sambil memegang mainannya.
"Sini duduk deket bunda, bunda mau kasih tahu ke Bella." Sambil mengarahkan supaya Bella duduk di dekat Sinta.
"Ada apa sih bun?"
"Om Akbarkan sudah tidak tinggal lagi di sini. Nah, Bella mulai sekarang tidak usah lagi bertanya kepada tante Kia tentang om Akbar ya. Bella tahukan di rumah ini ada siapa aja sekarang? Ada uti, ada opa, ada ayah, ada bunda, dan tante Kia, sekarang Bella bermainnya dengan yang ada di rumah ini. Jadi kalau yang tidak ada ada di rumah ini tidak usah di tanyakan ya nak."
"Baik bunda, tapi bunda, kenapa tadi tante Kia menanggis saat Bella bertanya tentang om Akbar?"
"Iya karena om Akbar sudah pergi dari rumah ini makannya om Akbar sudah tidak lagi tinggal disini bersama tante Kia. Kalau Bella bertanya atau bicara tentang om Akbar nanti akan membuat hati tante Kia sedih lagi. Bella mengertikan maksud bunda?" Kata Sinta sambil mengelus elus rambut Bella.
"Iya bun, Bella mengerti. Bella enggak mau lihat tante sedih lagi. Kasihan tante. Bella janji enggak akan bertanya tentang om Akbar. Iya kan bun?"
"Betul, anak bunda memang cerdas. Terimakasih ya putri kecilnya bunda karena sudah mau mendengarkan kata bunda. Jadi sekarang buat tante Kia bahagia ya nak." Ucap Sinta sambil memeluk anaknya.
"Iya bun." Jawab Bella.
"Sekarang sudah malam, yuk tiduk, terus besok kita ajak tante Kia jalan - jalan."
"Yea, yea, yea, besok jalan - jalan." Ucap Bella dengan kegirangan.
Bersambung...
__ADS_1
❇️❇️❇️❇️❇️